Di dunia yang penuh dengan sihir ini,
seluruh kerajaan besar menerapkan sistem kasta sehingga timbullah kesenjangan sosial di antara seluruh manusia.
Rakyat jelata dan para bangsawan, para pengguna kekuatan dan manusia biasa.
Diskriminasi, penindasan, perbudakan, hingga peperangan memperebutkan kekuasaan sudah menjadi hal yang umum.
"Kau kuat maka kau jaya, kau lemah maka binasa."
Namun seorang bocah dengan kemampuan imajinasi yang tak terbatas muncul dengan kebenciannya terhadap dunia busuk ini.
Teleportasi? Telekinesis? Telepati? Menciptakan nuklir? Apapun itu bisa ia lakukan.
Dengan motto, "Jangan lakukan apapun. Apabila harus, lakukanlah secepat mungkin," akankah dia berhasil merubah dunia dan menjadi penguasa tertinggi?
Namanya Aray Kenzie, dan dia adalah seorang pemalas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anggota baru
"Apa? Mereka berdua anggota pleton 1 yang baru?"
Quartet bodoh sama sekali tidak bisa menerima kenyataan bahwa dua orang yang ada dihadapan mereka saat ini akan menjadi rekan kerja dalam jangka waktu yang tak ditentukan.
Dalam ruangan kesehatan milik istana ini, teriakan mereka sangatlah mengganggu.
"Yah ... ini hanya untuk sementara waktu." Aray dengan malas menjelaskan.
"Tidak, tidak. Tetap saja kan? Mereka hampir membunuh kita lho!" Ramesh menolak penjelasan Aray.
"Bukan 'kita', tapi kalian." Aray memalingkan wajahnya.
"Sialan, kau tulus tidak sih membantu kami kemarin?" Kini Veer merasa seakan-akan dirinya dibilang lemah.
"Entahlah." Wajah datar Aray membuat mereka berempat semakin kesal.
"Walaupun hanya sementara, kenyataan bahwa mereka telah membunuh banyak orang dan mencoba membunuh kita tidak berubah. Bagaimana bisa kami satu tim dengan pembunuh?" Devika yang biasanya hanya diam, menyuarakan pendapatnya.
"Sudah kubilang, itu bukan 'kita', tapi kalian." Aray mengulangi kalimat yang sama.
"Kau ini benar-benar tidak bisa membaca situasi ya? Mereka itu sedang kesal, kau tau?" Rohan Menyentuh pundak Aray.
"Tidak, aku tidak tau." Aray menatap Rohan tak mengerti.
Orang ini bodoh.
Sangat diyakini bahwa itulah yang dipikirkan oleh Rohan dan Veda saat ini.
"Komandan aray, kau hanya bercanda kan? Jangan bilang kau serius mengatakan hal tersebut." Alisa memandangi Aray penuh harap.
Tapi Aray sama sekali tidak peka.
"Aku serius. Untuk sekarang, hal ini tidak perlu diperdebatkan. Aku memiliki alasan dan tujuan tersendiri dengan merekrut Rohan dan Veda kedalam pleton 1."
"Lagipula, apakah raja menerima hal ini?" Ramesh belum menyerah dalam perdebatan ini.
"Tentu saja raja menerimanya. Benar juga, raja memiliki hadiah untuk kalian karena telah berhasil dalam misi pertama kalian." Aray tiba-tiba mengubah topik pembicaraan.
"Jangan mengubah topiknya! Tapi mengenai hadiah itu, apa aku bisa meminta apapun?"
Walaupun ia tidak terima Aray merekrut Rohan dan Veda, ia lebih tertarik pada hadiah yang akan diberikan oleh raja.
Ramesh yang merasa dikhianati oleh temannya sendiri memukul kepala Veer sekuat tenaga.
"Bodoh! Apa yang kau pikirkan? Kita sedang dalam pembicaraan penting tau!"
"Sakit, oi! Aku juga memiliki kepentingan pribadi! Hadiah dari raja juga sangat penting untukku. Lagipula, selama Rohan dan Veda dibawah pengawasan komandan Aray, tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan."
