NovelToon NovelToon
Istri Pengganti

Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Patahhati
Popularitas:508k
Nilai: 4.9
Nama Author: @pelipena

Arini harus menjalani hidup sebatang kara ketika di tinggal neneknya untuk selamanya.

Rintangan untuk bertahan hidup di kota Jakarta yang besar, ditambah dengan rumitnya kisah cinta segi tiga membuat Arini harus menguatkan hatinya.

Kisah masa lalu yang kelam membuat Arini trauma akan percintaan. Namun Radit dan Bayu sepertinya berusaha sekuat tenaga mereka untuk menghancurkan sebuah dinding pembatas di hati Arini.

Lalu pada siapakah hati Arini akan berlabuh nantinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @pelipena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Arini tengah tidur nyenyak malam itu saat ponselnya tiba-tiba berdering. Rasa hati ingin mengabaikannya, namun takutnya ada hal penting yang mau di sampaikan orang itu padanya.

Dilihatnya layar ponsel yang berkedip-kedip itu.

"Nomor siapa ya?" gumam Arini saat melihat nomor baru yang menghubunginya.

Dengan berat hati ia mengangkatnya, rasa kantuk yang luar biasa membuatnya sangat malas untuk bicara.

"Ha.. lo.." nampak suara tertatih di seberang sana lalu ia menangis.

Arini mencoba mencermatinya perlahan, karena suara itu begitu familiar di otaknya.

"Chika??" Arini menebak.

"Mamaaa...." dia mengeraskan volume tangisannya.

"Chika kenapa sayang, kok nangis?" tanya Arini khawatir.

"Chika sedih ma, huwaaa...."

"Ada apa sayang, coba cerita sama mama Arini."

"Lusa Chika ada pentas seni di sekolah."

"Lho harusnya Chika seneng dong, kok malah nangis malam-malam gini."

"Abisnya teman-teman Chika mau bawa orangtuanya ke sekolah, sedangkan papa Chika nggak bisa janji buat datang."

"Hemmm, papa Chika pasti datang kok, cuma papa harus menyelesaikan pekerjaannya dulu. Jadi nggak bisa janji sama Chika. Kan papa sayang banget sama Chika." Arini mencoba menghiburnya.

"Tapi kalau papa nggak datang gimana? waktu itu juga papa pernah lupa nggak datang."

Arini mendengus, ia bingung harus mengatakan apalagi pada Chika. Hati anak sekecil itu memang sedang di fase sangat membutuhkan dukungan dan perhatian orangtuanya.

"Kalau begitu bagaimana kalau mama Arini yang datang, asal Chika harus janji satu hal. Chika nggak boleh nangis lagi ya." ucap Arini lembut.

"Beneran ma?" tanya Chika meyakinkan.

"Beneran dong, kan mama Arini pengin lihat gadis manis mama pentas di panggung."

"Yeaay... janji ya? makasih mama Arini." Chika kegirangan.

"Iya sayang, ya udah ya.. Chika bobo dulu gih, udah larut malam loh, besok sekolahnya kesiangan gimana."

"Oke mama, Chika bobo dulu ya, pokoknya mama Arini nggak boleh lupa datang ke pentas seni Chika lusa ya."

"Iya sayang, janji."

Chika menutup teleponnya dengan hati riang, dia juga merasa tak sabar menantikan hari dimana seseorang yang sudah di anggap mama olehnya melihatnya berlenggak-lenggok di atas panggung.

°°°

Hari yang di tunggu-tunggu Chika tiba, hari dimana ia akan menunjukkan kemampuannya di hadapan penonton dan terutama Arini. Perempuan yang mengisi kekosongan hatinya, dia yang memberi perhatian layaknya seorang ibu. Dan dia yang begitu spesial di hatinya, tentu saja apabila Radit tidak lupa lagi.

"Pak, hari ini ada jadwal meeting dengan vendor jam 10 pagi."

"Lalu apa lagi ken?" tanya Radit.

"Nanti sore bapak di jadwalkan untuk mengunjungi peresmian salah satu cabang perusahaan kolega."

"Oke, oh ya apa aku melupakan sebuah janji?" Radit bertanya lagi, ia merasa ada yang mengganjal hatinya. Entah hal penting apa yang ia lupakan lagi.

"Tidak pak, semua janji hari kemarin sudah di lakukan semua, tidak ada satupun janji yang terlewat."

"Kau boleh pergi."

Namun lagi-lagi Radit merasa hari ini dia memiliki janji yang lain, yang sudah ia lupakan.

"Ah Chika!!" Radit melompat dari tempat duduknya dan berlari pergi.

