Ketika efisiensi bertemu dengan kekacauan, siapa yang akan benar-benar menaklukkan siapa?
"Cinta bukan soal efisiensi, tapi tentang bagaimana ia membuatmu kehilangan kendali."
Kisah tentang Ben Arganza, asisten dingin dan merupakan bayangan Baron Frederick yang sedang menjadi target penaklukan seorang gadis ceroboh bernama Lala Narayan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Menunggu Vonis
Gita tertegun di depan rak pakaian bayi, tangannya yang memegang sepasang sepatu rajut kecil gemetar. Di depannya, seorang gadis dengan celemek toko yang agak miring sedang menunduk, wajahnya pucat pasi saat sang pemilik toko melontarkan makian dengan suara melengking yang memekakkan telinga.
"Ini yang terakhir, Lala! Dan kamu dipecat! Keluar dari tokoku sekarang juga!"
Lala, yang rambutnya diikat asal-asalan dan wajahnya tampak sedikit lelah, hanya bisa bergumam pelan, "Maafkan saya, Nyonya... saya benar-benar tidak sengaja salah menempelkan label harganya."
Gita tidak membuang waktu. Ia melangkah maju dengan perut buncitnya yang harus ia topang, membuat para pengawal Frederick di belakangnya langsung siaga.
"Tunggu!" seru Gita tegas.
Sang pemilik toko berbalik dan wajahnya langsung berubah pucat saat melihat siapa yang berdiri di depannya. Ia segera membungkuk dalam-dalam. "Nyonya Frederick... ada yang bisa kami bantu? Maaf, gadis ceroboh ini baru saja membuat kesalahan fatal..."
Gita mengabaikan sang bos. Ia menatap Lala yang kini mendongak. Mata mereka bertemu.
Ada kilatan keterkejutan di mata Lala, diikuti oleh rasa takut yang murni dan canggung—kecerobohan yang sama, namun dengan aura yang entah mengapa terasa lebih... dewasa.
"Lala?" Gita mendekat, meraih tangan gadis itu. "Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau sampai bekerja di tempat seperti ini?"
Lala tampak gelisah, ia melirik ke arah pintu toko, seolah mencari jalan keluar. "Nyonya... saya... saya hanya mencoba mencari pekerjaan. Saya tidak bermaksud..."
"Dia dipecat, Nyonya," sela sang bos toko dengan wajah penuh harap. "Dia tidak berguna. Tolong, jangan biarkan dia merusak reputasi toko saya."
Gita menatap tajam ke arah pemilik toko, lalu beralih kembali ke Lala. "Berapa kerugiannya karena kesalahan ini?"
"Eh? A-apa, Nyonya?"
"Katakan saja nominalnya," perintah Gita tenang. Ia menoleh ke pengawal di belakangnya. "Selesaikan tagihannya, lalu beli toko ini. Sekarang."
Pemilik toko ternganga, wajahnya berubah menjadi pias. Sementara itu, Lala mematung, matanya melebar tak percaya. "Nyonya, tidak perlu—"
"Aku tidak menerima penolakan," potong Gita. Ia menarik napas dalam, merasakan tendangan kecil dari bayi di dalam perutnya, seolah setuju dengan tindakannya. "Aku butuh seseorang yang bisa mendekorasi kamar bayi dengan sempurna, dan aku tidak peduli seberapa ceroboh kau. Kau ikut denganku ke Mansion."
Di sudut jalan di luar toko, sebuah sedan hitam terparkir dengan kaca gelap. Di balik kemudi, Ben Arganza yang sedang memantau situasi melalui alat komunikasi, mengeraskan cengkeramannya pada setir hingga bunyi kriet plastik terdengar.
"Sial," umpat Ben lirih saat melihat Gita menarik Lala masuk ke dalam mobil.
Ia baru saja menghabiskan tujuh bulan untuk memastikan Lala berada di luar radius aman, dan sekarang, sang nyonya rumah sendiri justru menjemput "ancaman" itu dan membawanya langsung ke sarang naga.
Ben menyalakan mesin. Ia harus sampai di Mansion sebelum mereka tiba. Ia harus memutar otak—apakah ia akan membiarkan Lala masuk kembali ke lingkungan Frederick, atau ia harus melakukan hal yang lebih gila lagi untuk memastikan gadis itu pergi selamanya?
