Disarankan untuk membaca "Pengantin Pengganti untuk Tuan Muda" dan "Remember Me, Baby" lebih dulu agar bisa memahami alur ceritanya. Terima kasih.
Raymond Dawson: "Jangan menangis lagi ... aku yang salah ... tolong maafkan aku. Kali ini, izinkan aku untuk mencintai dan menjagamu dengan benar."
Lorie: "Aku hanya ingin kehidupan yang biasa saja. Ingin mencintai pria yang sederhana, yang bisa membantuku mencuci piring dan mengurus anak."
Setelah melewati masalah yang rumit, akhirnya Raymond dan Lorie berkencan. Akankah hubungan itu mulus hingga ke jenjang pernikahan?
Lalu, bagaimana dengan Daniel Hill yang menginginkan cinta Dokter Ana? Apakah dia akan berhasil mematahkan teori cinta wanita itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
“Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Lorie sambil melongok dari balik tubuh Raymond.
“Um ... maaf aku membongkar isi kulkasmu. Ini ....”
Raymond berbalik dan menatap Lorie dengan ekspresi yang rumit. Spatula di tangannya teracung ke udara. Ada sisa adonan gosong yang menempel di sana. Bahu pria itu merosot, tampak seperti seorang bocah yang gagal melakukan eksperimen dan takut akan mendapat nilai jelek dari sang guru.
Melihat penampilannya itu membuat Lorie merasa kasihan sekaligus lucu. Hanya dari tampangnya yang memelas itu ia bisa menebak apa yang sedang terjadi.
“Apakah Anda membutuhkan bantuan, Tuan Dawson?” tanyanya sambil tersenyum lembut.
Raymond mendesah pelan dan meletakkan spatulanya di atas teflon yang masih tergeletak di atas kompor.
“Padahal aku sudah mengikuti caranya persis seperti di internet,” gumam pria itu putus asa.
Lorie tertawa.
“Memangnya apa yang ingin kamu masak?” tanyanya.
“Red velvet mille crepe.” Raymond mendesah lagi. Ia menyiram teflon dengan air dan kembali bergumam, “Sudahlah. Ini tidak bisa dimakan, tapi jangan cemas ... steak-nya sudah matang. Aku jamin yang satu itu bisa dimakan. Kamu tunggu sebentar, aku akan segera menyajikannya.”
“Oke.”
Lorie berjalan menuju ruang makan dan duduk dengan patuh. Tak lama kemudian, piring berisi steak yang tampak sempurna tersaji di hadapannya. Potongan kentang dan wortelnya terlihat cukup rapi, sedangkan kacang polong panggang di samping daging medium rare itu tampak menggiurkan. Dilihat dari bentuknya, sepertinya Raymond sudah terbiasa membuat hidangan itu.
“Semuanya terlihat sempurna,” ucap Lorie sambil mendongak untuk menatap Raymond. “Apa kamu sering membuatnya? Ini tidak terlihat seperti hasil karya seorang amatir.”
“Eng ... hanya itu yang aku bisa, beberapa hidangan lain mungkin tidak akan sesempurna ini,” jawab Raymond dengan jujur. Tadinya ia berharap dapat membuat Lorie terkesan, tapi pada akhirnya ia sepertinya sudah mempermalukan dirinya sendiri.
“Ini sudah lebih dari cukup, Sayang.” Lorie berdiri dan mendaratkan satu kecupan di pipi Raymond sebagai apresiasi karena pria itu sudah berusaha untuk menyenangkan hatinya.
Mendapat ciuman tiba-tiba itu, Raymond termenung. Pipinya seperti baru saja diberi aliran listrik yang menjalar hingga ke otaknya sehingga membuat benda malang di dalam tempurung kepalanya itu hampir koslet.
“Kamu ingin makan atau terus berdiri di situ?” tegur Lorie ketika Raymond tak kunjung beranjak dari tempatnya.
“Oh ... eh ... dessert-nya ....”
“Aku akan membuat cinamon rolls setelah kita makan malam, lalu kita bisa menikmatinya sambil bersantai di balkon, bagaimana?”
“Oke,” jawab Raymond dengan cepat. Mana mungkin ia menolak tawaran yang menggiurkan itu.
Dengan penuh semangat Raymond menarik kursi untuk Lorie, mempersilakan wanita itu untuk duduk, lalu ia sendiri duduk di seberangnya.
Lorie mengambil pisau dan garpu, kemudian mulai memotong daging dan memasukkannya ke mulut.
“Ini enak,” puji Lorie dengan tulus. Tingkat kematangan dagingnya sangat pas, begitu juga sayuran pendampingnya, semuanya lezat.
“Benarkah? Kamu tidak hanya sedang membujukku, ‘kan?”
Lorie menggeleng dan memotong dagingnya lagi.
“Untuk apa membujukmu? Ini memang enak. Terima kasih,” ucapnya sebelum memasukan potongan daging ke dalam mulut lagi.
Akhirnya Raymond bisa menghela napas lega. Setidaknya ada satu hidangan yang bisa membuat Lorie senang. Pria itu akhirnya bisa memakan steak miliknya sendiri dengan tenang.
Lorie benar-benar menghabiskan semua isi piringnya hingga tak bersisa. Selain masakan Raymond yang enak, ia juga lapar, perpaduan yang sempurna untuk membuatnya kalap dan menandaskan hidangan yang disajikan.
“Terima kasih untuk makan malam yang luar biasa ini.”
“Hm ... aku akan memasak untukmu lagi kalau kamu suka ....”
“Apakah tawaran ini bersifat sementara atau permanen?”
“Aku tidak keberatan kalau harus memasak untukmu seumur hidup.”
Lorie merasa tatapan Raymond menghunjam hingga ke dasar jiwanya. Tadinya ia hanya ingin menggoda pria itu, tapi malah berbalik jadi senjata makan tuan. Sekarang bagaimana caranya melarikan diri?
Raymond sangat senang melihat wajah Lorie yang memerah. Wanita itu tidak berani menatapnya lagi. Sejujurnya, ia merasa bahwa memasak seumur hidup untuk orang yang dicintai itu sangat menyenangkan. Ia tidak keberatan sama sekali.
***
likee wooy likee 🤣
ayolaaaaah..akhiri ini semua😭😭😭
dengan Keiko. ingat cerita tentang Kinara Lee
dari judul cerita yg sebelum-sebelumnya sama ...sangat menarik.
dah berapa tahun yaa...? aku cari di sebelah gak ada. sampai akhirnya kangen kembali ke sini langsung cari lagi judul ini. eh..ketemu.