Afgans Radithia Zafran harus menikah dengan wanita bernama Alisya, gadis yang tidak dikenal dan merupakan calon pengantin dari adiknya sendiri. Sang adik yang bernama Vincent hilang entah kemana sehari sebelum seharusnya dia menikahi kekasihnya tersebut.
Karena keluarga Afgan sudah mengeluarkan banyak uang untuk acara pernikahan dan undangan pun sudah di sebar, maka terpaksa Afgan menggantikan sang adik.
Satu tahun pernikahan mereka, Vincent tiba-tiba kembali dan meminta kakaknya itu mengembalikan wanita yang seharusnya menjadi istrinya, sementara benih-benih cinta sudah terlanjur hadir di hatinya dan dia sudah bisa menerima Alisya sebagai istrinya.
Seperti apa kisahnya? Mampukan Afgan mempertahankan wanita yang bernama Alisya itu sebagai istrinya? dan apakah istrinya itu masih bisa setia setelah sang adik yang seharusnya menjadi suami gadis itu kembali dan menggoyahkan biduk rumah tangga yang sudah susah payah mereka bangun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merajut Kasih
Apa yang diucapkan oleh Alisya benar-benar membuat Afgan benar-benar terharu sekaligus bahagia, niatnya untuk memulai lembaran baru, menjalani rumah tangga normal yang bahagia seolah di sambut dengan tangan terbuka dan tentunya di awali dengan ucapan cinta yang keluar dari bibir masing-masing.
''Terima kasih, sa-yang ...'' ucap Afgan sebelum akhirnya menci*m mesra bibir ranum Alisya yang terlihat begitu menggoda.
Alisya menyambut ciuman suaminya itu dengan perasaan bahagia dan gai*ah yang menggelora, dia yang memang sedang berada di atas raga kekar suaminya nampak menguasai permainan seolah sudah handal dan tidak kaku lagi dalam melakukan hal itu.
Alisya mel*mat setiap sisi.bibir suaminya, membuat Afgan merasa kewalahan dibuatnya sehingga, akhirnya dia pun lebih memilih memutar badan dan membalikan keadaan, hingga raga sang istri kini berada di bawah kungkungan-nya.
''Kamu lihai sekali? apa kamu sering melakukan hal ini?'' tangan Afgan melepaskan tautan bibirnya.
''Pertanyaan macam apa itu? memangnya kamu gak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya?'' Alisya mengerutkan kening.
''Hmm ... Sudah gak usah di bahas,'' jawab Afgan kembali mel*mat buas bibir Alisya dan menghisapnya kuat sehingga membuat bibir merah Al sedikit membengkak.
Tangan Afgan mulai bermain aktif, dia kini menyisir setiap jengkal raga sang istri dengan tangannya, mengusapnya penuh perasaan dengan bibir yang masih saling bertautan, sampai akhirnya, jemari lebarnya tiba di gunungan kembar, lalu mere*asnya dari arah luar.
''Milikmu mungil banget, Al?'' tanya Afgan.
Dia menutup gunung bulat itu dengan lima jarinya sehingga ukuran gunung itu pas dengan ukuran tangannya bahkan seluruhnya tertutup tanpa celah.
''Apaan ...? ukuran segini pas buat tubuh s*ksi kayak aku ini,'' jawab Al tersenyum penuh percaya diri.
''Iya-iya, sayang. Tubuh kamu ini s*ksi, seksiiii banget, sampai-sampai benda pusaka aku dia bawah sana tidak tahan untuk menyentuh bagian tubuh kamu yang paling dalam di bawah sana itu.''
''Ikh ... Dasar kang me*sum ...'' Alisya terkekeh.
''Mau aku tiup itunya?''
''Apanya ...?''
''Ini ...'' Afgan mere*askan tangannya yang masih menutup gunungan milik istrinya itu.
''Tiup ...? ha ... ha ... ha ...! dasar kang modus ..."
"Kalau aku tiup, percaya deh ... Ukurannya pasti akan sedikit membesar," jawab Afgan mulai membuka satu-persatu kancing baju istrinya.
Perlahan tapi pasti, kancing kecil yang terdapat di pakaian istrinya itu mulai terbuka, satu-persatu memperlihatkan belahan gunung yang masih tertutup penutup tebal membuat Afgan membulatkan bola matanya seketika.
''Hmm ... dilihat dari dalam ternyata ukuran lebih mungil dari yang aku kira ...'' ucap Afgan menatap benda bulat yang terlihat begitu indah mempesona itu.
''Ish ... Kamu ini, banyak omong banget si, kalau gak mau ya udah aku tutup lagi nih?'' Alisya merapatkan kedua sisi pakaian yang memang telah terbuka sempurna.
''Hus ... jangan dong, sayang. Katanya mau di tiup.'' Afgan membuka lebar pakaian milik istrinya, sehingga gunungan yang tadi dia kata berukuran mungil itu benar-benar terpampang nyata begitu mempesona.
Dengan mata yang berbinar dan hasrat yang mulai naik kepermukaan, laki-laki bernama lengkap Afgan Raditya Zafran itu pun mulai membuka penutup tebal yang menjadi pelindung gunungan itu dari hantaman badai, melepaskan tali yang melingkar di pundak istrinya lalu hendak menjamah dengan bibirnya.
