NovelToon NovelToon
"Sistem Mengajar Mutlak Dan Wali Kelas Pilihan":

"Sistem Mengajar Mutlak Dan Wali Kelas Pilihan":

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Sistem
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: acep maulana

Arvand Pratama hanyalah seorang guru honorer santai yang menjunjung tinggi prinsip "kerja minimal, damai maksimal". Namun, hidupnya yang tenang mendadak hancur ketika ia dijebak untuk menjadi wali kelas 12 F—kelas buangan paling brutal, berisi sekumpulan murid bermasalah yang dicap sebagai parasit sekolah tanpa masa depan.
​Saat Arvand berniat melarikan diri dan mengundurkan diri, sebuah Sistem Mengajar Mutlak misterius mendadak aktif di kepalanya. Sistem ini memberinya pilihan ekstrem: terima misi menjinakkan kelas 12 F dengan imbalan uang melimpah dan kemampuan guru supranatural, atau menolak dan mati mendadak karena serangan jantung!
​Terjebak di antara ancaman kematian sistem, janji manis kepala sekolah untuk dinikahkan dengan guru matematika yang cantik, dan keliaran murid-murid 12 F yang siap menguji kewarasannya, petualangan Arvand pun dimulai. Mampukah guru honorer bermodal sistem ini mengubah kumpulan "produk gagal" menjadi barisan murid terbaik, atau justru ia yang akan mati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Kejutan Identitas di Balik Etalase Kaca Kusam

​BMW 7 Series yang berukuran bongsor itu akhirnya bergerak perlahan mendekati area trotoar tepat di samping warung tenda sepi itu. Kehadiran sebuah kendaraan super eksekutif yang sangat mewah, mengkilap, dan memancarkan aura kekayaan aristokrat modern di depan sebuah warung tenda kaki lima yang hampir bangkrut tentu saja menciptakan sebuah pemandangan visual yang sangat janggal dan tidak selaras.

​Pria paruh baya pemilik warung yang tadinya sedang melamun langsung mendongak kaget. Sepasang matanya melotot sempurna menyaksikan bodi panjang sedan Jerman itu berhenti tepat dua meter di depan meja dagangannya. Ia dan istrinya seketika dilanda rasa cemas dan bingung yang luar biasa. Di dalam benak mereka yang sederhana, mereka takut kalau mobil mewah tersebut adalah milik seorang pejabat tinggi atau debt collector kelas kakap yang salah parkir atau mau menggusur lapak dagangan mereka.

​Arvand mematikan mesin mobil. Pintu kemudi terbuka dengan suara desisan hidrolik yang sangat halus. Pemuda itu keluar dari dalam kabin mewah dengan penampilan yang masih sangat sederhana—kemeja kain usang dan celana kain hitam khas guru honorer—namun penampilannya itu kini memancarkan aura ketenangan dan wibawa yang sangat berbeda berkat peningkatan status karismanya dari sistem. Di belakangnya, Ani melangkah turun dengan anggun, merapatkan jilbab kaosnya dari hembusan angin malam kota.

​"Selamat malam, Pak, Bu... Warungnya masih buka, kan? Kami mau numpang makan malam di sini," sapa Arvand dengan sebuah senyuman yang sangat ramah dan tutur kata yang teramat santun saat melangkah masuk ke bawah naungan tenda kain.

​Pria paruh baya pemilik warung itu sempat tertegun sejenak, melihat kontras antara mobil yang dikendarai dengan kesopanan luar biasa dari pemuda di hadapannya. Ia cepat-cepat berdiri dari duduknya, mengelap kursi plastik biru menggunakan serbetnya dengan tergesa-gaba.

​"Eh... nggih, Mas... Mbak... Masih buka, silakan duduk. Mohon maaf tempatnya sangat sederhana dan agak remang-remang begini," jawab pria paruh baya itu dengan nada suara yang bergetar canggung dan sungkan.

​Arvand dan Ani mendudukkan diri mereka di atas kursi plastik dengan santai, sama sekali tidak risi dengan kondisi meja kayu yang agak berminyak. Saat Arvand melayangkan pandangannya ke arah etalase kaca berisi menu makanan, matanya tidak sengaja menangkap sebuah bingkai foto kecil yang diletakkan di sudut rak kayu dekat panci nasi.

​Di dalam bingkai foto tersebut, tampak foto sebuah keluarga yang sedang tersenyum bahagia di depan sebuah restoran yang ukurannya jauh lebih besar dan megah daripada tenda kaki lima ini. Namun, yang membuat jantung Arvand mendadak berdegup kencang adalah sosok remaja laki-laki yang berdiri di dalam foto tersebut mengenakan seragam sekolah dengan wajah yang tampak murung namun sangat ia kenali.

