NovelToon NovelToon
DINIKAHI OM-OM KAYA KARENA UTANG AYAH

DINIKAHI OM-OM KAYA KARENA UTANG AYAH

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Siska bbt644

Ayahku punya utang 500 juta. Aku dipaksa nikah sama om-om 40 tahun buat lunasin. Malam pertama dia malah tidur di sofa. Ternyata dia simpan foto mantan istri yang mirip aku. Siapa wanita itu? Kenapa dia mati? Dan kenapa om itu takut aku hamil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska bbt644, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: EPILOG - DUA GARIS BIRU

1 Bulan Kemudian. Jakarta. Penthouse Pratama Group.

"MAS ARGA! MAS! BANGUN!"

Jam 5 pagi, gue jingkrak-jingkrak di kasur sambil kibas-kibasin testpack ke muka Mas Arga yang masih merem. Selimutnya melorot, keliatan dada bidang penuh bekas cakaran gue semalem. Dia baru "menang perang" ronde kelima jam 2 pagi.

Dia ngedumel, narik guling nutup muka. "Sayang... masih jam 5... perang ronde keenam nanti aja abis subuh... Mas ngantuk... Mas capek..."

"MAS INI BUKAN SOAL PERANG!" Aku jewer kupingnya kenceng. "LIAT INI! BUKA MATA!"

Mas Arga akhirnya buka satu mata, ngantuk berat. Ngeliat testpack di tangan gue. Ngeliat dua garis biru teges banget. Kayak spidol permanen. Kayak digambar pake penggaris.

Dia diem. 1 detik. 2 detik. 3 detik. Matanya yang tadinya sayu langsung melek sempurna. Napasnya berhenti. Badannya kaku.

"Sayang," suaranya serak, pelan, kayak orang kesurupan. "Ini... ini beneran? Atau Mas masih mimpi?"

Gue nangis. Angguk-angguk kenceng sampe kepala pusing. "Iya, Mas! Beneran! Aku telat 2 minggu! Tadi iseng tes jam 4 pagi! Eh... dua! Dua garisnya, Mas! Biru! TEGES!"

Mas Arga ngerebut testpack dari tangan gue. Diperhatiin deket-deket. Dibolak-balik. Diliat di bawah lampu. Kayak detektif forensik. Tangan dia... gemeteran. Arga Pratama. CEO psikopat. Pembunuh mental Rendra. Pembakar saham. Gemeteran cuma karena plastik kecil 2 garis biru.

Terus... dia ngangkat muka. Matanya merah. Basah. Bibirnya bergetar.

Dan... dia nangis.

Beneran nangis. Bukan nangis ngedrama sinetron. Tapi air matanya jatoh. Satu. Dua. Tiga. Netes ke testpack. Netes ke sprei. Cowok 35 tahun, tinggi 185, badan kotak, yang nampar Rendra di bandara tanpa kedip, yang ngancem bakar server internet... nangis kayak anak kecil ilang ibunya.

"Mas?" Aku panik, megang pipinya. Basah. "Mas kenapa? Mas nggak seneng? Mas nggak mau punya anak?"

Dia narik gue ke pelukannya. Kenceng banget. Sampe tulang rusuk gue bunyi kretek. Mukanya nyumput di leherku. Bahunya geter hebat. Napasnya panas di kulitku.

"Seneng, Sayang," bisiknya, suaranya ancur, sember, kayak radio rusak. "Seneng banget sampe Mas takut ini mimpi. Mas takut bangun-bangun lo nggak ada di sebelah. Mas takut ini cuma halusinasi karena Mas kurang tidur. Mas takut Tuhan ngasih harapan palsu."

Gue bales meluk, nangis juga. Nangis bahagia. "Ini beneran, Mas. Sumpah beneran. Aku beneran hamil. Anak kita. Anak Mas Arga sama Siska. Darah daging Mas. Darah daging aku."

Dia lepasin pelukan, pegang pipiku pake dua tangan. Kasar tapi lembut. Jempolnya ngusap air mataku yang ngalir deras. "5 tahun, Sis. 5 tahun Mas ngubur mimpi punya keluarga. Pas Alina keguguran di bulan ke-4, terus dokter bilang rahimnya rusak nggak bisa hamil lagi, Mas pikir Mas nggak bakal punya keturunan. Mas pikir Mas dikutuk karena dulu jahat. Terus Alina meninggal. Mas makin yakin Mas nggak pantes jadi bapak."