Kau benar-benar tidak bisa berhenti bermain api, Lala, batin Ben pahit, sambil memacu mobilnya mengikuti mereka dari jarak yang aman.
Tiba di Mansion Frederick.
Lala tersentak kecil saat tubuh mungil yang familiar itu menabrak kakinya. Alba, yang kini sudah jauh lebih tinggi dan lincah, mendongak dengan mata berbinar lebar, tidak menyadari ketegangan yang menyelimuti suasana di sekitar mereka.
"Kak Lala!" seru Alba kegirangan, suaranya yang melengking memecah kesunyian lobi mansion yang megah. Tanpa ragu, ia memeluk kaki Lala erat-erat. "Kak Lala ke mana? Alba cari di ruang desain, tapi Kak Lala nggak ada!"
Lala membeku. Jemarinya yang dingin gemetar hebat. Ia menunduk, mencoba memberikan senyum tipis pada Alba, namun matanya terus melirik ke arah pintu masuk utama—ke arah lorong di mana ia tahu sosok itu akan muncul.
Gita, yang berdiri di samping Lala, tersenyum hangat melihat interaksi itu. "Lihat, Lala? Alba bahkan lebih mengingatmu daripada siapa pun."
Namun, suasana hati Gita berubah saat ia menyadari perubahan drastis pada Lala. Gadis itu pucat pasi, napasnya pendek-pendek seolah oksigen di ruangan ini sangat tipis.
"Lala? Kau baik-baik saja?" tanya Gita khawatir.
Sebelum Lala sempat menjawab, suara langkah sepatu pantofel yang teratur, presisi, dan terdengar dingin bergema di lantai marmer.
Tap. Tap. Tap.
Itu bukan langkah sembarang orang. Itu adalah irama langkah yang sudah dihafal oleh setiap saraf di tubuh Lala. Pria itu baru saja masuk ke Mansion, langkahnya berhenti tepat sepuluh langkah di belakang mereka.
Ben Arganza berdiri di sana, mengenakan setelan jas hitam yang sempurna. Wajahnya sedatar beton, namun sorot matanya... tajam seperti belati yang baru saja diasah. Ia menatap punggung Lala, lalu beralih menatap Alba yang masih memeluk kaki Lala dengan protektif.
"Nyonya," suara Ben terdengar, berat dan rendah, membuat bulu kuduk Lala berdiri.
"Anda membawa tamu yang... tidak terjadwal."
Lala perlahan melepaskan pelukan Alba, tubuhnya sedikit merosot karena lututnya mendadak lemas.
Ia tidak berani menoleh. Ia hanya bisa merasakan kehadiran Ben yang perlahan-lahan mendekat, auranya yang dominan seolah menekan udara di sekitar mereka hingga terasa sesak.
Gita menoleh ke arah Ben dengan tatapan yang sedikit menantang. "Dia bukan tamu, Ben. Dia adalah orang yang akan membantu menyelesaikan kamar bayi. Ada masalah?"
Ben kini berdiri tepat di belakang Lala. Ia tidak menatap Gita. Ia menatap Lala dengan tatapan yang penuh peringatan—sebuah tatapan yang mengatakan bahwa satu langkah salah saja, ia tidak akan segan untuk menghancurkannya kembali.
Ben membungkuk sedikit, wajahnya berada di samping telinga Lala. Lala bisa mencium aroma cologne maskulin pria itu, aroma yang dulu terasa menenangkan, namun kini terasa seperti hukuman mati.
"Selamat datang kembali, Nona Ceroboh," bisik Ben dengan nada dingin yang hanya bisa didengar oleh Lala. "Kali ini, aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan mudah. Aku akan memastikan kau menyesali setiap detik yang kau habiskan di dalam rumah ini."
Alba, yang polos, menarik tangan Ben. "Om Ben, jangan marahin Kak Lala! Kak Lala baik!"
Ben terdiam, menatap tangan kecil Alba yang memegang jarinya, lalu beralih menatap Lala yang kini memejamkan mata, menunggu vonis yang akan dijatuhkan pria itu di depan Gita.
***
Like dan komen dong 😁
jadi nikmati aja alurnya