Pernikahan Namira dan kekasihnya akan berlangsung tak lama lagi. semua persiapan juga sudah hampir sempurna. Tapi kebahagiaan Namira harus kandas seketika di saat ia melihat foto calon suaminya yang tidur dengan wanita lain.
Namira pun akhirnya harus membatalkan pernikahannya dan menerima perjodohan dengan laki-laki yang sama sekali tak ia cintai.
Di saat Namira hampir bisa melupakan rasa sakit hatinya, mantan tunangannya dulu datang dan menawarkan cinta kembali untuknya. Akankah Namira menerima cinta itu kembali dan menjalin hubungan terlarang dengannya? atau Namira lebih memilih menjadi istri setia meskipun tak ada cinta di dalam hatinya untuk sang suami?!
Ikuti cerita selengkapnya di sini ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meyva Firsyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Rencana Namira
"Sudahlah, aku nggak mau bahas tentang hal itu!" Rafka mencoba menghindar dari pembahasan tentang Alena dan pacarnya. Karena ia tau akan sangat sulit untuk menghadapi semua pertanyaan yang di ajukan oleh Namira mengenai itu.
"nggak bisa gitu dong Rafka, kamu egois banget sih jadi orang! kamu sama sekali nggak mau memikirkan kebahagiaan Alena" Namira terus saja membombardir Rafka dengan kalimat yang memojokkan.
Justru aku melakukan hal itu karena memikirkan kebahagiaan Alena. Aku nggak mau kalau dia akan menyesal nantinya. Andai saja aku bisa mengatakan semuanya padamu, Namira.
Rafka masih sibuk dengan pemikirannya sendiri tanpa menjawab pertanyaan Namira. Dia menimbang-nimbang, apa yang harus di lakukannya agar bisa menyelesaikan semua masalah tanpa menyakiti siapapun.
"Rafka.. kamu tuh nyebelin banget sih! di ajak ngomong bukannya dengerin, malah ngelamun" Namira melempar satu bantal lagi tepat mengenai hidung mancung Rafka.
"ya ampun.. kasar banget sih, jadi perempuan! nggak ada lembut-lembutnya sama sekali" gerutu Rafka.
"biarin!! udah deh nggak usah mengalihkan pembicaraan. kamu harus bisa ngertiin perasaan Alena, Raf. Kasian dia"
"bukan urusan kamu"
"aku bukan ngurusin masalah kamu, tapi ini masalah Alena. Meskipun aku nggak cinta kamu tapi aku sayang Alena,aku merasa seperti punya adik perempuan karena kehadirannya"
Namira tidak sadar kalau perkataannya membuat dada Rafka berdenyut nyeri karenanya. Mereka memang tak saling mencintai,tapi entah mengapa Rafka merasa lebih sakit jika kenyataan itu terucap langsung dari bibir istrinya itu.
"aku lebih tau mana yang terbaik untuk Alena, jadi lebih baik jangan ikut campur" Rafka berusaha menahan dirinya agar tidak mengatakan yang sebenarnya.
"kamu bukan memikirkan kebaikan Alena,tapi kebaikan kamu sendiri!" Namira tak mau kalah dengan argumennya.
"cukup Namira! kamu nggak tau apa-apa"
"kamu salah, aku tau semuanya. Alena sudah menceritakan semuanya padaku. Kenapa kamu bisa sepicik itu Rafka? kamu minta Alena putus dengan pacarnya padahal kamu belum terlalu mengenalnya!"
"siapa bilang aku nggak mengenalnya? aku sangat mengenalnya. Bahkan kamu lebih mengenalnya dengan sangat baik dari pada aku" akhirnya pertahanan Rafka runtuh sudah, dia pun mulai mengatakan kenyataan yang sebenarnya.
"apa maksud kamu?"
Ucapan Rafka membuat Namira semakin pusing. Dia bilang kalau Namira mengenal pacar Alena dengan baik, padahal ia belum pernah sekalipun bertemu dengannya.
"kamu pasti terkejut kalo tau siapa pacar Alena"
"memangnya siapa pacar Alena?" Namira mengerutkan keningnya penasaran.
"dia adalah Alvan, mantan tunangan kamu"
"Ap .. apa??"
Ucapan Rafka bagai ribuan batu yang menghujaninya tanpa henti. Sungguh Namira benar-benar tak menyangka kalau kenyataannya akan separah itu. Tentu dia tak ingin Alena mengalami nasib yang sama dengannya. Dan dia akan pastikan semua itu tak akan pernah terjadi.
"aku juga sama terkejutnya mengetahui hal itu" sambar Rafka.
"tapi bagaimana bisa?!" Alena seperti sedang mencerna keadaan yang terjadi.
