NovelToon NovelToon
Untuk Kehidupan Kedua Kami

Untuk Kehidupan Kedua Kami

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Isekai / Fantasi / Romansa / Mengubah Takdir
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: sila

Kalista, seorang food blogger dengan ribuan penggemar dimana mana.
setiap konten yang di upload nya di media sosial akan selalu mendapat jutaan views.
tentu saja hobinya yang paling jelas adalah makan.

Aruna, putri dari seorang paruh baya pemilik restoran terkenal, dia bekerja ditempat ibunya sebagai latihan karena setelah lulus SMA dia akan meneruskan usaha ibunya itu.
salah satu kebiasaan nya adalah melakukan beatbox.

Luna, anak dari seorang petani, didesa nya orang tuanya adalah yang paling kaya.
mereka punya banyak tanah yang dijadikan kebun buah dan sayur, padi dan juga dijadikan tempat ternak hewan yang salah satunya adalah sapi dan kambing.
Luna sendiri punya satu sapi kesayangan yang dia berikan nama blackmoo, sapi nya hitam dan selalu lapar hingga terus berisik.

secara tidak terduga ketiga gadis itu mati dan berpindah ke masa lalu dijaman kuno, abad pertengahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24

Ketegangan semakin meningkat saat Alisa melangkah maju dengan wajah yang sudah basah karena air mata.

"Aku tidak mungkin merusak hubungan pertemananku dengan Vione, aku dan Charlos tidak akan pernah memiliki hubungan apapun."

"Omong kosong! aku akan membatalkan pertunangan itu!" Teriak Charlos tanpa sedikitpun pertimbangan.

"Tapi bagaimana dengan Vione?" Alisa semakin menangis, ia sesegukan dipelukan Chalios.

Namun sebelum Charlos bersuara kembali, Shanez datang dan langsung menarik Alisa ke arah pelukannya.

"Kau akan menjadi raja, calon permaisurimu haruslah seseorang yang memiliki latar belakang kuat untuk mendukungmu, dan Alisa tidak akan pernah menjadi milikmu." Katanya dengan nada datar dan dingin.

Charlos terhenyak, tangannya terkepal erat seolah siap untuk meninju siapa saja yang mendekatinya.

"Lalu apa? kau yang akan menikahi Alisa?" Desis Charlos dengan tatapan tajamnya.

"Ya, dia akan menjadi istriku." Sahut Shanez cepat.

Jawabannya tentu membuat seisi kantin tidak terkejut, karena mereka tahu jika Shanez dan Alisa adalah sahabat masa kecil, sangat wajar jika salah satu dari mereka memiliki perasaan suka.

"Oh tenang bung, kau melupakan temanku." Sela Vione dengan senyum sinisnya.

Disisinya, Rosetta menatap ketiga kakaknya dengan raut wajah jijik.

"Ya, bagaimana dengan Caily?" Tanya Rosetta menatap lurus pada Shanez dengan pandangan hina.

Tetapi Shanez tampaknya tidak peduli dengan statusnya.

"Seorang bangsawan bisa memiliki pasangan lebih dari satu." Balasnya santai seolah hal itu tidak ada apa-apanya, karena kata-katanya memang ada benarnya.

"Ah ... kedengarannya seperti hewan." Komentar Vione sambil menutup mulutnya seolah dirinya sendiri terkejut dengan ucapannya.

"Seperti kucing?" Rosetta pun ikut serta dalam penghinaan itu.

Keduanya tertawa terbahak-bahak bahkan diujung ruangan, sekelompok gadis bangsawan pun ikut menutup mulut mereka menggunakan kipas, mereka menahan tawa dengan cara yang anggun.

Charlos dan Shanez tersinggung dengan hal itu, sedangkan Chalios yang merasa tidak termasuk didalamnya hanya menghela napas panjang, ia mendekati Vione.

