Pemuda tampan itu bukan siapa-siapa, sampai di mana ia ditemui wanita yang tiba-tiba menawarkan tiga juta hanya untuk ciuman bibirnya.
Sejauh Marco melangkah, tiada yang tahu jika di balik matrenya berondong itu, ialah pewaris tahta yang dibuang oleh ayah crazy rich-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasha Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 022
Patricia diam di jok jet pribadi keluarga Rain, tengah dalam perjalanan menuju negara di mana Marco dan Allura terlacak.
Seperti yang semua tahu, Patricia bekerja melayani Allura, dan ketika Allura pergi maka tak ada yang dikerjakan sekarang ini.
Sial memang, benar- benar sial. Sebelumnya, hampir seluruh keluarga Rain, mencecar seolah, Patricia ikut berkontribusi dengan Marco dan Natalie.
Yang padahal, Patricia benar- benar tidak tahu menahu soal penculikan. Nathalie saja tak beritahu apa pun, padahal dia sahabatnya.
Awas saja kalau ketemu, tidak akan Patricia memaafkan begitu saja. Seharusnya kalau memang mau diculik, Patricia juga dong!
Ah, jenuh sekali rasanya. Kini, di sisinya ada Langit yang sedari tadi merayu seakan bayi tampan ini tak punya malu.
Dia ingat benar saat Langit masih bayi, didorong stroller oleh Mommy Snowy, makanya tak bisa Patricia beri senyum meski si tampan itu menyebutkan Sayang.
"Coklat panas, Sayang." Patricia menerima gelas dari pemuda itu. "Jangan panggil aku, Sayang, Tuan muda yang Unce Unce."
"Why? Aku sayang kamu, Patricia!"
Patricia menyengir kecut. "I'm too, but, Patricia tidak menerima rayuan adik temannya!"
Langit tertawa, baiklah terserah, lagi pula, Langit sedang mengincar wanita lain lagi, lebih tepatnya wanita bercadar.
"BTW, apa Kakak benar-benar tidak tahu di mana Marco dan Kak Allura hmm?"
"Masih mau bertanya lagi?"
Patricia mengangkat gelasnya seakan ingin menggetok kepala play boy gila. Patricia tak suka dicecar, apa lagi, dia memang benar- benar tidak tahu.
"Baiklah, tidak."
...\=\=~©®™~\=\=...
"Terima kasih, Om Sergey."
Marco memeluk tubuh tinggi tegak yang berdiri dingin di depannya. "Tempat ini tidak terlacak, tapi, ingat lagi, kau bersembunyi dari keluarga yang memiliki banyak hacker."
Marco tak masalah, Marco tidak takut walau harus menghadapi itu. "Tenang saja sebelum aku tertangkap. Aku akan bantu bujuk Tante Natalie supaya mau dinikahi olehmu, Om."
Sergey hanya terkekeh. "Baiklah, aku pergi, beberapa orang ku akan mengawasi kalian dari kejauhan. Kita barter keuntungan."
Marco manggut- manggut, kemudian meraih koper hitam untuk dibawa masuk ke sebuah rumah khas Timur Tengah.
Marco, Natalie dan Allura sudah dua minggu berada di sini. Sebuah tempat di gurun pasir, Al Madam kota pedalaman di Emirat Sharjah tepatnya di persimpangan jalan Dubai Hatta.
Bangunan kotak tak bergenteng yang hampir seluruhnya berwarna coklat. Halaman belakang luas dengan kursi out door, malam hari tanpa satu pun bintang yang bersinar.
Panggang ayam terguling sedikit tinggi di atas gelegak unggun api. Sergey sudah mengantarkan mereka, tugasnya berakhir saat Natalie memintanya pergi.
Cukup dengan dibantu hingga memiliki tempat tinggal saja, selebihnya Marco bisa mengatasi hidup pengasingannya. Satu koper uang riyal telah tersedia.
Marco lemparkan pada Natalie dan Allura yang melongo melihatnya. "Kau dapatkan uang ini dari Sergey?"
Yah, sebelumnya Marco menukar uang- uangnya dengan riyal. Sergey yang banyak membantunya dan itu tidak gratis.
Sergey ingin Marco membantunya agar Natalie mau menikah. "Sudah kubilang, Marco punya uang walau tidak banyak."
Allura menggeleng kepala, sedikit tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Adiknya Langit masih hanya menghambur hamburkan uang keluarga, tapi, Marco malah menghasilkan.
"Kau yakin tidak meminjam?"
Marco angkat bahu untuk pertanyaan itu. Dua tahun Marco mengumpulkan uang, menjadi pacar dengan bayaran mahal, sesekali menerima job model, juga, bekerja menjadi chef yang selalu menciptakan menu baru.
Lihatlah, wanita independen di hadapannya masih menganggap dirinya Berondong yang hanya bermodalkan dengkul.
