Sakitnya dikhianati pria yang dicintainya, membuat Amanda Adelia menjadi frustasi, ia pergi ke club malam dan tidak sengaja tidur dengan seorang pria bernama Brian Marcelino Bramasta. Namun, tidak disangka-sangka pria itu justru paman dari mantannya, Reno Bramasta.
Bagaimana kisah mereka?
follow akun IG othor Marica-Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ratuku
Satu hal yang Amanda sesali saat ini adalah percaya dengan Brian. Pria itu mengatakan hanya ingin berciuman, tetapi dalam sekejab dia mampu membuatnya telanjang dan membuka kakinya lebar-lebar dengan suka rela. Sialnya tubuhnya tak bisa menolak.
Amanda memejamkan mata sembari mengerang, merasa kenikmatan saat mencapai pelepasannya. Saat ini ia masih berada di bawah kungkungan Brian, napasnya masih terengah, diam sembari meraup udara untuk mengisi pasokan oksigen dalam tubuhnya yang mulai menipis.
Setelah napasnya kembali normal, Amanda membuka mata, tatapannya langsung dipertemukan dengan netra cokelat milik Brian. Ingin marah, tetapi wajah Brian yang tampan dan tatapan tegas pria itu membuat nyalinya menciut.
"Itu hukuman untukmu karena pergi tanpa izin dan berani memikirkan pria lain," bisik Brian membuat Amanda mengerucut sebal.
Pria itu lantas bangun dari atas tubuh Amanda, menarik handuk dan melingkarkan ke pinggangnya. Setelah itu mengayunkan langkah ke kamar mandi, meninggalkan Amanda tanpa kata.
Tidak berselang lama, Brian keluar dari kamar mandi dalam keadaan bertelanjang dada, hanya memakai handuk berwarna putih yang melingkar di pinggangnya, menampakkan tubuhnya yang keras dan tegap, juga otot-ototnya yang terbentuk dengan sempurna. Wajahnya nampak segar dan mempesona dengan rambutnya yang setengah basah.
Brian menghampiri Amanda yang masih berada di tempat tidur dengan tubuh polosnya yang terbungkus selimut. Ia mengambil ponselnya yang ada di meja nakas, lantas mengetikan sesuatu. "Aku sudah tranfer ke rekeningmu," kata Brian.
Seketika, mata Amanda membulat, terkejut dengan pernyataan Brian. "Apa? Kamu tahu dari mana nomor rekeningku?"
"Sangat mudah bagiku untuk mengetahuinya," jawab Brian dengan tenang.
Masih diliputi oleh perasaan tidak percaya, ia mengambil ponselnya dan membuka aplikasi perbankan. Benar saja ada uang masuk dengan nominal yang amat besar. "Du-dua ratus juta? se-banyak ini?"
Amanda kembali melihat ke arah Brian, masih dengan ekspresi tidak percaya.
"Hmm." Brian membungkuk untuk mengecup kening Amanda. "Beli apa pun yang kamu mau! Kalau kurang, bilang."
Amanda tidak menjawab, ia masih mengamati nominal uang dalam jumlah fantastis yang tertera di layar ponselnya. "Aku berasa kaya jual diri sama kamu."
Brian terkekeh mendengar pernyataan Amanda. "Kamu sudah menjadi istriku. Aku tidak akan pernah membiarkanmu kekurangan."
Bibir Amanda melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman, hatinya merasa hangat mendengar pernyataan Brian. "Terimakasih banyak," ucapnya tulus. "Boleh aku pakai uang ini untuk membeli sesuatu untuk adik-adikku di panti?"
Brian tidak langsung merespon ucapan Amanda. Tanpa mengatakan apa pun Brian beranjak dari tempatnya, membuat Amanda merasa bingung. Ia terus memerhatikan Brian, dahinya dipenuhi kerutan melihat apa yang tengah dilakukan oleh Brian. Pria itu terlihat sedang membuka dompetnya, mengambil sesuatu dari dalamnya. Setelahnya kembali ke tempatnya berada.
"Ini untukmu." Brian memberikan sesuatu kepada Amanda, sebuah kartu berwana hitam. "Beli apa pun yang kamu butuhkan untuk adik-adikmu di panti."
Mata Amanda membulat melihat sebuah blak card di tangannya. "AMEX?" gumamnya penuh takjub.
"Hmm," sahut Brian. "Kamu boleh pakai sesukamu," imbuhnya.
"Sungguh?" tanya Amanda memastikan.
Brian mengangguk pelan untuk merespon perkataan Amanda.
