Arully Beena sosok seorang gadis yang dilahirkan tanpa ayah. Ibunya korban kebejatan seorang laki-laki yang tidak mau bertanggung jawab. Dia lahir dengan perekonomian yang begitu sulit sehingga ia terjebak dalam kelompok anak-anak punk di kotanya.
Bagaimana Beena bisa melewati kehidupan yang begitu keras sampai ia bisa menemukan jati dirinya melalui pertemuannya dengan sosok bocah cilik yang membawanya berhijrah dengan tulus.
Bagaimana pula kisah percintaannya dengan seorang laki-laki yang begitu sempurna di matanya dengan menikah paksa karena terjebak oleh situasi.
"Anggap pernikahan kita semalam tak pernah ada. Aku tidak pantas menjadi istrimu. Aku hanya gadis punk yang hanya singgah tanpa rencana. Terima kasih sudah menolongku." Arully Beena.
Ikuti kisahnya sampai selesai ya!
Tinggalkan jejakmu like, komen dan subcribe teman-teman!💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 Perhatian Elzan
Ia tidak menyangka laki-laki yang dianggap tidak peduli lagi padanya, sekarang berada di depan mata. Beena mengatupkan bibirnya, menelan salivanya pelan.
"Ternyata kamu menunggu orang lain selain aku. Siapa Berry?" Tanya Elzan yang merasa sudah mendengar jelas istrinya menyebut nama Berry bukan namanya.
Elzan sudah menyempatkan diri sepulang dari rumah sakit, datang ke kantor polisi untuk menjenguk istrinya. Namun merasa tidak diharapkan kedatangannya.
Hatinya sedikit tercubit manakala istrinya menyebut nama lain dalam penantiannya.
"Dia kekasihmu?" Tanya Elvan ingin tahu.
Beena tersenyum miris lalu duduk di hadapan Elzan yang masih menyisakan tanda tanya besar pada istrinya.
"Memangnya kenapa kalau dia kekasihku? Bukankah kamu juga punya kekasih dan sebentar lagi mau menikah? Aku rasa sah-sah saja kalau aku melakukan yang sama dengannya." Ujar Beena memalingkan mukanya.
"Buat apa? Mau membalas? Arully aku sempat-sempatin datang ke sini hanya ingin menjengukmu."
"Aku tidak butuh dijenguk oleh orang yang sudah membuat aku ada di sini. Kamu tahu rasanya menginap di kamar gratis yang hina di hadapan masyarakat? Kamu tahu bagaimana aku dan keluargaku tercoreng karena ulah ibumu? Kamu tahu betapa rindunya aku pada Beyza yang sudah aku anggap sebagai adik sendiri? Kamu tahu betapa sakitnya hatiku ketika suami sendiri tidak berusaha menghentikan penangkapan itu. Dan aku tahu sekarang aku masuk sini agar kamu bebas menikah dengan kekasihmu itu. Jangan khawatir Mas. Aku ikhlas kok kalau kamu mau nikah lagi!" Ujar Beena menggebu namun diakhir kalimatnya suaranya tercekat.
Bohong jika Beena ingin melepaskan suaminya pada wanita lain, jika hatinya terasa sakit. Tubuhnya gemetar menahan sesak di dadanya.
Elzan meraih tangan istrinya, mencoba memberikan ketenangan dan kehangatan. Bagaimanapun juga Elzan tidak kuat melihat orang yang sudah menjadi istrinya itu menangis terluka. Beena berusaha melepaskan genggaman itu namun tenaga Elzan begitu kuat menahannya.
Hangat ya terasa hangat ketika tangan kekar itu menyentuh tangan Beena. Ia memejamkan matanya untuk meresapi kehangatan yang diberikan suaminya.
"Maafkan aku. Maafkan ibuku. Aku masih berusaha membujuk ibu agar mencabut tuntutannya. Aku pun yakin kamu tidak bersalah. Dan aku akan menyelidiki siapa sebenarnya penculik Beyza. Apa kamu tahu?" Elzan berusaha meyakinkan istrinya.
Beena membuka matanya? Lalu menatap nanar suaminya. Ada ketulusan di kelopak matanya.
"Tidak perlu. Tidak usah kau kotori tanganmu untuk menyelidiki bahkan menangkap penculik itu. Biar Berry dan polisi saja yang melakukannya."
"Berry lagi. Aku juga ingin tahu dan ingin melindungimu Arully Beena. Siapa penculik itu? Apakah kamu kenal?"
Beena bergeming. Selanjutnya ia manggut-manggut? Memang sudah saatnya suaranya didengar. Selama ini ia diam tidak bisa melaporkan kejahatan yang dilakukan Baron. Tapi sejak kejadian malam itu? Sikap Baron tidak bisa dibiarkan begitu saja? Apalagi sampai berniat melecehkan dirinya dan memfitnahnya telah melakukan mesum? Sungguh terlalu.
"Aku tahu siapa dia. Dia orang yang sama ketika aku akan dilecehkan malam itu." Ujar Beena akhirnya menguak kejadian yang sudah berlalu dengan tatapan sendu.
"Saat itu dia berada diantara kerumunan warga yang memfitnah kita melakukan kegiatan memalukan. Dia berhasil menyakinkan warga lalu pergi. Ya dia dan komplotannya." Ujar Beena lagi dengan menatap Elzan penuh harapan.
"Dia biasanya nongkrong di mana? Agar aku bisa lebih leluasa menangkapnya. Aku akan dibantu pihak polisi yang akan menyamar sehingga penangkapan ini bisa berhasil."
"Mereka sering nongkrong di tempat yang gelap. Warung yang sering mereka singgahi buka 24 jam."
"Kamu sabar ya, aku akan berusaha mengeluarkanmu secepatnya dari sini. Jangan pernah tinggalkan sholat dan doa. Ini aku bawakan mukena dan Alquran."
"Kamu jangan khawatir. Aku akan mendampingimu sampai kasus ini selesai. Aku pulang, jaga dirimu baik-baik!" Elzan berdiri lalu ia mencondongkan tubuhnya untuk mengecup kening istrinya, cukup lama. Kemudian Elzan tersenyum.
Tidak ada senyuman dari Beena. Ia merasa kaget suaminya sudah melakukan sesuatu tanpa permisi. Benarkah suaminya melakukan itu dengan tulus? Kalau memang benar, ia termasuk orang yang beruntung menjadi wanita yang dicintai suaminya. Ia akan berusaha menjadi yang terbaik di hadapan suaminya dan mencoba untuk memantaskan diri menjadi istri pendamping Elzan untuk selamanya.
Beena mengambil benda pusaka itu. Setitik air tergenang di pelupuk matanya. Beena sangat bersyukur masih diberi kesempatan untuk berubah. Disaat hatinya rapuh, Allah mendatangkan orang-orang baik yang memberi semangat dalam berhijrah di jalan-Nya. Beena memeluk benda pusaka itu, lalu mengecupnya.
ini mah mau masukin hotel prodeo lagi kan ktnya udah biasa......
hadooohh jadinyav kasian si beena alamat bakal di kekesek yeu mah sm ibunya elzan
Tapi dari sini kayaknya bakal susah dapat restu si Beena,Awal pertemuan dengan Mertua aja udah ada salah paham gitu..