wanita bernama Ayu yang hidup dalam kemiskinan setelah menikah dengan suaminya yang bernama Sugi.
Sugi sang suami hanyalah pekerja serabutan yang penghasilannya tidak menentu, sehingga membuat Ayu mengambil jalan pintas dengan melakukan pesugihan yang mana mengorbankan anak atau anggota keluarganya.
Bagaimanakah kisah perjalanan Ayu, ikuti kisah selanjutnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kemaruk
Ayu mondar-mandir gak jelas dengan wajah penuh kecemasan. Ia tak sabar untuk melihat pesanannya datang.
"Kang Ujang lama banget, sih. Apa dia gak lihat ini sudah jam berapa," gerutunya dengan kesal. Berulang kali ia melihat jam diponselnya, dan ini sudah hampir empat jam lamanya ia menunggu pria itu segera hadir dirumahnya.
hampir pukul dua belas siang, ia mendengar suara mesin mobil gandeng bak terbuka yang membawa dua buah mobil, dan tiga buah motor serta barang-barang elektronik dan mebel secara bersamaan.
Hal yang mirip sebuah carnaval itu menjadi pusat perhatian bagi warga. Mereka tampak tercengang dengan banyaknya mobil truk yang masuk ke dalam jalanan desa dan membawa barang mewah, lalu berhenti tepat didepan rumah pak RT yang baru saja dibeli oleh Ayu.
Rasa penasaran dan bisik-bisik tetanga tentang kekayaan Ayu yang datang begitu cepat dan tiba-tiba saja sudah membuat stigma negatif, lalu bagaimana dengan datangnya barang mewah dalam jumlah yang cukup banyak, dan ini merupakan hal yang sangat aneh untuk para warga desa, dan dimana diketahui jika Sugi hanyalah seorang pekerja serabutan, dan beberapa hari ini menjadi nelayan yang mana diberi pinjaman sampan oleh Darmadi secara percuma.
Seketika warga menjadi heboh dan menonton kedatangan semua barang-barang tersebut dilansir masuk ke dalam rumah wanita yang merupakan orang kaya baru mendadak itu.
"Eh, kang Ujang, akhirnya datang juga," seru Ayu dengan senyum sumringah dan wajah pucat.
"Yu, ini akan terlihat mencolok sekali dimata warga, dan akna menimbulkan kecurigaan," bisik Ujang pada wanita yang baru saja melahirkan itu. Ujang juga merasa risih dengan pandangan orang-orang yang tampak berkerumun seperti melihat sebuah pertunjukan saja.
"Alaaah, mikirin mulut orang, Kang. Bilang saja mereka iri dan tidak dapat seperti ku," jawab Ayu tak suka. Ia merasa bangga jika menjadi pusat perhatian, apalagi didesanya para warga belum ada yang memiliki mobil hingga dua sekaligus.
Ujang menghela nafas berat. Ia segera menyerahkan nota pembelian dan para masing-masing karyawan toko menurunkan barang pesanan.
"Nih, notanya, jangan lupa untuk bagianku!" pesan Ujang tak sabar dengan wajah tak sabar.
Ayu tersenyum sinis, lalu menyerahkan kantong plastik berwarna hitam. "Ini ambil, semuanya sekitar lima belas Juta," ucap Ayu dengan menurunkan nada bicaranya.
Ujang terperangah. "Gak bisa gini dong, Yu. Harga barang yang kamu beli ini hampir mencapai satu milyar, dan kamu cuma beri aku lima belas juta, aku gak mau," Ujang mengembalikan kantong kresek tersebut ke tangan Ayu.
Wanita itu membolakan matanya. "Jadi kamu mau berapa? Udah syukur aku kasih kamu bagian," Ayu tampak tak senang dengan sikap Ujang yang sepertinya ingin memerasnya.
Pria itu menatap tak kalah sinis. "Kamu ini seperti kacang lupa akan kulitnya,Yu! Ingat, kamu dapat seperti ini karena aku yang mengenalkanmu pada si mbah, dan membuat keinginanmu dapat tercapai dalam waktu singkat!" Ujang mulai mengungkit semua kejahatanan sesatnya.
"Eh, Kang, jangan tukang ngungkit, dong! Lagian yang berkorban aku, bukan kamu,!" Ayu merasa kesal dengan pria dihadapannya, yang mana tampak rakus akan kekayaannya.
"Abisnya kamu ini pelit bin kedekut. Aku gak mau kalau cuma segini, atau aku akan beberkan ini semua kepada suamimu!" Ujang mulai mengancam dan ternyata ini adalah keputusan yang benar, sebab Ayu tampak ketakutan.