Amanda kembali melihat kartu AMEX di tangannya, ia tidak bisa mengatakan apa pun saat ini. Untuk pertama kalinya ia memegang kartu langka itu secara langsung, ia merasa apa yang terjadi saat ini tidaklah nyata.
"Brian," panggilnya tulus. "Thank you." Merasa terharu membuat Amanda sampai menangis.
"Kenapa menangis? Ada yang sakit?" tanya Brian seraya mengusap jejak air mata yang ada di pipi Amanda.
Amanda menggeleng, "Tidak, aku hanya merasa terharu. Rasanya aku sangat beruntung bertemu denganmu."
Brian terkekeh pelan, kembali tangannya terangkat, jemarinya menyentuh sisi wajah Amanda. "Jadi anak yang baik, maka aku akan memberikan apa pun yang kamu mau."
Amanda mengangguk tanpa ragu. "Boleh aku pergi sekarang?"
"Hmm." Brian bergumam untuk merespon perkataan Amanda.
Amanda berseru lantas menyibakkan selimut, memperlihatkan tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun. Rasa senang membuatnya tidak memperdulikan apa pun, termasuk keberadaan Brian.
"Jangan berlari, Amanda." Brian menahan tangan Amanda saat wanita itu bersiap untuk berlari.
"Maaf." Amanda tersenyum sembari menunjukkan deretan giginya.
Setelah itu ia berjalan dengan perlahan dan penuh kehati-hatian menuju ke kamar mandi.
Tidak berselang lama, Amanda keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe. Senyumnya mengembang ketika melihat Brian sudah rapi dengan setelah jasnya.
"Ini pakaian untukmu dan vitaminmu. Kamu buru-buru pergi sampai lupa sarapan dan minum vitamin," kata Brian dengan nada tegas.
"Maaf," sahut Amanda dengan wajah yang tertunduk malu, rasa sesal terlihat jelas di raut wajah Amanda.
"Pakai baju terus makan. Aku sudah minta koki di hotel ini untuk menyiapkan makanan untukmu," kata Brian, lantas menunjuk makanan yang sudah tertata rapi di atas meja.
Tanpa berpikir panjang, Amanda mengangguk seperti anak yang penurut.
Setelah itu, Amanda mengganti pakaiannya dengan baju yang diberikan oleh Brian. Sebuah dress berwarna navy yang tidak terlalu ketat, panjang dress itu hanya sampai batas lutut.
Selesai berganti pakaian, Amanda bergabung dengan Brian di sofa. Pria itu terlihat sedang berkutat dengan iPadnya. Wajah pria itu sangat serius, tetapi justru membuatnya semakin mempesona.
"Mau aku buatkan kopi?" tawar Amanda.
"Hmm." Brian bergumam seraya mengangguk, tanpa melihat ke arah Amanda.
Dengan segera Amanda membuatkan kopi. Ia mencampurkan gula dan bubuk kopi ke dalam cangkir lantas menuangkan air panas ke dalamnya. "Mau ditambahkan krimer?"
Brian menggeleng pelan, "Kopi hitam saja."
"Baiklah. Ini kopinya," ucap Amanda seraya meletakkan kopi buatannya di dekat Brian.
"Hmm." Brian lantas meletakkan iPadnya, tangannya terulur untuk meraih cangkir kopi, membawanya ke dekat mulut, ia menyesapnya perlahan. Gerakannya terhenti sesaat, kemudian melihat ke arah Amanda.
"Kenapa? Apa kopinya tidak enak?" tanya Amanda.
"Buatkan aku kopi seperti ini setiap hari," sahut Brian yang segera disambut anggukkan oleh Amanda
Setelahnya tidak ada obrolan lagi, keduanya fokus dengan kegiatan masing-masing. Amanda fokus pada makanannya dan Brian fokus pada pekerjaannya.
Drrrt ...
Ponsel Amanda berdering. Segera melihat ke arah ponselnya yang tergeletak di hadapannya. Layar ponselnya menunjukkan nama ibu panti. Tidak menunggu waktu lagi, Amanda segera menerimanya panggilan itu.
"Halo, Bu?" sapa Amanda.
"..."
"Benarkan?" tanya Amanda dengan ekspresi terkejut sekaligus merasa senang. "Syukurlah, Bu."
"..."
"Kalau begitu nanti aku akan pulang dan kita rayakan sama-sama," kata Amanda. Setelah itu menutup sambungan teleponnya.
"Ada apa? Kenapa kamu terlihat senang sekali?" tanya Brian.
Amanda tidak langsung menjawab pertanyaan Brian karena mulutnya penuh dengan makanan. Setelah menelan makanan itu Amanda baru menjelaskan alasan apa yang membuat dirinya sangat senang.
