Entah bagaimana caranya Seorang pujangga mampu mendeskripsikan cinta seketika menjadi indah hanya dengan pembendaharaan diksi yang mereka punya. Padahal cinta tidak semudah mengubah suku kata menjadi barisan rima.
Begitu juga cinta yang dirasakan seorang Adha Abhimana, pelatih renang yang lisensinya tidak bisa digunakan ketika menyelami dalamnya tatapan mata seorang Aruna Nureda. Sales promotion girl yang tak sengaja ditemuinya di kota Batam. Abhi memanggilnya Red, tak hanya bibirnya, nama itu juga semerah lukanya yang basah.
Semacam karma yang dibayar tunai, Abhi jatuh hati kepada Red yang statusnya bukan gadis biasa.Cinta,harapan dan impian Runa masih untuk Rangga yang hampir tak mungkin dimilikinya.Berhasilkah perjuanan Abhi? atau harus rela Runa kembali dengan mimpinya?
Ini kisah tentang pengkhianatan sekaligus kesetiaan, luka sekaligus antiseptiknya.
WARNING : SIAPKAN ASPIRIN KARENA MUNGKIN MENGIKUTI KISAH INI AKAN MENIMBULKAN EFEK PUSING.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nela Kurniaty Idris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISTEM PENCERNAAN
Suasana roof top pool yang di dominasi warna biru, sangat transparan dan menjadikan kolam renang yang berada di lantai sembilan itu sungguh menakjubkan. Hanya dengan duduk menikmati aktivitas club renang ini saja sudah cukup menyenangkan.
Sinar matahari cukup teduh pagi ini, Topi bundarnya dia letakkan dengan manis di atas meja alumunium tempat dia menunggu Razqa. Setelah diskusi panjang dengan diri sendiri juga atas desakan Razqa pastinya, akhirnya Runa datang kembali ke kolam renang besar milik Under Water club ini.
Abhi dan Razqa keluar bersamaan dari ruang ganti pria, keduanya sudah dengan pakaian kering dan rapi, Rambut Razqa bahkan sudah disisir dengan gaya casual dan maskulin. Siapa lagi kalau bukan Abhi yang berinisiatif agar Razqa tampak mirip dengannya walau dari gaya rambut saja.
"Mi, udah ganteng dan mirip sama Coach Abhi belum?"
Razqa memegang ujung jambul rambutnya dengan ujung jari saat memamerkan hasil sisiran itu ke sang Mimi.
Mimi Runa tersenyum tipis dan melihat ke arah Razqa dan Abhi secara bergantian. Laki-laki itu selalu punya cara melahirkan senyuman.
"Siapa yang bilang mirip Coach Abhi? Haha, beda dong nak, Razqa kan rambutnya coklat, Curly pula, sedangkan Coach Abhi rambutnya hitam dan lurus," ungkap Runa jujur.
"Tapi ... Razqa lebih ganteng dari Coach Abhi kok," imbuhnya membuat Razqa yang tadinya manyun kembali tertawa.
"Hemmm ... kalau gitu, besok Coach mau warnain rambut biar sama seperti Mimi dan Razqa," ucap Abhi berpura-pura merajuk karna dinilai kalah tampan dan tidak mirip dengan Razqa.
Kemudian tawa mereka pecah bersama riak air kolam dan sinar matahari yang naik semakin tinggi.
"Razqa, makan bareng aku yuk. Mami ku bawain kenthucky buat kamu dan Reno juga."
Seorang anak berusia sekitar enam tahun menghampiri meja Razqa, namanya Andrian, salah satu teman renang Razqa.
Razqa memandang miminya dengan tatapan meminta izin, dia tergiur dengan tawaran kenthucky milik temannya, dengan senang hati Mimi Runa mengizinkannya makan di meja keluarga Andrian.
"Tapi ini bekal Razqa dibawa aja kesana, siapa tau ada yang suka dan bisa tuker tukeran makanan," tawar Runa.
Razqa bersorak girang membawa makanannya menuju meja keluarga Andrian. Runa mengamati anaknya hingga tiba di meja itu. Saat berpas-pasan pandang dengan orang tua Andrian, Runa menunduk dan tersenyum begitu juga sebaliknya.
Abhi menarik satu kursi dan duduk di dekat Runa, untuk pertama kalinya, Runa merasa salah tingkah berada jarak dekat dengan lelaki ini. Wangi sabun dan parfumnya terendus segar dan maskulin oleh Indra penciuman Runa.
Abhi menggeser topi Runa yang bundar agar pandangan dan juga tangannya bisa lebih dekat lagi dengan Ibunya Razqa itu.
"Aku dibawain apa?"
Tanya Abhi yang semakin menimbulkan kecanggungan pada gerakan Runa. Sejak kapan ini terjadi? Semalam jantungnya masih baik-baik saja saat di dekat Abhi. Runa sekuat tenaga menormalkan detak jantungnya, dia tak boleh merasakan apa-apa, harus tetap biasa saja! Begitu pikirnya.
"Cuma ini sih," ucapnya meletakkan dua ziplock yang berisi dua wadah panjang aluminium cup. Runa lalu membukanya makanan yang mengeluarkan aroma keju dan daging panggang yang sangat dominan.
Hanya dengan melihat dan mengendus baunya, membuat Abhi semakin lapar. Sejak dulu, Abhi sangat memimpikan punya istri yang bisa memasak. Jika ditanya apa makanan yang paling Abhi suka, dia akan menjawab bahwa dia suka semua makanan yang enak, dan dia sangat ingin memiliki pasangan yang bisa memanjakan hobby makannya.