Dia ketawa di sela nangis. Nangisnya makin kenceng. "Terus... lo dateng. Anak kos utangan 500 juta. Lo nikahin Mas. Lo sayang Mas. Lo... lo hamil. Anak Mas. Anjir, Mas Arga nangis. Mas Arga ceng."

"Elang udah liat, Tuan."

KITA NOLEH KAGET. Elang berdiri di pintu kamar, megang nampan sarapan. Senyum lebar sampe kuping, mata berkaca-kaca. Di belakangnya ada 10 bodyguard, pada ngintip, pada senyum-senyum, pada ngerekam diam-diam.

Mas Arga nggak marah. Nggak malu. Dia malah ngelap air mata pake punggung tangan, terus ngacungin testpack ke atas kayak piala dunia. "Elang! Gue mau jadi bapak! Catet! Kasih bonus semua karyawan Pratama Group 10x gaji! Dari OB sampe direksi! Hari ini! Transfer sekarang!"

"SIAP, TUAN!" Elang hormat, suaranya bergetar juga. "SELAMAT, TUAN! SELAMAT, NYONYA! AKHIRNYA!"

Bodyguard pada tepuk tangan, pada sujud syukur. "SELAMAT PAK! SELAMAT BU! SEMOGA SEHAT! SEMOGA KEMBAR!"

Gue tutup muka pake bantal. Malu banget. Sekantor tau. Tapi Mas Arga malah bangga. Dia turun dari ranjang, gendong gue, muter-muter di kamar sambil teriak. "DENGER YA DUNIA! ISTRI GUE HAMIL! ANAK GUE! ARGA PRATAMA JR! CALON PENERUS KERAJAAN!"

"MAS! TURUNIN! MUAL! PUSING!" Aku jambak rambutnya, napas ngos-ngosan. "Baru 5 minggu, Mas! Ukurannya masih kayak biji kacang ijo! Jangan dibanting-banting!"

Dia langsung berhenti, panik, nurunin gue pelan-pelan ke ranjang kayak nurunin bom nuklir. "Iya, iya, maaf, Sayang. Pelan-pelan. Jangan stres. Jangan capek." Dia jongkok, nempelin kuping ke perutku yang masih rata, datar, nggak ada tonjolan. "Halo, Dek? Ini Papa. Denger nggak? Papa sayang banget sama kamu. Sama Mama kamu. Jangan nakal ya di dalem. Jangan bikin Mama muntah-muntah tiap pagi. Kasihan Mama. Papa kasih mobil kalo kamu anteng."

Gue nangis lagi. Cengeng tingkat dewa. "Mas, dia masih biji selasih, Mas. Belum ada kuping. Belum denger."

"Biarin," katanya, nggak mau lepasin kuping dari perutku. "Papa mau ngomong dari sekarang. Biar dia tau, dia ditunggu 5 tahun. Biar dia tau, dia anak paling diinginkan di dunia ini."

---

Siangnya, Mas Arga cancel semua meeting, semua video call, semua tender miliaran. Dia nyetir sendiri Alphard ke RS Pondok Indah. Nggak mau pake supir. Nggak mau pake bodyguard. "Ini urusan keluarga. Pribadi. Sakral."

Di RS, dia gandeng tangan gue terus. Erat. Basah karena keringetan. Dari pendaftaran, cek darah, cek urin, sampe USG. Pas dokter bilang, "Selamat Pak, Bu. Positif hamil 5 minggu 3 hari. Kantong janinnya bagus, di tengah, sehat. Detak jantungnya udah ada walau masih lemah," Mas Arga nangis lagi. Di dalem ruang USG. Dokternya sampe panik ngasih tisu satu box.

Keluar RS, dia langsung telepon. Pertama Mama mertua. "Ma? Ini Arga. Mama mau jadi nenek."

Dari speaker kedengeran Mama mertua jerit-jerit kayak ketemu BTS. "YA ALLAH! BENERAN, NAK?! ALHAMDULILLAH! MAMA KE JAKARTA SEKARANG! MAMA MAU SUAPIN SISKA! MAMA MAU MASAKIN SAYUR ASEM! MAMA MAU NGUYEL-NGUYEL PERUTNYA!"

