PENULIS : NESC PL
ILUSTRASI : ABU SAMUEL ETO
SINOPSIS : Aku adalah seorang wanita yang memiliki Dua Kehidupan, Dua Wajah. Suatu hari aku bertemu dengan seorang pria yang lebih muda dariku. Aku terjatuh di atas tubuhnya saat memanjat dinding sekolah. Apakah hubungan di antara kami yang bermula dari kebencian bisa berubah menjadi cinta?
Bagaimana cinta itu bisa terjadi di saat aku kehilangan cinta pertamaku karena penghianatan. Pesona cowok berondong yang tampan dan menggoda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NESC PL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 Pria yang baik itu seperti apa
Aku dan temanku sedang beristirahat di taman sekolah.
"Kamu ingin melukis apa?".
"Aku belum tahu akan melukis apa".
"Kamu melukis wajah Heinry saja seperti yang kamu lukis dulu".
"Aku kurang setuju dengan pendapatmu Evelly".
"Tapi lukisan wajah Heinry yang di lukis oleh Mai itu bagus kok".
"Kita tanyakan saja kepada Mai".
"Bagaimana Mai dengan pendapatku?".
Aku?.
Sebelum aku melanjutkan perkataan.
Aku melihat seorang pria yang tidak asing aku lihat.
"Sepertinya aku pernah melihat pria itu?".
"Siapa pria yang kamu maksud?".
Violet bertanya kepadaku.Aku memberi tahu Violet dengan jari telunjukku.
"Kalau tidak salah pria itu adalah murid baru di sekolah ini".
"Iya kamu benar Violet.Pria itu adalah pria yang pernah aku katakan kepada Mai waktu kemarin di telepon.Kalau tidak salah pria itu bernama Richard.Kenapa kamu menanyakan pria itu?"
"Aku bertemu dengannya kemarin di halaman belakang".
"Kenapa kamu ada di halaman belakang?".
"Aku kemarin terlambat sekolah dan aku masuk ke sekolah dengan memanjat tembok belakang sekolah".
"Kamu jahat!.Aku benci sama kamu".
"Aku tidak mencintaimu.Pergilah dari hadapanku!.Menggangu saja.
"Plak!".
"Kamu menamparku.Dasar wanita menyebalkan".
Gadis itu pergi meninggalkan pria itu sendiri.
Aku, Evelly,dan Violet melihat adegan pertengkaran.
"Kejam sekali menyakiti hati gadis itu".
Aku berjalan setelah Violet berkata kepadaku dan Evelly.
"Kamu ini memang bukan pria yang baik.Kamu bisa menolaknya dengan halus".
Aku memberanikan diri untuk mengatakannya.
"Ada apa urusannya denganmu?.Apakah gadis itu saudaramu atau adikmu".
"Aku ini lebih tua darimu.Bersikaplah sopan kepadaku".
Pria itu berjalan mendekatiku dan aku melangkah mundur kakiku.
"Aku tidak menyukainya.Apakah salah aku menolaknya?".
"Kamu bisa menolaknya dengan perkataan yang halus".
"Aku berkata halus atau kasar itu semua bukan urusanmu".
"Sepertinya aku percuma menasehati dirimu".
"Aku tidak butuh nasehat dari seorang wanita yang belum tahu kebenaran sudah menghakimi seseorang".
Pria itu mendekatiku lagi sehingga membuatku terjebak di antara tubuhnya yang berada di depanku dan sebuah pohon besar yang berada tepat di belakangku.
"Apa yang akan kamu lakukan kepadaku".
"Kamu tadi berkata kepadaku kalau aku bukan pria yang baik".
"Iya itu benar.Kamu bukankah pria yang baik".
"Kalau begitu aku ingin bertanya kepadamu.Aku ingin tahu Pria yang baik itu seperti apa".
"Pria yang baik adalah pria yang tidak akan menyakiti hati seorang wanita".
"Benarkah?.Aku ingin kamu memberikan tahu kepadaku.Jika kamu tidak mencintai gadis itu dan gadis itu sering mendekatimu bahkan gadis itu menyakiti sahabatmu.Apakah kamu akan tetap bersikap baik dan berkata lembut kepada gadis itu?".
Aku terdiam mendengar perkataannya.
"Kenapa kamu tidak memberi nasehat kepadaku lagi?".
"Kamu bisa berkata kepadanya kalau gadis itu bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari kamu".
Pria itu menunjukkan ekspresi terkejut dan tersenyum.
"Aku tidak bisa bersikap seperti yang kamu katakan.Aku akan mengatakan suka jika aku suka dan aku katakan tidak suka jika aku tidak suka.Karena itu aku harap kamu jangan mencampuri urusanku".
Pria itu berbalik dan meninggalkanku.
"Aku salah karena aku sudah mengatakan hal yang kasar kepadamu.Aku tidak akan mencampuri urusanmu".
