—
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sobat Van, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Beberapa minggu berlalu. Affan sudah diperbolehkan pulang walau masih harus dipantau kesehatannya.
"Fan. waktu di rumah sakit, ayah bicara apa padamu, sampai membuatmu terlihat kesal?" tanya Mifta.
"Perusahaan yang akan diambil alih olehku," jawabnya datar.
"Jadi ... sekarang kamu adalah pemimpin di sana, wah selamat ya," ucap Mifta tersenyum.
"Apakah ada lagi yang kalian bicarakan?" tanya Mifta.
"Tidak."
Di saat yang sama
"Hahahaha ... senangnya membohongi orang." Wanita berkacamata itu memegang banyak sekali uang yang ia dapatkan dari pekerjaannya. siapa lagi kalau bukan Bu Sella.
Seketika teleponnya bergetar yang menandakan ada pesan masuk, dia pun langsung membacanya. ekspresi senang pun langsung terukir di wajahnya.
"Jeng, aku mau beli barang yang kamu tawarkan tadi, uangnya udah aku transfer ya," isi pesannya
"Korban lagi." ucapnya tersenyum jahat.
Beberapa Hari kemudian...
Mereka tengah mengadakan piknik akhir pekan di sebuah taman yang cukup terkenal di kota tersebut.
sambil menggelar tikar dan merapikan makanan, mereka saling bertanya rencana apa yang akan mereka lakukan setelah wisuda.
Dan kebanyakan dari mereka ingin kembali ke kota kelahirannya, terutama Syurlina yang tinggal bersama bibinya di negara ibu Pertiwi, sedangkan dia lahir di Inggris.
"Eh kalian tau berita trending hari ini?" ucap Rifki heboh.
"Memangnya apa ki?" tanya Nisa menghampiri Rifki.
Mereka berkumpul dan duduk sambil melihat berita di handphonenya Rifki. melihat teman-temannya berkerumun, Affan yang baru saja datang ikut penasaran dan langsung melihatnya.
Beritanya menjelaskan bahwa akhir-akhir ini ada penjual yang berbohong akan barang yang dipesan konsumen.
"Maksudnya penipu itu hanya menunjukkan sekilas barang yang dijual ... lalu si korban terpikat dan langsung mentransfer uangnya?" ucap Nisa yang mengartikan maksud dari berita tersebut.
"Sepertinya iya." jawab Rifki.
"Secepat itukah si konsumen terpikat akan barang yang ditawarkan?" tanya Rizky.
"Ya mungkin barangnya bagus."
Seketika terdengar bunyi telponnya Rizky dan ia langsung mengangkatnya. Saat diangkat, terdengar suara tangisan perempuan yang ternyata itu ibunya Rizky yang menangis tersedu-sedu.
"Bu, ibu kenapa?" tanya Rizky.
"Ibu korban penipuan barang, cepat pulang iz kasian ibu." telepon itu langsung diambil alih oleh kakaknya.
"Gua pamit dulu ya." ucapannya yang langsung dijawab teman-temannya.
"Gua penasaran dengan penipu itu." batin Affan.
Sore Harinya
Affan diikuti Mifta pergi ke sebuah bangunan tua di belakang rumah Affan. Dan ternyata di sana sudah ada dua temannya, siapa lagi kalau bukan Rifki dan Nisa.
Mereka pun berdiskusi tentang penipu itu, dan beberapa bukti terkumpul. Menurut Mifta penipu itu ada di daerah mereka karena, dari jejak yang mereka lihat, orang yang menjadi korban penipuan hanya ada di daerah itu-itu saja.
"Kurasa penipu itu perempuan." ucapan Nisa membuat suasana ruangan menjadi senyap.
Ketika menjelang malam. Mifta meminta kepada Affan untuk mengantarkannya ke rumah ayahnya karena ada beberapa barang yang ingin dibawa.
"Oke."
Sesampainya di rumah. dia langsung masuk ke kamarnya dan mengambil barang yang ia butuhkan. saat akan kembali ke luar ia mendengar suara tawa di suatu kamar.
"Siapa yang tertawa?" batinnya.
Dia mencari sumber suara itu dan ternyata itu adalah suara ibunya yang tengah tertawa puas. dan ia melihat dari balik pintu yang terbuka sedikit.
"Ibu dapat uang dari mana?" batinnya yang melihat uang banyak di dalam kamar tersebut.
"Dengan begini ... aku bisa lakukan apapun yang aku mau." ucap ibunya tertawa.
"Hah maksudnya apa?" batin Mifta yang kurang paham dengan perkataan ibunya.
Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dan membuatnya terkejut.
"Astagfirullah fan ... kamu!" kesalnya.
"Kenapa?" tanyanya
Dia pun langsung menunjuk pada ibunya yang sedang menghitung lembaran uang yang begitu banyak. Affan melihatnya dengan serius dan muncul sedikit kecurigaan di pikirannya.
"Astri... Astri, mudahnya menipu kamu." ucapan Bu Sella membuat Affan terdiam dan berpikir sesuatu hal yang tak asing di ingatannya.
"Hmm ... Astri?" batinnya.
Seketika ada kecoa yang mendekati Mifta yang membuatnya berteriak karena ketakutan. mendengarnya teriakan itu membuat Bu Sella memeriksa keluar kamarnya.
"Ka–kalian, sejak kapan di sini?" dengan wajah polosnya mencoba mengalihkan penglihatan mereka.
"Ba-baru saja, kok." jawab Mifta tersenyum paksa.
"Kalian mendengar semuanya, kan?" Dengan mata melotot dan kedua tangan di pinggang.
"Jadi selama ini anda si penipu itu?" ucap Affan yang melangkahkan kakinya berhadapan dengan Bu Sella.
"Kalau iya kenapa, awas aja kalo kalian melaporkannya!" ancam Bu Sella.
"Kami tidak akan melaporkannya tapi anda sendiri yang akan mengatakannya!" ucap Affan yang langsung pergi sambil menarik tangan Mifta.
Hari berikutnya...
Mereka kembali berkumpul untuk berdiskusi, kali ini mereka tidak berempat, mereka dibantu dengan keempat temannya lagi. karena sudah banyak sekali korban penipuan tersebut, mereka merencanakan untuk menjebak si pelaku.
"Hah bagaimana caranya?" tanya Zakiya.
Affan pun menjelaskan bahwa si penipu itu sering gonta-ganti handphone dan nomornya agar keberadaannya tidak ditemukan.
Terbukti jelas ketika dirinya berada rumah ayahnya Mifta, saat dia bersama Mifta tengah mengintip isi kamar Bu Sella yang sedang menghitung uang. dia melihat banyak sekali handphone yang telah dibuang di keranjang sampah.
"Jadi?" tanya Rizal.
"Kita akan memancingnya keluar." jawab Affan.
Dia mulai menjelaskan rencananya untuk menjebak si penipu itu dan mereka sepakat akan menjalankan rencananya besok pagi. Setelah semuanya pulang, Affan mendekati Rizky dan bertanya akan sesuatu.
"Rizky"
"Ya apa?"
"Apakah nama ibumu Astri?" tanya Affan.
"Iya, lu tau dari mana?" jawab Rizky.
Jadi benar ibunya Mifta….
sad ending ya😢
semangat yah....
jangan lupa mampir balik🙏
lima like kak
salam
Pasangan Terbaikku 😁