Sebuah cinta terlarang.
Sebuah pengkhianatan dalam keluarga.
Zavier hanya ingin mencintai wanita yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama tiga tahun — namun takdir berkata lain ketika wanita itu kini bersanding sebagai istri sang ayah.
Di antara rasa bersalah, cinta, dan kehancuran, adakah kesempatan kedua untuk hati yang sudah hancur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB-22 Dilema Veyra
Ardian menatap wajah Veyra yang terlihat tegang. Cahaya lampu kamar yang temaram memantulkan siluet lembut pada kulit istrinya. Ia mengangkat tangan, menyentuh pipi Veyra dengan jemari hangatnya.
“Sayang…” ucap Ardian pelan, suaranya rendah dan dalam.
Veyra terdiam. Ia bisa merasakan tatapan Ardian begitu dalam, menyelam ke balik kegundahannya. Tangannya mencengkeram ujung baju tidur yang ia kenakan, gugup. Ia tahu kemana arah malam ini akan dibawa.
Dengan gerakan perlahan, Ardian mendekatkan wajahnya. Jarak mereka kian memendek. Ia ingin mencium istrinya, merasakan cinta yang selama ini ia simpan diam-diam dalam sabar.
Bibirnya tinggal sejengkal dari bibir Veyra.
Veyra menutup matanya sejenak. Tapi hatinya berdebar hebat, bukan karena jatuh cinta—melainkan karena ketakutan akan rasa bersalah. Ia tahu, ini salah. Salah karena hatinya masih terpaut pada Zavier, pria yang seharusnya tidak lagi ia pikirkan. Salah karena ia kini berubah menjadi wanita yang serakah karena tidak bisa memilih salah satu.
Saat bibir Ardian menyentuh lembut bibir Veyra, tubuh Veyra menegang seketika. Ia tidak membalas. Tapi ia juga tidak menghindar.
Ciuman itu singkat. Ardian perlahan menarik diri, lalu menatap Veyra dengan kening sedikit berkerut.
“Kamu masih takut sama aku?” tanyanya, nada suaranya lembut tapi penuh tanya.
Veyra menggigit bibir bawahnya, menunduk. Ada air yang menggenang di pelupuk matanya.
“Bukan takut, Mas… tapi aku masih belajar untuk bisa… mencintai,” bisiknya nyaris tak terdengar.
Ardian menatapnya dalam diam. Perih terasa, tapi ia mencoba memahami. Ia tahu, cinta tidak bisa dipaksa. Dan ia juga tahu, sesuatu sedang ditutupi Veyra.
Tapi ia memilih tetap tenang.
“Aku akan tunggu,” ucapnya akhirnya, lalu menarik Veyra ke pelukannya. “Apapun yang terjadi, Aku tetap suamimu sekarang.”
Veyra menutup mata di pelukan itu. Dalam hati, ia berdoa… semoga semua cepat menemukan jalan yang benar.
Ardian masih memeluk Veyra ketika keheningan kembali menyelimuti kamar. Pelukan itu hangat, namun tidak benar-benar bisa meredam kegelisahan di dada keduanya.
Setelah beberapa saat, Ardian menarik napas dalam dan bertanya pelan, “Kamu pernah pacaran sebelumnya, Vey?”
Veyra terdiam. Ia tahu pertanyaan itu akan datang suatu saat. Ia hanya tidak menyangka, datangnya malam ini.
Perlahan, ia mengangguk. “Pernah, Mas.”
Ardian tidak langsung menanggapi. Ia menunggu, memberi ruang.
Veyra melanjutkan dengan suara lirih, “Aku… menerima pinangan Mas karena desakan orang tuaku. Mereka terus menekan, bilang kalau ini kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Mereka juga bilang… aku hutang budi karena sudah dibesarkan. Sebelumnya aku sudah bicara soal mereka dan sekarang ini perasaanku yang sebenarnya padamu, Mas.”
Ia menelan ludah, mencoba menahan gemetar dalam suaranya. “Aku tidak tega, Mas. Mas terlalu baik. Terlalu tulus. Dan aku... merasa jahat karena tidak bisa balas kebaikan Mas dengan cinta yang sama. Aku belum bisa menjadi istri Mas seutuhnya.”
Ardian mengangguk pelan. Ada nyeri di dadanya, jelas dan menusuk. Tapi ia menahan ekspresi itu. Ia memilih menatap mata Veyra dengan tenang.
“Jadi, kamu tidak pernah benar-benar cinta sama Mas selama ini? Selama kita kenal tiga bulan terakhir,” tanyanya, pelan tapi dalam.
“Bukan tidak cinta…” bisik Veyra. “Aku… sedang belajar. Tapi saat aku menikah dengan Mas, hatiku belum selesai dengan masa laluku. Masa lalu yang membuat hubunganku dengan dia yang dipaksa berakhir karena keadaan.”
Kalimat itu seperti sebuah pengakuan yang menggugurkan harapan. Ardian menarik napas pelan. Ia tidak ingin emosinya meledak. Ia bukan pria muda yang mudah terbakar. Tapi bukan berarti hatinya kebal dari rasa sakit.
“Aku mengerti sekarang,” katanya akhirnya. “Jadi semua kebaikanku… belum cukup buat bikin kamu bahagia, ya?”