"Niken, tolong atur kembali semua jadwal ku hari ini. Aku harus menghadiri acara sekolah anakku." kata Radit memberitahu sekretarisnya.

"Tapi pak.." Niken mencoba menyela.

"Lakukan saja, ini juga penting." Radit berlari menuju ke mobilnya dengan cepat, di liriknya jam tangan mewah miliknya.

"Sial, hampir di mulai." gerutu Radit.

...

"Chika sudah siap?" tanya guru sekolah Chika.

"Sudah bu." jawab Chika lirih.

"Lho kok nggak semangat gitu," tanya bu guru nampak khawatir.

"Papa Chika belum datang bu." Aurel teman Chika menyela.

"Nanti juga datang kok, sekarang Chika siap-siap di belakang panggung ya. Dua pertunjukan lagi giliran Chika dan teman-teman."

Chika menuruti perintah gurunya dengan duduk menunggu di belakang panggung. Nampak ia sangat sedih sekali, kedua orang yang sangat di tunggu kehadirannya oleh Chika belum menampakan wajahnya.

Chika mulai gelisah ketika hanya tersisa satu pertunjukan lagi, namun Arini ataupun Radit belum kunjung tiba. Bagai duduk di atas jarum, Chika nampak mondar-mandir terus menengok barisan kursi penonton. Dia sangat berharap salah seorang yang ia tunggu kedatangannya sudah duduk manis untuk menunggu giliran Chika tampil.

"Chika, papamu udah datang belom?" tanya Aurel.

Chika hanya menggelengkan kepalanya, saat ini bahkan ia sangat malas untuk berbicara. Seolah harapannya telah pupus, Chika memilih untuk duduk sendiri di pojokan. Tatapan mata sayu Chika mulai di hiasi cairan bening. Chika berpikir tak ada seorangpun yang mencintainya saat ini.

"Hayolhooo ngapain?" Arini mengagetkan Chika.

Chika yang tak percaya dengan apa yang dilihatnya langsung mendekap erat tubuh Arini.

"Ku kira mama Arini tak datang." ucap Chika sesenggukan menahan tangisnya.

"Kenapa sayang, kok sedih. Kan udah janji nggak bakal nangis lagi kalau mama datang." Arini menguatkan Chika.

"Abisnya mama lama datangnya."

"Maaf ya sayang, tadi taksinya kena macet." Arini merengkuh tubuh mungil Chika dan memeluk erat gadis kecil itu.

Rasa pilu di hati Chika turut Arini rasakan, ia tak bisa membayangkan betapa tegarnya gadis kecilnya itu. Mampu menahan suatu emosi yang meluap-luap di dalam hatinya.

Tentu Arini tak tega jika ia sampai tak datang, walau ia harus rela izin tanpa di bayar. Kebahagiaan gadis kecil itu sangatlah penting. Seolah terdapat ikatan batin dengan Chika, Arini begitu menyayangi gadis kecil yang telah dianggapnya sebagai anaknya itu.

"Katanya Chika mau tampil ya? wah udah nggak sabar nih." Arini mencubit mesra pipi gembil milik Chika.

Chika hanya bisa tersenyum kala itu. Kehangatan Arini perlahan mengobati kerinduan Chika pada sosok Zahra.

Arini memilih tempat duduk yang strategis, strategis menatap ke arah panggung, dan strategis bisa di temukan oleh sepasang mata kecil yang indah itu. Entah mengapa ia begitu antusias sekarang, bagaikan seorang ibu yang baru pertama kali menonton pertunjukan anaknya sendiri, Arini sekarang merasa sangat bangga pada Chika.

Giliran tampil Chika sudah di umumkan oleh pemandu acara, tepuk tangan antusias Arini menyambut Chika saat menaiki panggung.

Putri kecilnya itu begitu bercahaya ditimpa oleh sorot lampu panggung yang begitu menunjukan aura bintangnya.

Lenggak-lenggok tubuh mungilnya begitu menyilapkan mata, bahasa tubuhnya mengisyaratkan bahwa sekarang Chika begitu bahagia. Dia menari dengan begitu gemulai dan membuat Arini begitu merasa takjub.

Saat pertunjukan usai, Arini pergi ke belakang panggung untuk menemui gadis kecilnya itu.

"Pertunjukan yang hebat sayang." ucap Arini sembari merengkuh tubuh kecil Chika.

Chika yang begitu bahagia menyambut Arini dengan riang, di cimuilah pipi Arini oleh anak itu. Terlihat sekali gadis dewasa dan gadis kecil itu amat saling menyayangi satu sama lain. Seperti sudah terbentuk suatu ikatan batin yang sangat kuat dari diri mereka.

