Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Di Balik Asap Tipis Restoran BBQ
𝐅𝐋𝐀𝐒𝐇𝐁𝐀𝐂𝐊
Malam itu, setelah pintu rumah Sael tertutup dengan bunyi berdebam yang agak terburu-buru, Aeros masih terpaku di teras rumahnya sendiri. Ia menunduk, menatap tas kain di tangannya, lalu beralih menatap keset di depan rumah Sael yang posisinya agak bergeser.
Aeros tidak bisa menahan senyumnya. Punggung tangannya yang beberapa detik lalu sempat menyentuh dahi Sael masih menyisakan sensasi halus kulit gadis itu.
"Lucunya," gumam Aeros pelan, terkekeh sendiri sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam rumahnya.
Ia membawa tas kain itu ke meja makan. Begitu kotak bento dikeluarkan, aroma gurih saus kari langsung menguar, memenuhi ruangan dan seketika membangkitkan selera makannya—padahal satu jam yang lalu ia baru saja menghabiskan seporsi nasi goreng di kafe.
Aeros membuka tutup bento tersebut. Matanya sedikit membulat melihat isinya. Daging ayam katsu yang dipotong rapi, digoreng keemasan, disandingkan dengan saus kari kental yang masih hangat. Di atas nasinya, ada taburan wijen hitam dan potongan wortel yang dibentuk dengan sangat rapi.
Aeros tertegun sejenak. Pikiran pemuda itu langsung melayang pada kejadian kemarin pagi, saat ia terjaga di samping ranjang Sael, mengganti kompresannya, dan bagaimana tangan mungil Sael memeluk tangannya seolah tidak mau ditinggal pergi.
"Niat banget bikinnya," bisik Aeros. Gurat lelah di wajahnya setelah seharian mengurus kafe mendadak menghilang begitu saja,
Ia mengambil sendok, menyendok potongan katsu yang sudah dilumuri saus kari bersama sedikit nasi, lalu menyuapkannya ke dalam mulut.
Rasanya benar-benar enak. Sembari mengunyah, Aeros merogoh saku celananya, mengambil ponsel, dan membuka ruang obrolannya dengan Sael. Jarinya bergerak di atas layar, hendak mengetik sesuatu.
‘𝘚𝘢𝘦𝘭, 𝘬𝘢𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘦𝘯𝘢𝘬 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵. 𝘔𝘢𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘺𝘢.’
Aeros menatap baris kalimat itu selama beberapa detik. Ibu jarinya menggantung di atas tombol send. Entah mengapa, ia merasa pesan itu terlalu biasa.
Ia ingin menggodanya sedikit, membayangkan bagaimana wajah Sael akan memerah jika membaca pesannya.
Aeros menghapus ketikannya, lalu menggantinya:
‘𝘒𝘢𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘦𝘯𝘢𝘬 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵, 𝘚𝘢𝘦𝘭. 𝘒𝘢𝘺𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘭𝘢𝘨𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘳𝘦𝘭𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘫𝘢𝘨𝘢𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘢𝘴𝘢𝘭 𝘶𝘱𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘵𝘰 𝘣𝘰𝘹 𝘪𝘯𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪.’
Aeros terkekeh pelan membaca ketikannya sendiri. Namun, sedetik kemudian ia menggelengkan kepala dan menghapus pesan itu lagi. "Terlalu agresif, bisa-bisa anak orang nggak bisa tidur nanti malam," pikirnya.
Akhirnya, Aeros memutuskan untuk meletakkan ponselnya kembali ke meja tanpa mengirim pesan apa pun. Ia memilih untuk menghabiskan makanan itu tanpa sisa.
Sambil menikmati suapan terakhirnya, Aeros menatap ke arah jendela luar yang menghadap langsung ke arah rumah sebelah. Sebuah rencana kecil tiba-tiba melintas di kepalanya untuk esok pagi.
𝘉𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘱𝘢𝘨𝘪.. 𝘬𝘢𝘺𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘸𝘢𝘭 𝘯𝘨𝘦𝘤𝘦𝘬 𝘬𝘢𝘧𝘦 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘨𝘦𝘴𝘦𝘳 𝘢𝘨𝘢𝘬 𝘴𝘪𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯, 𝘣𝘪𝘢𝘳 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳 𝘥𝘪𝘢 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢, batin Aeros, tersenyum penuh arti sambil membereskan kotak bekal
Dan rencana kecil itu berjalan sempurna.
Sepanjang sisa hari itu di kafe, fokus Aeros agak terbagi. Beberapa kali ia kedapatan melirik jam tangan hitam di pergelangan tangannya. Karyawan kafenya bahkan sempat bingung melihat sang bos yang biasanya super serius meneliti laporan stok, hari ini malah lebih sering tersenyum sendiri sambil mengetuk-ngetuk pulpen ke meja.