Sambil megusap kepalanya, akhirnya Veer menyerah.
"Kau benar. Selama ada komandan Aray, kita tak perlu khawatir." Alisa mengangguk setuju, Devika pun demikian.
"Kalian semua pengkhianat! Aku tidak percaya kalian akan setuju secepat itu." Ramesh memegangi kepalanya yang pusing karena situasi tak terduga ini.
Veda sedari tadi hanya diam mendengarkan perbincangan mereka, baginya hal itu tidak menarik.
Saat ia merasa ingin pergi saja dari tempat ini, ia melihat sebuah toples dengan tangkai yang ujungnya berbentuk bola berada di dalamnya.
"Hei, Aray! Benda apa itu? Sepertinya enak." Veda menunjuk toples berisi benda aneh itu. Air liur mulai menetes dari mulutnya.
"Itu? Itu permen. Apa kau belum melihat permen sebelumnya di negara utara?" Aray penasaran apakah se-jadul itu negara Utara?
Quartet bodoh juga melihat Veda dengan pandangan menyelidik. Apa benar Veda tidak tau permen, atau dia hanya berpura-pura?
Rohan berjalan mendekati toples berisi permen itu dan mengambil satu darinya.
"Oh? Aku juga belum pernah melihat benda ini sebelumnya, terbuat dari apa ini?" Ia memutar-mutar permen itu di tangannya.
"Itu terbuat dari gula, rasanya sangat manis. Kau boleh mengambilnya jika kau mau." Aray sebenarnya tidak peduli dengan hal sepele seperti ini.
"Sungguh? Kalau begitu ,aku tidak akan sungkan." Veda juga mengambil satu permen dari dalam toples, lalu memakannya.
"Tunggu sebentar! Kau harus membuka bungkusnya terlebih dahulu jika ingin memakannya."
Ramesh segera menahan Veda dari tindakan
yang akan dicemooh seluruh dunia jika ia melakukannya.
"Benarkah? Aku kira plastik ini juga bisa dimakan. Sayang sekali .... " Veda terlihat agak kecewa.
"Jangan katakan itu! Kau jelas akan mati bila memakan plastik itu." Ramesh geregetan melihat tingkah Veda.
Veda tak menghiraukan ocehan Ramesh, membuka bungkusan permen kemudian memakannya.
"Uhm ... manis sekali ..." Veda menginjak-injakkan kakinya ke lantai.
Melihat tingkah lakunya yang sangat kekanak-kanakan membuat Quartet bodoh itu sedikit mengendurkan kewaspadaan mereka.
"Ternyata dia hanya bocah biasa." Ucap mereka bersamaan.
"Tak kusangka sebuah permen dapat menjinakkannya."
Rohan pun cukup kaget dengan Veda yang terlihat sangat menikmati waktunya.
"Apa kalian baik-baik saja? Bukankah sudah terlalu lama kalian berada di sini?" Aray mengembalikan topik pembicaraan.
"Dari mana lamanya? Kami baru berada disini satu hari." Ramesh tak terima dengan kesimpulan Aray yang seenaknya.
Tinggal di ruangan putih seperti ini mengingatkan Aray pada suatu kenangan yang sangat membuatnya kesal. Maka dari itulah, satu hari saja berada dalam ruangan ini dianggapnya lama.
"Tapi memang luka kami tidak terlalu serius sampai harus dirawat begini sih... Aku ingin cepat keluar dari sini lalu meminta hadiah dari raja." Veer mengepalkan tangannya.
Ternyata dia masih memikirkan hadiah itu.
"Satu hal lagi, karena sekarang kalian adalah anggotaku, raja memerintahkan kalian semua untuk memasuki sekolah yang sama denganku mulai besok. Terkecuali untuk Rohan dan Veda. Wajah mereka sudah dikenali sebagai penyusup di sekolahku, jadi akan sulit untuk mereka masuk ke sekolah yang sama."
Lagi-lagi kabar yang dibawa oleh Aray membuat mereka terkejut.
"Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh raja." Ramesh menggelengkan kepalanya.
"Lalu, bagaimana kau akan mengawasi mereka berdua?" Alisa bertanya.