"Kata ibu panti ada orang baik yang mengirim perlengkapan rumah ke panti. Tapi orang itu nggak mau diketahui identiasnya," jelas Amanda, sedangkan Brian manggut-manggut mengerti.
"Oh iya, ini kartumu. Aku tidak membutuhkannya lagi." Amanda menyodorkan kartu AMEX kepada Brian. "Tadinya aku ingin membeli beberapa barang di panti. Tapi seseorang sudah lebih dulu membelikannya."
Fokus Brian teralihkan, ia menatap kartu AMEX yang dipegang oleh Amanda tanpa minat. "Aku berikan itu untukmu. Simpan saja!"
"Kamu yakin?"
"Hmm."
"Baiklah, aku akan menyimpannya," kata Amanda dengan sumringah.
Beberapa saat berlalu, Amanda sudah selesai makan dan juga sudah meminum vitaminnya. Ia lantas berpamitan kepada Brian. "Aku sudah selesai. Boleh aku pergi?"
Brian mengangguk pelan. "Kamu mau ke panti?"
Giliran Amanda yang mengangguk. "Kapan-kapan kamu mau ikut ke panti nggak? Aku kenalin sama ibu panti. Dia yang sudah merawatku dari kecil, dia sudah seperti ibu kandungku."
"Nanti aku nyusul. Aku sudah suruh orang untuk mengantarmu ke sana," kata Brian dengan lembut. Tangannya terulur untuk mengusap bibir Amanda membuat getaran tercipta di sekujur tubuhnya.
"Brian ... boleh aku bertanya satu hal padamu?" tanya Amanda.
"Kamu boleh bertanya apa pun padaku," jawab Brian.
"Kamu akan merahasiakan status hubungan kita pada semua orang, 'kan?" tanya Amanda, entah mengapa ada harapan besar di dalam tatapan Amanda.
"Kenapa aku harus melakukan itu?" kata Brian.
"Kamu nggak malu memiliki istri dari kasta rendahan sepertiku?" tanya Amanda.
"Jika aku malu, aku nggak akan menikahimu," jawab Brian tanpa ada keraguan sedikit pun.
Entah mengapa Amanda merasa senang mendengarnya, padahal sebelumnya ia tidak pernah berharap hal itu. Disembunyikan sudah menjadi makanannya, mengingat kisah cintanya dengan Reno dulu seperti itu.
"Tapi untuk saat ini tolong sembunyikan hubungan kita dari semua orang yang ada di sini. Aku nggak bisa membayangkan reaksi mereka saat tahu aku ini istrimu. Mereka pasti akan mencecarku dengan begitu banyak pertanyaan. Aku merasa belum siap kehamilanku diketahui oleh banyak orang," ujar Amanda.
"Sesuai keinginanmu," sahut Brian.
"Oh iya, satu lagi. Kamu harus waspada dengan perempuan bernama Jolie. Dia wanita penggoda, dia juga pernah merayu Reno. Aku tidak mau jika kamu tergoda olehnya," peringat Amanda.
"Kenapa? Cemburu, hmm?" ledek Brian.
"Aaa, itu ... aku ...?" Amanda menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, bingung harus menjawab pertanyaan Brian seperti apa.
Amanda tidak tahu apakah dirinya cemburu atau tidak, terlalu awal jika ia menganggap hal itu sebagai sebuah kecemburuan. Saat ini Amanda hanya merasa tidak rela jika Jolie kembali mengganggu kehidupannya kembali.
"Kamu nggak berniat mengkhianatiku, 'kan?" Mata Amanda menyipit, menatap Brian dengan curiga.
Brian terkekeh pelan melihat ekspresi Amanda yang terlihat menggemakan. "Dia bukan seleraku."
Jawaban Brian belum sepenuhnya membuat Amanda puas. "Jika kamu berniat melakukannya, lebih baik ceraikan aku saja."
"Jangan bicara sembarangan! Aku nggak seberengsek itu," kata Brian dengan tegas.
Amanda beringsut saat melihat tatapan tajam Brian. Ia memilih menunduk untuk menghindari tatapan Brian.
"Dengar, Amanda." Brian meraih dagu Amanda, meminta wanita itu untuk melihat ke arahnya. Pandangan mereka lantas bertemu dan terkunci pada satu titik yang sama. "Aku menikahimu bukan karena anak yang ada di dalam rahimmu saja, tapi ada sesuatu dalam dirimu yang membuat aku tertarik. Jangan berpikir yang bukan-bukan! Saat aku memilihmu, maka saat itu juga kamu sudah menjadi ratuku. Nggak akan pernah ada yang lain."
rupanya hanya anak adopsi koq belagu banget🤣🤣🤣