Angkasa, seorang Kapten tentara Angkatan Udara yang tegas dan dingin berusia 28 tahun, sangat malas berhadapan dengan wanita. Namun dengan karakternya yang rumit itu, ia justru harus menikah dengan seorang gadis cerewet, ceplas-ceplos dan kekanakan bernama Aina Maura; Kekasih dari adik kembarnya sendiri, Samudera.
Pernikahan paksa tersebut terjadi ketika Samudera mengemban tugas penyelamatan sandera di Tongo, dan mewasiatkan agar Angkasa menikahi kekasihnya jika ia tak kembali lagi. Beban yang diemban Angkasa, perasaan duka serta kasih sayangnya pada adik kembarnya itu akhirnya mendorong Angkasa mengucapkan kata nikah di hadapan ayah Aina.
"Saya akan menikahinya, sekarang!"
Karakter Aina yang tidak cocok untuk Angkasa, membuatnya bersikap dingin bahkan mengacuhkan istrinya sendiri, "Saya tidak pernah mencintai kamu, semua terjadi karena permintaan adik saya dan mendiang ayah kamu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon unchihah sanskeh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 - Langkah Dalam Masa Lalu
Seperti yang dijanjikan Angkasa, pencarian Samudera diperluas dengan bantuan Nico. Sekarang sudah banyak perkembangan yang disampaikan, terutama malam ini, Nico datang dari Luar Negeri dan mendatangi Angkasa di ruang kerjanya untuk sesuatu hal terkait misi yang diterimanya dari sang 'Bos'.
"Lebih cepat dari dugaanku," sambut Angkasa dengan mata membulat saat temannya itu muncul dari balik pintu. "Aku sangat menantikan kehadiranmu Nico, bagaimana misi Sam?"
"Ada beberapa hal penting patut ku sampaikan, Bos." Ujar Nico setelah menarik kursi di depan meja Angkasa dan mendudukinya.
Angkasa mengangguk kemudian membenarkan posisi duduknya, gestur tubuhnya tegap dan serius, menyimak dengan seksama tentang apa saja yang akan disampaikan oleh Nicolo terkait saudara kembarnya Samudera.
"Perkampungan di atas bukit tempat para teror-is itu sudah kosong, ku rasa sejak Kak Sam melakukan operasi di sana. Tidak ada jejak, tidak ada anggota mereka yang tertinggal atau bersembunyi. Cukup aman untuk menjelajahi hutan itu, jauh dari dugaanku. Tapi meski begitu, aku dan tim belum juga menemukan jejak Kak Sam, atau paling tidak mayatnya." jelas Nico. "Jadi kesimpulannya sampai sekarang, hanya ada dua kemungkinan, Kak Sam memang masih hidup dan tinggal di hutan itu bertahan sebisa mungkin, atau disekap dan dibawa teror-is pindah ke tempat lain."
Angkasa meletakkan tangannya yang kuat berwarna cokelat di atas kepalanya. Kemudian ia berhenti, mengambil napas yang panjang, dan memejamkan mata selagi mengeluarkan napas yang menyesakkan itu menjadi embusan yang panjang dan perlahan. "Terima kasih, Nico." Angkasa mengangkat bahunya, kemudian menggeleng dan berkata, "Aku tahu itu bukan pekerjaan yang mudah, aku tidak tahu sebanyak apa bahaya dan ancaman yang sudah kamu dan anak mafia mu dapatkan di sana. Hanya saja, aku benar-benar berharap pada kalian, aku membutuhkan kalian."
"Jangan menanggungnya sendiri, Bos," kata Nico. "Kamu jauh lebih tertekan dari semua ini. Menjaga jodoh wasiat saudara kembar memang tidak semudah yang orang katakan, aku benar kan?"
Angkasa menyipitkan mata dan memandang Nicolo. "Ya, seperti dugaanmu. Ini cukup pelik, dan aku pun tak bisa memaksakan perasaannya untuk berhenti mengejar cinta Samudera."
"Tidak masalah," kata Nico dan mendorong kursinya untuk bangkit. Ruang kerja Angkasa itu adalah ruangan yang sangat bersahabat, dan ia merasa sangat nyaman di situ daripada di bagian mana pun rumah peninggalan kakeknya, ayah dari Isma dulu.
Nico menggigil, melipat lengannya di belakang kepala, dan bertanya pada Angkasa, "Apa Dian mengunjungi mu terus sejak kembali?"
"Tidak," jawab Angkasa seraya merapikan barang-barangnya untuk pulang. "Dia sudah jarang main atau menemui ku, ku rasa dia sedang sibuk sekarang."