"Mereka akan pindah ke samping rumahku."
"Apa!? Aku belum mendengar yang itu, kapan kau berkata begitu?" Rohan menyanggahnya.
"Barusan."
"Yasudahlah, aku sudah tidak peduli lagi."
Akhirnya mereka semua menyerah.
Aray mengangguk. Sepertinya situasi telah terkendali.
.
.
.
Aray, Rohan, dan Veda berjalan keluar dari istana. Mereka berencana untuk pulang bersama.
"Hei, Aray, memangnya rumah yang ada disebelah rumahmu itu sudah siap untuk dipakai?" Rohan bingung karena ajakan Aray untuk pulang bersamanya yang secara tiba-tiba.
"Tentu saja, karena sejak awal memang tidak ada penghuninya."
Secara tidak sadar, Veda yang sedang asik mengemuti permen yang ia dapatkan berjalan lebih dulu dari mereka berdua.
"Aray!"
Abner berlari kearah mereka tanpa melihat sekitarnya, sehingga ia menabrak Veda dan menjatuhkan permen yang sedang dimakan oleh Veda.
Rohan dan Aray yang melihat kejadian itu menggeleng bersamaan.
"Kurasa akan terjadi sesuatu yang tak mengenakkan."
Karena Rohan telah lama berada didekat Veda, maka ia tahu apa yang akan terjadi bila seseorang mengambil sesuatu yang sangat disukainya.
Walaupun itu tidak disengaja.
Veda menatap permen yang terjatuh di tanah dan terbuang sia-sia karena seseorang yang bahkan tidak dikenalnya.
"Permen ku .... " Matanya berkaca-kaca.
"Ah ... maafkan aku." Abner hanya meminta maaf singkat lalu kembali berjalan mendekati Aray.
Tapi langkahnya dihentikan oleh sebuah tangan yang menempel dipundaknya.
"Tunggu dulu ... kau tidak ingin kabur setelah menjatuhkan permen kesukaanku kan?" Darah mendesir merangkak naik di wajah Veda. Ia Benar-benar marah.
"Ha? Kabur? Apa maksudmu? Aku kan sudah meminta maaf. Itu hanya sebuah permen, jangan terlalu berlebihan. Lagipula kau ini siapa?" Abner memicingkan matanya.
"Hanya? Aku tidak bisa bicara dengan orang bodoh. Orang seperti mu harus diberi pelajaran."
Veda mencoba mendorong tubuh Abner dengan kaki kecilnya. Namun Abner yang sudah terlatih, dengan cepat menghindari tendangan Veda.
"Aray! Siapa bocah ini? Hanya karena permen dia marah, lho!"
Aray menepuk jidatnya karena Abner yang sangat tidak bisa membaca situasi.
"Kau mengatakan 'hanya' sudah dua kali, maka aku harus menghajar mu dua kali juga."
Veda mengarahkan kelima jarinya pada Abner. Sinar matahari seakan berkumpul pada ujung jari-jarinya, memperlihatkan lima bola berwarna putih cerah yang siap menembus tubuh Abner.
"five-finger sh-"
Tapi sebelum Veda sempat selesai merapalkan mantra nya, Aray segera berteleport ke depannya dan menyentil keningnya pelan.
Veda yang terkena sentilan pelan itu perlahan mulai mengantuk dan jatuh dalam tidurnya.
Aray dengan sigap menangkap veda lalu membopongnya.
"Dia hampir kelewatan."
Aray yakin, jika saja tadi dia tidak menghentikan serangan Veda, Abner sekarang pasti sudah sekarat atau bahkan mati.
"Dia memang merepotkan." Kata Rohan sambil membenarkan kacamatanya.
Sedangkan Abner hanya menatap mereka bertiga tanpa tau apa-apa.
Eh, pas lagi buka buka perpustakaan gw ternyata baru tau author balik, tapi pas liat tanggal ternyata juga udah kurleb 2 tahun up nya😔💔
Kira-kira bakal dilanjutin ga thor?👉🏻👈🏻
Btw, time flies so fast ya thor, gw juga ga nyangka udah sampai di titik ini
semangat terus min/Good/