Pernikahan yang berdasarkan untuk menghindari kesalahpahaman, hingga membuatku terpaksa harus menerima pernikahan yang sama sekali tidak kuinginkan.
Pernikahan yang ku fikir akan menyelamatkan ku dari fitnah ternyata justru membuatku hidup dalam kesengsaraan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19. Perlawanan Bimo
Diana ragu mendekat pada Bimo, namun ia harus bagaimana lagi sekarang? pergi tidak mungkin. Mau tidak mau ia pun melangkah mempersempit jarak antara ia dan Bimo yang masih saja terlihat jelas manik mata mematikan itu tertuju padanya.
Keadaan saat ini tentu sangatlah buruk, satu kata saja ia salah berucap mungkin hal yang tak di inginkan akan terjadi.
Langkah kaki terakhir kini terhenti tepat di depan meja kerja suaminya. Diana berusaha melembut demi keutuhan rumah tangganya. Ia berdiri di samping suaminya memutari meja kerjanya.
Tangan lentik itu menyentuh dada bidang Bimo berusaha meredamkan amarah yang menyala itu. Sentuhan yang bergerak dengan sensual itu masih tak mampu menenangkan Bimo saat ini.
"Pergi makanlah, Papah sedang tidak selera makan." Suara khas milik Bimo terdengar begitu saja dengan tangan besar yang menepis sentuhan sang istri.
"Tapi..." Diana yang melihat kemarahan suami merasa ada yang tidak beres.
"Papah menolak sentuhan Mamah? apa ada yang terjadi? katakan Pah!" hardik Diana yang mulai curiga dengan perilaku suaminya.
Kedua manik mata Bimo berotasi lambat. Ia mengeratkan rahang-rahangnya karena merasa istrinya bertindak di waktu yang tidak tepat dengan mendesaknya bercerita.
Bimo yang tadinya ingin melangkah keluar ruang kerjanya menghadap pintu seketika membalikkan tubuh dan melangkah mendekat pada Diana yang masih berdiri di samping meja kerja itu.
Bimo melangkah maju sedangkan Diana sudah melangkah perlahan dengan ragu ke belakang.
"Deg."
Jantung Diana terhenti saat ia sadar dengan tatapan Bimo begitu mematikan dan terus mendesak tubuhnya agar tetap berhadapan dengannya sampai saat ini keduanya sudah benar-benar menempel sempurna.
Bimo menatap intens sang istri, deruan nafas yang saling bertemu menambah suasana yang begitu canggung dan menegangkan.
Tangan kekar dan besar itu mencengkram erat rahang Diana hingga tak memberikan celah untuk bisa berpaling dari manik mata hitam legam yang menatapnya dalam. "Bisakah berhenti mencampuri semua urusanku? kalau tidak, silahkan pergi!" hardik Bimo yang sudah benar-benar murka dengan istrinya.
Cinta, Bimo memang benarlah sangat mencintai sang istri. Namun mengingat semua perjuangan Bimo selama ini tak pernah di hargai oleh Diana. Ia bisa mempertimbangkan untuk tetap membina rumah tangga dengan wanita itu lagi.
Diana menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang ia dengar dari bibir pria yang begitu jatuh hati padanya. Kedua manik mata berembun seiring dengan rasa syoknya. Kedua bahunya bergetar, ia menangis tanpa suara.
Bimo sudah pergi meninggalkan Diana di ruang kerjanya. Entah pria itu pergi kemana yang jelas ia tidak akan pergi jauh mengingat jam istirahat akan segera berakhir.
Tubuh syok Diana tak sanggup lagi menopang tubuhnya. Ia berjalan gontai keluar dari ruangan mengabaikan mata yang terus tertuju padanya.
Yah mata yang di beri dari beberapa pekerja di kantor itu. Mereka cukup heran melihat kerapuhan Diana kali ini. Dimana wanita yang biasa suka berbicara lantang? dimana wanita yang selalu suka menindas orang lain meski pun pada suaminya sendiri?
Diana masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya. Matanya terus mengeluarkan bulir bening tanpa henti hingga terdengar sesenggukan yang tak bisa di tahan lagi.
"Kamu jahat, Pah. Kamu jahat kasar padaku. Kamu sudah tidak mencintaiku lagi, Pah. Kamu bohong dengan janjimu yang selalu mencintai ku." tangis Diana pecah hingga beberapa kali tangannya terus memukul stir mobil.
Kendaraan roda empat memecah keramaian jalan itu dengan kecepatan tinggi. Diana sudah tidak bisa mengontrol dirinya lagi. Pikirannya sudah berkelana jauh. Kesedihan, kekecewaan, ketakutan ia rasakan teramat dalam.
Lebih tepatnya pada ketakutan. Ketakutan jika sang suami ternyata berubah karena wanita lain. Itulah yang Diana tangkap saat ini.
