Tasya Fitra Shakilah Haris, gadis cantik bertubuh mungil itu menjadi korban keegoisan ayahnya yang ingin menjodohkannya dengan anak dari sahabatnya, walaupun menolak berkali-kali Tasya akan tetap dijodohkan dengan pria yang memiliki umur jauh lebih tua darinya bahkan ia tidak mengenalinya dan tidak pernah memikirkan akan berjodoh dengan pria yang di anggapnya tua itu, namun karena suatu kejadian akhirnya Tasya menerima perjodohan itu dengan penuh keterpaksaan.
Akankah pernikahan mereka akan menimbulkan cinta?
Yukk baca kisah Tasya selanjutnya ❤️❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shakila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan malam bersama part 2
"Tidak usah tante, Rey bisa sendok sendiri kok." ujar Rey menatap Tasya dingin. Karena Rey tahu Tasya akan menolak permintaan mamanya, lagi pula Rey tidak mengharapkan hal itu. Saat mendengarkan ucapan Rey, Tasya langsung menoleh ke arahnya dan betapa terkejutnya saat melihat Zayn yang tenga duduk di samping Rey dan sedang memperhatikannya.
Glek
Tasya menelan ludanya dengan susah payah, ia tidak menyangkah jika akan bertemu Zayn secepat ini. Dan pasti Zayn sudah memiliki banyak pertanyaan di kepalanya, meminta kejelasan.
Tasya masih menatap Zayn dengan sedikit tercengang. Dia belum siap bertemu dengan Zayn dan juga dia belum menyiapkan jawaban-jawaban atas pertanyaan Zayn nantinya.
"Syaa." panggil Kinaya menyentuh tangan Tasya. Seketika Tasya langsung membuyarkan lamunannya.
"Eh, iya ada apa maa?" tanya Tasya menoleh ke arah mamanya.
"Kenapa bengong? ayo makan, mama sudah menyendokan makanan untukmu." ujarnya tersenyum lalu Tasya membalas senyuman mamanya itu, dengan segera Tasya meraih sendok dan menyantap makanannya itu. Merekapun mulai menyantap makanan mereka, tetapi tidak dengan Zayn, ia masih menatap Tasya penuh tanya lalu menoleh ke arah Rey kemudian mendekatkan mulutnya ke telinga Rey dan berkata
"Kak, kakak berutang penjelasan padaku." bisiknya namun Rey tidak menghiraukannya, ia masih sibuk menyantap makanannya. Merasa tidak dihiraukan Zayn berdiri dari duduknya, entah kenapa Zayn jadi tidak berselerah untuk menyantap makanannya dan ingin segera pergi meninggalkan tempat itu.
"Kau mau kemana?" tanya om Vino saat melihat Zayn hendak melangkahkan kakinya
"A-aku mau ke depan pa."
"Tidak sopan sekali. Habiskan makananmu dulu." bentaknya.
"Iya paa." Zayn kembali mendudukan tubuhnya lalu dengan malas ia meraih sendok dan mulai menyantap makanannya. Zayn mulai memikirkan tentang kejadian di Villa, saat Rey menabrak Tasya di dapur dan saat melihat tatapan mereka sebenarnya Zayn curiga jika mereka sudah saling mengenal tapi bantahan Tasya membuat kecurigaan Zayn menjadi pupus.
"Berarti Sisil tidak berbohong saat mengatakan kalau ia melihat Tasya keluar dari kamar kak Rey waktu di Villa dan juga Ryo pernah mendapati Tasya dan kak Rey berduan di restoran karena mereka benar-benar menyembunyikan hal ini" gumam Zayn dalam hati sambil menatap Tasya.
Zayn tidak habis pikir dengan jalan pikiran Tasya, kalau ia akan menikah dengan kak Rey kenapa dia masih menjalin hubungan dengan Ryo? begitu kira-kira pikiran Zayn saat ini.
*
Setelah menghabiskan makan malam mereka, Haris memanggil Vino untuk mengobrol di ruang kerjanya sedangkan Rey dan juga Zayn kembali ke ruang tamu.
"Kak, kenapa Tasya?" tanya Zayn saat mendudukan tubuhnya di sofa tepat di samping kakaknya itu. Rey menoleh ke arah Zayn sambil mengernyitkan dahinya bingung.
"Kak, kenapa kakak mau dijodohkan dengan Tasya? bukankah kakak sudah tahu jika Tasya kekasih sahabatku?"
