Ini kisah seorang gadis cantik, Sheilla Abraham namanya. Seorang gadis nakal, pembuat onar yang akhirnya memutuskan untuk berubah.
Namun, ternyata keputusan Sheilla untuk berubah malah membuat nya menjadi bahan bullyan di sekolah baru nya.
Lalu, akankah Sheilla melawan? atau membiarkanmu dirinya menjadi bahan bullyan murid-murid di SMA Raharja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizkook lovers, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Twenty
Berhubung hari ini Ryan tidak membawa kendaraan apapun, jadilah ia pulang bersama dengan Sheilla menggunakan motor gadis itu.
Tentu saja Ryan yang berada di depan, tidak akan enak di pandangan jika seorang laki-laki di bonceng oleh gadisnya dengan motor besar itu. Ryan juga sebenarnya berniat membawa Sheilla kerumah nya untuk di kenalkan dengan kedua orang tuanya.
"ASSALAMU'ALAIKUM, RYANDRA ALEXANDER PULANG!"
Ryan sudah berjalan masuk dengan santai ketika teriakan sang mommy terdengar membalas salamnya. Sedangkan Sheilla masih mematung di tempat nya, agak sedikit shock melihat kelakuan kekasih nya yang sangat berbeda.
Jika di sekolah Ryan terlihat sangat cool dan irit bicara, maka ketika laki-laki itu sampai di rumah, ia hanya akan menjadi seorang anak tunggal yang suka berteriak dan mengocek tak jelas.
"Ryan, sini makan dulu. Kamu pasti laper habis sekolah."
Ryan tersenyum senang, lalu menghampirimu sang mommy di ruang makan. Ryan meletakkan tasnya di salah satu kursi yang ada di sana, sebelum mengambil duduk.
Sadar jika Sheilla tidak ada di dekatnya, Ryan pun langsung berteriak memanggil sang gadis. "SAYANG, AYO SINI MAKAN DULU!"
Teriakan menggema Ryan membuat Sheilla tersadar dari lamunan nya, juga membuat nyonya Alexander mengerutkan kening bingung.
"Siapa yang kamu panggil say_"
"Permisi tante," Kemunculan Sheilla langsung menjawab segala pertanyaan yang ingin Syifa lontarkan.
Senyuman manis wanita yang telah melahirkan Ryan itu mengembang, "Wah, apakah ini calon menantu mommy yang selalu di ceritakan oleh Ryan." Syifa menyentuh wajah Sheilla, "Kamu cantik sekali sayang."
Sheilla tersenyum dengan pipi bersemu, malu karena di puji seperti itu oleh calon mertua, anjay calon mertua.
"Terimalah tante."
Syifa menarikan satu kursi di samping Ryan untuk Sheilla duduki, "Duduk dulu, biar mommy ambilin makanan buat kamu."
"Gak perlu tan, Sheilla bisa makan di rumah kok," Tolak Sheilla merasa tak enak.
"Tidak masalah, anggap saja rumah sendiri. Dan ya, jangan panggil saya tante, panggil mommy aja oke?"
Sheilla mengangguk kaku, "I_iya, mo_mommy.."
"Pfftt..." Ryan hampir saja menyemburkan nasi yang ada di mulut nya, melihat wajah tegang sang kekasih. Entahlah, lucu saja melihat Sheilla yang kikuk seperti itu.
Sheilla memberikan tatapan membunuh pada Ryan, membuat laki-laki itu langsung tutup mulut.
Tak...
Nyonya Syifa meletakkan sepiring nasi lengkap dengan lauknya di hadapan Sheilla, "Harus di habisin, mubadzir kalau gak habis. Mommy mau ke kamar dulu, nanti kalau udah, piring kotor nya taruh aja di wastafel."
"Siap mom!" Ryan membuat postur hormat ala upacara hari senin, bedanya, sekarang hari Rabu.
"Ayo makan, nanti aku anterin pulang," Ajak Ryan setelah sang mommy menghilang dari pandangan.
Sheilla hanya mengangguk kecil, mulai menyuap sesendok nasi ke dalam mulutnya.
Rasanya begitu nikmat, makanan yang di buat dengan penuh cinta dan kasih sayang memang beda. Biasanya Sheilla hanya makan masakan maid, atau jika ia bosan dengan makanan di rumah, ia akan pergi ke markas dan meminta sang mama untuk memaksakan nya.
