Itu bukan kesalahan ku, kenapa aku harus menanggungnya? ~Anggi
Aku gak mau tau!! kita menikah secepatnya, setelah kekasihku sembuh aku akan menceraikan mu. ~Arbi
Ini Pernikahan Bapak?? bukan sebuah permainan atau lelucon belaka....
Hai, namaku Anggi....aku terjebak dalam sebuah ikatan pernikahan yang tak pernah aku impikan sebelum, menikah dengan Dosenku sendiri.
Arbian, tampan dan kaya itu Adalah Dosenku..Kami menikah bukan karena perjodohan, bukan pula karena kesalahan satu malam, ataupun saling cinta.
Tapi.....ah sudahlah ikuti saja kisahku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aulina alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusann
Setelah mengantarkan Bunda ke kamar, Gadis cantik itu segera menuju ke kamarnya. Kamar yang tidak begitu besar tetapi sangat nyaman untuk nya.
Anggi merebahkan tubuhnya di kasur, malam ini ia tidak ada niatan untuk mandi atau pun berendam seperti yang ia lakukan saat tubuhnya lelah.
Gadis itu melihat ke atas, menatap langit langit kamarnya. Sungguh ia bingung berada di posisi saat ini. Apalagi mendengar cerita dari Bunda nya barusan.
"Aku gak tau apa yang akan aku lakukan. Aku bingung."
Anggi menggeleng, tersirat keinginan nya untuk menghubungi sahabat Dito, namun akhirnya ia urungkan.
Anggi yakin jika laki laki sahabat itu pasti bisa dan mampu membantunya, bahkan sebelum ia meminta Dito sudah menawarkan terlebih dahulu.
"Tidak, aku tidak mau merepotkan dia lagi, sudah banyak yang dia bantu dan mungkin aku tidak sanggup lagi untuk mengembalikannya."
Anggi terdiam lagi, bahkan kepala nya kali ini sudah pusing dan mau pecah, bukan hanya urusan kuliahnya, tetapi ia juga harus mencari uang untuk melunasi hutang Ayahnya.
"Bagaimana caranya aku mendapat kan uang itu, dan melunasi hutang hutang Ayah? sedangkan aku sendiri harus mencari biaya kuliah juga."
"Ah...uang sebanyak itu, dalam waktu seminggu??"
Anggi meremas rambut nya sendiri, malam ini ia benar-benar dibuat pusing dengan keadaan dirinya.
"Ya Tuhan, aku mohon ini hanyalah mimpi, dan setelah aku bangun, semua tidak akan menjadi nyata."
Anggi masih bermonolog dengan dirinya sendiri, yang pertama ia pikirkan adalah kesehatan Bunda nya, dan Ruko ini tentunya.
Ia masih mengingat ucapan Bunda nya, jika dalam waktu seminggu tidak membayar lunas, maka Ruko ini akan menjadi milik rentenir itu.
"Tidak aku tidak mau kalau rumah yang aku tempati ini diambil oleh nya, lalu bagaimana dengan Bunda?? mendengar berita ini saja, Bunda sudah sok, apalagi kalau sampai Ruko ini diambil."
"Oh Tuhan berikan pertunjuk mu."
Lama Anggi berpikir, yang ada di pikirannya sekarang hanya lah Arbi.
"Astaga....kenapa aku bisa berpikiran tentang laki laki sombong itu?"
Anggi menggeleng lagi, pikiran nya seakan menyuruh untuk menerima tawaran Arbi, agar ia dapat terbebas dari semuanya, terutama dari hutang rentenir itu dan dapat membahagiakan Bunda nya.
Tetapi di satu sisi, Anggi juga takut untuk melangkah bersama dengan Arbi. Bukan hanya Arbi saja, lalu bagaimana dengan kedua orang tua Arbi?? apakah mereka mau menerima nya menjadi bagian dari keluarga Atmajaya dengan status Anggi yang hanya dari keluarga biasa saja. Walaupun itu hanya pura pura, tapi Anggi tetap saja memikirkan nya.
Anggi menghela nafas panjang, ia sudah berpikir matang matang dan mempertimbangkan semuanya ini, tentunya dengan sebaik baiknya.
"Bismillah semoga keputusan ku ini terbaik untuk semuanya, terutama untuk Bunda."
Anggi sudah pasrah, malam ini ia akan mengirimkan pesan kepada Arbi, yang memang sengaja laki laki itu meninggalkan kartu nama di dalam buku Anggi.
Semua yang Anggi lakukan hanya semata mata karena Bunda nya, bukan karena ia mencintai Arbi atau ingin mendapatkan semuanya. Apalagi Anggi mengingat ucapan Arbi tadi siang kalau Arbi tidak akan menyentuh nya selama pernikahan pura pura ini dilakukan.
