Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Plaza Indonesia di malam kerja tidak terlalu padat, memberikan ruang bagi Kafka untuk menggandeng tangan Naya dengan sangat posesif membelah koridor-koridor lantai dasar yang dipenuhi butik fashion kelas atas.
Naya masih berusaha memproses apa yang sedang terjadi. Beberapa saat yang lalu, pria ini baru saja menyelamatkannya dari godaan atasannya di lobi kantor. Dan kini, Kafka membawanya masuk ke dalam butik perhiasan Cartier dengan langkah penuh wibawa layaknya pemilik tempat tersebut.
Para staf butik yang mengenakan setelan rapi langsung menyambut mereka dengan senyum profesional, segera mengarahkan Kafka ke ruang VIP setelah pria itu menyebutkan namanya.
"Kaf, kita ngapain ke sini?" bisik Naya panik saat seorang staf menyajikan sparkling water dan macaron di atas meja kaca di hadapan mereka. "Cincin apa? Aku belum—"
"Ssh," Kafka menempelkan jari telunjuknya di bibir Naya, memotong protes wanita itu. "Ayahmu sudah memberiku izin. Dan aku tidak suka melihat pria-pria di kantormu menatapmu seolah kau tidak memiliki siapa-siapa. Aku butuh tanda peringatan fisik yang bisa mereka lihat dengan jelas."
Seorang manajer butik datang membawa nampan berlapis beludru hitam. Di atasnya, berjajar beberapa cincin berlian dengan potongan yang luar biasa indah dan menyilaukan mata.
"Sesuai pesanan Anda, Tuan Kafka. Potongan emerald-cut dengan kualitas flawless, desain klasik namun sangat elegan," ucap sang manajer dengan sopan.
Naya menelan ludah melihat kilauan batu mulia tersebut. "Kaf, ini... ini pasti mahal banget. Terlalu berlebihan."
Kafka mengabaikan protes Naya. Pria itu mengambil salah satu cincin dengan berlian utama berbentuk persegi panjang yang diapit oleh dua berlian lebih kecil di sisinya. Dengan lembut, ia meraih tangan kiri Naya.
"Kau tidak berhak menentukan harga dari perasaanku, Kak Naya," bisik Kafka serak, menatap lurus ke mata Naya. Perlahan, ia menyematkan cincin berlian yang luar biasa indah dan pas itu ke jari manis Naya. "Sempurna."
Naya menatap jari manisnya. Cincin itu terasa dingin, namun aliran darahnya terasa mendidih. Kafka tidak main-main. Pria ini sedang mengikatnya, mengklaimnya di depan dunia.
Setelah menyelesaikan pembayaran yang nominalnya membuat Naya nyaris pingsan, mereka melangkah keluar dari butik. Tangan Kafka kembali bertaut dengan tangan kiri Naya, seolah sengaja memamerkan cincin yang baru saja melingkar di sana.
"Kita cari makan ma—"
"Kafka? Kafka kan?"
Sebuah suara wanita yang sangat merdu, dengan intonasi riang dan aksen yang sedikit kebarat-baratan, memotong ucapan Kafka.
Kafka dan Naya menoleh secara bersamaan. Di dekat eskalator, berdiri seorang wanita muda yang penampilannya seolah baru saja keluar dari sampul majalah Vogue. Wanita itu mengenakan setelan blazer berbahan tweed warna putih gading, dipadukan dengan celana kulot yang jatuh sempurna. Rambut cokelatnya ditata dengan gaya effortless waves khas perempuan Eropa. Wajahnya luar biasa cantik, kulitnya mulus bersinar, dan aroma parfum Chanel langsung menguar lembut saat ia melangkah mendekat.
Naya refleks memperhatikan postur wanita itu. Sangat percaya diri, sangat elegan, dan memancarkan aura kesuksesan yang tidak bisa disembunyikan.
"Valerie?" Nada suara Kafka terdengar sedikit terkejut, namun raut wajahnya tetap terkontrol.
Wanita bernama Valerie itu tersenyum sangat lebar, matanya berbinar. Ia melangkah maju dengan antusias, berniat memberikan cipika-cipiki, namun Kafka dengan sangat halus namun tegas menahan bahu wanita itu dengan sebelah tangannya yang bebas, menjaga jarak sopan.
Valerie tidak terlihat tersinggung. Ia tertawa renyah, tawa yang sangat anggun. "Ya ampun, Kaf! Sudah berapa tahun? Enam tahun? Terakhir kali kita ketemu waktu perpisahan SMA kan sebelum aku berangkat ke Paris! Kamu makin... wow. Look at you! Nggak nyangka bocah kaku yang dulu suka ngambek sekarang jadi bos besar."
Naya mematung. Jantungnya tiba-tiba berdetak dengan ritme yang tidak menyenangkan. Perpisahan SMA? Ke Paris?