“Bukan gitu, Mas,” Veyra buru-buru menyela, matanya berkaca-kaca. “Mas sudah memberi aku rumah, perlindungan, perhatian. Tapi hatiku masih terluka dan aku masih bingung sama semuanya. Semuanya seperti terlalu cepat terjadi. Seperti bukan ini yang aku mau sebenarnya.”
Ardian mengangguk pelan, lalu berdiri. Ia membalikkan badan, menatap keluar jendela.
“Aku tidak akan memaksa kamu, Vey. Tapi kamu juga harus jujur sama dirimu sendiri. Karena kalau ini semua hanya demi membalas budi, hubungan kita tidak akan pernah benar-benar utuh.”
Veyra hanya bisa menunduk. Dadanya sesak, tapi di dalam sana, ada harapan kecil. Bahwa kejujuran malam ini bisa jadi awal untuk menyusun jalan hidup mereka, entah ke arah mana.
Ardian mematikan televisi dengan satu sentuhan pada remote. Layar yang sebelumnya memancarkan adegan panas kini gelap, menyisakan bayangan samar di kamar yang hanya diterangi lampu temaram.
Ia menoleh ke arah Veyra yang masih duduk di tepi ranjang, menunduk dengan wajah sulit terbaca. Tidak ada kalimat apapun dari mulutnya. Hanya keheningan yang kian menebal, memisahkan mereka.
Ardian menarik napas panjang. “Kamu tidur saja dulu, Vey,” ucapnya datar tapi tetap lembut. “Aku ke ruang kerja sebentar.”
Veyra menatapnya, matanya masih menyimpan banyak keraguan dan rasa bersalah. “Mas…”
Ardian tersenyum tipis, mencoba meredakan suasana meski hatinya terasa dingin. “Tidak apa-apa. Istirahat, ya. Kamu pasti capek.”
Tanpa menunggu jawaban, Ardian lalu mengambil ponselnya dan melangkah keluar kamar. Pintu ditutup pelan, meninggalkan Veyra yang masih terpaku di tempatnya.
Di luar kamar, langkah Ardian terasa berat. Tapi ia memilih menjauh, menenangkan pikirannya di ruang kerja—satu-satunya tempat di rumah itu yang tidak menyimpan luka dan dilema.
Sementara itu, di dalam kamar, Veyra menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. Matanya menerawang ke langit-langit. Malam ini, kejujuran telah membebaskannya… sekaligus membebani hatinya lebih dari sebelumnya.
*****
Di ruang kerja, Ardian duduk di kursi kulit favoritnya. Lampu meja menerangi seberkas dokumen yang sebenarnya tidak ia baca. Matanya menatap kosong ke arah layar laptop yang masih menyala, tetapi pikirannya melayang jauh—masih tertinggal di kamar bersama Veyra.
Ia tidak marah, tidak juga kecewa dalam arti yang klise. Hanya… hampa. Ia merasa seperti pria yang membeli bunga paling indah di taman, tapi bunga itu tak pernah mekar untuknya.
Ardian mengusap wajahnya perlahan. “Apa aku terlalu berharap?” gumamnya lirih.
“Wajah Veyra mengingatkanku pada Ardita saat masih remaja dulu. Melihat Veyra, membuat rasa rinduku padanya terobati . Mereka memiliki garis senyum yang sama,” bisiknya dalam hati.
Sementara itu, di kamar, Veyra masih belum bisa memejamkan mata. Ia menggenggam ujung selimut, menariknya sampai ke dada. Udara kamar tak lagi terasa hangat—semuanya terasa canggung, asing, dan dingin.
Kepalanya dipenuhi banyak pertanyaan. Apakah Ardian akan menjauhinya mulai malam ini? Apakah ia sudah terlalu jujur? Tapi jika ia tidak jujur, apa mungkin semuanya akan lebih baik?
Veyra bangkit perlahan dari ranjang. Ia berjalan pelan ke depan jendela, membuka tirai sedikit, membiarkan cahaya bulan masuk. Tangannya menggenggam dada, mencoba menenangkan denyut jantung yang sejak tadi tak pernah stabil.
Dalam diamnya, ia berdoa agar semuanya tidak berakhir dengan luka yang lebih besar.
Beberapa menit berlalu.
Pintu ruang kerja perlahan terbuka. Veyra berdiri di ambangnya, ragu. Ardian menoleh, terkejut melihatnya.
“Mas… boleh aku masuk sebentar?”
Ardian mengangguk, menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Tentu.”
Veyra melangkah masuk, menutup pintu perlahan. “Aku cuma tidak bisa tidur,” katanya pelan.
Ardian mengangguk, menatapnya dengan tatapan lembut yang sulit dibaca. “Aku juga.”
Keheningan kembali menyelimuti, tapi kali ini tak seberat sebelumnya.
“Kalau mau bicara…” kata Ardian kemudian, “aku di sini.”
Veyra mengangguk. Ia duduk disofa, sementara Ardian duduk di kursi kerjanya. Tapi untuk kali ini, ia hanya ingin duduk di dekatnya. Meskipun tak ada kata yang keluar, kehadiran Ardian malam ini terasa sedikit menenangkan. Bukan menenangkan dalam arti lain. Hanya saja Veyra terlalu khawatir dan merasa jahat telah membuat Ardian terluka oleh kejujurannya. Tapi, ia sendiri merasa sangat terluka dengan keadaan ini.
awal nya bagus, lanjut thor