Mahesa Bhumi Arka Denta Sikumbang Seorang pengusaha dan pengacara terkenal.Di malam hari dia menjadi Vigilante untuk membalaskan dendam kematian keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang Ke Tanah Kelahiran
Setelah menempuh perjalanan udara selama beberapa jam dari Sumatera Barat menuju ibu kota, pesawat yang membawa Roy Arka Denta bersama kedua keponakannya, Bhumi dan Bayu, akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Roda pesawat menyentuh landasan dengan lembut, disusul tepuk tangan kecil dari beberapa penumpang yang merasa lega telah tiba di tujuan. Pramugari kemudian menyampaikan ucapan selamat datang di Jakarta melalui pengeras suara, sementara para penumpang mulai berdiri untuk mengambil barang bawaan mereka dari kompartemen kabin. Suasana di dalam pesawat yang semula tenang perlahan berubah menjadi lebih ramai, dipenuhi percakapan, langkah kaki, dan suara koper yang diturunkan satu per satu.
Di antara keramaian itu, Bhumi dan Bayu hanya saling berpandangan. Ada rasa haru, penasaran, sekaligus gugup yang sulit mereka sembunyikan. Selama hampir sembilan belas tahun, kehidupan mereka lebih banyak dihabiskan di Nagari Pande Sikek, sebuah kampung yang sejuk dengan hamparan sawah, deretan perbukitan, serta masyarakat yang masih memegang teguh adat dan tradisi Minangkabau. Kini mereka meninggalkan lingkungan yang telah membesarkan mereka untuk memulai lembaran baru di Jakarta, kota yang selama ini hanya mereka kenal melalui cerita, berita, dan tayangan televisi. Mereka sadar bahwa perjalanan ini bukan sekadar perpindahan tempat tinggal, melainkan awal dari tanggung jawab besar yang telah diwasiatkan oleh almarhum ayah mereka.
Roy Arka Denta yang berdiri di samping keduanya memperhatikan perubahan raut wajah mereka. Dengan senyum tipis, ia menepuk bahu Bhumi lebih dahulu, kemudian bahu Bayu. "Selamat datang di rumah kalian yang kedua," ucapnya dengan suara tenang. "Jakarta memang berbeda dengan Pande Sikek, tetapi kalian akan terbiasa. Yang terpenting, jangan pernah melupakan dari mana kalian berasal."
Ucapan itu membuat kedua pemuda tersebut menganggukkan kepala dengan penuh hormat. Mereka memahami bahwa nilai-nilai yang diajarkan keluarga dan adat akan menjadi pegangan dalam menghadapi kehidupan baru yang jauh lebih dinamis.
Sesaat kemudian mereka berjalan menyusuri lorong menuju ruang kedatangan. Mata Bhumi dan Bayu tak henti-hentinya mengamati setiap sudut bangunan bandara yang megah. Langit-langit yang tinggi, dinding kaca yang memantulkan cahaya matahari, papan informasi digital, hingga arus manusia yang datang dan pergi tanpa henti memberikan kesan yang begitu berbeda dibandingkan suasana kampung halaman mereka. Orang-orang berjalan dengan langkah cepat, sebagian membawa koper besar, sebagian lagi berbicara melalui telepon genggam sambil terus melangkah seolah waktu tidak pernah berhenti.
"Ramai sekali..." gumam Bayu lirih.
Bhumi mengangguk pelan. "Aku baru kali ini melihat tempat sebesar ini."
Roy hanya tersenyum kecil mendengar komentar mereka. Baginya, kekaguman kedua keponakannya adalah sesuatu yang sangat wajar. Siapa pun yang baru pertama kali menginjakkan kaki di ibu kota tentu akan merasakan hal yang sama.
Setelah mengambil seluruh barang bawaan, mereka melangkah menuju pintu keluar ruang kedatangan. Belum sempat mereka berjalan jauh, terdengar suara seorang perempuan memanggil dengan nada penuh kegembiraan.