"Kita akan tinggal di sini, dan Marco yang akan menafkahi kalian. Suasananya cukup mendukung, khas Timur Tengah, dua istri."
Marco menghindari gelas kopi kosong yang Allura arahkan padanya. "Aku hanya bercanda, Sayang."
"Kita makan dulu saja."
Natalie meraih ayam panggangan mereka, lalu menatanya di satu tempat, dan mereka akan menyantapnya bersama.
Di bawah atap langit yang legam, udara yang sedu sedan, ditemani irama percikan api hingga pagi benderang menerjang.
Marco, Natalie, dan Allura tertidur dalam posisi duduk, ia bertiga di kursi kayu panjang, saling memeluk menghangatkan, di selimut tebal khas Timur Tengah yang sama.
Marco terbangun lebih dulu, derap kaki yang mendekat meminta pengindahan otak dan mata Marco agar tertuju padanya. Yang dia lihat, Allura di sebelah kiri, dan Natalie di sisi kanannya.
Marco beringsut sedikit agar gerakannya juga membangunkan yang lain. Satu orang pria yang ternyata anggota perkumpulan rahasia milik Sergey menghadap.
"Beberapa orang sedang menuju tempat ini. Jadi, pergi sekarang juga." Pria itu keluar lagi untuk mengawasi di kejauhan.
Sergey yang melarang keras untuk ikut serta terlalu banyak. Bagaimana pun, Sergey tak mau berurusan dengan hal yang bisa saja akan memudahkan seseorang mengungkap perkumpulan rahasianya.
Allura segera bangkit setelah menggeliat kecil dan terkejut akan info yang terdengar, Natalie pun melakukan hal sama. Ketiganya bergegas masuk ke dalam rumah.
Berbagi tugas, Marco mengemas koper uang untuk dipindahkan ke ransel, Allura dan Natalie mandi bersama agar cepat. Setelah itu, Marco bergantian mandi sementara kedua wanita tangguh itu berganti pakaian.
Semuanya dilakukan serba cepat, hiruk- pikuk pagi yang tergesa- gesa. Tak lama, Marco keluar lengkap dengan celana hitam panjang, berjalan untuk meraih t-shirt.
Tanpa peduli jika Natalie dan Allura menatap ingin perut sixpack miliknya. Dalam bayangan masing- masing, Marco menggagahinya, sampai, Marco menjentikkan jari tepat di depan wajah dan merusak angan keduanya.
"Sudah siap bermain petak umpet?"
"Aku suka petak umpet." Allura tertawa begitu pula dengan Natalie. Marco meraih jaket dan memakaikannya sambil menerima kecupan bibir kekasihnya.
Natalie hanya menelan saliva. "Tolong jangan berciuman sementara aku tidak."
Marco dan Allura terkikik. Gegas ketiganya keluar dari rumah tersebut, mengikuti arah ke mana orang- orang Sergey berlari hingga keluar dari perkampungan penduduk.
Sempat ketiganya melihat mobil yang cukup mencurigakan. Sejenak bersembunyi dan memilih pelarian ke arah lain.
Ada waktu di mana mereka memanjat truk kosong, lalu dibawa ke sembarang arah yang sama sekali tak diketahui pemiliknya sampai langkah mereka tiba di sebuah bangunan.
Ngos- ngosan, kelelahan, Allura menunduk dan terduduk di kursi. Lanskap yang tidak biasa, bangunan yang cukup menawan mata.
"Ini Museum Hiterage bukan?"
"Benar." Marco baru akan melangkah ke arah bangunan, panggilan berseru ke arahnya.
Tiga orang pria dengan pakaian eksekutif serba hitam berlari padanya. Marco kenal siapa mereka, yah, Om Amas dan bawahan ayahnya yang crazy rich.
Marco tak butuh waktu lama hanya untuk memikirkan langkah berikutnya. Gegas ia meraih tangan Allura, kemudian Natalie untuk diajaknya berlari sekali lagi.
"Kita lari!"
"Tuan muda, tunggu!" Di sela lari, Allura menoleh sesekali, menyimak setiap seruan orang- orang itu. "Tunggu, Tuan muda!"
"Marco." Allura mempererat genggaman tangan yang dibawa lari kekasihnya, "kenapa mereka memanggil mu, Tuan muda?"
"Tidak usah dipikirkan, Sayang. Itu sama seperti trik marketing pedagang kain yang memanggil calon pembelinya Buk Haji."
Natalie tertawa geli hingga memperlambat laju larinya. "Aku tahu trik jitu itu. And now, mereka membujuk Marco dengan sebutan Tuan muda. Lucu sekali."
gitu ngak ya maksudnya🤭
cemangat All.. tunjukkin klan Rain apasih yg ngak bisa buat komar tercenang.. 🤭😄😄
🤣🤣