"Jika cinta dapat mengubah segala hal, mengapa perlu ada yang namanya memperjuangkan? Kamu tahu kenapa? Karena untuk mendapatkan sesuatu butuh usaha,dan sekarang aku tengah memperjuangkanmu dengan usaha yang sungguh-sungguh."
~Davier Galuh Pramono~
"Meski hatiku memilihmu namun apakah aku mampu untuk mempertahankanmu selamanya agar selalu bersamaku?"
~Aira Anandia Maheswari~
Aira Anandia Maheswari merupakan Mahasiswi yang terkenal pintar di fakultasnya. Bahkan hampir seluruh kampus mengenal dirinya. Masa mudanya harus berakhir dengan di jodohkan oleh orang tuanya. Dijodohkan dengan Davier Galuh Pramono yang tak lain adalah dosennya ssndiri.
Keduanya sering merasakan perasaan aneh yang terselimut di dalam dirinya. Hingga Davierlah yang menyadari lebih dulu perasaannya itu. Lalu apakah Aira akan menyadari perasaannya atau ia akan terus menepis perasaan itu dari hatinya? Akankah mereka bisa bersatu dengan hati yang tulus? Apakab mereka bisa melewati semua lika-liku yang menghalagi kebahagiaan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tia Oktavianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~MTLY 22~ Apa Karena Itu?
"Sekarang kamu ga usah nangis ya. Kamu juga ga perlu takut, aku akan selalu ada buat kamu." ucap Davier sembari mengusap pucuk kepala Ai.
Tak lama handphone Ai berdering. Ai mengambil handphone yang berada di dalam tasnya. Ternyata ada panggilan masuk dari Pandu. Davier yang melihat ke layar handphone Ai pun tersenyum pada Ai.
"Angkat aja, siapa tau penting." ucap Davier.
"Bentar ya, aku angkat dulu." balas Ai dan diangguki oleh Davier.
"Halo kak, ada apa?"
"....."
"Loh, kok baru ngabarin sih kak. Ya udah aku ke sana sama Davier."
"....."
Tut.. Tut.. Tut..
"Kenapa Pandu telpon?" tanya Davier.
"Itu, Kak Pandu ngaabarin kalo Disti sakit. Kamu mau kan temenin aku ketemu Disti?" tanya Ai.
"Iya mau. Ya udah kita berangkat. Oh ya perlu mampir beli sesuatu dulu?" tanya Davier.
"Ga perlu, kalo Disti sakit itu dia nolak buat makan kecuali aku yang buat." ucap Ai.
"Ya udah yuk." ajak Davier.
Mereka pun masuk ke mobil dan menuju ke rumah Pandu. Selang dua puluh menit kemudian mereka sampai di rumah Pandu. Davier pun memarkirkan mobilnya tak beberapa lama mobil terparkir Ai langsung turun dan disusul oleh Davier.
"Assalamu'alaikum, Disti sayang Mami datang nih." ucap Ai memanggil Disti.
"Ai, udah nyampe. Disti di kamarnya. Eh Davier ngapain di situ, masuk aja anggap rumah sendiri." ucap Pandu.
"Iya, terimakasih."balas Davier.
Ai sudah menaiki tangga menuju ke kamar Disti. Ia khawatir dengan kondisi Disti. Walaupun hanya Ibu angkat, tetap saja ia berusaha menjadi sosok seorang Ibu yang sesungguhnya untuk Disti.
"Disti sayang, kamu kenapa bisa gini sih. Kan Mami selalu pesna jangan terlalu aktif dan mainnya hati-hati." ucap Ai cemas sembari memeluk Disti.
"Mami, Disti baik kok. Papi berlebihan. Mami kecini cama ciapa?" tanya Disti.
"Sama Papi Davier sayang." jawab Ai lembut.
"Acu au ketemu cama Papi Davier." pinta Disti.
"Iya boleh, tapi kamu makan ya, ntar Mami buatin bubur dan teh hangat buat kamu." ucap Ai dan diangguki oleh Disti.
"Mami abis nangis ya?" tanya Disti spontan dan membuat Ai gelagapan mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Disti.
"Emm, anu, itu tadi mata Mami kelilipan." ucap Ai.
"Mami boong." ucap Disti.
"Eh tadi kan Disti mau ketemu Papi Davier." ucap Ai.
"Oh iyaa, ayo deh." ucap Disti.
Mereka pun turun ke lantai bawah untuk bertemu dengan Davier dan Pandu. Pandu melihat Ai dan Disti turun. Disti pun langsung berlari ke arah mereka.
"Disti, jangan lari ntar kamu jatuh." ucap Ai yang tidak dihraukan oleh Disti.
"Hai sayang, anak Papi udah ketemu sama Mami kan." ucap Pandu pada Disti.
"Iya, Papi Davier, Disti angen." ucap Disti sambil menghampiri Davier.
"Eh, iya Papi juga kangen. Kamu cepat sembuh ya, kasian Mami khawatir banget waktu tau kamu sakit sayang." ucap Davier sembari melirik Ai.
"Aku mau buat makanan dulu buat Disti supaya cepat minun obatnya. Aku titip bentar ya." ucap Ai lalu berjalan meninggalkan mereka.