"Selamat datang kembali di Jakarta, Ayah... Bhumi... Bayu!"
Ketiganya menoleh ke arah datangnya suara. Berdiri tidak jauh dari sana seorang wanita berparas cantik dengan senyum hangat. Ia mengenakan pakaian formal yang sederhana namun elegan, memancarkan wibawa sekaligus keramahan. Di sampingnya berdiri seorang pria berpenampilan rapi yang tak lain adalah suaminya.
Bhumi dan Bayu sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya wajah mereka dipenuhi senyum lebar.
"Kak Kirana!" seru mereka hampir bersamaan.
Tanpa ragu, keduanya menghampiri wanita tersebut dan memeluknya dengan hangat. Dyah Ayu Kirana Arka Denta membalas pelukan itu dengan penuh kasih sayang. Meskipun telah lama berpisah, ikatan keluarga di antara mereka sama sekali tidak memudar.
"Aduh... kalian sudah besar sekali," ujar Kirana sambil menatap kedua sepupunya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. "Terakhir kali Kakak melihat kalian, kalian masih anak-anak."
Bhumi tersenyum malu.
"Waktu memang cepat sekali berlalu, Kak."
Bayu pun tertawa kecil.
"Kalau bukan karena Om Roy menjemput kami, mungkin kami masih bingung melihat ramainya Jakarta."
Suami Kirana kemudian maju selangkah dan menjabat tangan Bhumi serta Bayu dengan ramah.
"Selamat datang. Senang akhirnya kita bisa bertemu lagi."
Sapaan hangat itu membuat suasana menjadi semakin akrab. Mereka kemudian berbincang ringan mengenai perjalanan dari Sumatera Barat, keadaan Nagari Pande Sikek, serta kabar keluarga yang selama ini jarang bertemu secara langsung.
Beberapa saat kemudian, Roy Arka Denta mengajak semuanya duduk di ruang tunggu agar bisa berbicara dengan lebih tenang. Ekspresinya berubah sedikit lebih serius, pertanda bahwa ada hal penting yang harus disampaikan kepada kedua keponakannya.
"Bhumi, Bayu," ucap Roy perlahan, "mulai besok kehidupan kalian akan berubah. Kalian bukan lagi anak-anak yang hanya memikirkan sekolah. Kalian telah memasuki tahap baru sebagai generasi penerus keluarga. Karena itu, setiap langkah yang kalian ambil harus dipikirkan dengan matang."
Bhumi dan Bayu langsung duduk tegak sambil memperhatikan setiap kalimat yang diucapkan oleh paman mereka. Mereka mengetahui bahwa nasihat seperti ini tidak pernah disampaikan tanpa alasan.
Roy menarik napas sejenak sebelum melanjutkan.
"Besok pagi, Bayu akan menghadiri pertemuan resmi di Rumah Sakit Arka Denta Corporation. Di sana, Kak Kirana dan suaminya akan memperkenalkanmu kepada seluruh jajaran manajemen, dokter, perawat, hingga para karyawan. Mereka harus mengenalmu sebagai bagian dari keluarga yang kelak akan ikut bertanggung jawab terhadap perkembangan rumah sakit."
Bayu menganggukkan kepala dengan penuh kesungguhan. Meski sedikit gugup, ia menyadari bahwa kepercayaan sebesar itu adalah amanah yang tidak boleh disia-siakan.
Roy Arka Denta kemudian mengalihkan pandangannya kepada Bhumi yang sejak tadi mendengarkan dengan penuh perhatian. Sorot matanya tampak tenang, tetapi tersimpan harapan besar yang selama bertahun-tahun dipendam demi menunggu saat yang tepat. Ia menyandarkan punggung sejenak sebelum kembali berbicara dengan suara mantap.
"Sedangkan kau, Bhumi, besok akan ikut bersamaku menuju kantor pusat Sikumbang Corporation," ujar Roy. "Perusahaan itu bukan sekadar tempat mencari keuntungan. Di balik setiap gedung, aset, dan investasi yang dimiliki keluarga, ada perjuangan panjang yang dibangun oleh para pendahulu kita dengan kerja keras, kejujuran, dan pengorbanan. Sudah waktunya kau mulai mengenal semuanya."