"Apa kau lupa? kau yang memaksaku untuk menerima perjodohan ini. Dan juga aku baru tahu saat di Villa kemarin jika Tasya adalah kekasih sahabatmu yang tidak tahu diri itu." ketusnya menatap Zayn kesal. Jika saja Zayn tidak memaksanya untuk menerima perjodohan itu, Rey tidak akan pernah mau menikahi Tasya
"Kalau kakak sudah tahu jika Tasya memiliki kekasih, kenapa kakak tidak memutuskan perjodohan ini?" tanyanya. Rey mendengus kesal kemudian ia menghela napas panjang dan berkata
"Apa kau sudah gila? aku akan menikah besok lusa dan aku baru mengetahui hal itu dua hari yang lalu, mana mungkin aku memutuskan perjodohan ini secara sepihak?"
"Ta-tapi kak. Apa pernikahan kalian akan bahagia? aku tahu betul jika Tasya sangat mencintai Ryo." ucap Zayn merasa ibah terhadap Rey karena ia telah memaksakan kakaknya itu untuk menerima perjodohan ini dan juga Zayn yakin jika Rey tidak akan mendapatkan cinta dari Tasya.
"Entahlah, aku tidak memikirkan hal itu." ucapnya lalu Rey menundukan kepalanya.
"Kak, maafkan aku. Sungguh aku tidak tahu jika Tasya yang akan menikah denganmu itu Tasya yang aku kenal." ucap Zayn dengan wajah memelas kemudian ia mengubah posisi duduknya menghadap ke arah Rey.
"Tidak apa-apa Zayn. Lagian ini sudah terjadi dan sudah sangat terlambat untuk mengambil keputusan itu, lagi pula papa terlihat sangat bahagia dengan perjodohan ini." ujar Rey masih tetap menunduk.
"Apa kakak sudah melupakan kak Sasya?" tanyanya. Rey langsung mendongakan kepalanya lalu menatap Zayn dengan tatapan sendu.
"Aku tidak bisa melupakannya dan tidak akan pernah melupakannya. Aku masih sangat mencintainya."
"Kak, bagaimana jika pernikahan kalian tidak akan bertahan lama?"
"Hm, ak--u " Saat Rey hendak menjawab tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan Vino dan juga Haris
"Pernikahan siapa yang tidak akan bertahan lama?" tanya Vino yang baru saja datang lalu mendudukan tubuhnya di sofa tepat di depan kedua anaknya itu.
"Oh, i-itu pa. Teman Zayn akan menikah dan mereka tidak saling mencintai, jadi Zayn pikir pernikahan mereka tidak akan bertahan lama." ucap Zayn sedikit gugup sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Percayalah pada papa, jika mereka sudah menikah dan tinggal bersama perlahan benih cinta akan tumbuh di antara mereka, benar kan Har?" ujar Vino penuh keyakinan lalu menoleh ke arah Haris yang tengah duduk di sampingnya itu meminta persetujuan,
Haris membenarkan perkataan sahabatnya itu lalu berkata "Iya, seiring berjalannya waktu mereka akan saling mencintai." jawabnya menatap Rey. Haris yakin jika perkataan Zayn barusan mengarah pada pernikahan Rey dan juga Tasya.
"Oh iya pa, apa berkas yang Rey minta sudah di siapkan?" tanya Rey mengalihkan pembicaraan.
"Jangan membahas pekerjaan di sini." cetus om Vino. Seketika Rey menutup mulutnya
"Papa sudah membicarakan dengan Haris jika Tasya akan ikut denganmu ke luar negeri."
"Ta-tapi pa, Tasya kan masih kuliah." ucap Rey menatap papanya dengan wajah memelas. Ia tidak ingin Tasya ikut dengannya karena ia berpikir itu akan sangat merepotkannya nanti dan ia pergi ke luar negeri bukan karena liburan tapi mau mengurusi perusahaannya yang sedang bermasalah.
"Nanti papa akan menghubungi pihak kampus agar Tasya tidak masuk kuliah dulu atau dia bisa kuliah online nanti"
"Tapi Pa, aku ke sana bukan untuk berlibur, aku ke sana untuk mengurusi perusahaan yang sedang terkena masalah." ketusnya kesal. Rey sangat tidak ingin pergi ke luar negeri bersama wanita yang bersifat kekanak-kanakan itu
"Justru jika ada Tasya, dia akan menyemangatimu." ujar Vino sambil tersenyum. Rey membalas senyuman papanya dengan senyuman kecut
"Mana ada menyemangati malah yang ada nanti ia akan merepotkanku saja" gumam Rey dalam hati
"Pa, Zayn pamit pulang dulu ya. Soalnya Zayn mau reunian dengan teman SMA Zayn." pamitnya hendak berdiri, karena Zayn sudah merasa bosan berada di sana.
"Pulanglah!, papa tidak akan memberimu uang harian."
"Huh, selalu saja mengancam. Baiklah Zayn akan tetap di sini." ujarnya dengan malas lalu menyandarkan kepalanya di sofa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Happy Reading ❤️❤️
sukses selalu buat othor nya