Terus telepon Papa mertua. "Pa? Papi mau jadi kakek."

Papi yang biasanya kaku, dingin, suara bass, langsung nangis sesenggukan. "Papa... Papa bersyukur, Ga. Papa ke Jakarta sekarang, Ga. Papa mau azanin cucunya nanti lahir. Papa mau ngajarin ngaji."

---

Malamnya, di penthouse lantai 67, Mas Arga nggak mau "perang". Padahal biasanya jam 9 malem udah mulai ronde pertama. Katanya takut kenapa-napa sama dedek bayi. Dia cuma meluk gue dari belakang, tangannya nggak lepas dari perutku. Ngelus-ngelus pelan. Posisi sendokan.

"Mas," bisikku. "Katanya mau bikin anak biar Rendra stroke. Sekarang udah hamil beneran, kok Mas malah kalem? Nggak nafsu?"

Dia nyium bahuku, terus tengkukku. Lama. "Soalnya sekarang Mas sadar. Anak ini bukan buat balas dendam ke Rendra. Bukan buat pamer ke dunia. Anak ini... anugerah. Hadiah dari Tuhan karena Mas udah tobat. Karena Mas udah jaga lo bener-bener. Karena Mas udah belajar cinta lagi."

Dia muterin badan gue, nyium keningku. Lama banget. Kayak nyegel. "Makasih ya, Sayang. Makasih udah milih Mas yang rusak ini. Makasih udah bertahan pas Mas jahat. Makasih udah hamil anak Mas. Makasih udah kasih Mas alasan buat hidup lagi."

"Yang ketiga belas," bisikku, nyium jakun dia.

Dia ketawa kecil, geterannya kerasa di dada gue. "Iya. Tapi mulai sekarang, 'Sayang'-nya nggak ada jatah. Nggak ada limit. Nggak ada reset jam 12 malem. Seumur hidup. Buat lo. Sama buat anak kita. Gratis. Unlimited."

Gue meluk dia, denger detak jantungnya. Sama, stabil, tenang, damai. Nggak kayak dulu yang kayak genderang perang. Nggak kayak dulu yang detaknya cepet karena marah terus.

Di luar, Jakarta gemerlap. Lampu-lampu kayak bintang. Di penjara Nusakambangan, Rendra busuk sama tikus. Di penjara Pondok Bambu, Clarissa nangis tiap malem. Di penjara Cipinang, Dimas dihajar napi lain. Di surga, Alina mungkin senyum, tenang, karena Mas Arga udah bahagia.

Dan di sini, di pelukan Mas Arga, di kasur king size, ada gue. Ada biji selasih umur 5 minggu 3 hari. Ada keluarga. Ada masa depan.

Dongengnya nggak cuma happy ending. Tapi happy beginning. Karena hidup kita baru aja dimulai. Berdua. Terus bertiga. Terus... mungkin berempat, berlima kalo Mas Arga maksa.

Dan Mas Arga? Dia udah nggak jadi CEO dingin lagi. Dia udah nggak jadi suami psikopat lagi. Dia udah jadi Papa. Papa bucin. Papa siaga. Papa yang tiap malem ngecek gue tidur ngorok apa enggak. Papa yang bakal bakar dunia lagi kalo ada yang berani bikin anaknya nangis.

Selesai? Belum. Masih ada satu bab lagi. Bab terakhir. 5 tahun kemudian. Bab 20. Tamat.

1
Erniati Filiang
apaan sih ceritanya kok lama banget
Siska bbt644: Aduh Kak Erniati maaf banget bikin nunggu lama 😭🙏
Maya janji gak ngaret lagi. Bab 4 udah maya tulis,
malam ini jam 8 Maya up langsung.
Rahasia Kamar 301 dibongkar semua di bab 4 Kak.
Jangan kabur ya Kak, makasih udah setia baca ❤️
total 1 replies
Bundanya Rayfin
harusnya jgn terlalu lancang siska
Siska bbt644: Iya Bun 😭Maya emang keceplosan karena panik.
Doain ya Bun biar Maya gak lancang lagi di bab depan.
Makasih udah sayang sama Maya ❤️ Sehat2 Bunda & Rayfin
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!