​Remaja laki-laki di dalam foto itu adalah Raka Ekonomi.

​Arvand tertegun, otaknya langsung bekerja dengan kecepatan tinggi memproses data sosiologis yang ia miliki. Raka Ekonomi adalah salah satu murid yang berada di dalam daftar hitam kelas 12 F di SMA Cakrawala Bangsa—kelas legendaris berisi anak-anak bermasalah yang besok pagi harus ia hadapi sebagai wali kelas baru. Di kalangan para guru, Raka terkenal sebagai anak yang pendiam, sering tertidur di kelas, prestasinya merosot tajam, dan sering menunggak uang iuran tahunan sekolah hingga terancam tidak bisa mengikuti ujian akhir.

​Ternyata, warung tenda sepi dan mengenaskan ini adalah milik keluarga Raka Ekonomi. Sepasang suami istri paruh baya di hadapannya ini tidak lain dan tidak bukan adalah ayah dan ibu kandung dari muridnya sendiri.

​Arvand mencoba mengendalikan ekspresi wajahnya agar tetap terlihat tenang dan tidak membuat kedua orang tua Raka merasa curiga. Ia memesan menu makanan rumahan yang tersedia untuk dirinya dan Ani dengan gaya sesopan mungkin.

​"Pak, saya pesan nasi pakai sayur lodeh, tempe goreng dua biji, sama sambal penyetan ayamnya satu porsi nggih. Kalau adek saya ini, pesen nasi pakai telur dadar sama sayur bening saja," tutur Arvand ramah.

​"Nggih, Mas. Siap, segera saya siapkan," jawab sang ibu warung dengan senyuman tulus yang dipaksakan di atas wajahnya yang tampak sangat kuyu dan menyimpan beban pikiran yang teramat berat.

​Sembari menunggu makanan disiapkan, Arvand memajukan posisi duduknya, mencoba membuka obrolan ringan yang santun untuk memancing cerita dari sang ayah warung yang kini sedang sibuk menggoreng tempe di dalam wajan.

​"Maaf kalau saya lancang bertanya ya, Pak... Kalau saya perhatikan dari papan spanduk di depan, menu makanan di sini sebenarnya sangat lengkap dan menggugah selera. Tapi kalau boleh tahu, kenapa suasananya sore menjelang malam ini kok sepi sekali nggih, Pak? Berbeda dengan warung pecel lele di ujung gang sebelah yang ramai antrean," tanya Arvand dengan nada suara yang penuh empati, sama sekali tidak bermaksud untuk mengejek atau merendahkan.

​Pria paruh baya itu—yang belakangan diketahui bernama Pak prabowo—menghentikan sejenak gerakan sodet nya di dalam wajan. Ia menghela napas panjang yang sangat berat, sebuah desahan yang sarat akan keputusasaan hidup yang mendalam. Ia menoleh ke arah Arvand, melihat ketulusan di sepasang mata pemuda itu, membuat benteng kecanggungannya perlahan runtuh.

​"Aduh, Mas... kalau mau diceritakan itu sebenarnya ceritanya sangat panjang dan memalukan," ucap Pak prabowo sambil meletakkan tempe goreng hangat di atas piring seng.

​"Dulu... sekitar satu tahun yang lalu, kami sebenarnya tidak berjualan di tenda kaki lima pinggir jalan yang sepi seperti ini, Mas. Kami dulu punya usaha restoran rumah makan yang cukup besar dan ramai di dekat kawasan pusat perbelanjaan kota. Hidup kami dulu sangat berkecukupan, bahkan kami bisa membiayai anak lelaki semata wayang kami sekolah di SMA swasta elit Cakrawala Bangsa."

​Ani yang sedang mendengarkan langsung menaruh perhatian penuh, matanya memandang iba. "Lalu... kenapa sekarang bisa pindah jualan di sini, Pak?"

​Istri Pak prabowo, Ibu sri mulyani, datang mengantarkan dua piring nasi hangat pesanan mereka ke atas meja dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia ikut menyambung pembicaraan suaminya dengan mata yang mulai berkaca-kaca menahan rasa perih di dada.

​"Semua ini karena musibah penipuan dan jeratan hutang, Mbak, Mas," tutur Ibu sri mulyani dengan suara yang parau. "Waktu usaha restoran kami sedang maju-majunya, suami saya ditipu oleh rekan bisnisnya sendiri yang membawa lari seluruh modal usaha dan uang tabungan keluarga kami. Tidak hanya sampai di situ, rekan bisnisnya itu juga ternyata menggunakan nama dan identitas suami saya untuk meminjam uang dalam jumlah yang sangat besar kepada rentenir dan komplotan lintah darat kelas kakap."

