Pemuda tampan itu bukan siapa-siapa, sampai di mana ia ditemui wanita yang tiba-tiba menawarkan tiga juta hanya untuk ciuman bibirnya.
Sejauh Marco melangkah, tiada yang tahu jika di balik matrenya berondong itu, ialah pewaris tahta yang dibuang oleh ayah crazy rich-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasha Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 023
Ternyata benar ucapan Sergey, tidak hanya satu yang mengincar. Lolos dari kejaran orang- orang tuan besar Kaesang, di depan sana antek- antek Rahardian mamapasnya.
Natalie yang mengenali, karena salah satu dari mereka asisten suaminya. Tidak perlu takut, Sergey masih memantau mereka.
Bukan kebetulan mobil hitam berhenti, Sergey memang sengaja menjemput Natalie. Dan disaat yang sama, orang- orang Rahardian menarik lengan Natalie agar tak bisa masuk.
Tunggu, Marco tidak akan membiarkan klien yang membayarnya dengan mahal kecewa, maka dengan tidak terpaksa kaki bersepatu kets boots merah mendarat tepat di dada musuh hingga terjengkang ke belakang.
Mobil melaju membawa Natalie, sejatinya Allura tak ada urusan dengan antek- antek Rahardian. Namun, Marco tetap dalang dari pelarian Natalie, orang- orang itu jadi harus menyerang mereka pada akhirnya.
Di mana, Marco harus melontarkan pukulan pada orang- orang itu hingga terjatuh satu persatu. Yah, walau setelahnya Marco harus meringis sambil mengibaskan tangannya.
Empat lawan satu, tidak, itu info yang perlu diralat, sebab Allura menendang punggung salah satu dari pria yang ingin memukul Marco dengan tongkat bisbol hingga terjungkal ke lantai.
Marco beralih sejenak, menatap Allura yang menepuk silang tangannya. Memamerkan wajah congkak khas Mahesa Bachtiar.
Sontak, Marco berdecak, ternyata tampilan tomboi Allura terjawab sudah. Allura memang menguasai bela diri seperti leluhur keluarga Rain yang lainnya. "Kau luar biasa, Sayang."
Sempat- sempatnya adu cium, padahal setelah itu seseorang mengarahkan tongkat bisbol pada kepala Marco. Satu tendangan di perut menghalau niat licik lelaki berkumis.
Bahkan, diinjaknya, lantas merapikan rambut dan jenggot pria tersebut. "Saran Marco, cukur dulu kumisnya, paman!"
Sudah tumbang tiga pria, satu lagi yang tengah Allura bekuk. Bahkan dikunci lehernya dari belakang, ah tidak, Marco tidak suka hal itu, seharusnya Allura tidak menyentuhnya.
"Sayang, aku cemburu!" Punggung pria itu menjadi sasaran tapak sepatu Marco, yah setidaknya Allura melepaskan dekapannya.
"Kita lari, Sayang!" Marco melihat Langit dan beberapa orang. "Adik ipar sialan!!"
Allura kembali digandengnya, berlari ke arah parkiran, pengunjung museum yang agaknya baru saja tiba menjadi tujuan utama Marco.
"Tolong pinjamkan saya motor!"
Tentu saja pemiliknya berteriak histeris, tetapi, tamparan Allura yang disertai gepokan uang riyal mampu membekukan lelaki tua itu.
"Ana, akan kembalikan nanti, ana zanzi."
Allura tertawa dengan bahasa aneh Marco yang sedikit menekan ain fasih. Keduanya berlalu dari hadapan pria tua yang sibuk menghitung uang pemberian Allura.
Allura memeluk sementara Marco melesat kencang di jalanan yang mulai beraspal. Motor gede yang cukup bagus, itulah kenapa Marco jatuh cinta pada pandangan pertama, setidaknya, motor ini tidak akan macet saat dikendarai dengan kecepatan tinggi.
Mereka melintasi jalanan dengan kecepatan setan, semua baik- baik saja hingga, teriakan Allura mengalihkan atensi Marco. Ingatan yang tiba- tiba muncul, berkelana begitu saja.
