Pernikahan Keyla dan Edwin yang didasari oleh perjodohan terasa dingin sejak awal. Namun, waktu telah perlahan menumbuhkan benih-benih cinta di hati Edwin. Tepat saat Keyla merasa pernikahan mereka mulai membaik, badai datang dari masa lalu.
Seorang wanita dari masa lalu Edwin, cinta pertamanya, kembali muncul. Kehadirannya yang tak terduga seketika menggoyahkan hati Edwin yang tadinya sudah mulai mencintai Keyla. Edwin, yang masih menyimpan sisa-sisa perasaan, mulai bimbang antara janji pernikahan dan nostalgia.
Di sisi lain, Keyla tengah berjuang meraih impiannya di dunia modeling, sebuah profesi yang tidak disukai dan dianggap tabu oleh Edwin. Keputusan Keyla untuk tetap mengejar karier ini semakin memperkeruh rumah tangga mereka, membuat Edwin merasa tidak dihargai.
Keyla kini berada di ujung tanduk. Ia harus berjuang mempertahankan suaminya dari bayangan masa lalu yang memikat, sambil berusaha membuktikan bahwa pilihannya sebagai seorang model tidak akan menghancurkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarMaker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab24
Keyla baru saja menginjakkan kakinya di sebuah club ternama di kota jakarta, dentuman musik yang sangat keras menyambut kedatangannya, dan jangan lupakan pandangan lapar para lelaki yang di tujukan untuk Keyla.
Keyla tidak memperdulikannya ia segera menuju meja bartender untuk memesan minuman yang sekiranya akan menenangkan pikirannya saat ini.
"Sanu aku pesan minuman yang seperti biasanya" ucap Keyla pada Sanu.
"Jangan terlalu banyak minum ingat Key kamu perempuan yang sudah menikah" pringat Sanu. Ia tidak ingin Keyla mabuk-mabukan seperti dulu lagi.
"Gak usah bacot deh ambilin aja kenapa" ketus Keyla yang tidak ingin terlalu banyak berbicara karena ia sedang pusing.
Sanu menghela nafas berat sepertinya teman lamanya sedang ada problem dan tanpa bertanya sanu langsung mengambil minuman untuk Keyla.
"Hai! Bolehkah saya bergabung?" tanya seorang cowok duduk di samping Keyla.
Keyla hanya melirik sekilas lantas ia segera mengambil pesanannya dari tangan Sanu dan beranjak dari tempatnya.
"Hey kamu mau kemana apa kamu tak mendengar pertanyaanku," ujarnya memegang bahu Keyla.
Keyla menghentikan langkahnya.
"I don't care," ketus Keyla menghentakkan tangan pria di sampingnya dan segera mencari tempat duduk.
"Hahaha sial baru kali ini ada cewek menolak ajakanku," ujarnya memilih pergi dan meninggalkan Keyla.
Keyla meminum minuman beralkohol itu dengan sekali teguk, belum cukup satu gelas ia terus menuangkan minuman yang ada di botol sampai habis bahkan Keyla mengambil botol yang lain dan meminumnya langsung dari botol itu. Pikiran Keyla benar-benar kacau malam ini. Keyla sudah tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Sudah cukup ia bersabar menghadapi sikap cuek Edwin. Edwin memperlakukannya kasar Keyla masih bisa terima tapi kalau ia bermain perempuan di belakangnya, Keyla tidak bisa memaafkannya lagi.
Beberapa menit berlalu sudah terhitung lima botol yang habis di minum oleh Keyla seorang diri.
"Sial," gumam Keyla saat merasakan pusing di kepalanya, ia tidak menyangka akan cepat pusing hanya karena meminum alkohol lima botol, jika dulu ia bisa lebih dari itu.
"***** aku benci kalian," gumam Keyla seraya terkekeh pelan mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.
Keyla berdiri dari tempat duduknya berniat memesan alkohol yang sudah tidak tersisa satupun dimejanya.
Langkahnya yang sempoyongan cukup membuat semua perhatian tertuju pada Keyla.
Keyla hampir saja terjungkal kedepan jika tidak ada seseorang yang dengan cepat menangkap tubuhnya.
"Kamu tidak papah?" tanya seorang cowok.
Keyla mendorong pelan tangan cowok itu. Ia tidak nyaman di sentuh oleh cowok itu.
"Kamu tanya saya tidak papah?" hati saya sakit," ucap Keyla sudah mulai meracau tidak jelas.
Cowok itu yang mendapati Keyla sudah mabuk tersenyum miring. Ia mendekat ke arah Keyla dan merangkul pinggang Keyla posesif.
"Lepasin, kamu siapa berani sekali memegang tubuh saya," racau Keyla berusaha berdiri setegak mungkin dan mendorong pelan dada cowok itu.
Cowok itu tersenyum senang ketika tenaga Keyla tidak ada apa-apanya untuk mendorong tubuhnya. Gadis itu benar-benar mabuk dan sangat menguntungkan untuk dirinya.
"Saya mau tubuh mu," ucapnya menyusuri wajah Keyla dengan sebelah tangannya. Cowok itu tersenyum senang dengan mata yang di penuhi kabut gairah.
"Lepasin saya!" berontak Keyla.
"C'mon baby saya jamin kamu bakalan puas" ucapnya berbisik di telinga Keyla. Keyla bergidik ngeri, meskipun ia mabuk ia masih sadar dengan apa yang ingin pria itu lakukan padanya.