Tepat pukul empat sore, Aeros sudah merapikan berkas-berkasnya. Ia bergegas menuju mobil SUV hitamnya, membelah jalanan kota yang mulai padat demi mengejar waktu sebelum jam pulang kantor Sael tiba.
Aeros memarkirkan mobilnya di area 𝘥𝘳𝘰𝘱-𝘰𝘧𝘧 lobi gedung kantor Sael tepat pukul lima kurang sepuluh menit. Ia mematikan mesin, melepas kacamata bacanya, lalu mengambil ponsel untuk mengirim pesan
[ 𝐏𝐞𝐬𝐚𝐧 𝐀𝐞𝐫𝐨𝐬 ] 𝘚𝘢𝘦𝘭, 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘭𝘰𝘣𝘪. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘳𝘶-𝘣𝘶𝘳𝘶, 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪.
Hanya butuh waktu tiga menit sampai status pesan itu berubah menjadi centang biru ganda, disusul balasan dari Sael.
[ 𝐏𝐞𝐬𝐚𝐧 𝐒𝐚𝐞𝐥 ] 𝘌𝘩, 𝘒𝘢𝘬 𝘈𝘦𝘳𝘰𝘴 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵? 𝘐𝘺𝘢, 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘦𝘴-𝘣𝘦𝘳𝘦𝘴. 𝘓𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯 𝘬𝘦 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩 𝘺𝘢, 𝘒𝘢𝘬.
Aeros menyimpan kembali ponselnya ke saku kemeja. Ia menyandarkan punggungnya di jok mobil, matanya menatap lurus ke arah pintu kaca lobi gedung itu.
Hingga akhirnya. Sael berjalan keluar dengan blus kerja berwarna pastel yang membuatnya terlihat segar, dipadukan dengan celana kain hitam. Rambutnya sedikit agak berantakan terkena embusan angin sore,
Aeros segera turun dari mobil, berdiri di samping pintu penumpang, lalu melambaikan tangan pelan.
Begitu mata mereka bertemu, Sael tampak mempercepat langkahnya.
"Lama ya menunggunya, Kak?" tanya Sael begitu sampai di depan Aeros,
"Enggak kok, baru aja," jawab Aeros lembut. Ia membukakan pintu mobil untuk Sael. "Masuklah, di luar mulai panas."
"Makasih, Kak." Sael masuk dengan patuh.
Aeros menutup pintu, lalu memutari kap mobil untuk kembali ke kursi kemudi.
Sebelum menghidupkan mesin, Aeros menoleh ke samping, memperhatikan Sael yang sedang sibuk membetulkan letak 𝘴𝘦𝘢𝘵𝘣𝘦𝘭𝘵-𝘯𝘺𝘢.
"Gimana kerjaan hari ini? Lancar?" tanya Aeros membuka obrolan sambil mulai melajukan mobilnya keluar dari area gedung.
"Lancar kok, Kak," jawab Sael. "Kalau kafe gimana?"
"Ramai seperti biasa. Tapi untungnya semua urusan beres lebih cepat," Aeros melirik Sael sekilas dari sudut matanya, senyum jahil tiba-tiba terbit di wajah tampannya. "Oya, Sael. Kael tadi siang nggak ada kirim pesan yang aneh-aneh ke kamu, kan?"
Sael langsung tersedak ludahnya sendiri mendengar nama kembarannya disebut. "E-eh? Enggak kok!! Kenapa??" Sael panik,
Aeros terkekeh renyah. "Oh, kirain. Soalnya tadi siang dia sempat kirim pesan ke aku."
Mata Sael langsung membulat sempurna. "Hah?! Kael 𝘤𝘩𝘢𝘵 Kak Aeros?! Dia... dia bilang apa?!"
Aeros melirik Sael sekilas, menahan senyum melihat kembarannya Kael sukses membuat Sael senewen bahkan tanpa berada di tempat yang sama.
"Dia cuma nanya," Aeros sengaja menjeda kalimatnya, mengetuk setir dengan ritme lambat. "Katanya, 'Kak, si Sael kalau salah tingkah di mobil jangan diturunin di pinggir jalan ya. Kasihan, entar dikira udang rebus lepas.'"
"KAEL!!!" Sael kesal, "Bener-bener ya itu anak! Pulang ini fix nggak bakal aku kasih ampun!" Ia menutup wajahnya karena malu.
Aeros tertawa lepas. Ia mengulurkan tangan kirinya, lalu dengan lembut menepuk puncak kepala Sael dua kali.
"Sudah, nggak usah didengerin. Kael kan cuma bercanda," kata Aeros,
𝐃𝐈 𝐑𝐄𝐒𝐓𝐎𝐑𝐀𝐍 𝐁𝐀𝐑𝐁𝐄𝐐𝐔𝐄
𝐏𝐎𝐕 𝐀𝐞𝐫𝐨𝐬
Aroma 𝘮𝘢𝘳𝘣𝘭𝘦𝘥 𝘣𝘦𝘦𝘧 yang berdesis di atas panggangan sama sekali tidak bisa mengalihkan fokusku. Dari balik asap tipis, mataku berkali-kali melirik ke arah Sael. Dia duduk di depanku, memperhatikan potongan daging wagyu dengan binar mata yang sama persis seperti anak kecil.