"Jangan terlalu ngebut, Marco!" Sontak, Marco menekan kopling, memelankan laju motornya, bahkan mengerem mendadak.
Sungguh, Marco terngiang dalam kenangan buruk di masa silam. Di mana sang ibunda juga menyuruhnya memelankan mobilnya.
"Marco--" Allura terus menatap ke belakang, sebentar lagi mobil- mobil yang mengejar akan sampai, dan Marco masih tercenung.
"Kenapa berhenti?"
Allura menepuk punggung Marco yang bergeming. Sungguh, Allura tak mau Marco babak belur oleh keluarganya, hingga Allura yang ambil alih stang motor dan melaju.
Sempat Allura meraih tangan Marco untuk dilingkarkan ke perut. Marco tertawa setelah sadar keberanian Allura lagi dan lagi.
Ah, rupanya baru saja dirinya tenggelam ke dalam kenangan traumatis. Padahal, Allura begitu berharap banyak padanya, lihat cara Allura mencari jalan untuk bisa lolos dari kejaran keluarga mereka.
"Kau bisa bermotor, Sayang?"
Allura tertawa. "Mungkin ini akan menjadi pertama kalinya, Papi akan menyesal sudah mengajari putrinya bermotor sendiri."
...\=\=~©®™~\=\=...
"Hargh!! Sial!!" Tidak bisa menangkap Marco dan Allura, tentu saja membuat Mahesa mengumpat macam- macam.
Bagaimana tidak, dia jadi harus menerima kritikan pedas mertuanya. "Kalian ini melawan bocah ingusan, Esa! Bocah ingusan!"
Rega Rain namanya, pria tua yang paling tidak suka dengan bentuk kegagalan. Bahkan, Langit harus dihukum berdiri sit up karena itu.
"Kau tidak akan aku berikan dukungan lagi, jika belum bisa menemukan cucuku!!"
"Kenapa bisa gagal, Pi?!" Mommy Snowy pun kecewa, sebanyak itu pendukung, bahkan tim hacker terbaik sudah dikerahkan.
Mahesa dan Langit bukan tidak bisa, mereka sudah akan menangkapnya. Hanya saja, ada beberapa kelompok yang menghalanginya.
Entah dari mana orang- orang itu, yang pasti mereka selalu menjadi penghalau ketika Esa dan tim berhasil menemukan celah untuk bisa menangkap Allura dan Marco.
Berawal dari saat Esa sudah bisa menemukan tempat tinggal di ujung Sharjah. Hingga, siang tadi ketika dia sudah hampir meringkus Marco di pinggiran kota.
"Sepertinya ada yang membantu pelarian mereka secara diam- diam."
Kaesang berdehem kecil, cukup tersindir karena dia yang melakukannya. Yah, dia dan tim tidak bisa menangkap Marco, maka dia dan tim harus menggagalkan upaya Mahesa.
Adanya Kaesang di sini bukan untuk ikut membantu, melainkan mengendalikan rencana apa saja yang akan dilakukan Mahesa, tujuannya supaya dia dan tim lebih bisa melindungi putra terbuangnya.
Pria tua yang sombong itu, Rega. Kaesang takkan biarkan pria pemilik kebun binatang buas itu menghukum putra permata Laluna.
"Kau yakin masih mau menjadi besan menantu ku, Kaes? Kau lihat sendiri, cucuku lari dengan pria lain yang lebih muda dari pada Clay bukan?"
Kaesang terkekeh. "Kita belum tahu pasti, cucu Anda lari atau diculik bukan?" alibinya.
"Benar juga." Rega manggut- manggut setuju, kemudian menatap Clay. "Kau masih sabar kan menunggu calon mu ditemukan?"
"Tentu saja, Tuan."
Clay tak berpikir menikah, yang dia pikirkan, berhasil menemukan Marco dan membawa anak nakal itu lari dari keluarga psikopat gila ini.
siapa yg disuruh pigi.. siapa yang pigi...🤣🤣🤣