Seketika Abhi bertanya dalam hati, kenapa mantan suami Runa dulu begitu bodoh melepaskan perempuan ini? dan dia akan dengan senang hati menggantikan posisi itu.
"Macaroni schotel!" seru Abhi sambil menatap lelehan keju mozarela yang bertabur chedar itu dengan mata berbinar.
"Tapi ini dipanggang, Razqa kurang suka yang dikukus," terang Runa.
"Red."
Kemudian Abhi menyebutkan nama itu dengan suara berat dan menatap wajah pemiliknya.
"Makasih ya," ucapnya penuh drama.
"Apaan sih, belum juga dicobain udah bilang makasih!"
Runa menutup wajah modus itu dengan topinya, sejujurnya dia merasa malu ditatap dari jarak dekat seperti itu.
"Kamu udah mau masakin dan bawain ke sini buat aku, itu udah sangat berarti. Setidaknya, tadi kamu inget aku pas memasak ini," ucap Abhi.
"Jangan GR deh!" cibir Runa, senyum simpul dan salah tingkah tak hilang dari wajahnya.
"Makannya kawin! Kalau udah punya istri kan tiap hari ada yang masakin, kerja juga ada yang nemenin!"
"Sama kamu, ya?"
Percikan air kolam yang heboh karena lompatan orang-orang yang sedang latihan, suara-suara instruksi pelatih dan kebisingan kolam renang yang lain, tidak menghalangi suara Abhi yang keluar dari hatinya.
"Mau?"
"Engga!" jawab Runa sambil tertawa.
"Cepetan cobain ini.".
Runa mengeluarkan sendok kayu dan memberikannya kepada Abhi.
Abhi dengan tak sabar meraih aluminium yang berisi makanan berbahan dasar macaroni dan pasta itu. Tanpa sengaja ujung foil yang ternyata sedikit terbuka menggores jari telunjuknya.
"Awww ... Aduh!"
keluhnya mengibas-ngibas tangannya yang sedikit tergores.
"Lah kenapa?"
"Perih, ini foilnya ada yang masih tajam, sedikit," keluh Abhi ditambah sedikit drama.
"Gak pernah-pernahnya deh, sini aku liat!"
Runa menyentuh ujung jari telunjuk Abhi. Jangankan darah, bekas goresan pun tidak ada. Runa memutar bola matanya mencurigai aksi Abhi.
"Tapi sakit," cebik Abhi dibuat-buat, "jadi susah mau megang sendoknya, suapin boleh gak?" pintanya.
Runa menggeleng-gelengkan kepalanya, ada saja cara lelaki ini menebarkan modus klasiknya. Tapi entah kenapa walau trik Abhi sangat manstream dan mudah terbaca, Runa tetap saja terkecoh di awal.
"Engga ya, itu jarinya juga ga kenapa-kenapa kok, ni ambil sendoknya. Makan sendiri!"
"Hm, yaudah aku bungkus lagi buat makan di rumah aja," ucap Abhi memelas mengharap belas kasihan.
"Kamu tuh ya!" geram Runa.
"Ehe, a dong a ...." Abhi membuka mulutnya membuat Aruna mau tidak mau terpaksa menyuapi laki-laki yang sedang sakit jari tadi.
Suapan pertama yang membuat matanya berbinar, empuknya macaroni dan pasta yang lembab, rasa susu dan keju yang kuat serta gurihnya daging panggang, tergigit bersama mozarela yang menyelimuti di atasnya. Sungguh jauh di atas ekspektasi, bertambah-tambahlah kekagumannya pada wanita ini.
"Kenapa?" sanggah Runa saat memperhatikan ekspresi Abhi yang berkaca-kaca.
"Kamu tau gak dari mana datangnya cinta?"
Runa semakin bingung, rasanya dia tidak menambahkan ajian apapun dalam masakannya, kenapa tatapan Abhi seperti korban jampi-jampi?
"Kamu baik-baik aja kan? apa seenak itu?"
lalu Runa beralih menatap Razqa dari kejauhan yang juga tampak memakan makanan yang sama namun anak itu terlihat baik-baik saja.
"Jawab dulu pertanyaan ku, jawab yang bener, dari mana datangnya cinta?"
"Dari .... dari mata turun ke hati, haha apasih ... geli ah!"
Runa terkekeh-kekeh menyebutkannya, entah apa yang Abhi maksudkan.
"Itu pantun lama, kali ini gak gitu jawabannya, dari mana datangnya cinta?"
"Dah ah ga tau, aneh kamu!"
"Dari lidah, turun ke hati!"
Abhi menuntun tangan Runa untuk memegang dadanya, bisa Runa rasakan debar yang berdebat, ribut menyuarakan perasaan pemiliknya yang sedang kasmaran. Runa tak ingin terbuai, segera ditariknya tangan itu kembali.
"Sejak kapan hati letaknya di dada? lagian dimana-mana makanan dari lidah itu perginya ke tenggorokan, baru masuk ke kerongkongan baru diantar ke Lambung, ga ada tuh mampir ke hati." decak Runa sambil tetap melanjutkan suapan demi suapan.
"Masnya kalau mau nggombal itu yang agak ilmiah dikit lah, gini-gini aku mahasiswa, tau!"
Abhi tak peduli dengan Omelan itu, mulutnya menganga menerima suap demi suap dari tangan Runa, matanya tak lepas menatap manik mata hazel nan menggoda.
"Aku gak ngerti sistem pencernaan, aku cuma lagi berusaha ngungkapin perasaan."
Ucapan Abhi sekaligus berhasil memunculkan efek rona kemerahan.