Pria itu menghentikan langkahnya.
"Terimakasih karena kamu sudah memberi nasehat kepadaku".
"Xian Mai?"
"Aku baik-baik saja".
"Aku tidak menduga jika pria itu ternyata pria yang baik dan tegas".
"Iya.Kita sudah salah menduga".
"Kalian mau menemaniku".
"Kamu mau pergi kemana?".
"Aku ingin membeli hadiah sebagai permintaan maaf dariku untuknya".
"Aku akan menemanimu sepulang sekolah.Bagaimana denganmu Evelly?".
"Aku tidak ikut dengan kalian.Aku ingin mencari informasi tentang Richard".
"Aku akan memukulmu apabila kamu melakukan sesuatu yang memalukan".
"Tenang saja Violet.Semua hal itu tidak akan terjadi".
"Terimakasih kalian mau membantuku".
"Kamu tidak perlu berterima kasih kepada kami".
Aku dan Violet pergi mencari hadiah yang sesuai sebagai permintaan maaf.
"Kamu mau membeli hadiah seperti apa.".
"Aku ingin membeli peralatan melukis".
"Peralatan melukis?".
"Benar.Aku ingin membuat lukisan sebagai hadiah".
"Lukisan seperti apa?".
"Nanti kamu bisa melihatnya".
"Baiklah".
Kami berdua mencari peralatan melukis.
"Sepertinya ini sudah cukup".
Aku membayar peralatan melukis di kasir lalu berjalan pulang.
"Kita akan bertemu lagi besok".
"Iya.Sampai berjumpa lagi".
"Bye....?".
Sesampai di rumah.
Aku menuju masuk ke dalam kamar untuk melukis.
Aku melukis gambar seorang
Raja Arthur yang menggunakan jubah dan memakai mahkota di kepala sedang duduk di takhta.
"Akhirnya aku sudah selesai melukis".
Aku meninggalkan lukisan yang terpasang di dalam kamar.
Aku mempersiapkan diri untuk pergi ke tempat nona Silvia untuk memberikan pelajaran bimbingan.
Ibu masuk ke dalam kamarku saat aku pergi.
"Lukisan siapa ini?.Seperti lukisan seorang pangeran.Sudah lama aku tidak melihat putriku melukis".
Ibuku tersenyum bahagia.
Tidak terasa hari sudah mulai malam.
Aku kembali ke rumah.
"Ibu tadi tidak sengaja melihat lukisan di kamarmu".
"Kenapa ibu masuk ke dalam kamarku?".
"Ibu mengira kamu tadi tidur di kamar jadi ibu datang ke kamarmu.Sudah lama Ibu tidak melihat kamu melukis".
"Iya.Bagaimana pendapat Ibu tentang lukisanku?".
"Lukisan yang kamu buat sangat indah.Siapa pria yang ada di lukisanmu.Apakah dia seorang pangeran?".
"Dia bukan seorang pangeran.Pria itu adik kelas.Dia lebih muda tiga tahun dariku".
"Apakah dia kekasihmu?".
"Pria itu bukan kekasihku".
"Kamu melukis seorang pria yang bukan kekasihmu".
"Aku tidak berbohong.Aku tidak mungkin memiliki kekasih yang umumnya jauh lebih muda dariku.Kekasihku umurnya lebih tua dua tahun dariku".
"Ibu baru mengetahui kamu memiliki kekasih.Kapan kamu akan mengenalkan kekasihmu kepada Ibu?".
"Aku akan mengenalkannya kepada Ibu suatu saat nanti".
"Kekasihmu itu satu sekolah denganmu".
"Tidak bu.Dia sudah bekerja".
"Dia tinggal di mana?".
"Dia tinggal di Korea".
"Korea adalah tempat tinggal ayahmu".
"Tempat dia bekerja jauh dari tempat bekerja ayah".
"Apakah pekerjaannya?".
"Dia seorang Presiden Direktur".
"Sebaiknya kamu jangan menikah dengan seorang pria yang bekerja di perusahaan.Ibu tidak ingin kamu tidak bahagia jika menikahinya.
"Aku tahu Ibu sangat tidak menyukai Ayah.Aku ingin Ibu tidak beranggapan kalau semua pria yang bekerja di kantor itu tidak baik".
"Ibu sangat mengetahui kalau pria yang bekerja di kantor itu tidak memiliki waktu untuk istri dan anaknya".
"Tidak semua pria itu seperti ayah".
"Putriku sekarang sudah tumbuh menjadi dewasa".
Ibu mengusap rambutku.
"Baiklah kalau ini memang sudah menjadi keputusan darimu.Ibu hanya ingin kamu menikah dengan pria yang kamu cintai dan juga sangat menyayangimu serta keluargamu".
salam hangat dari CINTA DALAM LUKA...👍👍👍
lanjut nanti..
🌹🌹🌹
salam dari Gadis Tiga Karakter