"Kau juga terlihat baik, Val. Kudengar karir desainermu di Prancis sangat sukses," balas Kafka sopan, tanpa nada emosi yang berlebihan.
"Lumayanlah. Aku baru mendarat dua hari yang lalu, mau survey lokasi buat buka flagship store pertamaku di Jakarta," Valerie mengibaskan tangannya dengan rendah hati, namun kesuksesannya di usia yang begitu muda sangatlah nyata.
Mata indah Valerie kemudian beralih ke samping Kafka. Ia menatap Naya dari atas ke bawah. Tatapannya sama sekali tidak merendahkan, justru penuh dengan rasa ingin tahu yang ramah. Pandangan Valerie kemudian jatuh pada tautan tangan Kafka dan Naya, tepat pada kilauan berlian di jari manis wanita itu.
"Oh, my god," Valerie membelalakkan matanya dengan senyum yang semakin lebar. "Kaf? Jangan bilang ini..."
Kafka mengeratkan genggamannya pada jemari Naya. Pria itu menarik Naya sedikit lebih dekat ke sisinya. "Valerie, perkenalkan. Ini Naya. Calon istriku."
Valerie menutup mulutnya dengan sebelah tangan, terlihat benar-benar terkejut sekaligus bahagia. "Naya? Astaga, nice to meet you! Aku Valerie. Teman SMA Kafka."
Naya memaksakan sebuah senyum dan mengangguk pelan. "Naya. Salam kenal, Valerie."
"Wah, gila sih," Valerie menggelengkan kepalanya takjub, menatap Kafka dengan pandangan menggoda. "Kafka yang sedingin es batu akhirnya bertekuk lutut juga. Jujur aja ya, Nay, kamu hebat banget bisa naklukin dia. Dulu waktu SMA, Kafka ini first love aku, tapi saking kakunya, waktu aku putusin buat milih kuliah ke Paris, dia nangisnya diam-diam di perpustakaan. Lucu banget kalau diingat-ingat."
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Valerie tanpa niat jahat, diiringi tawa nostalgia. Namun bagi Naya, kalimat itu bagaikan sembilu yang menyayat tepat di titik ketidakamanannya.
Cinta pertama.
Wanita cantik, sukses, brilian, dan nyaris sempurna ini adalah cinta pertama Kafka. Standar pertama yang dimiliki pria itu.
"Itu masa lalu saat aku masih anak-anak, Val," jawab Kafka dingin, suaranya sedikit mengeras. Ia jelas tidak menyukai arah pembicaraan ini. "Sekarang aku sudah menemukan pelabuhan terakhirku."
Valerie tersenyum lembut, menyadari perubahan nada suara Kafka. "Iya, iya, aku tahu. Kalian berdua serasi banget. Well, aku nggak mau ganggu date kalian. Congratulations once again, Kafka, Naya. Nanti kalau butuh desainer buat gaun pengantin, call me, okay?"
Wanita asal Paris itu melambai ramah dan berjalan menjauh, meninggalkan wangi parfum mahalnya yang masih tertinggal di udara.
Begitu punggung Valerie menghilang di balik tikungan butik, keheningan yang tebal turun menyelimuti Kafka dan Naya. Kafka menoleh, menatap Naya yang tiba-tiba tertunduk diam, menatap ujung sepatunya sendiri.
"Ayo kita cari makan," ajak Kafka, mencoba mencairkan suasana, menarik tangan Naya perlahan.
Namun, Naya menahan langkahnya. Ia menarik napas panjang, berusaha menelan bongkahan batu yang tiba-tiba menyumbat tenggorokannya.
"Kita pulang aja, Kaf. Aku mendadak capek," ucap Naya pelan, suaranya terdengar serak.
Kafka menautkan alisnya. Ia tahu persis apa yang sedang terjadi. Tanpa banyak bicara, pria itu menuntun Naya menuju area parkir basement VIP. Sepanjang perjalanan di dalam mobil menuju Kemang, Naya hanya diam menatap ke luar jendela. Tangannya yang mengenakan cincin berlian disembunyikan di balik lengannya yang terlipat di dada.
Cahaya lampu jalanan yang berkelebat menerangi wajah Naya yang terlihat murung. Pikirannya berkecamuk. Ia membandingkan dirinya dengan Valerie. Valerie seusia Kafka, muda, sukses di tingkat internasional, memancarkan kecerdasan dan kelas yang tak terbantahkan. Sementara dirinya? Naya adalah wanita yang usianya empat tahun lebih tua, bekerja sebagai staf biasa yang gajinya bahkan tidak cukup untuk membeli setengah dari cincin yang baru saja Kafka berikan padanya, dan parahnya lagi... ia baru saja ditinggalkan tunangannya dengan cara yang paling memalukan.
Bagaimana mungkin pria sesempurna Kafka memilihnya? Apakah Kafka hanya kasihan? Atau Kafka sedang mencari figur pelarian?
