Sequel Istri Kesayangan Tuan Muda
Patah hati yang dirasakan Sena membuatnya berpikir bahwa semua pria sama, Gadis berusia 24 tahun itu memutuskan untuk tidak mencintai lagi. Sena takut terluka untuk yang kedua kali.
Namun, kehadiran dua pria tampan Zac dan Evan yang tiba-tiba mengusik hidupnya. Membuatnya kalang kabut, ia kembali dihadapkan situasi sulit. Zac dan Evan berusaha untuk mencuri hatinya dengan segala cara.
Bagaimana sikap Sena dalam menghadapi kedua pria tampan itu? Apakah salah satu dari mereka berhasil membuat Sena jatuh cinta?
Temukan jawabannya di novel sequel Istri Kesayangan Tuan Muda ya. "Let Me Love You"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafasal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu tak Diundang
Setelah hampir seharian ia habiskan waktu dengan Zac CEO Montana dan berbagai peristiwa yang terjadi mewarnai harinya, kini ia bisa berbaring di tempat ternyamannya.
Setelah membersihkan tubuh dan mengganti pakaiannya, ia mulai merebahkan tubuhn
di ranjang empuknya.
Namun, tak lama setelah ia memejamkan mata. Ia terpaksa harus membuka mata karena kehadiran Shera di kamarnya yang mengusik waktu istrihatnya.
“Kak Sena ... Kak Sena!” panggil gadis kecil itu seraya menaiki ranjang dengan tangan menggoyang tubuhnya.
“Shera ... Kamu ganggu kakak aja, sih!” balasnya malas dengan mata mengerjap.
“Ih ... Kakak, ada tamu tuh di depan. Tamunya ganteng banget lho, kak. Ayo cepat bangun, nanti kakak nyesel lho kalau nggak bangun-bangun!”
Mendengar kata tampan membuatnya langsung terbangun, raganya yang masih merasakan kelelahan akibat seharian melakukan banyak kegiatan. Membuatnya terdiam sesaat seraya memikirkan siapa pria tampan yang di maksud adiknya.
Selama ini, hanya Hansa yang memenuhi kriteria pria tampan versi Shera. Tapi, sangat tidak mungkin jika yang datang saat ini adalah Hansa, mengingat hubungan mereka yang sudah kandas di tengah jalan.
Lalu, siapa kandidat selanjutnya yang mampu membuat adik polosnya ini memberi julukan pria tampan. Entah kenapa ingatannya langsung tertuju pada Zac. Ya, siapa lagi kalau bukan pria itu. Tapi kenapa juga pria kaya dan tampan seperti Zac datang ke rumahnya.
Walaupun tak bisa dipungkiri kalau pria itu ternyata bisa menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitarnya, seperti yang terjadi di Pujasera tadi siang. Zac sama sekali tak menunjukkan wajah risih atau apapun saat ia duduk di antara rakyat menengah ke bawah yang sedang menikmati jajanan murah meriah yang jelas tidak akan menguras kantong jika sedang tidak kalap.
Zac bahkan terlihat begitu senang ketika bisa membaur bersama orang-orang yang tampak begitu mengagumi ketampanannya. Tak tanggung-tanggung pria yang memiliki segalanya itu membayar seluruh pedagang kaki lima yang berjualan di sana dan mentraktir semua orang yang mampir ke Pujasera tersebut.
Tidak sedikit ibu-ibu yang mampir ke tempat itu meminta foto bersama dirinya, sungguh seperti seorang aktor yang sedang mengadakan fan meeting dengan para penggemarnya.
Namun, yang membuat Sena kagum terhadap Zac adalah sikapnya yang ramah dan tak menunjukkan ketidak nyamanan atau apapun ketika orang lain mendekatinya. Berbeda dengan para eksekutif muda yang sering ia temui baik secara langsung atau di televisi yang terlihat arogan dan seolah menjaga jarak dengan orang yang bukan dari kalangannya.
Sena kembali tersadar dan dihadapkan dengan kenyataan bahwa saat ini di rumahnya kedatangan seorang tamu tampan yang belum ia ketahui identitasnya. Ia beranjak dari tempat tidur seraya menarik pelan tangan Shera untuk ikut bersamanya.
“Ibu kemana?”
“Tentu saja menemui kakak tampan itu, Kak. Masa cowok tampan dibiarin gitu aja, nggak ada yang nemenin. 'Kan kasihan!” celoteh adiknya yang membuatnya menghentikan langkah seraya mengernyit heran dengan pola pikir gadis delapan tahun itu.
“Shera!” ia memberi tatapan ancaman kepada Shera. “Kamu masih terlalu kecil untuk mengerti cowok tampan. Ini pasti karena kamu terlalu sering nonton sinetron GGS itu ya, sinetron tentang cowok yang Pedenya nggak ketulungan,” cecarnya yang merasa adiknya tumbuh tidak sesuai usianya.
