"Mas Kenzo! Pocongnya kabur lagi!" teriak Srini sambil ngemil ceker ayam._
"Bukan waktunya makan, sri! Itu pocong bawa kabur anak kepala desa!"
Kenzo, dukun muda nyeleneh dan Srini, kuntilanak centil juga narsis , harus menghadapi Gerombolan pocong pemburu nyawa,Pengkhianatan makhluk gaib yang mereka percaya ,Rahasia mengerikan di balik kematian orang tua Kenzo.
misteri apa yang terjadi mengapa bisa ribuan pocong mengepung sebuah desa dan mengapa orang tua Kenzo bisa mati secara misterius. temukan jawabannya di buku ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the last shadow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Udara di Hutan Wingit bergetar hebat, penuh dengan energi gaib yang saling bertabrakan. Kenzo masih berlutut di tanah, napasnya tersengal-sengal, matanya tak percaya menatap sosok Srini yang telah berubah total.
Rambutnya yang hitam legam kini putih bersih seperti salju, terbang berkibar-kibar ditiup angin kencang. Matanya yang biasanya hitam kini merah menyala, memancarkan aura kekuatan purba. Seluruh tubuhnya diselimuti cahaya kemerahan, dan di tangannya muncul sebilah pedang api yang memancarkan panas menyengat.
"Sri... Murni?" Kenzo mengerang, mencoba bangkit.
Nyi Mayangsari mengerutkan kening, wajahnya yang biasanya angkuh kini menunjukkan tanda kehati-hatian. "Kuntilanak Pertama? Tidak mungkin... kau seharusnya sudah punah!"
Sri Murni (Srini) tersenyum, tapi senyumannya kini penuh dengan wibawa yang menggetarkan. "Aku hanya tertidur dalam wujud yang lebih lemah, Mayangsari. Dan kau... kau telah membangunkanku."
Azura, yang masih terluka, bersandar di pohon tumbang. "Akhirnya... kau muncul juga," bisiknya dengan suara serak.
Nyi Mayangsari tidak mau menunggu lebih lama. Dengan gerakan cepat, dia melemparkan selendang emasnya yang berubah menjadi ribuan jarum gaib, melesat tajam ke arah Sri Murni.
Tapi Sri Murni hanya mengangkat pedang apinya.
"Purgatory Flame!"
Dengan sekali tebas, gelombang api raksasa menyapu semua jarum itu, mengubahnya menjadi abu sebelum sempat mendekat.
Nyi Mayangsari mendesis, lalu mengubah strategi. Tangannya meraih ke udara, dan tiba-tiba puluhan bayangan hitam muncul dari tanah—pasukan jin pengawalnya yang setia.
"Bunuh mereka semua!" perintahnya.
Pasukan bayangan itu menerjang, tapi Sri Murni bahkan tidak bergerak. Dia hanya menatap mereka, dan tiba-tiba—
BOOM!
Api neraka meledak dari tanah , membakar semua bayangan itu dalam sekejap. Jeritan mereka memenuhi udara sebelum akhirnya menghilang tanpa sisa.
Nyi Mayangsari geram. "Berani kau meremehkanku?!"
Dia mengangkat kedua tangannya, dan langit tiba-tiba gelap. Petir menyambar-nyambar, dan tanah mulai retak. Dari celah-celah itu, tangan-tangan mayat hidup merayap keluar—pasukan zombie gaib yang siap menyerang.
Sri Murni menghela napas. "Kau masih menggunakan trik kotor yang sama, Mayangsari?"
Dia menancapkan pedang apinya ke tanah.
"Inferno Domain!"
Seluruh area di sekitarnya tiba-tiba berubah menjadi lautan api. Zombie-zombie itu menjerit kesakitan sebelum hangus menjadi debu. Bahkan Nyi Mayangsari terpaksa mundur, wajahnya mulai menunjukkan kepanikan.
Tapi Ratu Gunung Lawu tidak akan menyerah begitu saja. Dia mengatupkan tangannya, dan tiba-tiba seluruh hutan berubah.
Pohon-pohon bergerak sendiri, akarnya menjadi tentakel raksasa yang mencoba mencengkeram Sri Murni. Angin berubah menjadi pisau-pisau gaib yang siap mencincang.
"Kau tidak bisa menang di wilayahku, Sri Murni!" teriak Nyi Mayangsari.
Sri Murni mengangkat pedangnya lagi, tapi kali ini Nyi Mayangsari lebih cepat.
"Black Moon Slash!"
Sebilah energi hitam berbentuk bulan sabit melesat dari tangan Nyi Mayangsari, menghantam Sri Murni tepat di dada.
"ARGH!"
Sri Murni terlempar, darah menyembur dari mulutnya. Kenzo berteriak, mencoba berlari ke arahnya, tapi tubuhnya masih terlalu lemah.
Nyi Mayangsari tertawa. "Lihat? Kau hanya kuntilanak tua yang kehilangan kekuatannya!"
Sri Murni perlahan bangkit, darah masih menetes dari sudut bibirnya. Tapi matanya tetap tajam.
"Kau salah, Mayangsari."
Dia mengangkat tangannya, dan tiba-tiba cahaya merah menyilaukan memancar dari tubuhnya.
Tubuhnya berubah—dua tanduk merah tumbuh dari kepalanya, sayap api raksasa terbentang di punggungnya, dan aura kekuatannya meningkat berkali-kali lipat.
Nyi Mayangsari terkejut. "Tidak... tidak mungkin!"
Sri Murni tidak memberi waktu. Dia melesat seperti meteor, pedang apinya membelah udara dengan kecepatan yang tak terlihat.
"HELLFIRE JUDGMENT!"
Nyi Mayangsari mencoba menangkis, tapi terlambat.
SLASH!
Pedang api itu menembus tubuhnya, membakar dari dalam. Nyi Mayangsari menjerit, tubuhnya mulai hancur menjadi abu.
"Ini... belum... berakhir..." desisnya sebelum akhirnya benar-benar musnah.
Udara perlahan tenang. Sri Murni berdiri di tengah kehancuran, napasnya berat. Perlahan, wujud Asuranya memudar, dan dia kembali menjadi Srini yang biasa—kecuali rambutnya yang tetap putih.
Kenzo akhirnya berhasil berdiri, wajahnya penuh kekaguman dan kebingungan. "Srini... apa yang baru saja terjadi?"
Srini tersenyum lelah. "Cerita panjang, Mas. Nanti aku jelaskan."
Azura, yang masih lemah, mendekati mereka. "Kau menyimpan banyak rahasia, Srini.
Srini mengedipkan mata. "Kita semua punya masa lalu, kan?"
Hutan Wingit yang hancur perlahan mulai memulihkan diri, seolah alam gaib itu hidup dan bisa menyembuhkan luka-lukanya sendiri.
feed back la yaa😍