Patah hati setelah memergoki kekasih yang begitu ia cintai berselingkuh di belakangnya, membuat Kanaya menyerah pada keadaan. Dengan hati yang masih terluka dan kecewa, ia akhirnya menerima perjodohan yang sejak lama telah direncanakan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria bernama Rafael. Seorang pria tampan namun dingin, tenang, dan sulit di tebak.
Bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah jalan pelarian untuk mengubur rasa sakit hatinya. Namun, siapa sangka dibalik sikap Rafael yang kaku dan tak perduli, tersimpan ketulusan yang perlahan mampu membuat hati Kanaya kembali percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor.H.y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Perintah Opa
Kanaya menghentikan langkahnya, menoleh perlahan saat sebuah tangan mencekal pergelangan tangannya.
Sentuhan itu tidak kasar, tetapi cukup kuat untuk membuatnya urung melangkah lebih jauh.
Ia mengangkat wajahnya, lalu mendengus kasar.
"Kamu.." ia menarik kasar tangannya. Hingga terlepas dari cekalan tangan Raditya.
"Kamu tega sama aku Nay. Kamu nggak mungkin secepat itu move on dari aku kan, kamu pasti di paksa sama orang tuamu kan." kata Raditya.
Kanaya tersenyum sinis, saat mendengar ucapan Raditya. "Heh.. Kamu pikir aku secinta mati itu sama kamu ? No !" tegas Kanaya.
"Sekarang aku udah move on," Kanaya mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan cincin di jari manisnya.
"Ini bukti, kalau aku sudah move on darimu. Lagian benar apa kata Daddy, kamu itu nggak lebih dari seorang pecundang dan penghianat."
Kanaya mengambil napasnya pelan, "Jadi, sekarang jangan sekali-kali kamu ganggu kehidupanku lagi. Kita sudah selesai !"
"Urus saja wanitamu itu."
Kanaya melangkah cepat, pergi meninggalkan Raditya.
Raditya menggeleng, ia masih tak terima dengan kenyataan ini. "Nay.. Tunggu.." serunya.
Raditya berjalan setengah berlari mencoba untuk menahan Kanaya. Namun, tiba-tiba dari arah samping Luna berlari menghadang langkahnya.
"Beb... Aku cari-cari dari tadi, ternyata malah disini sih,"
Raditya mengerang frustasi, saat Kanaya sudah tak lagi terlihat.
"Arghhh..." geramnya. Lalu menatap tajam Luna yang kini ada di depannya.
"Ini semua gara-gara kamu !" katanya dengan menunjuk muka Luna frustasi.
Luna mengernyitkan dahi, "Kok aku sih beb ?"
"Kanaya sekarang sudah menikah, jadi benar katanya. Kamu nggak usah lagi ganggu dia, lagian juga ada aku yang selalu ada buat kamu beb."
"Arghhh.. Terserah. Aku mau pergi, jangan ganggu aku sekarang !" serunya, membuat Luna sedikit terjingkat memundurkan badannya.
Raditya berbalik melangkah pergi meninggalkan Luna.
Luna menghentakkan kakinya dengan muka kesal menahan amarah. "Ck.. Ternyata sampai Kanaya sudah menikah pun kamu masih tetap saja memikirkannya. Tidak, ini tidak bisa. Kamu itu satu-satunya milikku dit." gumamnya pelan.
* *
Kanaya langsung menjatuhkan tubuhnya di kursi perpustakaan dengan napas panjang. Tas yang dibawanya diletakkan begitu saja di atas meja, sementara kepalanya disandarkan pada sandaran kursi.
Di seberangnya, Keisya yang sejak tadi tenggelam dalam buku bacaan refleks menutup bukunya pelan. Alisnya terangkat melihat wajah sahabatnya yang terlihat begitu masam.
"Mana jusnya ? Haus nih." kata Keisya pelan.
"Di kantin lah, ini kan perpustakaan. Mana boleh bawa makan dan minum."
"Kenapa beb, mukanya kok kusut gitu sih ?" tanyanya sambil menyandarkan dagu di telapak tangan.
"Kak Rafael buat kamu kesal ?"
