"Bukankah poligami itu sunnah, kamu orang yang taat agama kan pasti juga tahu, apa kamu tidak ingin menjalankan sunnah yang satu ini?" ujar Ita pada sang suami
Ammar awalnya hanya ingin menolong seorang wanita namun sebuah kejadian yang tak terduga membuat orang lain salah paham dan bahkan istrinya sendiri tak mempercayainya
Bukan, bukan karena sepenuhnya kejadian itu yang membuat Ammar menikah lagi, tapi juga karena rumitnya rumah tangga yang saat ini ia jalankan bersama istri pertamanya karena sang istri masih terbelenggu oleh masa lalunya
"Kalian hanya ingin bermain rumah-rumahan kan, ok saya akan temani kalian bermain" ujar Zofa lantang
Namun ketika Zofa telah memasuki rumah tangga Ammar dan Ita maka saat itu pula hati Ita berubah, terombang-ambing mengikuti arus permainan. Dan kini Ita baru menyadari bahwa ia telah menaruh hati pada suaminya sendiri
____
Hay semua Jan lupa mampir ke novel saya ya, jika sudah mampir tolong tinggalkan jejak kalian baik berupa like, comment maupun vote, thanks a lot guys, ala kuli sukri askuruki
follow ig 👉 habr_zayf
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AFI_18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengagumi Ciptaan Allah
"Heem"
"Heem"
Zofa dan Rara menelan ludahnya dengan susah payah, perlahan mereka membalikkan badannya dan
Uukkkhhhhh
"Mas" gumam Rara lirih ia sungguh terkejut, sedangkan Zofa bernafas lega karena dua pria ini orang yang ia kenal, coba kalau bukan pasti di tuduh mengintip para santri
"Bukankah kamu sudah tahu hukumnya apa?" tanya Azril dingin, wajahnya terlihat marah bercampur cemburu yang luar biasa kala mendapati istrinya mengagumi pria lain
"Maaf mas aku khilaf, lagian kan gak memandang dengan nafsu hanya sekedar mengagumi ciptaan Allah" ujar Rara sembari menunduk, ia menyenggol lengan Zofa meminta agar ia ikut angkat bicara
Zofa yang bingung akhirnya bertanya "Emang salah ya?" dengan polosnya
"Lagian kan gak nyentuh" lanjutnya
Ammar mengusap wajahnya kasar, ntah kenapa hatinya sedikit merasa tak rela kala mendengar istrinya memuji pria lain, bahkan tadi istrinya sempat membandingkannya dengan pria lain, namun Ammar tetaplah Ammar yang tak bisa mengungkapkan isi hatinya
"Nanti kita shalat taubat kan ra" ujar Zofa yang memecah keheningan karena hanya ada tatapan tajam dari Azril pada Rara serta tatapan kekecewaan dari Ammar untuknya
Rara mengangguk "Iya mas kak nanti kita berdua shalat taubat kok tenang aja, Allah kan maha pengampun lagi maha pemaaf" ujar Rara
"Kalian berdua.... pergi ke ndalem, jangan di ulangi lagi" ujar Ammar dengan sabarnya
"Apaan ndalem ra?" bisik Zofa
"Rumah kakek, ayo buruan"
***
"Kenapa belum tidur?" tanya Ammar yang ikut duduk di samping Zofa meski ada jarak diantara mereka
Zofa hanya melirik Ammar sekilas kemudian fokus menatap langit lagi
"Kamu nyambung ya sama Rara" ujar Ammar
"Heem, mungkin karena seumuran, orangnya gak mandang status, dan yang lebih penting gak peduli aku ini siapa, sekalipun istri kedua dari kakak iparnya" ujar Zelin yang pandangan menuju ke kolam ikan
Ammar tersenyum "Syukurlah"
"Lain kali jangan di ulangi lagi" lanjutnya
"Apa?" tanya Zofa bingung
"Yang tadi di dekat masjid"
"Oh"
Lama mereka berdua terdiam dengan pikirannya masing-masing akhirnya Zofa mengeluarkan kata-kata nya
"Allah kan Maha Pemaaf dan Maha Pengampun tuh, kalau gitu bisa dong kita melakukan banyak dosa dan melakukan banyak maksiat, terus nanti kita tinggal bertaubat deh gampang kan, daripada capek-capek berbuat baik terus" ujar Zofa
Ammar tersenyum mendengar ucapan Zofa "Kau benar Allah itu Maha Pemaaf dan Maha Pengampun"
"Tapi jangan lupa bahwa Allah juga Maha Adil"
Zofa terdiam mendengar serta mencerna ucapan suaminya
"Udah malam ayo ke kamar, tidur biar besok gak susah dibanguninnya"
"Mmmm kamu duluan aja tidurnya" ujar Zofa
"Ini hanya alasan kamu kan biar kamu bisa tidur di ruang tamu" ujar Ammar yang dapat membaca pikiran Zofa
Yups lusa kemarin diam-diam Zofa tidur diruang tamu kala Ammar sudah tertidur pulas, pukul dua pagi Ammar terbangun namun ia tak mendapati istrinya disampingnya ia keluar kamar dan akhirnya mendapati Zofa yang tergeletak di sofa ruang tamu dengan guling dalam dekapannya, Ammar membopong tubuh Zofa dengan hati-hati agar tak mengusik mimpi wanita tersebut
"Gak, siapa juga yang mau tidur di ruang tamu" elak Zofa
"Oh bukan ya, berarti kalau gitu ini alasan kamu agar saya dapat menggendong tubuh kamu lagi dan mengangkatnya ke kamar" ledek Ammar
"Iya iya ayo tidur suamiku" ujar Zofa sembari tersenyum manis, kemudian ia mengalihkan pandangannya dan secepat kilat ekspresi itu berubah menjadi kesal "Nyebelin banget sih" batinnya
Zofa berjalan memasuki rumah dari pintu belakang, diikuti Ammar yang mengekor di belakang
"Aku lapar mau makan dulu, kamu duluan ke kamar ya" pinta Zofa yang berubah haluan menuju dapur
"Kamu....."
