Dunia Modern
Lingfei seorang pro gamer no.1 didunia
meninggal dikhianati oleh sahabatnya sendiri.
Namun sebelum meninggal rohnya dipanggil
oleh seorang dewa.
Dan dia di beri sebuah sistem untuk menemaninya di dunia yang kejam dimana yang kuat berkuasa dan yang lemah ditindas atau disebut juga dunia kultivator.
Apakah Linfei dan sistemnya bisa merubah tatanan kehidupan yang kejam jadi kehidupan aman dan damai tanpa memandang status?
Yuk baca! novel pertama gw oke!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tama Wrworf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chap 21. Membalikkan Keaadaan !!
Setelah kedatangan dua orang itu atau bawahan lingfei yaitu phoenix es dan api pertempuran kembali terjadi dan seimbang karena dua orang itu.
Lima belas menit berlalu pertempuran masih berlanjut, namun jendral jun dan pasukannya mulai terpukul mundur karena ulah kedua orang itu yang terus membabat pasukan jendral jun.
' BOMMM......'
Ledakan kembali terdengar yang entah dari mana asal serangan itu, saking besarnya ledakan itu pertempuran terhenti sejenak mengalihkan pandangannya kearah asal dari ledakan itu.
" Beraninya Kalian Menyerang Keluargaku, Tak Akan Kumaafkan Kalian Semua " teriak seorang pemuda yang tengah terbang dengan jubah emas dan paras yang tampan bak seorang dewa turun dari langit, dan itu mampu membuat semua orang terpana akan ketampanannya dengan aura yang agung.
" Itu...itu tuan muda lingfei " ucap salah satu anggota Klan yuan memecah keheningan yang terjadi.
Tak percaya perkataan orang itu mereka semua kembali menatap fokus terhadap pemuda itu, begitu juga dengan ayahnya.
Mereka semua terkejut bukan main bahwa pemuda yang tengah terbang itu adalah tuan muda mereka, tuan muda yuan lingfei yang dikatakan sampah tidak berguna, justru memancarkan aura agung dan juga menindas.
Lingfei yang ditatap intens hanya acuh, dia hanya menatap tajam kearah jendral jun dan pasukannya dan itu membuat mereka bergidik ngeri ketika ditatap lingfei.
jendral jun yang ditatap lingfei mundur satu langkah karena takut.
" kenapa aku merasakan jika aku melawan pemuda itu, kemungkinan besar aku akan mati ditangannya " batin jendral jun.
Jendral jun langsung menepis pikirannya, dia tidak mau harga dirinya terinjak hanya kerena seorang pemuda, namun keegoisan jendral jun dapat merugikan pasukannya hanya kerena harga diri membutakan mata jendral jun.
( Pertanyaan buat teman teman semua, kalian lebih memilih harga diri kalian diinjak tapi demi kebaikan orang orang, atau memilih hanya karena haga diri tapi merugikan semua orang?, ga di jawab juga ga papa )
" heh...hanya bocah ingusan, beraninya melawan kami semua " ucap jendral jun menjelekkan lingfei.
Para pasukan jendral jun terkejut akan keegoisan jendral jun, kedatangan dua orang itu saja mempu membuat kita bertekuk lutut, apalagi pemuda itu yang memancarkan aura agung itu bagaimana nasib kita pikir mereka semua.
" Huh.....inikah sifat asli jendral jun yang dibanggakan semua orang, ternyata sifatnya sama saja seperta jendral yang lainnya, dasar JENDRAL BAJING*N " batin para pasukan yang masih tersisa menahan amarah mereka.
" Kalian semua serang mereka jangan ada seorang pun hidup " perintah jendral jun.
pasukan yang tersisa menunjukan rasa ragu dalam diri mereka.
Jendral jun melihat wajah keraguan dalam diri mereka, berdecak kesal.
" Kalian Semua, Kenapa Dian Saja Cepat Serang Mereka " teriak jendral jun kesal.
Para pasukan hanya pasrah dengan nasib mereka, tanpa rasa ragu mereka kembali menyerang Klan yuan.
" Ck... jendral bodoh, mengorbankan pasukannya, hanya karena harga diri " gumam lingfei menggelengkan kepalanya.
Tak mau berlama lama lingfei langsung melesat kearah pasukan jendral jun, begitu juga dengan para anggota klan yuan dan kedua phoenix itu.
Pertempuran kembali terjadi, ledakan terjadi dimana mana, panah terus melesat, benturan pedang menggema, teriakan memohon ampun terus terdengan, teriakan teriakan kesakitan menggema di Klan yuan dan itu membuat para anggota klan yuan yang bukan seorang kultivator ketakutan bahkan ada yang sampai terpingsan karena tidak kuat mendengar teriakkan yang memilukan, Klan yuan yang dulu megah kini sebagian hancur karena pertemuran itu.
Lima menit kemudian.......
Hanya dalam lima menit saja pasukan dari jendral jun meninggal semua dan menyisakan jendral jun seorang, karena pasukan jedral jun dalam diri mereka masih ada keraguan dan takut itulah yang membuat fokus bertempur mereka terpecah.
Jendral jun yang hanya tersisan seorang diri takut ketika berhadapan lingfei menyesal akan keegoisannya, namun penyesalan itu tidak ada artinya lagi itu semua sudah terjadi.
" Tuan mohon ampuni hamba yang rendah ini yang tidak tau akan besarnya kekuatan tuan " ucap jendral jun merendahkan dan memasang wajah menyesalnya, namub berbeda dengan hatinya.