Sheilla tidak pernah merasakan masakan ibu nya sejak 8 tahun terakhir, rasanya ia rindu sekali dengan masakan ibunya. Masakan sederhana, namun di buat dengan penuh cinta, membuat cita rasa makanan yang khas terasa. Masakan mommy Ryan membuat Sheilla teringat momen indahnya dengan sang mommy dulu, ketika ia membantu ibunya memasak dan ketika mereka berkreasi di dapur dulu.
Tanpa sadar cairan bening lolos dari kelopak mata indah Sheilla. Ryan yang melihat nya pun dengan sigap mengambil tisu dan mengusap pipi sang kekasih.
"Hey, kenapa menangis? apakah makanan tidak enak? atau terlalu pedas?" Tanyanya dengan lembut.
Sheilla hanya menggeleng dengan senyuman sedihnya, "Makanan ini sangat enak, membuat ku mengingat sebuah kenangan indah."
"Benarkah? tapi kenapa kamu menangis jika itu adalah kenangan yang indah?"
Bibir Sheilla yang semula melengkung ke atas, kini berbalik melengkung ke bawah. "Sayangnya, kenangan indah itu mungkin tidak akan pernah terulang kembali. Karena itulah aku sedikit sedih."
Ryan membawa kepala Sheilla untuk bersandar di bahunya, laki-laki itu menyuapi sang kekasih dengan penuh kasih sayang. "Ada aku di sini, katakan saja padaku, kenangan apa itu? dan aku akan membuat nya terulang kembali untuk mu."
Sheilla tersenyum haru, di tatap nya mata sang kekasih yang dengan tulus menatap nya penuh cinta dan puja. "Tidak akan bisa."
Dahi Ryan berkerut, "Kenapa tidak bisa?"
"Kenangan itu adalah kenangan aku dengan mommy dulu, kami memasak bersama dengan penuh bahagia. Namun sekarang tidak akan bisa, mommy terlalu sibuk dengan pekerjaan nya." Ryan mengangguk paham, "Ah... begitu."
Kembali di tatapnya mata indah sang kekasih, "Jika bukan mommy mu, maka lakukan dengan mommy ku saja. Itu sama saja, bukankah mommy ku sudah menganggap mu sebagai anak sendiri?"
"Tidak perlu, itu pasti merepotkan."
"Apa yang merepotkan?" Panjang umur, orang yang tengah mereka bicarakan datang untuk mengisi tempat minum kamarnya.
"Ini mom, Sheilla mau di ajarin masak, mau belajar jadi calon istri yang baik katanya," Canda Ryan membuat pipi Sheilla memerah seketika.
"Wah, benarkah?" Sheilla mengangguk pelan. "Bagus kalau begitu, mommy akan dengan senang hati ngajarin kamu masak."
Mommy Syifa meletakkan wadah air yang tadi ia pegang, "Kamu ganti baju dulu ya, nanti seragam nya kotor kena bumbu dapur. Ayo ke kamar mommy, kita ganti baju."
Sheilla mengangguk semangat, ia segera berdiri, namun Ryan langsung menahannya, menarik tangan Sheilla untuk kembali duduk. "Habisin dulu makannya, kamu tadi siang juga cuma makan sedikit kan."
"Makan nya nanti aja," Tawar Sheilla.
Ryan menggeleng kukuh, "Makan, atau gak jadi belajar masak?!" Ancam nya tegas.
Maka dengan terpaksa, Sheilla harus kembali duduk dan melanjutkan menghabiskan makan, sedikit cepat hingga ia mendapat teguran dari Ryan. "Pelan-pelan biar gak keselek." Sheilla hanya mengangguk, namun tetap makan dengan terburu-buru.
Mommy Syifa tersenyum melihat interaksi dus human di hadapannya, ia jadi mengingat masa mudanya dengan sang suami dulu.
•
Mommy Syifa meminjamkan bajunya untuk Sheilla, baju yang sudah lama tidak ia kenakan karena kekecilan ternyata terlihat sangat pas dan cantik di pakai oleh Sheilla.
"Wah, cantik sekali. Ryan benar-benar pintar memilih pasangan," Puji nya membuat Sheilla merona malu. "Mommy mah, bisa aja."
Mommy Syifa tersenyum kecil, "Udah yuk, kita langsung ke dapur aja." Nyonya Syifa menggandeng tangan calon menantunya itu dengan lembut, membawa Sheilla pergi ke dapur.
Nyonya Syifa mengambil apron bermotif bunga untuk ia dan Sheilla. Nyonya Syifa juga memakai benda itu pada tubuh kekasih anaknya.