"Vione, kau sudah berlebihan, sebaiknya kau pergi sebelum bel berbunyi." Ucapnya dengan suara halus, berusaha untuk tidak memperkeruh suasana.

Namun tampaknya Vione tidak ingin hal itu berakhir lebih cepat, ia menepis tangan Chalios dari pundaknya lalu mengelap bekas sentuhannya dengan sapu tangan, tentu saja aksinya itu membuat wajah Chalios menggelap, ia merasa terhina namun berusaha menahan amarahnya.

"Siapa dia?" Ucapnya pada Rosetta.

Rosetta mengangkat bahunya. "Mungkin salah satu orang bodoh yang memperebutkan seorang gadis polos bak Dewi surga?" Katanya dengan dramatis.

Tidak diduga, diujung ruangan, sekelompok gadis bangsawan yang tadi menutup mulutnya menggunakan kipas tidak bisa menahan tawanya, tawa mereka terdengar hingga seisi kantin menoleh kearah mereka.

"Ah, maaf... lanjutkan saja." Ucap salah satunya dengan tawa yang berusaha ia tahan.

"Ya, jangan pedulikan kami." Yang lainnya ikut bersuara.

Rosetta menaikkan satu alisnya, matanya melirik kearah sekumpulan gadis bangsawan itu, lalu ia melirik kearah buku ramalan dan menemukan sesuatu hal yang menarik.

Ia menarik Vione dan pergi mendekati mereka, sedangkan Vione hanya melambaikan tangannya kearah Charlos dan yang lainnya seolah mengisyaratkan jika perdebatan tadi hanya main-main, tentu saja hal itu kembali menyulut emosi dalam diri Charlos.

Disisi lain, Rosetta kini sudah duduk bergabung dengan mereka tanpa rasa malu.

"Kami bahkan belum mengizinkan kamu duduk bersama kami." Komentar salah satunya, ujung kipas ditangannya berwarna kuning pudar.

Vione segera menarik Rosetta agar berdiri lalu melakukan salam ala bangsawan.

"Bisakah kami bergabung?" Lalu tanpa menunggu jawaban ia langsung duduk dan disusul oleh Rosetta.

Sekumpulan bangsawan itu menahan tawa melihat tingkahnya yang lucu, tingkah laku mereka merupakan hal baru dalam kaum bangsawan.

Rosetta menatap lurus pada gadis bangsawan yang memegang kipas berwarna merah dan hitam.

"Nona ini siapa?" Tanyanya basa-basi, ia tentu tahu siapa saja nona-nona itu melalui buku ramalannya.

Gadis itu menutup kipasnya dengan anggun.

"Saya Emyna Ress, salam kenal putri." Balasnya dengan suara lembut.

Vione melirik kearah Rosetta, ia memiliki dugaan jika gadis itu tahu sesuatu yang bersangkutan dengan plot yang baru saja ditulis oleh buku ramalannya.

Emyna Ress, gadis bangsawan dengan rambut hitam berkilau sepanjang pinggangnya, keseluruhan wajahnya memang sangat cantik.

"Jangan panggil aku putri, kita disini punya kedudukan yang sama." Balas Rosetta sambil melambaikan tangannya.

Vione mengangguk singkat. "Ya, disini kita adalah murid yang belajar di satu akademi."

Bangsawan itu mengangguk.

"Jadi, apa yang nona Rose inginkan dariku?" Tanya Emyna langsung, dia sadar ada sesuatu yang ingin Rosetta katakan padanya, apalagi tatapan gadis itu terus tertuju padanya.

Vione memutar bola matanya, Rosetta terlalu terang-terangan memperlihatkan niatnya.

"Saya harap nona tidak menerima proposal pertunangan politik yang akan ayah saya ajukan." Ucap Rosetta tanpa filter sedikitpun, ia memang tidak berniat untuk memperhalus kata-katanya.

Emyna mengangkat satu alisnya, bibirnya tertarik menunjukkan senyum tipis.

"Hm?" Gumamnya pelan, mata hitamnya memandang lurus pada Rosetta.