Mobil SUV hitam itu berbelok memasuki garasi rumah Nessa. Mesin dimatikan. Namun, Kafka tidak segera membuka kunci pintu.
Di dalam kabin yang temaram dan sunyi, Kafka melepaskan sabuk pengamannya. Pria itu memutar tubuhnya menghadap Naya.
"Ada apa dengan isi kepalamu, Kak Naya?" tanya Kafka memecah keheningan. Suaranya rendah, langsung menusuk ke inti permasalahan.
Naya menggeleng pelan, masih menolak menatap Kafka. "Nggak ada apa-apa."
"Jangan berbohong padaku," desis Kafka. Ia mengulurkan tangannya, menangkup rahang Naya, dan memaksa wanita itu menoleh menatapnya. "Kau mendadak mendirikan tembok tinggi di antara kita sejak lima belas menit yang lalu. Katakan padaku, apa yang sedang kau pikirkan."
Mata Naya mulai memanas. Rasa insecure yang sedari tadi ia tahan akhirnya meluap.
"Dia cantik banget, Kaf," bisik Naya, suaranya bergetar. "Valerie. Dia sempurna. Muda, sukses di Prancis, perancang busana kelas dunia. Dia cinta pertamamu... standar pertamamu."
Naya menelan ludah, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Terus kamu lihat aku. Aku lebih tua dari kamu. Karirku biasa aja. Aku habis diselingkuhin, harga diriku hancur lebur. Aku... aku cuma bekas orang, Kaf. Kenapa? Kenapa kamu milih aku padahal di luar sana ada perempuan sesempurna Valerie yang pernah jadi milikmu?"
Rahang Kafka mengeras hebat seketika. Kilat kemarahan yang luar biasa pekat menyala di mata legam pria itu. Bukan marah karena tuduhan Naya, melainkan murka karena Naya merendahkan dirinya sendiri sedemikian rupa.
"Jangan. Pernah. Merendahkan. Wanitaku," Kafka mengeja setiap kata dengan geraman mematikan, wajahnya mendekat hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. "Bahkan jika yang melakukannya adalah dirimu sendiri, Naya. Aku tidak akan membiarkannya."
Naya terkesiap, tubuhnya menegang mendengar nada suara Kafka yang begitu dominan dan posesif.
"Valerie adalah masa laluku," lanjut Kafka, suaranya sedikit melunak namun intensitasnya tetap membakar. "Dia adalah cinta pertamaku saat aku masih bocah SMA yang tidak mengerti apa arti cinta yang sebenarnya. Dia hanya bagian dari bab prolog yang sudah lama kututup dan kubuang."
Ibu jari Kafka mengusap setetes air mata yang jatuh di pipi Naya.
"Lalu kau bertanya kenapa aku memilihmu?" Kafka menyandarkan keningnya di kening Naya, napasnya yang hangat menerpa bibir wanita itu. "Karena sejak kau duduk di sebelahku di taman malam itu, tidak ada satu pun wanita di Paris yang bisa membuatku menoleh. Kecantikan Valerie, kesuksesannya, semuanya tidak ada artinya dibandingkan dengan satu senyuman darimu, Kak."
Kafka meraih tangan kiri Naya, mengangkatnya hingga ke depan wajah mereka, memamerkan cincin berlian yang berkilau di jari manis Naya.
"Cincin ini tidak kuberikan karena aku kasihan padamu. Cincin ini kuberikan karena aku mengemis agar kau mau menjadi milikku," bisik Kafka serak, mengecup dalam-dalam punggung tangan Naya. "Kau bukan bekas siapa pun. Kau adalah ratu yang sudah menempati tahta di kepalaku sejak aku masih remaja. Dan tahta itu tidak akan pernah tergantikan."
Kata-kata Kafka menghancurkan seluruh dinding ketidakamanan Naya hingga tak bersisa. Rasa hangat yang luar biasa meledak di dadanya, menyapu bersih semua keraguan. Naya memejamkan mata, memeluk leher pria itu, dan membiarkan Kafka meraup bibirnya dalam sebuah ciuman yang memabukkan dan penuh dengan janji keabadian.
Namun, saat ciuman mereka semakin dalam dan udara di dalam mobil semakin menipis, Kafka tiba-tiba menarik diri. Pria itu menatap bibir Naya yang membengkak merah dengan napas tersengal, lalu menyeringai tipis. Sebuah seringai berbahaya yang membuat bulu kuduk Naya meremang.
"Sekarang, karena semua keraguanmu sudah beres, dan cincinku sudah melingkar di jarimu..." Kafka berbisik tepat di telinga Naya, suaranya berubah menjadi geraman serak yang menggetarkan perut Naya. "...kita perlu membahas dengan sangat serius, di kamar mana kita akan tidur malam ini."