Kanaya mendengus pelan.
"Nggak.."
"Terus ?"
Kanaya mengembuskan napas kasar.
"Tadi pas mau jalan kesini nggak sengaja ketemu Raditya. Bikin darah tinggi aja itu orang pagi-pagi gini."
Keisya terperangah, lalu menumpukan kedua tangannya di atas meja menatap sahabatnya. Seolah menuntut untuk bercerita lebih lanjut.
"Dia ganggu kamu lagi Nay ?" tanyanya, Kanaya mengangguk pelan.
"Dia nggak terima aku tinggal nikah sama sepupu kamu." lanjut Kanaya.
"Benar-benar ya tuh anak, udah salah bukannya minta maaf. Eh, malah lagaknya kaya orang nggak punya salah aja. Dia yang berkhianat, eh.. malah dia juga yang merasa di khianati." kata Keisya menimpali.
Keisya menghela napasnya sambil tersenyum penuh arti.
"Tapi.. Untungnya Tuhan sayang sama kamu. Terus, menunjukan belangnya Radit sebelum kamu melangkah lebih jauh lagi sama dia."
"Udah, nggak usah dipikirin lagi. Mending bantuin aku nih, biar cepet beres. Nanti aku traktir seblak level dower deh." rayu Keisya.
"Ck.. Bisa aja merayunya, ini bocah."
Mereka berdua kembali tertawa.
* *
"Baik.. Rapat siang ini cukup sampai disini. Setelah data selesai dibuat, bisa langsung setorkan pada saya langsung."
"Baik, Pak." jawab semua karyawan serentak.
Rafael lebih dulu beranjak dari kursinya, disusul dengan Andra di belakangnya.
Baru beberapa langkah, ponsel Rafael berdering. Ia melirik layar sekilas sebelum mengangkatnya.
"Ya... Opa,"
Suara berat namun penuh wibawa terdengar dari seberang sana.
"Rafael, kamu tidak lupa untuk mengajak Kanaya pulang kerumah kan ?"
Rafael melirik jam di pergelangan tangannya, "Iya, Opa. Ini juga masih siang."
""Hm." Sang kakek berdeham pelan. "Opa cuma mengingatkan saja. Biasanya kamu itu tidak terlalu mendengarkan ucapan Opa. Jadi, Opa menelponmu untuk memastikannya kembali.
Ya.. Rafael memang sering kali mengabaikan perkataan kakeknya kalau menurutnya itu tidak penting-penting banget. Apalagi kalau untuk datang kerumah besar, biasanya Opa Theo harus membuat drama dulu baru Rafael akan datang menemuinya.
Kali ini pun, mungkin ia akan melupakannya kalau Opa Theo tidak menelponnya lagi.
"Ya sudah, kalau begitu Opa tutup telponnya."
"Hm.."
Panggilan pun berakhir.
Rafael menurunkan ponselnya dan menatap layar yang kini telah gelap. Ia menoleh menatap Andra.
"Malam ini saya pulang cepat, jadi hari ini kamu tidak perlu lembur." katanya datar.
"Baik, Pak."
Rafael kembali menatap kedepan, dan masuk ke dalam ruangannya.
* *
"Sore, Den.." sapa Mbok Sum yang sedang menyirami bunga. Saat Rafael turun dari mobil.
"Sore." balasnya. "Kanaya dimana Mbok ?"
"Ada di atas Den, sepertinya di kamar."
Rafael mengangguk, lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Langsung menuju ke kamar Kanaya.
Di dalam kamar, Kanaya sedang mengerjakan tugas kuliahnya. Ia duduk di kursi belajar dengan tubuh sedikit membungkuk, jemarinya lincah menari di atas keyboard laptop. Tatapannya begitu fokus pada layar, sesekali berhenti untuk membaca referensi sebelum kembali mengetik.
Di sudut meja, segelas susu dingin dan beberapa camilan menemaninya.
Tak lupa, alunan musik DJ menggema di seluruh ruangan dari speaker kecil yang terhubung ke ponselnya. Irama elektronik yang menghentak justru menjadi teman favoritnya saat berpikir. Sesekali kepalanya mengangguk mengikuti beat, bahkan jemarinya ikut mengetuk meja tanpa sadar.