Bhumi menganggukkan kepala dengan wajah serius. Sejak kecil ia memang lebih tertarik mempelajari dunia usaha dan kepemimpinan. Namun, mendengar bahwa dirinya akan diperkenalkan secara langsung kepada perusahaan keluarga tetap membuat dadanya berdebar. Ia sadar bahwa amanah tersebut bukanlah sesuatu yang ringan.
"Aku akan belajar sebaik mungkin, Om," ucap Bhumi penuh keyakinan. "Aku tidak ingin mengecewakan keluarga."
Roy tersenyum bangga. "Itulah yang ingin Om dengar. Tidak ada yang menuntut kalian menjadi sempurna dalam waktu singkat. Yang kami harapkan hanyalah kesungguhan untuk belajar dan menjaga nama baik keluarga."
Ia kemudian memandang kedua keponakannya secara bergantian.
"Kalian juga jangan lupa bahwa mulai semester depan kalian resmi menjadi mahasiswa Universitas Negeri Indonesia. Bayu akan menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran, sedangkan Bhumi akan mempelajari ilmu yang berkaitan dengan dunia bisnis dan manajemen. Kuliah tetap menjadi prioritas utama. Urusan keluarga hanyalah proses belajar agar suatu hari nanti kalian siap menerima tongkat estafet."
Kirana mengangguk membenarkan perkataan ayahnya.
"Jangan merasa terbebani," katanya lembut. "Kami semua akan membantu kalian beradaptasi. Tidak ada yang mengharapkan kalian langsung menguasai semuanya."
Suaminya pun ikut menambahkan, "Belajar memimpin membutuhkan waktu. Yang penting adalah menjaga sikap rendah hati dan mau terus belajar."
Nasihat demi nasihat itu mereka dengarkan dengan penuh hormat. Bhumi dan Bayu memahami bahwa keluarga mereka bukan hanya mewariskan kekayaan, tetapi juga tanggung jawab moral untuk menjaga kepercayaan ribuan orang yang menggantungkan hidup pada perusahaan dan rumah sakit keluarga.
Tak terasa waktu berjalan cukup lama. Setelah memastikan semua hal penting telah disampaikan, Kirana berpamitan karena masih memiliki beberapa urusan yang harus diselesaikan sebelum esok pagi.
"Besok kita bertemu lagi," ucap Kirana sambil memeluk Bhumi dan Bayu. "Istirahat yang cukup. Besok adalah hari yang panjang."
"Baik, Kak," jawab keduanya hampir bersamaan.
Setelah mengantar Kirana dan suaminya hingga ke pintu keluar, Roy mengajak Bhumi dan Bayu menuju area parkir VIP. Udara Jakarta yang terasa lebih panas dibandingkan kampung halaman langsung menyambut mereka begitu keluar dari gedung bandara. Deretan mobil terus bergerak silih berganti, suara klakson terdengar sesekali, sementara lalu lintas manusia tidak pernah benar-benar berhenti.
Seorang sopir berseragam hitam yang telah menunggu sejak tadi segera menghampiri mereka. Dengan penuh hormat ia membungkukkan badan sebelum mengambil koper-koper mereka.
"Selamat datang, Tuan Roy," sapanya sopan. "Mobil sudah siap."
"Terima kasih," jawab Roy singkat.
Sang sopir kemudian membukakan pintu sebuah mobil mewah berwarna hitam mengilap. Bhumi dan Bayu sempat saling berpandangan, tetapi sebelum mereka sempat masuk ke dalam mobil, terdengar suara yang cukup keras.
"Kruuukk..."
Suara itu berasal dari perut Bhumi.
Belum sempat siapa pun bereaksi, terdengar lagi bunyi yang tidak kalah nyaring dari arah Bayu.