Kendaraan roda empat kini tiba-tiba hilang kendali saat Diana merasa dadanya sangat sesak mengingat semua kenangan manisnya dengan sang suami.
Ia berteriak sekuat tenaganya saat kemarahan sudah tak sanggup lagi terbendung. Seketika itu juga teriakan syok dari bibir merah merekahnya terdengar kala mata indah yang tertutup buliran air bening menangkap samar-samar kendaraan melintas di depannya.
Mobil terperosok masuk ke bawah kendaraan bermuatan tinggi itu. Diana sudah terbawa masuk bersama dengan mobilnya.
Semua pengendara terhenti mendadak menyaksikan insiden mengerikkan itu. Pihak kepolisian langsung bertindak cepat. Mengamankan kembali pengguna jalanana dan menyelamatkan korban dari kedua kendaraan itu.
***
Jika di jalan tengah menghadapi insiden yang menegangkan, berbeda halnya dengan di dalam rumah milik Aldi.
Meisa terhibur begitu juga dengan Bu Nirmala karena kedatangan Naina, anak kecil manis dan menggemaskan itu membuat suasana rumah Aldi semakin hidup.
Wajah cantik bocah itu terus tak henti-hentinya membuat Meisa tertawa tiap kali bercerita tentang Daddy tampannya yang dulu begitu lucu seperti apa yang di ceritakan oleh Bu Rosa semasa kecil.
Aditya pria yang sangat nakal di sekolahnya, tak jarang ia membuat kepala Bu Rosa pening dengan kasus perkelahian yang selalu membuat Bu Rosa mendapatkan panggilan darj guru BK.
Meisa terhenti dengan tawanya saat melihat wajah Naina kembali diam merenung. Meisa dan Bu Nirmala saling bertatapan merasa ada yang aneh dengan ekspresi Naina saat ini.
"Sayang, Naina sedang memikirkan apa?" tanya Meisa lembut. Tangannya mengelus lembut kedua pipi chuby Naina.
Samar-samar Naina menceritakan tentang keadaan Aditya saat ini. "Tante Mei, Naina sedih karena Daddy sekarang jadi jarang ajak Naina bicara. Daddy lebih suka kunci kamarnya."
Meisa bisa merasakan kepedihan hati bocah kecil ini. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan Aditya. Mungkin, yah mungkin Meisa tahu apa penyebabnya. Yaitu kepergian sang istri tercintanya di saat dirinya sudah sadar dari koma.
Ada sosok wanita yang sangat ia nantikan untuk bisa ia lihat tersenyum di saat pertama kali membuka matanya, sayangnya hal itu tidak terjadi. Karena Meisa lah wanita yang ada di sana bersama Naina.
"Hey Naina sayang, Daddy Naina sedih karena tubuhnya belum kuat untuk bawa Naina main dan pergi kerja ke kantor. Naina tenang saja nanti Daddy Naina pasti segera ceria lagi dan tidak suka kunci kamar. Jangan sedih yah sayang." bujuk Meisa lembut.
Naina yang merasa tenang saat mendengar perkataan Meisa membuat segaris senyum tercetak di bibir pink mungil itu. Ia mengangguk pelan dan menerima pelukan dari Meisa.
Sungguh pelukan yang sudah lama ia inginkan, pelukan ketulusan yang bisa Naina rasakan ada pada diri Meisa wanita kedua selain Mommynya, Isyana.
"Tante Mei, nanti kalau ada adek bayi Tante Mei jangan lupain Naina yah." tuturnya penuh harap.
Bu Nirmala terus terkekeh mendengar diskusi keduanya itu. Sungguh ia sangat tidak sabar bisa mendapatkan cucu secepatnya.
"Tentu tidak sayang, nanti Naina bantu Tante Mei buat temanin adek bayinya main kan?" seru Meisa.
Naina lagi-lagi mengangguk setuju.
Langit di atas sana terlihat semakin berwarna, terlihat indah di sore hari. Naina masih enggan untuk pulang. Sudah berapa jam supir menunggu di depan rumah Aldi, namun Meisa masih tidak berhasil membujuk anak itu pulang.
"Mobil siapa ini?" Aldi merasa penasaran melihat satu mobil yang terparkir di depan rumahnya.
Ia turun dari mobil dengan wajah memar di beberapa bagian terlihat jelas. Meisa di dalam rumah tahu ini sudah waktunya suami tercintanya pulang.
"Yasudah Naina temani Tante Mei nunggu Om Aldi pulang yuk." ajaknya menggandeng tangan bocah itu keluar rumah.
Manik mata indah Meisa menangkap jelas pria yang baru saja ia sebut.
"Mas Aldi." Meisa panik melihat wajah suaminya padahal ia sangat ingin menyambut Aldi dengan hangat namun kekhawatirannya sudah mampu menguasai dirinya.
lanjut baca lagi lah
semangat thor 💪