Suasana kamar terasa hidup meski hanya dihuni seorang diri. Lampu belajar memancarkan cahaya hangat, sementara tirai yang sedikit terbuka membiarkan angin malam masuk perlahan.
Kanaya mengembuskan napas pelan ketika akhirnya berhasil menyelesaikan satu bagian tugasnya. Senyum tipis terukir di wajahnya. Ia meraih gelas di samping laptop, menyesap isinya sebentar, lalu kembali menatap layar.
Namun beberapa detik kemudian, suara ketukan dari balik pintu nyaris tenggelam oleh dentuman musik yang memenuhi kamar, membuat Kanaya sama sekali tidak menyadari bahwa seseorang sedang berdiri di luar, menunggu pintu itu dibukakan.
Karena pintu tak kunjung terbuka, Rafael akhirnya menghela napas pelan. Tanpa banyak berpikir, ia memutar gagang pintu dan membukanya sendiri.
Klek..!
Baru selangkah masuk, alunan musik DJ dengan dentuman bass yang kuat langsung menyambutnya. Rafael spontan mengernyit dan mengangkat satu tangan menutupi telinganya.
"Astaga..." gumamnya pelan.
Pandangannya menyapu seluruh ruangan hingga berhenti pada sosok Kanaya yang masih duduk di depan laptop. Gadis itu sama sekali tidak menyadari kehadirannya. Kepalanya bergerak pelan mengikuti irama musik, sementara jemarinya tetap sibuk mengetik tanpa henti.
Rafael berjalan mendekat dengan langkah tenang. Setiap kali semakin dekat dengan speaker, dahinya semakin berkerut.
Ia meraih ponsel yang terhubung ke speaker, lalu menurunkan volumenya hingga hanya terdengar samar sebagai musik latar.
Barulah Kanaya tersentak.
Ia menoleh cepat dan membelalakkan mata saat melihat Rafael berdiri tepat di samping mejanya.
"Ya ampun!" serunya sambil melepas salah satu earbud yang ternyata masih terpasang di telinganya. "Sejak kapan kamu di sini?"
Rafael menghela napas panjang, lalu melirik speaker di sudut kamar.
"Sejak lima kali mengetuk pintu dan tidak ada yang menjawab."
Kanaya melirik pintu, lalu kembali menatap Rafael dengan senyum canggung.
"Hehe... Ya maaf, kebablasan."
Kanaya hanya terkekeh pelan sambil menutup laptopnya sebentar, menyadari bahwa ia memang terlalu larut dalam tugas dan musik kesukaannya.
"Ada apa kak ?" tanyanya, menatap Rafael penasaran.
"Kamu siap-siap sekarang, kita ke rumah Opa." perintahnya, "Dia mengajak kita untuk makan malam bersama."
Kanaya mengangguk, "Loh, tapi tadi Keisya kok nggak bilang apa-apa sama aku ya, soal makan malam." gumamnya.
Rafael hanya mengedikkan bahu, "Saya paling tidak suka orang yang lelet. Satu jam lagi saya tunggu di bawah." lirihnya, lalu berjalan kembali keluar dari kamar Kanaya.
Kanaya sedikit tersentak, "Eh.. Tapi..."
Belum sempat Kanaya menyelesaikan ucapannya, Rafael sudah tak terlihat lagi disana.
"Yang benar saja, mandi ku saja sudah satu jam sendiri. Hufft.. Mommy... Suami macam apa si yang kalian pilihkan buatku,"gerutu Kanaya, sembari berjalan gontai menuju kamar mandi.
* * * *
skrng psah kmar,tar lma2 jg dia dtng sndri.....🤭🤭🤭...
yg ngsih btas spa,yg lmpar bntal spa...
tp gengsi buat ngaku sih.....
Aku udh mmpir....slm knal....
btw,gmna nih mlm prtmanya???
bkln perang atw sling adu punggung???atw yg 1 tdr d rnjang,yg 1 d sofa....🤣🤣🤣