"Setelah lima tahun menjadi pelayan tak bergaji bagi suami dan keluarga mertuanya, Rania pergi membawa luka dan kembali sebagai badai yang akan menghancurkan kerajaan mereka."
Selamat membaca...jangan lupa dukung authir yaa...terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangisan di Balik Jeruji Besi
Bau menyengat dari antiseptik murah bercampur aroma lembap dinding semen yang berlumut langsung menyambut indra penciuman Rendra Wijaya begitu ia melangkahkan kaki melewati pintu besi tebal Lembaga Pemasyarakatan Wanita.
Di sampingnya, Ibu Ratna berjalan dengan langkah yang terburu-buru, bahkan sesekali hampir tersandung kakinya sendiri karena rasa tidak sabar yang amat sangat untuk menemui putri bungsunya.
Di tangan kanan Rendra, sebuah kantong plastik putih berisi dua kotak nasi ayam goreng cepat saji yang ia beli dari sisa uang tabungan serabutannya sebulan ini tergenggam erat. Uang receh yang dikumpulkannya dengan memeras keringat dari tengah malam hingga subuh akhirnya bisa membawa mereka ke tempat ini.
Ruang kunjungan lapas pagi itu sudah mulai dipadati oleh keluarga tahanan lain. Suasana bising oleh suara tangisan, obrolan lirih, dan pengawasan ketat dari beberapa sipir berseragam biru tua membuat atmosfer ruangan terasa sangat menekan dada. Rendra menuntun ibunya untuk duduk di salah satu kursi plastik panjang yang menghadap ke arah pembatas kaca dan jeruji besi.
Jantung Rendra berdegup kencang. Setitik keringat dingin jatuh melewati pelipisnya. Selama sebulan ini, ia selalu dihantui rasa bersalah yang tak berkesudahan. Setiap kali melihat ibunya menangis di kontrakan petak mereka, Rendra selalu teringat bagaimana kejamnya ia dulu memperlakukan Rania. Dan kini, ia harus bersiap melihat adik perempuannya menerima bagian dari hukuman karma tersebut.
"Rendra... mana adikmu? Kok belum keluar juga?" tanya Ibu Ratna dengan suara yang bergetar hebat, matanya bergerak liar menatap pintu kecil di ujung ruangan tempat para tahanan biasa dimunculkan.
"Sabar, Bu. Petugasnya masih memanggil Tyas di dalam," jawab Rendra mencoba menenangkan ibunya, meskipun tangannya sendiri terasa sangat dingin.
Satu menit kemudian, pintu besi kecil itu berderit terbuka.
Sesosok wanita muda dengan pakaian terusan berwarna oranye khas tahanan melangkah keluar dengan kepala tertunduk dalam. Langkah kakinya tampak sangat lambat, menyeret sandal karet murah yang ia kenakan.
Begitu wanita itu mengangkat wajahnya, Ibu Ratna langsung memekik tertahan dan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air mata wanita tua itu seketika tumpah membasahi pipinya yang kempot.
Itu Tyas. Namun, penampilan Tyas saat ini bener-bener hancur lebur, tidak bersisa sedikit pun jejak sebagai sosialita glamor yang sebulan lalu memamerkan tas Prancis mahal di restoran bintang lima. Rambut indahnya yang dulu selalu ditata rapi di salon kini tampak kusut, kusam, dan dipotong pendek sebahunya dengan asal-asalan. Wajah cantiknya terlihat sangat pucat, matanya cekung dengan lingkaran hitam yang sangat tebal, dan tubuhnya tampak jauh lebih kurus hingga tulang selangkanya menonjol di balik baju tahanan yang kelonggaran. Yang paling mengerikan, ada bekas luka lebam keunguan yang sudah mulai menguning di sudut bibir kiri dan pipi bawahnya.
"Tyas! Anakku!" Ibu Ratna langsung berdiri dan berlari kecil mendekati pembatas, menempelkan kedua telapak tangannya pada permukaan kaca pembatas dengan histeris.
Tyas mendongak. Begitu melihat sosok ibu dan kakaknya duduk di sana, pertahanan mental gadis itu runtuh seketika. Air matanya meledak, mengalir deras membasahi pipinya yang kotor. Ia bergegas duduk di kursi seberang, meraih gagang telepon interkom dengan tangan yang gemetar hebat.
"Ibu... Mas Rendra..." suara Tyas terdengar sangat serak dan parau dari balik pengeras suara interkom, disusul oleh tangisan emosional yang bener-bener memilukan. "Ibu... Tolong Tyas, Bu... Tyas gak kuat di sini... Tyas mau pulang..."
Ibu Ratna ikut meraih gagang telepon di sisinya, menempelkannya ke telinga sembari terisak kabur. "Tyas... Kenapa wajahmu lebam-lebam begini, Nak? Siapa yang berani memukul anak perempuan Ibu? Katakan pada Ibu, Nak!"
Tyas menggelengkan kepalanya dengan histeris, melirik ketakutan ke arah pintu dalam sel seolah-olah ada monster yang sedang mengawasinya dari belakang. "Di dalam sel... Tyas selalu disiksa setiap malam, Bu... Tahanan lain bener-bener jahat sama Tyas..."