"Oke fine....."
Anggi mengambil ponselnya, ia melirik jam yang terpasang di dinding kamarnya, rasanya untuk menelpon sudah tidak pantas walaupun masih begitu malam.
Hingga Anggi putuskan untuk mengirimkan pesan kepada Arbi.
[Maaf mengganggu. Bisakah besok kita bertemu Pak? sekitar jam 9 pagi, di Cafe xxx]~ Anggi.
Anggi nampak ragu ragu untuk mengirimkan pesan itu, antara iya dan tidak. Namun sekelebat bayangan Bunda dengan senyum yang mengembang membuat Anggi memantapkan hatinya dengan keputusan yang barusan ia ambil.
Send
Akhirnya tangan Anggi menuntun untuk mengirim pesan kepada Arbi. Kali ini ia berharap Arbi akan membantunya, dan hanya Arbi harapan satu satunya.
********
Kantor Atmajaya
Kedua laki laki tampan dan terlihat seumuran itu masih berada di kantor.
Yah sepulang dari bertemu Anggi tadi, Arbi langsung ke kantor dan ia memilih untuk lembur malam ini. Memilih untuk berteman dengan setumpukan berkas yang tidak akan pernah ada habisnya itu daripada memikirkan tentang nasibnya lusa.
Arbi merasa kecewa, bahkan ia tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh gadis cantik tadi.
Padahal Arbi sudah menawarkan semua yang sangat menguntungkan untuk Anggi, namun gadis itu menolak mentah-mentah.
Hingga akhirnya, Arbi sudah pasrah dengan apa yang akan diputuskan oleh Mami nya nanti.
"Pulang lah Ar?? sudah malam?"
Ucap Bayu yang melihat bos sekaligus teman nya itu masih berkutat dengan pekerjaan, padahal berkas yang di sentuh Arbi itu tidak lah penting dan bisa dikerjakan besok besok.
"Apa ucapan gue tadi salah? atau penawaran yang gue berikan kurang?"
Arbi malahan memberikan pertanyaan kepada Bayu, yang membuat Bayu menggelengkan kepalanya.
Bayu tersenyum, ingin rasanya ia mengatakan kalau semua yang diucapkan nya adalah salah besar, tetapi Bayu tidak berani berucap seperti itu, apalagi dengan kondisi Arbi yang tidak baik baik saja.
"Lo tidak salah, mungkin cara penyampaian lo saja yang kurang tepat."
Arbi mengangguk, ia juga berpikir seperti apa yang ada di pikiran teman nya itu.
"Gue juga berpikiran seperti itu. Tetapi itu tulus dalam hati gue, dan memang kenyataannya yang akan terjadi, jadi gue tekankan didepan dengan jelas."
"Ya ya.... lo benar dan siap siap saja lusa Mami akan memilih kan satu wanita yang membuat kamu pusing. Dan siap siap saja kamu akan kehilangan Sasa selamanya."..
Ujar Bayu dengan sedikit mengancam, ia sebenarnya tidak mau melakukan ini, tetapi melihat temannya yang biasa biasa yang saja, ia tidak akan tinggal diam.
"Lagian Ar, gue kira tuh cewek memang tepat buat lo, terlepas lo cinta atau enggak. Karena gue denger denger, Mami mau jodohin kamu dengan anak Pak Seno yang centil dan norak itu, juga sedikit pemaksa. Sepertinya juga dia bukan wanita yang baik baik dan licik tentunya."
Brakkk
Arbi menggebrak mejanya, ia begitu kaget mendengar ucapan dari Bayu.
"Kenapa lo gak cerita kalau wanita itu yang akan dijodohkan dengan gue??"
"Ah..... seandainya gue ketemu Anggi lagi, gue akan meminta maaf dan meminta baik baik supaya ia mau memainkan sandiwara ini."
Sambung Arbi lagi, entah itu termasuk sebuah penjelasan ataupun tidak, yang jelas dari pada kawin ma pilihan Mami yang tidak banget itu, ia lebih memilih untuk memohon kepada Anggi, karena sudah tau banyak tentang gadis itu.
Lama Arbi dan Bayu saling diam, mereka sama sama tidak tau apa yang akan diucapkan dan dipikirkan.
Hingga sebuah pesan masuk kedalam ponsel Arbi dan membuat laki laki itu tersenyum seketika.
ASATAGAAA NGAPAIN JUGA DUA TAHUN,
RADA" LAH OTAKMU THOR .
rada" otakmu Thor😪