Acara telah usai, Arini mengajak Chika untuk duduk di taman di depan sekolah Chika sekarang.

"Permisi, apa anda wali dari chika?" tanya guru sekolah Chika.

"Ah, ada apa ya bu?" tanya Arini.

"Tidak, saya hanya senang anda bisa hadir. Sedari pagi Chika begitu khawatir dengan kehadiran anda dan ayahnya. Oh ya apa anda tahu alasan ayah Chika tidak bisa hadir?" guru Chika berbalik menanyakan tentang Radit.

"Maaf saya tidak tahu bu." jawab Arini.

"Saya kira anda ibu sambung Chika. Jadi saya berani menanyakan keberadaan ayah Chika."

"Oh ibu salah, saya hanya sebatas kenal saja. Kebetulan juga Chika sempat jadi anak didik saya di kampung."

"Ah begitu, ternyata saya salah paham. Anda terlihat begitu dekat dengan Chika, dan terlebih Chika memanggil anda mama."

Tentu saja orang akan berpikiran begitu bukan? orang asing yang tiba-tiba bisa mendapatkan perhatian gadis kecil itu, pasti membuat orang berpikir jika Arini sudah masuk lebih intim dengan keluarga Chika.

Arini juga sebenarnya tak enak hati, bagaimana jika Radit menjadi rikuh dengan kehadirannya di kehidupan Chika, putri kesayangannya itu.

Tapi bagaimanapun juga, Arini tulus mencintai Chika sebagaimana seorang ibu mencintai anak kandungnya sendiri. Tidak ingin imbalan apapun, Arini sangat gembira bisa mendapat perhatian lebih dari gadis kecil itu.

1
Aabece
1. riweuh nya. bawa koper, bawa eyang. 2. guru tk itu sarjana loh, jauh-jauh ke jekardah jadi cleaning service, balik lagi ke sekolah, kan kepseknya pernah nyuruh balik. 3. berita ferdi tunangan dengan anak kades harusnya sih udah nyebar, namanya juga desa, berita besar nggak mungkin tersembunyi.
Nita Dahlan Aek
lnjut
Siti Amenah
tamara jahat
Siti Amenah
lanjut seru nie
Siti Amenah
lanjut thor
Siti Amenah
mungkin saudara kembar mamanya
Siti Amenah
lanjut
Aiur Skies
udah dong Arini, kamu sama Bayu ajah, mana keluarga nya mendukung dan sayang sama kamu 🥰🥰🥰🥰
Aiur Skies
ngakak baca part ini🤣🤣🤣🤣🤣
Aiur Skies
Team Arini ❤Bayu saat ini🤣🤣
Aiur Skies
ya Alloh, kasihan amiitz tega Radit,,, mustinya tegas dong mengantarkan meski cuma dean komplek, wah typical Cowoq gak bisa tegas menjaga dan melindungi "yg dekat disekitarnya yg memang patut dijaga" tanpa membantah Mamanya, pake cara berkelas lah ngerayu Mama nya
Aiur Skies
sakiiitz😔😔
Aiur Skies
wouw,,,, klo camer begini, gue mending dukung Arini vs Bayu 😂😂😂🥰🥰🥰🥰🥰💃💃💃💃💃
Aiur Skies
klo rumah dikampung mungkin sdh beberapa kali nganter, tapi rumah di Kota kayanya baru sekali ini deh🤩
Aiur Skies
jangan jangan Mamanya Cindy alias istrinya Radit😅😅😅😅
Aiur Skies
astaghfirullah,,,, jangan salahkan jilbab atau tidaknya, tapi salahkan "manusia" pelaku nya yang tidak bisa kita samakan, krn agama pada intinya mengajarkan kebaikan 🙏🏻
Aiur Skies
klo dah tahu begini mah, acara-acara kaya reunian gak usah dateng, ngapain nganggep temen yg cuma lihat kulit luar kita ajah, bye bye bye in aja💃💃💃💃💃💃
Aiur Skies
masih meraba-raba ceritanya nih, kd sinopsis nya antara Ferdy, Arini dan Radit,,, ini muncul Ardan dan Bayu wkwkwkwkwk kita Lanjooot bacaaa😅
Aiur Skies
banyak orang dr kampung berakhir tragis dan ngenes nasibnya di Ibukota ya gara-gara begini nih, modal nekad tanpa punya kenalan dan tujuan yg jelas,,,, miris
Aiur Skies
bocah, kenapa gak lanjut ngajar TK aja sayang, bukannya BuKepSek membuka pintu lebar2 klo dikau mau balik ngajar lagi😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!