"Pertama-tama, kita siapin bumbu..." Mommy Syifa mulai menjelaskan cara dan bumbu yang akan mereka gunakan untuk memasak.
Mereka akan membuat makanan kesukaan Ryan, atau bisa kita sebut sebagai camilan saja. Itu adalah pisang goreng keju mozarella buatan mommy Syifa.
"Nah, sudah selesai, kamu bisa goreng nya kan? Hati-hati ya sayang, jangan sampai kena minyak."
Sheilla mengangguk, perhatian kecil seperti inilah yang ia rindukan dari sosok seorang mommy. Ia senang, mommy Ryan benar-benar baik dan sangat perhatian kepada nya.
Sheilla sedikit takut-takut ketika memasukan donan pisang itu ke wajan panas, namun mommy Syifa selalu ada di sana dan memenangkan nya.
"Tenang saja, hati-hati dan pelan-pelan. Jangan terlalu jauh supaya minyak nya nggak nyiprat."
Begitulah kelembutan dan kepedulian sosok nyonya Alexander kepada calon menantu nya, Sheilla Abraham.
"Wah, aroma apa ini? Daddy mencium sesuatu yang menggugah selera." Seorang laki-laki dengan pakaian kantor lengkap dengan tas hitam di tangannya tiba-tiba memasuki dapur. Dia adalah Reno Alexander, ayah dari Ryan Alexander dan suami dari Syifa Alexander.
Tuan Reno mendekati sang istri, memeluk mesra wanita yang sudah menemaninya selama 20 tahun lebih itu.
"Sayang, sudah pulang?"
Reno berdehem pelan di tulang selangka sang istri, aroma menenangkan yang menguar dari sana seolah menjadi obat untuk raga nya yang lelah.
"AAA... MOMMY!" Teriak Sheilla ketika minyak nya melompat-lompat saat dia mengangkat gorengan yang telah matang.
Syifa langsung mendekati Sheilla, membiarkan suaminya melihat dari pinggir dapur. "Hati-hati sayang, biar mommy yang mengangkat nya." Syifa mengambilnya alih.
Reno menatap Sheilla dengan kening berkerut, "Siapa dia?"
"Calon menantu daddy." Reno terkejut sampai-sampai ia memukul Ryan yang tiba-tiba datang dengan spontan.
"Aduh, daddy!" Ryan meringis sakit.
"Salah kamu sendiri sih, kenapa tiba-tiba datang? kan daddy jadi kaget."
Ryan cemberut, sedangkan ayahnya terlihat acuh saja. Mata tajam pria setengah baya namun tetap tampan itu menatap Sheilla dari atas sampai bawah. "Pacarmu?" Tanyanya.
Ryan mengangguk bangga dengan mata tertutup dan kedua tangan di pinggang, "Of course."
"Hem, cantik juga selera mu." Komentar nya.
Ryan tersenyum jumawan, "Iyalah, kan pacar Ryandra Alexander."
Reno memutar bola matanya malas, lebih baik ia segera bersih-bersih dan berganti baju sekarang. Ia sudah tidak sabar ingin mencoba gorengan yang di buat oleh istri dan... Ehem! calon menantu nya.
•
Akhirnya setelah sekian lama, acara memasak calon menantu dan mertua itupun selesai. Kini mereka tengah berada di depan TV menikmati makanan kesukaan Ryan itu bersama.
"Emh... the beast, ini enak banget sayang." Ryan mengacungkan jempol untuk memberikan penghargaan kepada sang kekasih. Reno pun melakukan hal yang sama, menghargai usaha kekasih dari anaknya.
Pipi Sheilla merona malu, "Terimakasih, tapi ini mommy yang buat, aku cuma sedikit membantu."
"Tidak, ini masakan Sheilla. Mommy hanya memberikan instruksi dan membantu sedikit."
Keluarga Ryan adalah keluarga yang hangat, mommy yang lembut dan penuh kasih sayang, ayah yang bucin dan tegas namun tetap bisa menjadi sosok yang menyerang dan penyayang.
Sheilla senang berada di antara mereka, kini ia merasa bahwa ia telah menemukan keluarga ketiganya setelah ARMI family.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Syifa Alexander
Mommy Syifa awet muda guys
Reno Alexander
Bapack-bapack tapi bucin bgttt
ikutan sedih,,,soal ny penjahat asli ny lom tahu ad dendam ap sma sma sheilla trus kn kayak sembunyi d balik layar gthu,,,,
ryan keren,dh kayak pangeran berkuda besi ajj,,,🤭🤭🤭