"Kruuukk..."
Kedua saudara kembar itu saling memandang selama beberapa detik sebelum akhirnya tertawa bersamaan. Roy yang melihat kejadian itu hanya mengangkat sebelah alis sambil menahan senyum.
"Sepertinya ada yang lupa makan di pesawat," godanya.
Bhumi mengusap tengkuknya dengan wajah sedikit malu.
"Om... sebenarnya kami tadi hanya makan sedikit. Sekarang perut rasanya benar-benar kosong."
Bayu mengangguk cepat.
"Kalau langsung pulang, rasanya kami bisa pingsan di jalan."
Roy menghela napas panjang. Awalnya ia memang sudah mempersiapkan makan malam istimewa di rumah. Seluruh pembantu bahkan telah diberi instruksi untuk memasak berbagai hidangan favorit keluarga sebagai penyambutan kepulangan Bhumi dan Bayu.
Namun melihat wajah kedua keponakannya yang benar-benar kelaparan, hatinya menjadi luluh.
"Baiklah," katanya sambil tertawa kecil. "Kita cari makan dulu. Tapi jangan terlalu lama, karena kalian juga harus beristirahat."
"Wah, terima kasih, Om!" seru Bhumi dan Bayu bersamaan.
Sopir pun segera menyalakan mesin mobil dan keluar dari kawasan bandara. Selama perjalanan, Bhumi dan Bayu terus menempelkan wajah ke jendela sambil menikmati pemandangan Jakarta. Gedung-gedung bertingkat menjulang tinggi di kejauhan, jalan layang saling bersilangan, papan reklame raksasa berdiri di berbagai sudut kota, sementara kendaraan memenuhi hampir seluruh ruas jalan.
"Inilah Jakarta..." gumam Bhumi kagum.
Bayu tersenyum tipis.
"Rasanya benar-benar berbeda dengan Pande Sikek."
Roy memandang mereka melalui kaca spion dengan senyum penuh kebanggaan. Ia tahu, hari ini bukan hanya menjadi awal perjalanan menuju kehidupan baru, tetapi juga menjadi hari ketika dua pemuda dari sebuah nagari kecil mulai mengenal dunia yang jauh lebih luas daripada yang pernah mereka bayangkan.Sopir yang sudah ditugaskan menunggu sejak tadi segera membukakan pintu mobil mewah yang disiapkan untuk mereka. Namun, perjalanan baru saja dimulai, tiba-tiba terdengar suara perut yang berbunyi nyaring, disusul suara yang lain yang tak kalah kerasnya. Bhumi dan Bayu saling pandang, lalu menoleh ke arah Roy Arka Denta dengan wajah memelas.
“Om Roy, perut kami sudah keroncongan hebat sekali. Rasanya seperti kosong melompong,” kata Bhumi dengan nada memohon. “Bolehkah kami berhenti sebentar saja? Kami ingin mengisi perut sebelum melanjutkan perjalanan,” tambah Bayu menyambung.
Roy Arka Denta sempat mengernyitkan dahi, merasa bingung sekaligus geli. Ia sudah berencana langsung membawa mereka ke rumah untuk menyajikan hidangan terbaik yang telah disiapkan pembantu. Namun melihat raut wajah kedua keponakannya yang tampak sangat lapar, ia pun menghela napas panjang sambil tersenyum. “Baiklah, baiklah. Kita berhenti sebentar saja. Tapi jangan terlalu lama ya,” ujarnya sambil memberi isyarat kepada sopir untuk mencari tempat berhenti.
Tak lama kemudian, sopir mengarahkan kendaraan menepi di pinggir jalan raya, tepat di depan sebuah warung makan sederhana yang tampak bersih dan ramai dikunjungi orang. Sebelum Roy sempat turun, Bhumi dan Bayu sudah lebih dulu melompat keluar, lalu dengan antusias menyeret tangan Roy masuk ke dalam warung itu. Roy hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, merasa sedikit malu namun tak berdaya menolak keinginan mereka.