Namun, tiba-tiba saja Afgan pun menghentikan gerakan kepalanya saat ponsel miliknya yang berada di saku celana berdering nyaring memekikkan telinga. Sontak saja Alisya yang sudah bersiap dan merasakan sesuatu di bawah sana mulai berdenyut pun segera bangkit saat suaminya menghentikan gerakan lalu mengangkat telepon.
''Aduh ... siapa si yang nelpon? ganggu aja si ...'' gerutu Afgan merasa kesal.
📞 ''Halo ...'' Afgan menjawab telpon dengan nada suara malas.
📞 ''Halo ...! Kamu dimana? masih siang udah pulang aja, ini klien kita nungguin, gimana sih?'' terdengar sayup-sayup suara perempuan dengan sedikit berteriak dari dalam telepon.
📞 ''Bukannya sudah selesai ya?''
📞 ''Selesai apaan? kita masih ada meeting penting buat persiapan sidang kedua besok. Pokoknya aku gak mau tau, kamu sudah harus ada di sini dalam waktu 30 menit, oke ...?''
Afgan pun segera menutup telpon, dengan perasaan kesal, benda pusaka yang hampir saja menegang pun tiba-tiba kembali terkulai lemas seiring dengan ha*rat yang kembali tenggelam.
''Siapa? kedengarannya cewek ...?'' tanya Al, duduk dan memeluk tubuh suaminya dari arah belakang.
''Anita ... Sekertaris aku, galaknya minta ampun, padahal seharusnya aku yang lebih galak, aku 'kan atasan dia, ini malah sebaliknya ... Hadeuh ...'' jawab Afgan mendengus kesal.
''Anita ...? cewek ...?''
''Tentu saja, mana ada Anita cowok ...''
''Hmmm ...''
''Kenapa? cemburu?''
''Nggak, siapa bilang?''
''Itu tadi?''
''Nggak, aku beneran gak cemburu, aku cuma kesel, baru aja mau mulai, udah di gangguin,'' jawab Alisya mengerucutkan bibirnya.
''Ha ... ha ... ha ...! Kamu ini, gemesin banget si.'' Afgan mencubit kecil kedua sisi pipi mungil Alisya lalu mengecup pelan bibir mungilnya.
Setelah itu Afgan pun bangkit lalu berdiri, merapikan kemeja berwarna putih yang di pakainya.
''Beneran mau ke kantor lagi?'' tanya Al sedikit merasa kecewa.
''Hmm ... Maaf ya, kita terusin lagi nanti malam ya?''
''Hmm ... Terus aku gimana? baju aku udah di buka kayak gini sama kamu, ya udah kancingin lagi buruan,'' rengek Al dengan suara manja.
''Hmm ... Dasar terompet tahun baru manja,'' Afgan pun mengikuti keinginan istrinya, dia kembali duduk lalu mulai memasukan kembali kancing kecil ke dalam lubang pakaian.
Sebenarnya saat melakukan hal itu, mata Afgan terus menatap belahan gunungan kembar yang kini perlahan mulai tertutup rapat, dia pun mengusap wajahnya kasar, lalu menarik napas panjang, mencoba menahan hasratnya sebisa mungkin.
''Aku gak akan lama, sayang. Cuma mau meeting bentar, palingan nanti jam 4 aku udah pulang lagi ko.''
Alisya menganggukan kepalanya dengan bibir yang dikerucutkan sedemikan rupa, membuat Afgan tidak tidak tahan untuk tidak mengecupnya pelan.
Cup ...
''Nanti sore, kamu mandi yang wangi, pakai baju yang s*ksi, kita terusin lagi nanti malam, oke ...?''
Alisya kembali mengangguk, kali ini dengan tersenyum senang.
Sungguh perasaan sepasang suami-istri itu terlihat begitu bahagia, mereka seperti sepasang anak muda yang baru saja merajut cinta, bedanya cinta mereka baru hadir setelah diikat kuat oleh tali pernikahan.
Hati mereka merasa berbunga-bunga, bahkan perasaan mereka terasa sangat bahagia layaknya pasangan yang sedang jatuh cinta.
🍀🍀🍀
Alisya mengikuti keinginan suaminya, dia mandi bersih bahkan sempat merendam tubuh mungilnya di dalam bathtub berisi air busa agar tubuhnya mengeluarkan aroma wangi.
Dia pun nampak telah memakai Lingerie tipis tembus pandang sesuai dengan keinginan suaminya yang menginginkan dirinya memakai pakaian s*ksi.
Pukul tujuh malam, suaminya itu belum juga pulang, ada rasa kecewa kini terselip di dalam hati seorang Alisya, dia pun berkali-kali menatap layar ponsel berharap bahwa suaminya akan menelpon dan memberi kabar.
Sampai akhirnya ponsel miliknya itu pun berdering, Alisya yang memang sedang menunggu telpon segera menyentuh layar bertuliskan Dial dan meletakkan ponsel tersebut di telinganya.
📞 ''Halo, sayang ... kamu dimana? katanya jam empat sudah pulang, tapi ini udah jam tujuh malam kamu belum datang juga,'' rengek Alisya dengan suara manja.
📞 ''Halo, Alisya. Apa kabar? apa kamu sudah melupakan aku?'' terdengar suara pria dari dalam telpon, suara yang sangat dia kenal.
Alisya pun diam mematung, matanya nampak membulat sempurna merasa terkejut.
📞 ''Vincent ...'' Lirih Alisya sedikit terbata-bata.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Promosi Novel baru Othor ya, Reader. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak kalian. Di tunggu ya. Terima kasih ❤️❤️❤️