Hidup tak pernah memberi pilihan mudah pada Regatta Aulia, atau yang biasa dipanggil 'Ega'. Dia adalah seorang gadis berusia 21 tahun, yang tumbuh di dalam lingkungan sebuah panti asuhan sejak dilahirkan.
Suatu malam, Ega berhasil menyelamatkan seorang pria. Pria itu adalah Raka Adinata (27 thn), seorang pengusaha muda kaya raya yang baru saja kehilangan segalanya akibat pengkhianatan orang-orang terdekatnya.
Ega hanya berniat untuk menyelamatkan pria tersebut, namun dia tidak menyangka ... jika usahanya malam itu malah menjebaknya di dalam putaran arus kehidupan pria itu lebih dalam.
Di tengah pertengkaran, rahasia masa lalu, perebutan perusahaan, dan perasaan yang perlahan tumbuh, Regatta dan Raka mengerti akan satu hal:
"Keluarga bukan selalu tentang darah, akan tetapi tentang seseorang yang memilih untuk tinggal."
↔ UPDATE 2X SEHARI, JAM 12 SIANG DAN JAM 3 SORE.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PITB - 21.
...꧁✿ 🅷🅰🅿🅿🆈 🆁🅴🅰🅳🅸🅽🅶 ✿꧂...
BIP ... BIP ... BIP ...
Suasana di dalam kamar VVIP itu kembali hening, hanya terdengar bunyi alat detak jantung Raka yang stabil, menjadikan sebuah bukti bahwa keadaan Raka semakin membaik.
Regatta kembali duduk di sisi tempat tidur Raka, tangannya kembali menggenggam tangan Raka yang dingin, seolah-olah dia ingin menyalurkan kehangatan keluarga yang sedang menunggunya bangun.
Lodra masuk dengan langkah perlahan, ditangannya ada beberapa kotak makanan dari restoran terkenal di Jakarta.
"Queen, sebaiknya Anda makan dulu bersama anak-anak. Jangan siksa diri Anda begini, bagaimana jika Anda tumbang saat Tuan Raka bangun?" ujar Lodra dengan wajah datar.
"Baik. Siapkan saja semuanya di meja sana, Lodra. Terima kasih atas perhatiannya ..." sahut Regatta dengan nada lembut.
"Siap, Queen!"
Kaylin dan Kalista sedang sibuk menata barang-barang yang dibawanya ke sebuah sudut ruangan khusus yang telah disiapkan, sambil sesekali melirik ke arah anak-anak yang duduk tenang di atas karpet terbaik.
Mereka terlihat sibuk mengerjakan tugas dari sekolah selama mereka libur kemarin, dan belajar untuk persiapan ujian kelulusan Kinder-Garden beberapa minggu lagi.
"Sayang-sayang Mommy, ayo kita makan dulu!" ujar Regatta dengan nada lembut yang tegas.
"Oke, Mommy!"
Kaylin dan Kalista langsung sigap menyiapkan makanan untuk ketiganya, sementara Regatta makan sambil menatap ke arah tempat tidur Raka, seolah-olah dia takut Raka terbangun, dan dia tidak melihatnya.
"Makanan ini sangat enak, Mommy! Om Lodra sangat pintar memlihnya!" seru Dewinta dengan mulut penuh makanan.
"Jangan bicara sambil makan, Dewi! Tidak baik!" sela Dewanta dengan nada anak-anak yang sangat tegas.
"Baik, maafkan Dewi, Abang Dewa ..."
Regatta hanya menatap interaksi mereka dengan sebuah senyuman tipis di wajahnya, berterima kasih kepada Tuhan, karena dia dipercaya untuk mengurus mereka dengan takdir bertemunya dia dengan Raka malam itu.
Dia telah memenuhi janjinya kepada mendiang Suryaputra Adinata, tanpa menemukan kesulitan dalam memasuki keluarga ini.
"Tuan Suryaputra, damailah di alam sana bersama Nyonya, karena anak dan cucumu sudah dalam pengamanan saya sampai mereka sukses nanti!" gumam Regatta dalam hatinya.