​Ibu sri mulyani mengusap sudut matanya yang basah menggunakan ujung celemek kainnya. "Akibatnya, restoran kami disita paksa oleh rentenir itu untuk menutupi hutang. Rumah tinggal kami juga terpaksa dijual murah demi membayar sisa-sisa hutang yang terus berbunga setiap bulannya. Sekarang... kami terpaksa tinggal di sebuah kontrakan sempit di belakang gang ini, dan modal yang tersisa cuma cukup untuk membuat warung tenda kaki lima seadanya ini."

Pak prabowo mematikan kompor gasnya, lalu ikut duduk di sebuah kursi plastik kosong di dekat meja Arvand dengan gestur tubuh yang sangat lesu, seolah seluruh energi hidupnya telah terkuras habis oleh kenyataan pahit.

​"Yang membuat kami paling hancur dan merasa gagal sebagai orang tua adalah nasib anak kami, Raka, Mas," sambung Pak prabowo dengan suara yang tercekat di tenggorokan.

​"Raka itu anak yang pintar aslinya, dia anak yang berbakti. Tapi sejak keluarga kami jatuh miskin dan terus dikejar-kejar oleh debt collector setiap minggu, mental anak itu langsung jatuh total. Dia jadi anak yang sangat pendiam di rumah, penampilannya lusuh, dan di sekolahnya sekarang prestasinya hancur. Kami sudah menunggak uang iuran sekolahnya selama hampir dua semester karena uang hasil jualan dari warung sepi ini jangankan buat bayar sekolah jutaan rupiah, buat makan sehari-hari dan bayar cicilan bunga rentenir saja sudah sangat kembang kempis, Mas."

​Pak prabowo menatap ke arah luar tenda, ke arah kegelapan jalanan kota dengan pandangan yang kosong. "Warung kami ini sengaja dibuat sepi oleh preman-preman suruhan rentenir itu, Mas. Hampir setiap malam, ada saja dua atau tiga orang berbadan besar tatto an yang sengaja duduk-duduk nongkrong di depan tenda kami sambil memasang muka seram dan berteriak-teriak kasar menagih hutang. Akibatnya, para pelanggan dan pembeli yang tadinya mau mampir jadi ketakutan dan memilih pergi mencari warung lain. Kami benar-benar seperti tikus yang mati di dalam lumbung padi, Mas. Tidak tahu harus mencari jalan keluar lewat mana lagi..."

​Ani yang mendengar penuturan pilu tersebut langsung menggenggam erat tangan kiri Arvand di bawah meja. Jantungnya berdenyut ngilu, merasa sangat tidak tega melihat penderitaan keluarga yang begitu berat di hadapannya. Ia menatap kakaknya, berharap Arvand yang kini telah memiliki kekuatan finansial luar biasa bisa melakukan sesuatu untuk membantu mereka.

​Arvand sendiri terdiam membisu, mendengarkan setiap bait cerita dengan empati sosiologis yang mendalam. Di dalam benaknya, layar virtual dari Sistem Mengajar Mutlak mendadak berkedip memberikan sebuah notifikasi rahasia yang hanya bisa dilihat oleh sepasang matanya sendiri:

​[Misi Sampingan Terbuka: Penyelamatan Kedaulatan Ekonomi Keluarga Murid]

Target: Membebaskan keluarga dari Raka Ekonomi (Murid Kelas 12 F) dari jerat hutang rentenir dan mengembalikan motivasi belajarnya.

Status: Menunggu Tindakan.

​Arvand tersenyum tipis di dalam hatinya. Sistem ini benar-benar tahu bagaimana cara menguji kapasitasnya sebagai seorang pendidik sejati. Tugas seorang guru ternyata tidak hanya sebatas berdiri di depan papan tulis memberikan materi teori sosiologi yang membosankan, melainkan harus hadir secara nyata menjadi pilar penopang dan pembuka jalan keluar bagi badai kehidupan yang sedang menghancurkan masa depan anak didiknya.

​Arvand mengambil sendoknya, lalu mulai menyuap nasi sayur lodeh buatan Ibu sri mulyani ke dalam mulutnya dengan gestur yang sangat menghargai makanan. Setelah mengunyah dan menelannya, ia menatap Pak prabowo dan Ibu sri mulyani dengan tatapan mata yang sangat tenang, teduh, dan memancarkan sebuah keyakinan yang luar biasa kuat.

​"Pak, Bu... Masakan Ibu sri mulyani ini rasanya benar-benar sangat enak dan lezat. Rasanya pas sekali di lidah, seperti masakan ibu kandung saya sendiri di kampung Wonosobo," puji Arvand dengan tulus, membuat sepasang suami istri paruh baya itu sedikit tersenyum terharu di tengah kesedihan mereka.

