Follow IG-Airlangit9
Nekat pergi ke kota, bermodalkan Ijazah SMA untuk mengadu nasib. Siapa sangka, sebuah insiden membuatku terperangkap dalam hubungan tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Airlangit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Brotherhood
Bogem mentah mendarat di hidung Daniel membuat pria tinggi itu terjengkang dan terhuyung ke belakang sampai punggungnya menabrak meja. Tabrakan punggungnya tersebut membuat barang-barang di atas meja itu bergeser dan sebagian jatuh ke lantai menimbulkan suara bising.
"Anak berandal, kurang ajar!" Telunjuk bergetar sang ayah mengarah pada Daniel yang masih terduduk di tempat jatuhnya.
Daniel menyeka darah yang keluar dari hidungnya dengan punggung tangan kemudian berusaha berdiri, akan tetapi sang ayah langsung melayangkan tendangan ke dada anak keduanya itu.
Tak tahan melihat putranya disiksa, Dilbara keluar dari balik tirai dan memeluk kaki bergetar suaminya yang dikuasai amarah.
"Sudah, sudah, Mas. Jangan dituruti amarahmu. Bisa-bisa anakmu mati di tanganmu." Dilbara memohon, air matanya berderai.
Bastar mendelikkan mata pada istrinya kemudian menunjuk kepala istrinya itu sambil berkata lantang, "Anak-anak nakal itu karena kamu tak becus didik mereka sebagai ibu."
"Ya, itu kesalahan saya. Maka siksa saja saya." Dilbara menepuk-nepuk dadanya sendiri.
"Kamu hanya menunjukkan kesedihanmu di depan anak-anak, sehingga mereka menganggap saya suami yang kejam."
Kirana, adik bungsu Daniel datang dan membantu kakak laki-lakinya itu berdiri.
"Hay kau, anak perempuan. Jangan bantu anak durhaka itu."
Gelegar suara sang ayah, membuat Kirana terperanjat, tetapi tak melepaskan pegangan tangannya dari lengan Daniel.
"Kakak, cepetan bangun, kabur saja. Nanti habis kamu disiksa Ayah kalau terus diam di sini," bisiknya, tangannya gemetaran dan wajahnya pucat pasi.
Daniel tersenyum kecil dan menggeleng.
"Hancur-hancur semua masa depan keluarga kita!" Bastar memegang kepalanya yang sebagian telah memutih.
"Tak usah berlebihan, Ayah." Bisa-bisanya Daniel menyahut di sela kesakitan yang mendera tubuhnya.
"Apa kau bilang?!" Emosi Bastar semakin memuncak.
"Memangnya Pak Murad itu yang memegang masa depan, Ayah? Seolah dia Tuhan."
"Tentu saja. Jika dia menarik sahamnya, bangkrut sudah perusahaan saya!"
"Jika Pak Murad itu orang yang bijak, dia tidak akan menyangkut pautkan bisnis dan hubungan pribadi, Ayah."
"Daniel." Dilbara menatap putranya, memberikan isyarat untuk berhenti melayani ucapan ayahnya.
"Pernikahanmu merupakan pernikahan bisnis, Berandal! Selama ini kau menikmati kemewahan dari mana? Jika Murad murka dan menarik sahamnya tiba-tiba, apakah kau bisa membantu, hah?"
"Bahkan semenjak lulus SMA saya tak lagi menikmati fasilitas darimu, Tuan Bastar." Daniel menekan kata 'Tuan Bastar'
Semua orang di ruangan itu terkejut mendengar ucapan Daniel yang sangat berani.
"Anak kurang ajar!" Bastar mengeratkan giginya, pandangannya memerah.
"Selama ini pun saya hidup dari uang hasil keringat saya sendiri. Sebab saya sadar, di matamu, saya, Kirana dan Mama hanya pengisi waktu luangmu, didatangi jika diperlukan." Daniel menunduk wajahnya terlihat sendu." Sedangkan, anak pertamamu dan istri terdahulumu menempati kedudukan yang khusus di hatimu. Saya telah mengetahui, bahwa hak perusahaan setelah kau pensiun, anak pertamamu yang menggantikan bukan saya."
Dilbara mengelus dada berulang kali sambil berdoa, agar perseteruan ayah dan anak itu berhenti.
"Maka tak usah lagi kau campuri urusan pribadiku. Urus saja anak pertamamu itu dan carikan dia jodoh terbaik."
Daniel berdiri dan melangkah terpincang-pincang melewati ayahnya yang mematung.
"Nak, kami mencarikanmu jodoh, sebab kami khawatir pada masa depanmu. Kakak lelakimu bisa menjalani hidup dengan baik tidak sepertimu." Dilbara berusaha memberikan pengertian.
"Apakah saya begitu menyedihkan di mata kalian berdua?" Sebelum benar-benar keluar ruangan, Daniel menyahut.
Dilbara menggeleng.