Di luar pintu kamar VVIP itu, Lodra berdiri tegak bersama beberapa orang bawahannya.
Setiap ada yang meewati kamar tesebut, mereka mengawasinya dengan tatapan mata yang tajam.
Tidak boleh ada celah kesalahan sedikitpun, yang dapat memberikan celah kepada musuh-musuh mereka yang masih bersembunyi dibalik bayangan.
Laporan-laporan penting terus mengalir masuk ke dalam iPad Regatta, sementara Xion dan timnya sedang bergerak menelusuri jejak organisasi yang berani melakukan serangan sore itu, sehingga membuat nyawa pewaris Adinata itu berada diujung tanduk.
Semua bukti, nama, dan lokasi persembunyian mereka sudah terkumpul menjadi satu bundel informasi yang lengkap, siap untuk mereka eksekusi.
Tidak berapa lama kemudian, dua orang perawat yang sudah diperiksa dengan ketat, masuk sambil membawa nampan obat serta cairan infus pengganti baru.
Mereka bergerak dengan sangat hati-hati, seolah-olah takut jika mereka melakukan satu saja kesalahan, mereka akan memicu murka wanita yang ditakuti oleh semua atasan mereka di dalam rumah sakit itu.
Setelah semua tugasnya selesai, mereka keluar dari ruangan itu sambil menghela napas lega.
Selesai makan, Regatta kembali menatap wajah Raka yang terlihat tenang dan damai, walaupun masih belum sadar.
"Mas tenang saja, biarkan aku yang membersihkan semua 'duri dan hama' yang akan menghadang jalan kita bersama sanak-anak kedepannya ..." bisik Regatta di telinga Raka, dengan kekuatan tekad yang tidak tergoyahkan.
"Mereka pikir, setelah mereka melukaimu, aku akan takut dan mundur dari dunia bawah? Mereka semua salah besar! Justru dengan kamu terluka begini, mereka telah menyentuh batas kesabaran seorang 'Queen Relia' sepenuhnya!" lanjutnya dengan nada rendah yang mematikan.
...꧁༺✿ 💚 ✿༻꧂...
Sore harinya, ketika cahaya matahari sudah mulai berubah warna dan masuk melalui celah-celah kaca kamar perawatan itu, keajaiban pun terjadi untuk mereka di dalam sana.
Tiba-tiba saja, jemari tangan Raka yang sedang digenggam oleh Regatta itu bergerak sedikit ... hanya gerakan halus, namun terasa sangat jelas oleh Regatta.
Mata Regatta langsung membeliak sempurna dengan napas yang tertahan sejenak, lalu dia segera mendekatkan wajahnya lebih dekat ke telinga Raka.
"Mas Raka ...? Apakah kamu bisa mendengar suaraku?" bisiknya dengan nada bergetar penuh harap.
Perlahan namun pasti, kelopak mata yang telah lama tertutup itu mulai bergerak-gerak, perjuangan berat untuk membuat mata itu terbuka menghadang cahaya di dalam ruangan itu.
Bip ... Bip ... Bip ...
Napas Raka terlihat sedikit lebih berat, hingga akhirnya kedua mata itu terbuka perlahan, walaupun masih terlihat buram.
Pandangan mata itu jatuh tepat ke sebuah wajah, dimana wajah itu adalah wajah wanita yang mulai dia cintai dalam diam, membuat bibir pucatnya bergerak melengkungkan sebuah senyuman tipis, seakan-akan semua rasa sakit yang dia derita seketika lenyap begitu saja.
"LODRA! PANGGILKAN DOKTER SEKARANG! RAKA SUDAH SADAR!" teriak Regatta tanpa sadar, saking senangnya.
"Siap, Queen!"
"Auuch! Istriku ternyata sangat bersemangat sekali teriaknya, sampai seluruh nyawaku langsung kembali ke raga ini ..." seloroh Raka dengan suara parau.
Suara terdengar lemah dan parau, namun sangat nyata dan menyejukkan hati seluruh penghuni ruangan itu.
"Istriku ..."