Sial, melihatnya sekilas saja sudah membuat konsentrasiku buyar.
Aku berdeham pelan, berusaha mengontrol ekspresi wajahku. Kuambil penjepit besi, membalik potongan daging.
"Nih, coba yang ini dulu," ujarku dengan suara berat yang kuusahakan terdengar santai. Aku meletakkan sepotong daging paling empuk yang baru matang langsung ke atas piringnya.
"Gila, ini enak banget! Lembut parah, Kak," serunya. Pipinya langsung menggembung penuh, membuat wajahnya terlihat dua kali lebih menggemaskan. "Kakak nggak makan?"
"Ini mau makan," sahutku pendek.
Aku berbohong. Alih-alih menyuap daging ke dalam mulutku sendiri, mataku justru terkunci pada setitik saus ssamjang yang tertinggal di sudut bibirnya. Tapi entah dorongan impulsif dari mana, tanganku justru bergerak sendiri meraih selembar tisu.
Dengan gerakan perlahan, aku mengusap sudut bibirnya.
"Makan yang benar. Berantakan," gumamku.
Sael langsung terpaku. Gerakan mengunyahnya terhenti, dan sepasang mata bulatnya menatapku lurus-lurus dengan tatapan terkejut yang polos.
Detik itu juga, aku bisa melihat dengan jelas rona merah yang perlahan menjalar di kedua pipinya.
𝘚𝘪𝘢𝘭, 𝘈𝘦𝘳𝘰𝘴. 𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯?
Begitu kesadaranku kembali, aku langsung menarik tanganku. Aku buru-buru bersandar kembali ke kursiku, membuang tisu itu, dan pura-pura sibuk membolak-balik daging yang sebenarnya sudah matang sempurna—bahkan hampir gosong.
"Habiskan semuanya," ujarku,
Sael menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah, lalu mengangguk pelan. "Iya," gumamnya pelan.
Aku ikut menunduk untuk menyembunyikan senyuman yang tak bisa ku tahan.
*****
Sekitar tiga puluh menit perjalanan dari restoran 𝘣𝘢𝘳𝘣𝘦𝘲𝘶𝘦 yang diselingi obrolan ringan dan musik radio yang mengalun santai, mobil SUV hitam itu akhirnya berbelok memasuki kompleks perumahan mereka dan berhenti tepat di depan pagar rumah Sael.
Namun, pemandangan di depan pagar sukses membuat Sael menghela napas panjang.
Di sana, bersandar di pagar pembatas dengan gaya sok keren sambil mengunyah keripik singkong, berdiri Kael. Begitu melihat mobil Aeros berhenti, cowok itu langsung menegakkan tubuhnya, melambaikan tangan dengan heboh.
"Panjang umur, biang keroknya sudah nunggu di depan," gumam Aeros geli saat memarkirkan mobil.
Sael membuka sabuk pengamannya dengan gerakan cepat, bersiap untuk turun dan mengesekusi kembarannya. "Makasih banyak ya, Kak, udah diantar pulang."
"Sama-sama, Sael," Aeros tersenyum manis. "Masuklah."
Begitu Sael membuka pintu mobil dan turun, suara Kael langsung menggelegar menyambutnya. "Wah, wah, wah! Selamat datang kembali ke dunia nyata, Ibu Peri! Gimana perjalanannya? Aman? Nggak ada insiden jantung maraton, kan?"
Sael tidak menjawab. Ia hanya berjalan dengan langkah cepat, menatap Kael dengan pandangan tajam. Begitu jarak mereka dekat, Sael langsung merebut bungkus keripik singkong dari tangan Kael dan memukul lengan kembarannya itu dengan tas kerjanya.
"Aduh! Sakit, Sael! Kak Aeros, lihat nih, Sael KDRT!" adu Kael sambil tertawa-tawa, mencoba menghindar dari amukan kembarannya.
Dari dalam mobil, Aeros menurunkan kaca jendela, menonton interaksi kocak si kembar itu sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Aku pamit masuk duluan ya, Kael, Sael."
"Yo! Makasih ya, Kak, udah balikin kembaranku dengan selamat!" teriak Kael melambaikan tangan.
Sael ikut menoleh, sedikit menunduk untuk menatap Aeros di balik kemudi.
Begitu mobil Aeros tidak terlihat lagi, Kael langsung menyenggol bahu Sael dengan sikunya, memasang wajah super kepo. "Eh, jujur deh. Tadi di dalam mobil... ada kemajuan nggak? Minimal pegangan tangan kek, kayak pas kamu sakit kemarin?"