"Pertunangan antara anda dan kakak sialan saya, Chalios." Rosetta mempertegas kata-katanya.

Emyna hanya menyeringai. "Anda sedang menghawatirkan saya, putri?"

"Hanya saran." Sahut Rosetta santai.

"Terima kasih atas sarannya, tapi aku punya sesuatu yang harus aku selesaikan." Sahut Emyna, sekilas sorot matanya sangat tajam dan dingin namun kembali normal setelahnya.

...

Seperti yang disepakati, hari ini Caily akan melatih kemampuannya.

Dihadapannya saat ini ada segerombolan serigala gunung yang liar dan buas, mata tajam mereka memandang Caily seolah siap memangsanya kapan saja.

Namun gadis itu bahkan tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya.

Dia melepas kain yang menutupi matanya yang secara perlahan warna yang semula biru kini berubah menjadi merah Ruby.

Matanya memandang lurus pada serigala-serigala itu, mata merahnya berkilau dengan sangat indah namun juga menakutkan bagi hewan-hewan itu.

Mereka mencoba melawannya, namun mereka bahkan tidak bisa menggerakkan kaki mereka sendiri, seolah sesuatu dalam diri mereka tunduk pada sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Dan secara perlahan kepala serigala satu persatu menunduk seolah menunggu perintah pada sesuatu yang menahan mereka.

Caily mengangkat jari telunjuknya keatas. "Tunjukkan kepatuhan kalian padaku, entah itu karena terpaksa atau tidak."

Serigala-serigala itu mendekat dan duduk didekat kakinya, menjilat gaunnya dan tepalak tangannya.

Caily tersenyum puas, ia secara perlahan menutup matanya dengan kain sutra.

"Nah, kalian bisa pergi." Titahnya sambil melambaikan tangan.

Para serigala pergi setelah menundukkan kepalanya.

Caily berbalik arah, ia menaiki puncak gunung untuk pulang, ada sesuatu yang ingin ia lakukan.

Sesampainya disana, ia segera menuju kandang kuda dan melepas semua tali kekang mereka.

"Ikuti aku, jangan sampai tersesat!" Titah Caily dengan tatapan tajam pada semua kuda peliharaannya.

Semua kuda-kuda itu mengikutinya dari belakang, mereka tampak seperti rombongan musafir.

Caily membawa kuda-kuda itu menuruni gunung, ia tidak akan repot memotong rumput lagi, ia akan membawa kuda-kuda itu makan rumput ditempatnya langsung.

Sesampainya ditempat, ia memerintahkan semua kuda-kuda itu untuk bersantai sambil makan rumput sedangkan dirinya memilih naik keatas pohon apel, ia ingin bersantai dengan buah itu sambil mengawasi kuda-kudanya dari atas.

Namun beberapa menit sejak ia bersantai, ia mendengar suara tapak kuda yang mendekat dari kejauhan.

Caily naik kepuncak pohon dan mengamati sekitar dari atas pohon.

Keningnya berkerut saat melihat seseorang berjubah hitam dengan kuda gagahnya, sosok itu terus mendekat seolah sudah hapal akan tata letak gunung.

Yang Caily tahu, gunung ini sudah dikuasai oleh gurunya selama bertahun-tahun, bahkan ada array pelindung yang memungkinkan orang asing tidak bisa melihat keberadaan gunung ini.

Caily tersentak dengan mata membelalak saat sosok berjubah hitam itu melirik kearahnya, mengetahui keberadaannya.

Caily tentu sangat terkejut karena jarak yang begitu jauh dan sosok itu mengetahui keberadaannya dengan sangat tepat dan presisi.

1
Dewiendahsetiowati
kapan ketahuan belangnya si biang kerok Alisa
UMMI HABIBAH
lanjut thorrr
Dewiendahsetiowati
gak ada jari emas kah untuk salah satu MC nya
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Dia Fitri
/Good/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!