Sepeninggalan Ai, Disti bermanja dengan Davier dan juga Pandu. Hingga Disti yang polos pun sontak bertanya pada mereka. Pertanyaan Disti seperti orang dewasa saja.
"Papi Vier, tadi Disti liat mata Mami bengkak dan memerah. Papi abis ngapain Mami?" tanya Disti yang membuat Davier terkejut.
"Kamu serius liat mata Mami bengkak dan merah?" tanya Pandu memastikan dan melirik Davier seakan meminta penjelasan.
"Iya Disti liat dengan baik kok." ucap Disti polos.
"Mata Mami abis kelilipan sayang. Papi ga ngapa-ngapain Mami kok." jawab Davier.
"Tapi kan Papi, Mami ga pernah matanya bengkak gitu, kecuali abis nangis." ucap Disti polos.
"Disti emang pernah liat Mami nangis?" tanya Davier.
"Pernah, dulu Mami sering nangis. Kata Papi Pandu, Mami nangis karena ada orang jahat yang buat Mami sedih." jelas Disti tanpa merasa bersalah.
Davier yang mendengar penjelasan Disti pun melirik Pandu sekilas. Ingin sekali ia bertanya lebih dalam pada Disti, namun dia masih kecil. Tak lama Ai datang dengan membawa nampan berisi bubur dan teh hangat.
"Pesanan datang. Yuk kita makan di taman belakang." ajak Ai pada Disti.
"Hayukk, Papi, Papi Davier, Disti makan dulu yaa daaah." ucap gadis polos itu, dan dibalas senyum oleh keduanya.
"Aku temenin Disti makan dulu ya." ucap Ai.
Setelah kepergian Ai dan Disti suasana menjadi hening. Hingga membuat suasana mennjadi canggung diantaar keduanya.
"Gue boleh nanya?" tanya Davier membuka pembicaraan.
"Nanya atau minta penjelasan soal ucapan Disti tadi." ucap Pandu spontan.
"Iya soal ucapan Dist tadi. Bisa jelasin yang sebenarnya ke gue." pinta Davier.
"Hm, gue sebenarnya ga ada hak buat cerita masalah ini ke lo. Tapi gue akan jelasin secara singkat aja. Untuk lebih jelasnya lo tanya langsung ke Ai." ucap Pandu.
"Oke ga papa." balas Davier.
" Waktu Ai masih kelas 9 SMP dia udah pacaran. Cowoknya itu namanya Revan. Hubungan mereka terkenal harmonis dan romantis sampai menginjak masuk kuliah. Tapi Ai dan Revan harus LDR-an karena cowoknya kuliah di luar negeri. Tiga bulan pertama hubungan LDR-an mereka berjalan baik. Mereka masih komunikasi, tapi ternyata itu komunikasi terakhir buat mereka. Setahun Ai nungguin kabar dari Revan tapi nihil. Padahal dia selalu online. Kerjaan Ai hanya ngampus dan nagis. Setahun setelah itu dia pun coba move on dan berhasil bangkit sampai sekaramg." jelas Pandu.
"Apa karena itu dia tadi nangis ya?" tanya Davier memastikan.
"Ga mungkin lah, kan Revan ga ada di sini. Kalo dia ketemu Revan dan saling bicara iya. Tapi berarti benar dong Ai abis nangis?" tanya Pandu.
"Iya benar. Gue di telpon sama Ai dan saat itu dia lagi nangis, buru-buru deh gue nyusulin dia. Saat sampai gue tanya tapi ga di jawab sama dia." ucap Davier.
"Ai ga pernah nangis tanpa alasan. Dia selalu kuat, kalau dia nangis itu berarti dia sangat terluka." ucap Pandu membuat Davier mengeriyitkan dahinya.
Tiba-tiba ponsel Pandu bedering. Ia mengambil handphone yang terletak di atas meja. Ternyata Fira yang menelponnya. Ia pun langsung mengangkatnya.
"Halo Fir, ada apa?"
"....."
"Ai ada di rumah. Kenapa?"
"....."
"Apa? Yang benar saja kamu Fir?"
"....."
"Baiklah, terimakasih infonya."
"....."
Tut.. Tut.. Tut..
Panggilan pun berakhir. Davier menatap wajah Pandu yang terlihat gusar setelah menerima panggilan dari Fira. Pandu kembali meletakkan handphonenya.
"Ada apa, kenapa lo keliatan khawatir?" tanya Davier, tetapi tak di jawab oleh Pandu.
"Ndu ada apa?" tanyanya lagi. Namun sayang tidak lagi dijawab.
Ai dan Disti yang baru saja datamg merasa bingung dengan Pandu. Wajahya tampak gusar, dan seakan menahan amarah yang menggebu-gebu.
"Kak, ada apa kok wajah kakak tampak gusar?" tanya Ai tetapi tidak di jawab oleh Pandu.
"Vier, Kak Pandu kenapa?" tanya Ai pada Davier dan dibalas oleh Davier dengan menggedikkan bahunya tanda ia juga tak tahu.
----------------Next Update-----------------
Jumat, 19 Juni 2020
Salam Hangat
Author Halu