" huh.....hanya untuk tetap hidup, aku harus merendah seperti ini sungguh memalukan, dikemudian hari aku pasti akan membunuhmu bocah ingusan " batin jendral jun.
Jika saja pasukannya mendengar ucapan jendral jun mungkin mereka akan mengutuk, mengucapkan sumpah serapah terhadap jendral jun, bagaimana tidak, ketika masih terdapat pasukannya dia memerintahkan untuk menyerah kembali, dan ketika dia hanya seorang diri dia merendah, ' Manusia laknat, Tak tahu malu, Manusia bajing*n ' mungkin itulah yang akan mereka katakan jika mereka masih hidup.
Lingfei hanya menatap jijik ke jendral jun, tak habis pikir manusia rendahan seperti dia bahkan lebih rendah dari seorang iblis masih dibiarkan hidup itulah yang ada di benak lingfei.
' Manusia rendahan bahkan lebih rendah dari seorang iblis '
Itulah yang terus muncul di benak lingfei.
" Setelah kau mengorbankan pasukanmu, beraninya kau merendah seperti itu, bahkan seorang iblis yang rendah tak serendah dirimu " ucap lingfei menatap jendral jun jijik dan kesal.
Jendral jun mendengar itu marah, dia langsung menarik pedangnya yang dia ikat di pinggangnya.
Lingfei yang sudah mengetahui akan tindakan itu dia langsung melesat dan menusuk jantung jendral jun.
' Jleb........'
Pedang lingfei tepat menusuk di jantung jendral jun, darah muncrat mengenai wajah lingfei yang tampan itu, namun ketampanannya masih saja terlihat walau wajahnya terbalur dengan darah, lalu dia mencabut pedangnya dan langsung menyimpannya di cincin ruangnya.
Pertempuran telah terhenti, kemenangan diraih Klan yuan raut kebahagian jelas diwajah anggota klan yuan, namun berbeda dengan dengan lingfei dia hanya acuh bahkan dalam diri lingfei terdapat rasa amarah akan penyerangan yang dilakukan kekaisaran bing dan kekaisaran Qian yang tidak mau membantu klan yuan terhadap penyerangan itu.
Ketika larut dalam kebahagiaan mereka semua melihat cahaya biru melesat ke arah mereka, semakin mendekat cahaya itu terlihat dua orang melesat dengan kecepatan yang sangat cepat dan itu mengasilkan cahaya biru.
Lalu kedua orang itu mendarat tepat di belakan lingfei.
" Salam hormat tuan muda/lingfei " ucap mereka berdua yang ternyata kedua bawahannya yang lain yaitu zhu zhu dan shen gu bertekuk lutut dengan satu kakinya menopang tubuhnya.
Lingfei langsung membalikkan tubuhnya, melihat kedua bawahannya berlutut dia langsung menyuruh untuk berdiri.
" Berdirilah kalian berdua, sudak ku bilang berapa kali untuk tidak berlutut kalian sudah ku anggap keluargaku sendiri " ucap lingfei tersenyum manis.
zhu zhu dan shen gu tersenyum bahagia karena lingfei menganggap mereka sebagai keluarga, kebahagiaan mereka bertambah melihat lingfei tersenyum kepada mereka, pasalnya ketika lingfei tersenyum seperti itu dia sudah melupakan kesalahan yang dilakukan oleh mereka berdua.
" bagus kalian berdua menyelesaikan tugasnya dengan benar dan cepat " puji lingfei ke mereka.
mendengar ucapan lingfei mereka berdua berdiri dengan tegak menyombongkan seolah olah mereka memangang terbaik.
Lingfei hanya menatap jijik karena kesombongan mereka, lalu suara terdengar dari samping mereka dan itu suara yang dirindukan oleh lingfei, yaitu ayahnya.
" Lingfei, apakah kau anakku, yuan lingfei " ucap patriack yuan wei ayah yuan lingfei yang masih ragu.
namun ketika mendengar lingfei dia langsung meneteskan air mata kebahagiaan karena anak satu satunya kembali dengan selamat
" Benar ayah ini aku, anak ayah " ucap lingfei tersenyum bahagia.
Tak pikir panjang ayahnya langsung memeluk erat lingfei melupakan statusnya sebagai patriack dan menangis keras.
" Ayah, apakah ayah melupakan kalau ayah adalah kepala keluarga klan, malu dilihat banyak orang karena sikap ayah seperti ini " ucap lingfei yang berusaha melepaskan pelukan ayahnya.
Yuan wei langsung melepas pelukannya dan mengelap air matanya, lalu melihat sekeliling yang ternyata tengah dilihati oleh banyak orang.
Lalu dia kembali kesikap tegap layaknya seorang pemimpin tapi dihatinya masih ada rasa malu.
" ekhmm.....kalau begitu fei'er kita temui ibumu " ucap yuan wei.
" Baiklah ayah " ucap lingfei bahagia.
Lalu mereka semua kembali ke kediaman mereka masing masing, sedangkan yang kediamannya hancur sementara menginap di kediaman anggota yang lain.
#
Hallo !!
Sorry baru bisa up, yah begitulah baru kemaren masuk udah banyak tugas ajah, jadinya yah ga ada waktu buat nulis hehehe.
Jangan lupa Like, Komen, Dan Shere keteman teman kalian.oke !!
see yuu !!
bye bye !!
dahhhh !!