Ia menatap sinis pada pria tersebut, lalu melorotkan giwang, cincin, dan juga kalung yang dikenakannya. "Nih, tambahannya, totalnya hampir 60 juta," ucap Ayu dengan geram, sembari meletakkan logam mulia itu ketangan Ujang dengan kasar bersama plastik kresek berisi uang tunai lima belas juta rupiah.
Ujang tersenyum mencibir. "Nah, gini dong, kan sama-sama enak," Ujang mengantongi semuanya dalam saku celananya. "Ntar kalau masih kurang, tumbalin lagi anakmu, kan masih ada sisa lima lagi, dijamin kamu jadi milyader," bisik Ujang, lalu beranjak pergi.
Sementara itu, para warga masih menonton tentang kedatangan mobil dan motor mewah tersebut.
Saat bersamaan, Yudi melintas dari rumah Ayu yang tampak dikerumuni warga.
Ia merasa kepo dan ingin melihat apa yang terjadi, lalu menyibak kerumunan dan menerobos masuk. "Ada apa, apa yang terjadi, apakah Mbak Ayu meninggal melahirkan?" cerocos Yudi tanpa rem.
"Hah, apa maksudmu? Ayu meninggal melahirkan? Gak lihat tuh orang lagi berdiri didepan pintu dengan semua mobil dan motor mewahnya!" ucap salah satu warga yang ikut dalam kerumunan.
"Oh, ku kira ia mati melahirkan, kalau bukan dia apa anaknya? Soalnya perutnya sudah kempis," Yudi kembali nyerocos. "Tetapi ini semua apa punya mereka, koq bisa?"
Warga yang menjadi lawan bicara Yudi tercengang mendengar penuturan dari pemuda itu. "Koq, kamu tau Ayu melahirkan?"
"Masih gelap Kang Sugi datang pinjam motor, dan katanya anaknya sudah lahir,"
Penjelasan pemuda itu membuat warga tersebut semakin bingung, dan ternyata obrolan mereka didengar oleh yang lainnya. "Kamu beneran, Yud?" tanya warga yang lainnya. Mereka mulai membangun keyakinan yang telah terlanjur tersiar jika Ayu melakukan pesugihan.
"Apakah anaknya beneran meninggal?" tanya yang lainnya.
"Ya gak tau, tanya saja sama orangnya," jawab Yudi, lalu melenggang masuk ke dalam perkarangan rumah dan ingin mengambil motornya, sebab ia ingin menemui bidan Andana dengan alasan sakit perut, dan tentunya ia tau, jika jam segini, si Darmadi lagi kerja.
:Eh, Mbak Ayu. Pucat saja wajahnya abis lahiran," ucap pemuda itu bercanda.
Ayu memasang wajah masam. "Darimana kamu tahu saya melahirkan?" tanya Ayu dengan tak senang, sebab pemuda itu nyelonong masuk ke perkarangan rumahnya.
"Wah, senyum dikit donk, Mbak. Baru jadi OKB saja sudah sewot gitu. Saya kemari cuma mau ambil motor doank, koq," ucap Yudi membalas dengan wajah sewot.
"Helleeeh, baru motor butut saja sudah belagu. Tuh, ambil motor butut, Lu, diujung sana!" tunjuk Ayu dengan wajah tak suka ke arah sudut dinding pagar dan terselip diantara kardus dan sampah.
Yudi menoleh ke arah wanita tersebut. "Sombong banget, biar butut, tapi Mbak juga sering pakai, gak usah ninggi banget lah, ntar kalau jatuh sakit banget tau!" balas Yudi tak ingin kalah. "Liat saja nanti, lain kali kalau mbaknya pinjam motor saya lagi gak bakal saya pinjemi meskipun sampai menangis darah...!" ucap pemuda itu penuh penekanan.
"Ciiih, aku yang sekarang bukanlah aku yang dulu! Maka ku pastikan tak akan pernah lagi ku pinjam motor bututmu, bawa pergi dari motor itu dari halaman rumahku, najis tau!" jawab Ayu dengan tersenyum sinis.
"Hahaha, lucu sekali ana, Mbak...., wokeh, kita buktikan nanti," balas Yudi dmsembari mendorong motornya untuk menjauh dari halaman rumah milik Ayu.
untuk yang Mega J episode nya gak banyak jadi enak untuk dibaca
sampe baca 2x
oh aku ingat pelajaran Sugi yang cinta mati pada istrinya walaupun sudah tahu akan sipat nya
hidup Sugi
baru kali ini ana baca novel gini amat
Akhy Sugi kayaknya yang akan mendapatkan piala Oscar 2030 mendatang
Sugi genius
Sugi prosesor
Sugi
Sugi
Sugi
sugi.sugi
Sugi
Sugi cerdas