"dia pasti sudah merencanakan itu semuanya. aku yakin dia mendekati Alena karena maksud tertentu" tambah Rafka.
"maksudnya?"
"dia ingin mendekati kamu melalui Alena.sepertinya dia masih cinta berat sama kamu" analisa Rafka yang membuat Namira membelalakkan mata seakan tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"nggak mungkin Raf" Namira menggelengkan kepalanya pelan.
"memang begitulah kenyataannya"
Namira mondar-mandir seperti setrikaan, memikirkan solusi untuk masalah ini. Jika tadi dia ingin membantu Alena agar bisa bersatu dengan pacarnya,kali ini dia ingin membantunya agar terlepas dari belenggu cinta yang penuh dengan muslihat itu.
"lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Alena nggak boleh masuk ke dalam perangkap laki-laki sialan itu!" Namira menggigit bibir bawahnya, kebiasaan yang biasa ia lakukan bila sedang menahan amarah.
"kita harus memisahkan mereka berdua secepatnya, bagaimana pun caranya"
"ya, aku setuju. aku akan ngomong sama Alvan agar dia menghentikan niat buruknya pada Alena" ada kilatan dendam dari tatapan mata Namira. Tentu dia masih sangat sakit hati dengan pengkhianatan yang di lakukan mantan tunangannya itu terhadapnya.
"apa kamu yakin?" sela Rafka ragu-ragu.
"tentu saja,aku sangat yakin. Aku akan menghentikan permainannya besok" ujar Namira penuh percaya diri.
Malam ini pun di lewati Namira dengan banyak berpikir, langkah apa yang akan di lakukannya besok. Strategi yang tepat harus ia lakukan agar rencananya berhasil untuk membuat Alvan mengurungkan niat busuknya. Sampai akhirnya dia tertidur sambil memeluk guling silikon di sampingnya.
Pagi yang cerah datang menyapa. Namira melakukan aktifitas pagi seperti biasa,mulai dari mandi, sarapan dan lain sebagainya. Hanya ada satu yang berbeda pagi ini, dia berencana akan datang ke kantor Alvan untuk berbicara empat mata dengannya.
Rafka sudah menawarkan diri untuk mengantarkan, tapi Namira menolaknya. Dia yakin akan bisa menyelesaikan semua masalah seorang diri. Dan Rafka merasa tidak punya wewenang apapun untuk mengatur hidup wanita yang berstatus sebagai istrinya itu karena pernikahan mereka bukanlah pernikahan yang sesungguhnya, tanpa ada cinta di dalamnya.
Namira mengendarai mobil mewahnya menuju kantor Alvan, mantan tunangannya. Perasaan Namira terasa campur aduk sekarang. Antara kesal dan juga benci,tapi di sudut hatinya ada sedikit perasaan aneh yang terbersit, yang tak dapat ia pahami.
Sekitar sembilan belas menit perjalanan Namira sampai di depan gedung perkantoran yang menjulang tinggi yang banyak manusia berlalu-lalang di depannya. Perusahaan yang bergerak di bidang periklanan itu adalah milik Alvan, laki-laki yang dulu amat di cintainya.
Namira berjalan anggun memasuki gedung yang di penuhi para karyawan. mulai dari security yang menunduk hormat padanya, sampai resepsionis yang menyambutnya dengan hangat. Entah mengapa perlakuan mereka masih sama seperti dulu, saat dirinya masih berstatus sebagai calon istri Alvan.
"selamat pagi bu Namira, pak Alvan sedang berada di ruangannya. jika Bu Namira berkenan,kami bisa mengantarkan ke sana" ucap seorang resepsionis wanita yang wajahnya sudah di hafal Namira.
"selamat pagi, Dea. nggak usah di antar, terima kasih. biar saya langsung ke ruangannya saja"
"baik Bu, silahkan"
Namira pun memencet tombol lift kemudian masuk ke dalamnya menuju lantai paling atas, tempat ruangan khusus untuk CEO berada.
Setelah pintu lift terbuka, Namira berjalan beberapa langkah saja, dan menemukan ruangan yang di carinya.
Kenangan masa lalu terlintas saat dia melihat pintu ruangan itu. Dulu Namira sering ke sini untuk membawakan makan siang yang di masaknya sendiri untuk Alvan, atau hanya sekedar memberi kejutan saja hingga tiba-tiba muncul di sana. Senyum Alvan pun pasti langsung merekah jika ia melakukan itu semua.
Tapi kini ia akan datang dengan situasi yang berbeda. Bukan cinta yang membawanya ke sini melainkan kebencian yang ada di dalam hati Namira. Ia merasa baru kemarin datang ke tempat ini. Tapi sekarang semua terasa aneh dan janggal. Namira mengambil nafas panjang lalu mengetuk pintu ruangan itu menggunakan jari telunjuknya.