"**** saya tidak sudi kamu sentuh," sentak Keyla sekali lagi mencoba mendorong dada cowok itu kuat tapi dia semakin mempererat rangkulan pada pinggang Keyla sehingga jarak wajah keduanya hanya tinggal lima senti.
Dia tersenyum ketika merasakan nafas Keyla yang bisa dia rasakan sedekat ini. Bau alkohol mendominasi hembusan nafasnya dan itu cukup membuatnya semakin tergoda.
"Lepaass!"
"Kamu tidak akan bisa kemana-mana, baby" ujarnya semakin mendekatkan bibirnya ke bibir Keyla dan hendak mengecupnya.
Cup.
"Jauhkan wajah busukmu itu dari wanitaku" ucap seseorang menghalangi bibirnya dengan telapak tangannya agar tidak menempel pada bibir Keyla.
"Apa maksudmu bangsatt!" Geramnya karena seseorang barusan menggagalkan aksinya.
"Kamu butuh uang berapa?" ucapnya segera menjauhkan tubuh Keyla dari cowok itu.
"Hhahaha sorry saya tidak butuh uangmu tuan Raka Arion Brinata," ucapnya kepada seseorang yang tidak lain adalah Raka.
"Saya kasih peringatan jangan pernah ganggu kekasih saya atau keluarga mu habis di tangan saya, Tama" ujar Raka penuh penekanan. Cowok yang di panggil Tama itu mengepalkan tanganya kuat-kuat hingga kuku-kuku di tangannya memutih. Kalau saja Keluarga Raka bukan pemilik saham terbesar di perusahaan keluarganya, mungkin saat ini juga Tama menghajar cowok itu dan merebut gadisnya.
Raka tersenyum puas di dalam hati melihat Tama yang sudah terbakar emosi. Ia tidak akan membiarkan cowok seperti Tama hidup tenang jika sudah menggangu Keyla.
"Saya rasa 50 jt cukup," ujar Raka seraya melemparkan cek di depan wajah Tama.
Raka segera menggendong tubuh Keyla dan membawanya keluar dari bar meninggalkan Tama yang benar-benar sudah naik pitam.
"Kali ini kamu bisa lolos dariku tapi lain kali tubuhmu akan menjadi milikku." ucap Tama di barengi senyum menyeringai.
•••
Raka membuka pintu mobil dan segera meletakkan tubuh Keyla di kursi mobil. Raka membenarkan posisi Keyla dan memasangkan seatbelt di tubuhnya.
"Kamu kenapa bisa mabuk Key" ucap Raka berbicara kepada Keyla yang tengah memejamkan matanya itu. Raka tahu Keyla mabuk seperti ini pasti sedang memiliki masalah. Keyla sudah terbiasa menghadapi masalah dengan mabuk-mabukan untuk menenangkan dirinya.
Raka menghela nafasnya ia mengambil air mineral dingin yang kebetulan ia beli sebelum pergi ke club tadi. Raka pergi kesana juga karena Sanu yang meneleponnya dan memberi tahu Keyla sedang minum. Raka menempelkan botol mineral itu pada pipi Keyla dan benar saja Keyla langsung menggerakkan badannya tidak nyaman dan perlahan matanya terbuka
"Raka," panggil Keyla lirih. Perasaan lega kembali hadir di dirinya. Ia senang karena dapat bertemu lagi dengan Raka dan terbebas dari cowok tadi. Jika saja tidak ada Raka mungkin hal buruk akan terjadi padanya dan Keyla tidak bisa memaafkan dirinya.
"Kamu tau apa akibatnya kalau aku nggak dat..."
Ucapan Raka terpotong begitu saja saat Keyla langsung memeluk tubuh Raka dengan sangat erat. Keyla menangis di pelukan sahabatnya itu.
"Aku takut hiks," ucap Keyla di sela-sela tangisannya. Bahunya bergetar kencang, Raka awalnya terkejut tapi tidak lama kemudian ia membalas pelukan Keyla dan mengusap lembut kepalanya. Ia tahu Keyla sekarang sedang ketakutan karena kejadian tadi.
"Kamu udah aman ada aku," ucap Raka berusaha menenangkan Keyla.
Cukup lama Keyla terisak di pelukan Raka dan sekarang ia sudah mulai tenang. Saat Keyla tenang Raka melepas pelukannya dan memegang bahunya.
"Aku mau tanya, kamu jawab jujur. Kamu ada masalah apa sampai mabuk kayak gini Key," ucap Raka menatap mata Keyla lekat. Raka tahu Keyla akan mabuk seperti ini untuk menghindari masalahnya.
"Enggak, aku nggak ada masalah," kata Keyla berbohong. Ia tidak mau bercerita karena itu hanya akan membuka lukanya kembali.
"Bohong, aku tau kamu nggak bisa bohong di depan sahabat kamu," ucap Raka menyadari ada kebohongan di mata Keyla. Cewek itu tidak pandai untuk menutupi masalah yang sedang di hadapinnya.
Keyla menundukkan kepalanya tidak lama kemudian bahunya kembali bergetar, lagi-lagi bayangan Alisya saat mencium Edwin teringat jelas di kepalanya. Begitu jelas sampai Keyla merasa hatinya begitu sakit untuk menerima kenyataan itu.
"hiks aku..." Keyla tidak bisa berkata-kata lagi karena rasanya begitu sesak untuk menceritakan semuanya.
"nggak usah di terusin," ucap Raka membawa Keyla kedalam pelukannya lagi.