“Silakan duduk, Om, di sini saja. Makanannya enak dan harganya terjangkau,” kata Bayu dengan semangat sambil mempersilakan Roy duduk di bangku kayu yang disediakan.
Roy pun akhirnya mengiyakan, duduk dan mengamati tingkah laku kedua keponakannya itu. Begitu pesanan datang, barulah Roy menyadari alasan mereka begitu terburu-buru. Bhumi dan Bayu menyantap makanan dengan lahap, seolah-olah mereka sudah tidak makan selama tiga hari penuh. Masing-masing dari mereka menghabiskan tiga piring nasi rames lengkap dengan lauk-pauk yang beragam, ditambah lagi empat gelas es teh melati manis berukuran besar yang segera habis tak bersisa. Roy hanya bisa menatap dengan mulut sedikit ternganga, kemudian menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum geli melihat semangat mereka menyantap hidangan sederhana itu.
Belum juga makanan di meja benar-benar habis, Bayu tiba-tiba mengeluarkan suara sendawa yang cukup keras, lalu menoleh ke arah pelayan dengan wajah santai. “Mbak, tambah satu cangkir kopi hitam yang kental ya, dan sekalian bungkuskan satu bungkus rokok yang biasa dijual di sini,” ujarnya dengan nada biasa saja.
Mendengar permintaan itu, Roy Arka Denta segera mengingatkan dengan nada tegas namun tetap lembut. “Bayu, ingat apa yang baru saja Om sampaikan. Kau baru saja diterima di Fakultas Kedokteran, nanti akan mempelajari segala hal tentang kesehatan dan penyakit. Jangan terlalu banyak merokok, itu tidak baik untuk paru-paru dan tubuhmu, apalagi kau masih muda dan harus menjaga kondisi untuk menuntut ilmu.”
Namun Bayu hanya tersenyum santai, lalu menoleh sambil menunjuk ke arah tangan Om-nya yang sudah memegang sebatang rokok dan menyalakannya usai makan. “Tenang saja, Om. Om sendiri juga kan merokok setiap kali habis makan? Katanya ini kebiasaan yang sudah bertahun-tahun dilakukan. Sekali-kali saja tidak apa-apa, toh tidak sampai menghabiskan satu bungkus sekaligus,” jawabnya dengan nada ringan, membuat Roy terdiam sejenak lalu tertawa kecil sambil menggelengkan kepala lebih dalam.
“Dasar anak ini, pandai sekali membalas omongan Om,” kata Roy sambil menghembuskan asap rokok perlahan, menyadari bahwa ia memang tidak bisa menyangkal kebiasaan itu sendiri. “Sudah, tapi ingat pesan Om. Kalau sudah mulai kuliah nanti, kurangi perlahan-lahan. Sebagai calon dokter, kau harus bisa memberi contoh pada dirimu sendiri sebelum menasihati orang lain.”
Bayu hanya mengangguk setuju sambil menerima rokok dan kopi yang dibawakan pelayan, tampak puas dan tidak terganggu dengan peringatan itu. Bhumi hanya tertawa melihat percakapan keduanya, sesekali ikut mencicipi kopi yang terasa pahit namun menyegarkan.
Meskipun demikian, Roy tidak merasa marah, justru merasa senang melihat bahwa Bhumi dan Bayu tetap menjadi diri mereka sendiri, tidak berubah meskipun kini berada di lingkungan yang serba mewah dan berbeda. Bagi Roy Arka Denta, momen sederhana ini menjadi pengingat bahwa di balik tanggung jawab besar yang akan dipikul, mereka tetaplah dua pemuda yang sedang menemukan jati diri dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
Setelah semuanya selesai dan perut terasa kenyang, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju kediaman keluarga besar di Jakarta. Di dalam hati, Bhumi dan Bayu merasa lebih tenang dan siap menghadapi apa pun yang menanti mereka esok hari, membawa bekal semangat, rasa ingin tahu, serta kenangan sederhana pertama mereka di kota besar ini.