Mengisahkan tentang kisah kehidupan dari seorang pemuda biasa yang hidupnya lurus-lurus saja yang secara tidak sengaja bertemu dengan seorang perempuan cantik yang sekonyong-konyong mengigit lehernya kemudian mengaku sebagai vampir.
Sejak pertemuan pertama itu si pemuda menjadi terlibat dalam kehidupan si perempuan yang mana si perempuan ini memiliki penyakit yang membuat nya suka ngehalu.
Dapatkah si pemuda bertahan dari omong kosong di Perempuan yang tidak masuk akal itu?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Di Persingkat Saja DPS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan yang mengharukan
Suasana di antara kami seketika menjadi hening dengan suara aliran air saja yang terdengar dan sesekali suara kendaraan yang lewat.
"Ngomong-ngomong apa kamu benar-benar tidak punya siapa-siapa yang peduli padamu!?" Ia diam sangat lama hingga aku berpikir kalau aku di abaikan.
Tapi tak lama kemudian ia berkata. "Paman dan bibiku... Hanya mereka yang aku rasa peduli padaku sejauh yang aku ingat!"
"Dulu ketika aku masih jadi orang biasa mereka selalu berkunjung dan memberiku uang saku!..."
"Mereka sangat baik dan sangat bahagia ketika aku berkunjung ke rumah mereka... Mungkin itu karena mereka tidak punya anak!..."
"Tapi sudah lama sekali mereka tidak berkunjung dan aku sudah lama tidak melihat mereka... Mungkin sekarang mereka sudah meninggalkan aku!..." Ia terlihat berkaca-kaca.
Aku yang melihat itu semakin merasa iba.
"Apa kamu yakin kalau mereka meninggalkan kamu dan bukan kamu yang meninggalkan mereka?..." Ia hanya diam lagi.
"Mungkin saja kalau mereka hanya tidak mau mengganggu karir kamu jadi mereka menjauh!" Aku lihat lagi cewek yang ada di sampingku ini ia mulai meneteskan air mata.
"... Kalau kamu rindu pada mereka kenapa tidak temui saja mereka!?" Tiba-tiba ia menoleh ke arahku dengan ekspresi yang terkejut.
Aku hanya tersenyum padanya kemudian...
Beberapa saat kemudian di tempat lain.
Tempat yang di maksud adalah sebuah komplek perumahan yang biasa-biasa saja dan tidak ada istimewanya karena komplek seperti ini ada banyak.
Aku yang tidak tega dengan si cewek memutuskan untuk membantunya berkunjung ke rumah Paman dan bibinya.
Waktu itu kami berdua sudah sampai dan berdiri tepat di depan rumahnya tapi ketika mau masuk si cewek terdiam.
Ia menunduk dengan raut yang terlihat khawatir dan tangannya yang mengepal erat tasnya.
Aku biarkan saja dia seperti itu untuk sementara dan menunggu dia siap.
Namun setelah bermenit-menit aku menunggu ia masih saja tidak bicara atau mengambil keputusan apapun.
Dengan terpaksa aku berkata. "Apa hanya sampai sini saja keberanian kamu?" Langsung ia menoleh dan menatap mataku.
"Aku paham apa yang kamu rasakan. Tapi menghindar tidak ada gunanya di sini!"
"Andai kata kamu pergi dengan alasan takut kalau kamu di buang apa kamu pikir dengan begitu kamu akan percaya kalau kamu masih di anggap oleh mereka?"
"Hadapilah kenyataan. Bahkan meksipun mereka membuat kamu setidaknya itu tidak akan membuat kamu cemas dan memendam harapan tidak jelas!"
Karena greget melihatnya yang terus berdiri aku mengambil tindakan sendiri dengan cara mengetuk pagar rumah dan mengucapakan salam.
Tak lama kemudian yang punya rumah keluarga dan yang keluar adalah ibu-ibu yang masih cukup muda dan cantik.
Yang punya rumah terlihat terkejut hingga menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Ada apa Bu!?..." Kemudian kepala keluarga dari rumah ini keluar untuk melihat siapa yang datang. "Freya!?"
"Paman... bibi... !!?" Belum sempat si cewek berbicara si Bibi langsung berlari dan memeluknya dengan hangat.
"Sudah lama sekali kamu tidak berkunjung ke sini. Bibi pikir kamu sudah tidak ingat lagi pada kamu!" Kepala keluarga rumah ini pun ikut memeluk Freya.
Mereka semua pun menangis haru setelah sekian lama tidak bertemu.
'... Aku sering melihat ini. Kehangatan dalam keluarga, tapi sayangnya aku tidak pernah merasakan.' Jujur aku iri melihat itu.
Kemudian tiba-tiba saja terdengar suara panggilan masuk yang mana itu membuat mereka berhenti menangis dan berpelukan.
"Ini!?..." Si cewek terlihat terkejut dan takut ketika melihat siapa yang menghubunginya.
Aku lakukan melihat siapa yang menghubungi.
Ternyata itu adalah ibunya.
Merasa kalau hal ini akan membuat suasana di antara si cewek dan bibinya menjadi terganggu aku langsung mengambil hp itu.
"Ahem!... Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Silahkan hubungi beberapa tahun lagi!" Aku sekonyong-konyong mengangkat panggilan itu kemungkinan mematikannya.
Baru aku kembalikan itu pada pemiliknya.
"Ini malam yang terlalu indah untuk di sia-sia jadi budak pekerjaan. Abaikan saja mereka dan santai saja!"
"Kalau mereka mengancam atau melakukan kekerasan tinggal lapor saja pada Badan Perlindungan Anak!" Setelah itu aku berjalan pergi dengan santai.
"Kamu mau kemana?!" Ia berteriak padaku dan aku menoleh sambil menjawab.
"Yah, aku tidak punya urusan di sini jadi aku tidak akan mengganggu. Selamat tinggal!" Aku pergi begitu saja dengan cara misterius.
Mereka semua hanya diam melihatku pergi tanpa mengatakan apa-apa.
Setelah itu mereka masuk ke dalam rumah dan mengobrol.
Pada saat itu si cewek yang bernama Freya itu menceritakan apa yang telah ia alami selama ini hingga membuatnya merasa sangat tertekan.
Mendengar hal tersebut baik si Paman maupun si Bibi merasa sangat marah.
Mereka berdua tidak terima keponakan yang sangat mereka sayangi di perlakukan seperti budak pekerja.
Sementara itu aku yang dalam perjalanan pulang secara tidak sengaja lewat tempat yang ramai.
Di sana aku juga melihat ada poster si cewek yang baru saja aku antar tadi.
"Ternyata ini adalah konsernya ya!...." Aku tersenyum misterius ke arah kerumunan orang yang masih menunggu itu.
"Maaf semuanya, tapi sepertinya kalian tidak akan bisa menonton idola kalian malam ini!" Setelah bergumam aku pergi secara misterius.
Tak ada satupun yang sadar akan keberadaanku pada saat itu.
Di sisi lain orang tua si cewek terlihat panik dan marah-marah di belakang panggung karena anak mereka dan juga bintang utama konser ini tidak ada.
Sejenak aku berhenti dan menatap ke arah langit malam yang cukup cerah hingga bulan terlihat begitu jelas.
"Hidup manusia itu singkat. Jadi akan sayang sekali jika selama hidup kita hanya bekerja, bekerja dan terus bekerja seperti mesin saja!"
"Apalagi semua pekerjaan dan harta itu akan kita tinggalkan ketika kita wafat jadi untuk apa bekerja sampai setengah mati kalau akhirnya akan di tinggalkan?!..."