"Jangan banyak bicara dulu, Mas! Biarkan Dokter memeriksa dirimu dulu!" ujar Regatta dengan wajah bahagia.
Tidak lama kemudian, seorang dokter dan dua orang perawat langsung masuk ke dalam ruangan itu.
"Selamat datang kembali ke dunia ini, Tuan Raka! Dengan sadarnya Anda kembali, maka nasib rumah sakit ini terselamatkan ... Hahahaha," seloroh Dokter itu sambil memeriksa kondisi Raka dengan seksama.
Kedua perawat itu langsung melepas alat-alat yang tidak diperlukan lagi sambil tersenyum lega.
"Ha ha ha ..."
Raka ikut tertawa terbata mendengar selorohan dokter itu, karena tenggorokannya masih terasa kering.
Dia tahu bagaimana sikap seorang Regatta, walaupun mereka baru beberapa bulan ini bersama.
"Selamat, Nyonya Adinata. Tuan Raka sudah stabil sekarang, tinggal pemulihan saja kedepannya ..." ujar Dokter itu kepada Regatta dengan penuh hormat.
"Bagus! Terima kasih, Dokter. Saya akan memberikan dana untuk memperluas dan menambah fasilitas rumah sakit ini sesuai janji saya kemarin," sahut Regatta dengan wajah datar.
"Terima kasih banyak, Nyonya Adinata. Saya akan mengkonfirmasinya kepada atasan saya secepatnya ..."
"Sekarang kami pamit, Tuan dan Nyonya Adinata ..."
"Silahkan, Dokter ..."
Setelah mereka keluar dari ruangan itu, Regatta tidak kuasa menahan butiran bening dari mata indahnya, yang akhirnya lolos begitu saja ke pipi mulusnya.
Dia langsung menempelkan keningnya di atas tangan besar suaminya sambil terisak, merasakan sebuah beban berat yang terlepas begitu saja dari pundaknya selama dua malam ini.
Lodra langsung memberikan air minum kepada Raka dengan gerakan perlahan, saat melihat Queen mereka menangis bahagia.
"Aku selalu di sini bersamamu, Mas ... Kamu sudah aman sekarang, dan kita semua sudah aman ..." ujar Regatta sambil terisak.
Dibelakang mereka, terdengar suara tangis yang tertahan dari ketiga anak mereka, yang perlahan mendekat ke arah ayah mereka yang baru saja sadar.
Mereka menatap ayah mereka dengan penuh harap, namun belum berani untuk terlalu dekat.
"Mommy ... Daddy sudah sembuh?" tanya Dewinta dengan suara lirih.
Regatta menoleh ke arah belakang sambil tersenyum.
"Ya, Daddy sudah bangun, tapi belum sembuh ..." jawab Regatta sambil membawa ketiga anak sambungnya itu ke dalam pelukannya.
"Aku boleh naik ke atas tempat tidur Daddy, Mom? Aku mau peluk Daddy ..." ujar Dewanta dengan nada memohon.
"Boleh. Tapi satu-satu naiknya, dan pelan-pelan peluknya agar luka Daddy tidak berda-rah lagi ..." jawab Regatta.
Ketiga anak itu langsung naik bergantian untuk menyambut ayahnya yang baru saja sadar dari koma, dengan diawasi oleh Kalista dan Kaylin.
Regatta melihat semua itu dengan hati dan tatapan yang hangat, sebelum dia mulai bergerak untuk menghabisi musuh-musuhnya di luar sana.
Semua ini hanyalah permulaan saja, dimana permulaan itu diawali oleh tragedi terlukanya Raka Adinata.
Musuh-musuhnya akan segera mengetahui, betapa mahal harga yang harus mereka bayar nanti, karena berani mengganggu dan menyakiti 'Harta' paling berharga bagi seorang 'Queen Relia'.
"Tunggu sampai Raka diperbolehkan pulang ... setelah itu, kalian tidak akan selamat dari murkanya seorang Queen Relia!"
...🍃☀†๏ вэ ¢๏и†เиµэ∂☀🍃...