“Ih, kakak apaan sih. 'Kan emang Si Titan (tokoh utama GGS versi novel Nafasal) itu ganteng,” protes Shera tak terima tokoh kesayangannya dibully sang kakak.
“Iya jelas dia narsis, Shera. Judulnya aja Gue Ganteng Sekali, udah ketebak kalo pemeran utamanya itu punya tingkat narsis di atas rata-rata,” balas Sena tak mau kalah.
“Sena-Shera, kalian ini kenapa kok malah debat masalah nggak penting. Ada tamu bukannya lekas ditemuin, kok malah berdebat, sih!” ucap ibunya yang baru saja masuk ke dalam rumah dan mendapati dua putrinya sedang bersitegang karena masalah sepele.
“Kak Sena nih, Bu!” adu Shera dengan berjalan mendekati sang Ibu dan bergelayut manja di lengan wanita yang sudah melahirkannya.
“Hmm ... Mulai deh!” ia berkacak pinggang seraya melihat gemas sang adik yang menjulurkan lidah ke arahnya.
“Udah ... Udah! Sena cepat keluar kasihan nak Evan sudah menunggu lama.”
“Evan?” Sena begitu terkejut saat mendengar nama seorang pria arogan yang tadi pagi sudah menarik dirinya ke dalam kolam dan menuduh dirinya maling.
“Iya, nak Evan putra Bu Indah. Udah cepat sana, Na. Nggak baik membuat tamu menunggu lama,” perintah sang Ibu yang akhirnya dibalas dengan langkah malas.
“Iya, Bu!”
...🍁🍁🍁...
“Ada apa ya, dia ke sini?” pikirannya mulai menebak tentang alasan kenapa pria arogan itu datang ke rumahnya.
Saat ia melangkah ke ruang tamu, benar saja. Ia terpaku saat melihat seorang pria dengan penampilan yang sangat jauh berbeda dengan penampilan-penampilannya sebelumnya.
Pria bernama Evan itu, memang terlihat begitu tampan dengan pakaian semi formal yang ia kenakan. Kaus putih dibalut dengan jas hitam, tampak begitu pas di badannya. Apalagi rambutnya yang sengaja disisir rapi membuat Sena sedikit tertegun dengan penampilan pria itu.
“Kenapa malah bengong di situ? Jangan GeEr, gue ke sini juga bukan karena kemauan gue. Kalau nggak dipaksa mama, gue juga nggak bakal mau ketemu lo lagi,” kalimat yang terlontar dari bibir Evan seketika membuat Sena tersadar bahwa ia memang mematung di tempat demi mengamati penampilan Evan yang memang terlihat jauh berbeda.
Namun, ucapan pria itu seketika menyadarkannya lagi. Sekali pria arogan, sampai kapanpun akan seperti itu karena sifat tidak bisa dirubah kecuali si empunya yang memang ingin merubahnya.
Dih kenapa sih sama dia? Emang aku senang apa ketemu sama dia, nggak sama sekali keles, gerutunya dalam hati.
Sena berjalan ke kursi dengan mencoba bersikap tenang, ia tak boleh terpancing emosi oleh ucapan pria arogan itu. Tamu harus diperlakukan dengan baik sekalipun tamunya ngelunjak seperti pria di hadapannya itu.
“Lalu, tujuan anda datang ke sini untuk apa?” tanyanya setelah ia duduk di sofa yang warnanya sudah mulai memudar.
“Nih!” Evan mengangsurkan sebuah paper bag berwarna cokelat di atas meja.
Kening Sena tampak mengkerut. “Ini apa?”
“Punya tangan, 'kan? Buka aja sendiri!” ketus pria itu.
Ia hanya bisa menghela napas lirih melihat sikap pria berjas hitam itu, ia lalu mengambil paper bag tersebut dan melihat apa isi di dalamnya.
Sena membulatkan mata ketika melihat isi dari paper bag cokelat itu. Pandangannya ia alihkan pada Evan yang juga menatapnya dengan pandangan heran sekaligus malas.
💖💖💖
Hai teman-teman, jumpa lagi sama akuuuu wkwkkwkw
coba cerita dong, gimana Evan menurut kalian? suka nggak modelan cowok kayak Evan atau lebih suka sama Zac yang lebih bisa menghargai seorang wanita dan memperlakukan wanita dengan lembut?
Kalau aku sih suka dua-duanya wkwkwk
Jadi, nanti kalau misal Sena nggak memilih keduanya. Aku siap nampung di hati aku 😂😂😂😂
....😘😘😘😘😘