"Memang sudah seharusnya begitu," kata Nico, merasa kesal. Ya, Angkasa merupakan lelaki yang mengagumkan. Pria itu mampu membuat wanita merasakan hal-hal yang agak gila, sementara lelaki itu terlalu dingin dan menutup mata. Terkesan sangat bodoh karena tak peka pada gerak-gerik perempuan.
Ya Tuhan. Batin Nico. Betapa anehnya ia bisa memikirkan dan mempercayai pernikahan Angkasa dan Aina. Ia sadar bahwa Angkasa telah jatuh cinta pada gadis yang telah dititipkan oleh adik kembarnya sendiri, kekasih dari adiknya, Samudera. Namun sangat berluas hati karena Aina masih memikirkan saudaranya, belum mencintainya sama sekali. Sungguh tidak sanggup dimengerti oleh Nico.
"Jangan terlalu dekat dengan Dian bos," lanjut Nico dengan nada berat. "Aku tahu kamu sudah menganggapnya sebagai adik, tapi kondisi sekarang sudah berubah. Kamu sudah menikah, biasakan untuk saling menjaga perasaan. Aina sendiri, mungkin akan paham bila kamu tunjukkan cara menghargai pasangan. Itu tugasmu sebagai kepala keluarga. Dan juga----"
Nico menghela napas dan menjatuhkan tangannya dari belakang kepala, "Kalau kamu mencintai, jangan pernah ragu untuk berkata. Kalau kamu takut terluka, kamu tidak akan pernah bisa mencintai orang lain. Seandainya kamu kamu bisa jujur, mengatakan perasaanmu sendiri, apapun hasilnya----- pasti akan menjadi cinta yang indah." Kata Nico sebelum Angkasa sempat berkata.
Senyuman Nico menyungging untuk meyakinkan Angkasa. Dan lelaki yang dipanggilnya 'Bos' itu terdiam, "Dian ingin menghancurkan, dan kamu harus peka terhadap itu semua."
Pada saat yang sama, setelah Nico benar-benar pergi meninggalkannya. Angkasa mulai berpikir sambil memandangi langit-langit ruangan, mencari tahu seberapa penting dirinya untuk Aina. Mungkin masih ada harapan, dan dia bisa merasakan perasaan istrinya lagi seperti sepuluh tahun yang lalu. Saat Aina, terus menatapnya penuh kekaguman, dan selalu mengatakan bahwa; Aku mencintai kakak... tunggu aku beberapa tahun lagi, aku pasti akan menikahi kakak.
Angkasa mendengus dan mengangkat dagu. "Takkan ada yang lebih indah dari hidupku, sebelum aku mendapatkan senyum bahagiamu saat menatapku dulu. Andai kita masih tetap sama---" Katanya sambil tertawa kecil.
"Saat itu, aku harus pergi meninggalkan kamu untuk menempuh pendidikan di Angkatan Udara. Rasanya agak terkejut, saat Sam memperkenalkan kamu pada anggota keluarga. Rupanya aku terlambat kembali; Kamu, rupanya telah menjalin cinta dengan adik kembarku."
Dia melamun sepanjangan, mengingat kembali kenangan-kenangan lama antara ia dan Aina. Mengingat kembali masa yang telah terjadi dahulu, di masa lalu. Yang hanya ia sendiri tahu, sementara Aina masih berkutat pada praduganya pada Samudera. Gadis itu, telah salah mengenali cinta.
Di lain tempat, di jauh sana. Pada rumah yang ditempati Angkasa dan Aina, bel rumah berbunyi dua kali memaksa Aina berangkat ke depan pintu.
Pintu masuk terayun dan perempuan bertubuh tinggi langsing dengan pakaian hitam tebal, lensa mata biru, serta lipstik merah kegelapan berdiri di depan Aina sekarang. "Kita perlu bicara!" Kata Dian blak-blakan.
...****************...
Assalamu'alaikum, halo ini Author. 🙋
Setelah banyaknya drama yang terjadi saat penulisan Kak Asa, dan author hanya sempat menulis satu BAB saja atau malah libur ಥ_ಥ. Jadi banyak permasalahan, Alhamdulillah author umumkan, kesehatan author sanskeh sudah kembali 99% sehingga mulai besok akan update seperti dulu 2/3 BAB (´༎ຶ ͜ʖ ༎ຶ `)♡.
Author pun sudah memutuskan untuk tidak melan-jutkan Kak Asa ke Ev3nt L0mba, mengingat Author belum mampu menyesuaikan tema sehingga ini mungkin terasa agak nganu 😛✌. Author sanskeh ingin anak author menjadi kami apa adanya, agar tidak menimbulkan kegagalpahaman antara kita semua. Jadi, mohon dukungan kalian selalu, author sanskeh telah kembali!!! dan Kak Asa akan menemui jalan hidupnya di novel ini.
Sayang kalian banyak-banyak. Salam hangat; Author Unchiha dari Konoha.