"Mulai sekarang saya tak akan menginjakkan lagi kaki di sini. Agar Tuan Bastar tak lagi mengungkit hartanya yang saya pakai."
"Daniel! Kamu mau ke mana?!" Dilbara melihat putranya benar-benar keluar ruangan.
Di depan pintu, langkah Daniel berhenti, ia melihat Said berdiri tak jauh dari pintu masuk.
***
Daniel mengernyitkan dahi saat merasakan tubuhnya kedinginan. Ia melirik ke arah samping dan melihat tirai jendela terapung-apung pertanda jendela belum ditutup. Padahal sebelumnya ia telah menutup rapat jendela kamarnya itu.
Pria itu bangkit dari tidurnya dan berjalan gontai ke arah jendela lantas meraih daun jendela di hadapannya. Sejurus kemudian ia terdiam ketika menangkap sosok seseorang di beranda kamarnya.
Daniel melangkah keluar pintu kamar dan menghampiri seseorang yang berdiri membelakang di tepi pagar.
"Apa yang kau lakukan di apartemenku, pencuri? Bukankah kau takut ketinggian."
Seseorang itu membalikkan badan dan menatap datar sosok Daniel. "Tak boleh saya mengunjungi adik sendiri?"
Daniel terkekeh kemudian melangkah menghampiri pria itu dan meraih kerah baju pria yang tingginya sama dengannya itu. "Hay kau pencuri! Bertamu itu tak asal nyelonong masuk ke rumah orang tanpa ijin."
"Kamu bukan orang lain tapi adik saya."
"Berhenti membuntuti kehidupan saya, Said!" teriak Daniel sambil menghentakkan kerah baju pria di hadapannya.
"Sudah jadi kewajiban saya sebagai kakak untuk mengawasimu!"
Sontak Daniel melayangkan kepalan tangan ke arah wajah Said dan pria itu malah diam, seolah membiarkan dirinya kena pukul.
"Kenapa kau tak melawan? Ha?" Daniel berteriak. "Sewaktu kecil kau dan aku selalu berkelahi dan ayah akan membelamu dan mengabaikanku. Ayah akan menghukumku jika aku menyakitimu. Dan bahkan Mama pun mengasihimu. Semua orang mengasihimu dan memandangku anak berandal."
"Itu ... karena ayah menganggap saya anjing kecil malang yang kehilangan induknya." Said menekurkan pandangan. Pada saat umurnya belum genap setahun ibunya meninggal dan di tahun yang sama sang ayah menikah lagi dengan Dilbara yang masih gadis.
"Saya tak peduli. Pergi kamu dari sini."
"Saya tak mau." Said menyahut.
"Apa? Kau tak mau pergi."
"Saya ingin tidur bersamamu seperti waktu kita kecil sering tidur satu kasur berdua dan--"
"Stop membual, Said. Pergi kau dari sini. Apa karena Mama menyuruhmu mencariku? Bahkan kau menurut saja saat Mama menyuruhmu membuntutiku sampai perusahaanku, menyamar jadi karyawan. Kenapa kau begitu penurut padanya? Dia bahkan bukan ibu kandungmu, dia lebih menyayangiku."
"Dia ibuku yang menjagaku sedari melangkah tertatih dan mengajarkanku banyak hal sebelum kamu lahir. Meskipun kamu bilang Mama lebih menyayangimu, berarti masih ada rasa sayang tersisa untukku di hatinya."
"Tetap saja kau bukan darah dagingnya, pencuri. Dasar pencuri."
Seperti terbiasa disebut pencuri, Said hanya tersenyum menanggapi sebutan yang disematkan adik tirinya itu. Ia kemudian menghampiri Daniel dan memeluknya, tentu saja Daniel menolak, tetapi Said terus memeluk adiknya itu sampai terdiam.
"Sudah marahnya, belum?" tanya Said kemudian melepaskan pelukannya.
Daniel duduk di bangku dan Said menyusulnya.
"Tentang ayah, kamu jangan ambil hati, Daniel."
"Jangan sebut pria tua itu."
"Oke baiklah. Setidaknya kamu memikirkan perasaan Mama dan Kirana. Pulanglah ke rumah, jangan bikin Mama khawatir."
"Saya tak bisa pulang. Kamu pun tak lagi hidup dengan mereka."
Said menghela napas. "Jadi, kamu meniru gaya hidup saya?"
"Tidak, saya sudah muak berdekatan dengan ayah. Sampai perjodohan pun harus diatur mereka. Seolah saya tak akan laku." Said merasa sangat kesal. "Apakah saya begitu menyedihkan di mata kalian?!" teriaknya tiba-tiba.
Said langsung menggeplak kepalanya. "Berisik tau!"
"Sakit, tau!" Daniel balas memukul kepala kakaknya itu.
Kaka beradik itu pun saling tersenyum kemudian tergeletak bersama.