Sepagi ini Adam Halilintar bersama pemuda desa sudah mangkal di depan sebuah Sekolah PAUD, demi melihat Ibu Guru Jingga, guru honorer di sekolah tersebut, kembang desa yang menjadi idaman dan rebutan para pemuda desa.
"Ibu guru datang," seru salah satu kawan barunya yang bekerja sebagai penadah aren.
Lalu dari balik semak, muncul seorang gadis yang ditunggu-tunggu sedari tadi.
Ketika lewat di depannya, matanya mengamati gadis itu dari atas ke bawah. Otaknya merespon dengan cepat informasi yang ditangkap matanya, spontan memberikan penilaian terhadap gadis itu.
Di bawah standar.
Hatinya mendongkol karena gadis yang ditunggunya ternyata jauh dibawah ekspektasinya.
Deretan wanita yang pernah jatuh ke dalam pelukannya, kelasnya jauh di atas wanita yang baru lewat tadi.
Bila ia turut menggoda Ibu Guru Jingga seperti pemuda desa, lantas berpacaran dengan gadis itu, maka akan menjadi pencapaian terburuk dalam sejarah percintaannya.
Ia yakin, dirinya akan menjadi bahan tertawaan dan bahan lolucon teman-temannya di kota.
Karena kenakalan Adam, ayahnya mengirimnya untuk belajar agama di sebuah desa. Di desa itu, ia menemui kehidupan yang jauh berbeda dari tempat asalnya.
Bagaimana petualangan cinta selanjutnya setelah ia tinggal di desa tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ina As, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Flamboyan Kuning
Adam Halilintar melangkah pulang ke Bukit Hejo, tertawa sendiri mengingat Ibu Guru Jingga yang memainkan peran Roro Jonggrang.
Sementara dirinya bukanlah Bandung Bondowoso yang demi cinta berjuang memenuhi syarat yang sukar dinalar dari Roro Jonggrang.
Bandung Bondowoso sudah membangun sumur yang disyaratkan Roro Jonggrang, namun hampir mati terbunuh didorong oleh Roro Jonggrang ke dalam sumur yang sudah dibangun itu sendiri.
Sudah nyaris mati, tetapi tetap memaafkan Roro Jonggrang.
Membangun hampir seribu candi dalam semalam dengan bantuan pasukan jin, malah diliciki oleh Roro Jonggrang. Sehingga seribu candi rencana yang terbangun hanya sembilan ratus sembilan puluh sembilan.
Sudah membangun sumur dan candi sebanyak itu malah gagal menikahi Roro Jonggrang.
Ia adalah Adam Halilintar, penakluk wanita yang tidak mungkin diperdaya wanita. Tidak ingin senasib dengan Bandung Bondowoso. Mindset-nya dengan Bandung Bondowoso jauh berbeda.
Apalagi ia tahu bila ibu guru itu tidak benar-benar menyukai bunga flamboyan kuning, hanya muslihat agar ia berhenti mendekati ibu guru tersebut.
Hatinya iba mengingat Ibu Guru Jingga, wanita kampung yang melakukan permainan peran menggunakan taktik zaman sejarah untuk mengakalinya. Sementara ia adalah pria kota yang hidup di zaman millenial.
Bunga flamboyan kuning di bukit seberang.
Mustahil bisa mendaki bukit itu, memanjat pohon dan kembali lagi ke Kampung Kopi dalam rentang waktu selepas magrib hingga sebelum Adzan Isya malam ini, meskipun ia mengerahkan pasukan berani mati. Kecuali pasukan jin Bandung Bondowoso membantunya.
Ia menggeleng-gelengkan kepala dengan hati yang geli setiap mengingat taktik lawas yang hanya cocok untuk manusia yang hidup di zaman sejarah.
Ia tidak boleh melakukan hal yang sia-sia.
Langkah membawa kakinya menuju rumah Jusman. Pasukan berani matinya berada di sana malam ini, untuk membantu Jusman memasukkan gula aren ke dalam kemasan.
"Eh Bos Adam, bagaimana buruannya malam ini, nyangkut nggak?" seru Ramli, sedang menggulung tembakau di dalam kertas linting.
Sejak ia bisa memperluas pemasaran gula aren Jusman dan berhasil mendapatkan pemodal untuk usaha batu-bata, pasukan berani matinya memanggil namanya dengan sebutan bos.
"Licin seperti belut. Susah ditangkap," jawabnya datar. Bergabung dengan pasukan berani matinya, duduk di atas kursi plastik.
"Aku punya tugas untuk kalian," gumamnya.
"Tugas apa Bos?" sahut Arsal.
"Jusman dan Ramli, besok pagi kalian ke bukit seberang, bawa karung nilon, isi dengan bunga flamboyan kuning sampai penuh!" perintahnya.
"Memang kambing makan bunga flamboyan ya Bos?" tanya Jusman polos, mengira bunga itu untuk makanan kambing.
"Nggak usah banyak tanya. Pokoknya kerjakan sesuai instruksi." Ia lalu menoleh ke arah Arsal dan Yunus.
"Dan kamu Arsal, besok ke kota kecamatan!"
"Gampang, Bos. Mau beli obat kuat ya Bos?" ledek Yunus.
"Brengsek, sejak kapan aku butuh obat kuat? Nanti aku beri catatan, apa yang harus kamu beli," serunya.
Ia kembali tersenyum sendiri.
Jingga yang polos tidak tahu berhadapan dengan siapa. Berpikir bisa menghentikan langkah seorang player sepertinya.