"Aku gak beralasan apapun, beneran pingin makan roti tawar selai coklat bentar doang, tunggu di kamar ya" ujar Zofa, nadanya terdengar lembut tidak biasanya hingga membuat Ammar merasa aneh
Ammar mengangguk setuju, akhirnya ia pergi duluan ke kamar
Zofa berubah pikiran kala melihat beberapa mie instan yang berjejer di rak, tentu saja ia yang beli karena keluarga ini nampaknya tak mengonsumsi makanan seperti ini
Ia mengambil panci dan akhirnya merebus mie serta menggoreng telur oseng-oseng
"Bacaannya mie goreng tapi di rebus" gumamnya sembari menggelengkan kepalanya
Setelah matang ia mencampur bumbu menyajikannya di piring dan menaburi telur oseng-oseng
"Hmmmm aromanya bikin lapar" Zofa menghirup aroma mie instan yang begitu menggunggah selera
"Katanya cuma sebentar"
"Eh buset lu jalan apa melayang gak ada suara sama sekali" pekik Zofa terkejut
Ammar ikut mendudukkan dirinya di hadapan Zofa, ia melirik ke arah Zofa yang siap menggarpui mienya
"Mmmm enak banget" ujar Zofa sumringah, namun benda hidup yang ada di hadapannya ini sungguh mengganggunya
"Kamu mau?" tanya Zofa meski tak ikhlas
Ammar menggeleng "Itu gak sehat, jangan sering-sering makan mie instan" tegurnya
Zofa memonyongkan bibirnya sembari ia gerakkan tak jelas seakan-akan mengejek Ammar, setelah puas ia memasukkan mie kedalam mulutnya lagi
"Kamu tunggu di kamar ih ngapain di sini" ujar Zofa yang merasa risih akan kehadiran Ammar, pasalnya ia juga tak enak makan sendiri dan hanya dipandangi orang lain
"Nunggu kamu yang katanya makan roti tawar dengan selai coklat yang hanya sebentar" sindir Ammar halus
"Issss nyebelin" gerutu Zofa
"Bener gak mau, ini enak lo" tawar Zofa lagi
"Apa enaknya, itu gak baik buat tubuh" ujar Ammar
"Enak kok, nih cobain" ujar Zofa tak terima mienya di hina, ia menyodorkan garpu dengan lilitan mie
Ammar menatap wajah Zofa "Ayo cobain" ujar Zofa kala Ammar belum membuka mulutnya
Ammar membisikkan sebuah doa kemudian perlahan Ammar membuka mulutnya, menerima suapan dari Zofa, ntah apa yang Ammar pikirkan hingga ia mau memakan mie instan, padahal biasanya ia selalu menolak karena memang sedari kecil sudah dilarang oleh uminya
"Gimana enakkan?" tanya Zofa
"Biasa aja" ujar Ammar kala mie itu sudah ia telan
"Issss lidah kampungan" gerutu Zofa, ehh tunggu dulu bukannya lidah ku juga kampungan ya batin Zofa
"Alhamdulillah kenyang" ujar Zofa kala perut dan lidahnya merasa puas
"Mau pinjam tangan saya untuk di jadikan lap lagi" tawar Ammar
Zofa menatap Ammar tajam "Gak perlu" ia buru-buru mengambil tisu dan mengusapkannya pada bibirnya
"Sekarang makan roti tawar selai coklat ah" ujarnya yang mulai berdiri mencari roti
Ammar menghembuskan nafasnya, nampaknya Zofa sedang mengerjainya
"Sini biar saya yang buat, kamu cuci piring aja, biar nanti bisa langsung ke kamar" ujar Ammar yang mengambil alih roti dan selain coklat
"Ya ya ah elah gak sabaran banget sih pingin tidur berduaan sama aku"
"Kalau iya memang kenapa"
"Oh kalau begitu haruskah kita melalui malam panjang penuh gairah" ujar Zofa yang mencondongkan tubuhnya ke hadapan Ammar
Deg
***
Jan lupa like comment and klik favorit, thank for your reading, see you on the next episode byeeee 👋