​Arvand meletakkan sendoknya kembali di atas piring, lalu merapatkan kedua belah telapak tangannya di atas meja kayu. "Pak prabowo... Ibu sri mulyani... Tolong jangan pernah berkecil hati atau putus asa dengan keadaan nggih. Gusti Allah itu tidak tidur. Di setiap ada kesulitan yang memuncak, pasti akan selalu dikirimkan jalan keluar dari arah yang tidak pernah kita duga-duga sebelumnya."

​Arvand sengaja tidak langsung membongkar identitas dirinya sebagai wali kelas baru dari Raka Ekonomi di SMA Cakrawala Bangsa, karena ia tahu waktu dan momentumnya belum tepat malam ini. Ia ingin menyelesaikan masalah ini secara bertahap, menggunakan pendekatan yang elegan dan santun tanpa harus terkesan seperti seorang pahlawan kesiangan yang pamer kekayaan.

​"Pak, kebetulan saya ini bekerja di bidang pendidikan di kota ini. Saya sangat peduli dengan masa depan anak-anak muda seperti Raka," ucap Arvand dengan nada suara yang berwibawa namun tetap sangat rendah hati.

​"Malam ini, anggap saja kedatangan saya dan adik saya di warung ini adalah bagian dari rencana baik dari Yang Maha Kuasa. Saya berjanji kepada Bapak dan Ibu, masalah hutang piutang dan tekanan dari rentenir yang sedang mengganggu ketenangan usaha warung Bapak ini akan segera menemukan titik penyelesaiannya dalam waktu dekat. Begitu juga dengan urusan sekolah Raka di SMA Cakrawala Bangsa, Bapak dan Ibu tidak perlu terlalu cemas lagi nggih. Semuanya pasti akan ada jalan keluarnya yang terbaik."

*​**Pak prabowo dan Ibu sri mulyani** tertegun diam, menatap pemuda pemilik mobil BMW 7 Series di hadapan mereka dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh rasa tidak percaya sekaligus secercah harapan baru yang mendadak menyeruak masuk ke dalam palung hati mereka yang paling dalam. Meskipun mereka belum tahu bagaimana cara pemuda ini membantu, namun getaran karisma kesantunan dan ketegasan kalimat Arvand*** malam itu entah mengapa sanggup memberikan rasa aman yang luar biasa yang sudah lama tidak mereka rasakan selama satu tahun belakangan ini.

​Sembari melanjutkan makan malamnya dengan penuh kesantunan bersama Ani di bawah temaram lampu tenda pinggir jalan yang sepi tersebut, Arvand Pratama merajut sebuah rencana strategis di dalam batinnya.

Esok pagi, di koridor barat kelas 12 F, ia tidak hanya akan datang membawa buku absen murid, melainkan membawa sebuah palu keadilan ekonomi yang akan meruntuhkan setiap belenggu masalah yang sedang meredupkan masa depan anak didiknya, siap membuktikan kapasitasnya sebagai sesosok guru honorer paling kaya dan paling berbahaya di dunia pendidikan modern.

1
irena
lanjut thor..
Aisyah Suyuti
good
Mamat Stone
/Tongue/
acep maulana
Hehehe, kalau kalian punya ide gokil, teori liar, atau saran buat novel ini, tulis aja di komentar. 😆
Saya selalu baca komentar kalian, dan siapa tahu ada ide yang bisa menginspirasi jalan cerita ke depannya. Terima kasih sudah mendukung novel ini! 🙏🔥
Mamat Stone
/Chuckle/
Mamat Stone
/Toasted/
Mamat Stone
/Gosh/
Mamat Stone
/Smile/
Mamat Stone
/Proud/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
verto
novel terjemahan kah ini? dengan di modif dikit
acep maulana: Ehh iya, ada sedikit inspirasi dari drama China yang saya tonton, bahkan mungkin ada beberapa ide dari film juga di bab-bab yang akan datang. Tapi saya modifikasi dan kembangkan sesuai alur cerita novel ini. Hehehe 😆🙏 Terima kasih sudah membaca.
total 1 replies
verto
mirip sebuah komik sipnosisnya
acep maulana: Waduh, ketahuan gue deh 🤭 kebanyakan baca komik. 😂 Tapi semoga makin ke depan ceritanya punya warna sendiri dan tetap seru buat diikuti. 😁🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
crazy up Thor
Dewiendahsetiowati
kok banyak yang diulang2 ya paragrafnya
acep maulana: maaf ka hehe saya ngetik nya sambil ngantukk 🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!