Sebentar lagi Jingga akan terjerat oleh perangkap Adam Halilintar.
Bila ia gagal, maka ia akan mengutuk Jingga menjadi pohon flamboyan kuning yang kesepian, serupa Bandung Bondowoso mengutuk Roro Jonggrang menjadi batu arca.
*********
Untuk pertama kalinya Jingga melangkah ke sekolah dengan rasa ringan sejak pemuda kota itu sering mengusiknya. Semoga saja dengan gagalnya Adam Halilintar membawa bunga flamboyan kuning sebelum Adzan Isya semalam, pria itu berhenti mengganggunya lagi.
Ia kembali kepada kebiasaan lamanya, setiap berangkat ke sekolah ataupun pulang dari sekolah. Sambil berjalan matanya mencari-cari buah kersen yang telah memerah pada pohon kersen yang tumbuh di sepanjang jalan setapak yang ia lalui menuju sekolahnya.
Bila ia menemukan buah favoritnya tersebut, ia akan melompat-lompat, berusaha menjangkau ranting lalu memetik buah kersen yang telah ranum yang luput dari perhatian burung-burung gereja.
Sebiji kecil buah kersen membawa secercah senyum yang membuatnya bahagia. Hal yang patut disyukuri, merasa hidup itu indah meskipun tolak ukur kebahagiaan setiap orang berbeda.
Begitu tiba di ujung jalan setapak sebelum berbelok ke arah sekolah, perasaan was-was kembali menghinggapinya. Khawatir Adam datang mengantar Masyita dan kembali mengusiknya.
Namun yang ia lihat di depan pagar sekolah bukanlah Adam Halilintar. Tetapi pemuda Bukit Hejo yang lain yang bernama Jusman. Yang menjual palm sugar Bukit Hejo.
Pria itu duduk di atas sepeda motor.
"Assalamualaikum Ibu Guru Jingga," sapa pemuda tersebut, turun dari sepeda motor.
"Waalaikum salam," jawabnya. "Ada apa ya?"
"Ini, diminta Bos Adam membawa ini untuk Ibu Guru Jingga." Jusman menunjuk sebuah karung nilon yang tampak berisi penuh dan diikat ujungnya, sehingga ia tidak tahu apa isinya.
"Apa itu?" Kedua alisnya saling bertaut, bertanya kepada Jusman.
"Bunga flamboyan kuning Bu Guru. Kata Bos Adam, Bu Guru minta tolong diambilkan bunga flamboyan kuning di bukit seberang."
Ia mendesah kesal dan malu sebab Adam mengirim bunga yang tidak ia butuhkan. Satu karung pula. Melibatkan orang lain pula.
"Nah tadi malam Bos Adam pamit buat ngambil bunga itu. Sampai pagi nggak pulang-pulang. Jadi kami susul ke bukit seberang. Ternyata Bos Adam jatuh dari pohon dan nggak bisa jalan lagi," jelas Jusman.
"Apa?" Mendengar ucapan Jusman tidak urung membuatnya terkejut. Tidak menyangka Adam manusia nekat. Nekat ke bukit seberang malam-malam.
Terbersit rasa bersalah di dalam hatinya, menyesal telah membuat syarat tidak berguna yang membahayakan nyawa seseorang.
"Jadi semalaman Bos Adam tidur di hutan, di puncak bukit seberang. Untung nggak dipatuk ular. Kami terpaksa menggotongnya pulang pakai sarung karena nggak bisa jalan lagi," sambung Jusman.
"Jadi bagaimana keadaannya sekarang?" desaknya, hatinya disergah rasa bersalah dan penyesalan yang dalam.
"Tadi Adam udah dibawa rumah sakit di kota. Mungkin kakinya patah. Tangannya juga luka. Kepalanya benjol. Semoga bos nggak geger otak," sahut Jusman menunjukkan ekspresi sedih.
Bagaimana caranya ia meminta maaf dan menebus kesalahan?
Sebentar lagi akan tersiar kabar bila Adam jatuh dari pohon karena dirinya. Mungkin orang kampung akan menyalahkannya. Dan sudah pasti, keluarga Adam akan marah kepadanya.
"Ngomong-ngomong, bunga flamboyan sebanyak ini untuk apa Bu Guru? Untuk mandi kembang ya?"
Wajahnya memanas mendengar pertanyaan polos Jusman.
Namun ia tidak ingin menjawabnya pertanyaan itu. Ia justru balik bertanya kepada Jusman.
"Adam dirawat di mana? Di puskesmas kecamatan atau di rumah sakit kota? Aku mau membesuknya dan meminta maaf," katanya dengan air mata mulai menetes di pipi.
Ia baru saja mencelakai dan hampir menghilangkan nyawa seseorang yang sebenarnya tidak jahat padanya, meskipun sering mengganggunya.
"Di kota. Perlu diantar ibu guru?" tawar Jusman.
Ia menggelengkan kepala. "Tidak perlu. Aku bisa ke kota sendiri."
Terburu-buru ia kembali ke dalam kelas. Mengambil tas dan menitip murid pada Ibu Guru Murti. Lalu pamit pada kepala sekolah.
Reaksinya terlalu berlebihan terhadap Adam Halilintar. Tidak bisa bersikap bijaksana menghadapi pria itu.
Ia menyesal, teramat menyesali.
Baru menyadari bila dirinya adalah makhluk yang kejam tanpa perasaan.
masih mau ngelanjutin cerita nya
😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍
moga sehat sehat
Selamat datang bayi cantik🥰
makasih k ina udah up kembali🙏🥰
q tunggu jg di cerita edel aa