Tyas mencengkeram gagang teleponnya semakin erat, suaranya berbisik penuh ketakutan yang mendalam. "Mereka tahu kasus Tyas dari televisi dan media sosial... Mereka tahu Tyas masuk sini karena memakan uang yayasan kanker anak-anak. Di dalam sana, kasus seperti Tyas benar-benar paling dibenci. Setiap malam, kepala Tyas ditarik, dijambak, bahkan disiram air bekas pel lantai oleh kepala kamar. Tyas dipaksa tidur di lantai semen yang dingin di dekat kamar mandi tanpa alas... Tyas sering tidak dikasih jatah makan kalau Tyas tidak mau mencuci baju dan membersihkan toilet milik mereka semua... Mas Rendra, tolong Tyas, Mas! Cabut laporan Tyas! Tyas benar-benar bisa mati kalau terus-terusan di dalam sini!"
Mendengar cerita penderitaan adiknya yang begitu brutal di dalam sel, Rendra yang ikut mendengarkan dari balik pundak ibunya merasa ulu hatinya seperti ditusuk oleh ribuan jarum tak kasat mata. Rasa pusing yang luar biasa menyerang kepalanya.
Disiram air bekas pel lantai... dipaksa tidur di lantai semen dekat toilet... tidak dikasih jatah makan...
Kata-kata Tyas benar-benar menjadi gema karma yang mengerikan di telinga Rendra. Pikiran Rendra langsung terlempar pada momen beberapa tahun lalu, saat ibunya dan Tyas tertawa puas melihat Rania yang baru saja keguguran terpaksa membersihkan lantai rumah mereka sembari menangis memegang perutnya yang kesakitan.
Dulu, mereka memperlakukan Rania seperti budak yang tidak punya harga diri, dan sekarang, di dalam lapas ini, Tyas bener-bener diperlakukan jauh lebih rendah daripada seorang budak oleh tahanan lain. Tuhan benar-benar tidak pernah tidur dalam membalas setiap tetes air mata orang yang terzalimi.
"Tyas... Maafkan Mas... Mas belum bisa mengeluarkan kamu dari sini. Mas tidak punya uang untuk menyewa pengacara, semua rekening kita dibekukan," ucap Rendra dengan suara yang tercekat di tenggorokan, air matanya ikut meluncur jatuh bebas. "Ini... Mas cuma bisa bawakan nasi ayam goreng kesukaanmu. Kamu makan ya, Dek..." Rendra menunjukkan kantong plastik putih di tangannya ke balik kaca pembatas.
Tyas menatap bungkusan makanan itu, alih-alih senang, tangisannya justru semakin menjadi-jadi. "Nasi ayam goreng tidak ada gunanya kalau Tyas tetap membusuk di sini, Mas! Ini semua gara-gara Rania! Wanita sialan itu yang menjebakku! Dia yang memberikan dokumen itu pada Nyonya Diana!" teriak Tyas histeris hingga memancing pandangan tajam dari sipir yang berjaga di sudut ruangan.
"Tahanan nomor 243, jaga volume suara Anda atau kunjungan dihentikan!" tegur sipir itu dengan nada suara yang sangat dingin dan tegas.
Tyas seketika menciut ketakutan, menurunkan pundaknya sembari terus terisak pelan. "Ibu... Tolong Tyas... Ibu kan yang paling disayang sama Mas Rendra dulu... Ibu pasti punya cara... Tolong paksa Rania untuk mencabut semua tuntutan ini, Bu... Tyas mohon..."
Ibu Ratna yang melihat putri satu-satunya memohon-mohon dengan kondisi mengenaskan seperti itu merasakan dadanya bener-bener sesak, seolah pasokan oksigen di sekitarnya telah habis.
Rasa kasih sayang seorang ibu yang buta terhadap kesalahan anaknya membuat akal sehat Ibu Ratna hilang sepenuhnya. Ia tidak lagi memedulikan fakta bahwa Tyas memang bersalah karena telah menggelapkan uang yayasan. Di dalam kepala tua Ibu Ratna saat ini, hanya ada satu nama yang bertanggung jawab atas seluruh penderitaan keluarganya: Rania.
"Iya, Tyas... Iya, Nak. Ibu berjanji... Ibu akan mengeluarkanmu dari tempat jahanam ini. Ibu akan membuat Rania membebaskanmu, apa pun caranya!" ucap Ibu Ratna dengan mata yang mendadak berkilat nekat, dipenuhi oleh rasa dendam dan kemarahan yang membabi buta.
"Waktu kunjungan habis! Silakan kembali ke sel masing-masing!" seru petugas sipir dari pengeras suara utama.
Tyas terpaksa berdiri dari kursinya sembari terus menatap ibunya dengan pandangan memohon, sebelum akhirnya diseret masuk kembali ke dalam pintu besi kecil oleh petugas.
Sepulang dari lapas, sepanjang perjalanan di dalam angkutan umum menuju kontrakan petak mereka, Ibu Ratna tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Wanita tua itu hanya duduk tegak menatap lurus ke depan dengan pandangan yang benar-benar kosong tapi memancarkan aura kegelapan yang mengerikan. Rendra yang duduk di sampingnya berulang kali mencoba mengajak mengobrol, namun ibunya sama sekali tidak merespons.
Rendra tidak pernah tahu, bahwa di dalam otak tua Ibu Ratna yang sudah diracuni oleh rasa playing victim yang akut, sebuah rencana yang sangat licik, nekat, dan berbahaya sedang disusun rapi. Ibu Ratna benar-benar sudah menutup mata dari kenyataan, dan keesokan harinya, ia siap meledakkan bom kekacauan baru langsung di depan gerbang takhta milik Rania.
pst dapat cap pelakor😄🤭