NovelToon NovelToon
Trauma

Trauma

Status: tamat
Genre:Teen / Romansa-Teen school / Tamat
Popularitas:20.3k
Nilai: 5
Nama Author: Pyrus

Sebuah cerita yang mengisahkan tentang seorang remaja yang kehilangan orang - orang yang disayanginya. Tidak ada unsur adegan dewasa.

Seorang pemudi yang trauma akan kehilangan orang tua dan orang yang dicintainya karena sebuah tragedi kecelakaan.

Nisa yang dulunya ceria sekarang menjadi dingin semenjak kecelakaan yang terjadi padanya. Sebagai penyebab kedua orang tuanya meninggal.

Berkat kehadiran temannya, Lana dan ketiga pemuda yang bersabat yaitu Aldi, Deni dan Faiz. Nisa mencoba untuk kembali ceria seperti dulu dan kehidupannya menjadi berwarna kembali.

Namun sebuah kecelakaan merenggut kembali seseorang yang Nisa cintai. Dunia Nisa seakan hancur kembali setelah pulih. Pelangi telah kehilangan satu warnanya. Membuat hari hari Nisa yang hangat kembali hampa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pyrus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hitam Putih

Sekarang Adel tidak tahu lagi harus dengan cara apa dia bisa mengambil kepercayaan Faiz kembali. Terlebih Faiz yang mengetahui rencananya kemarin, yang gagal gara – gara Angga. Sekarang ditambah dia harus mengikuti kemauan Angga.

Hanya Linda, satu – satunya orang yang mendukungnya saat ini.

“Pertama kita harus buat dia jauh dari Aldi dulu Del. Kita ngga akan bisa ngapa – ngapain kalo tiap kali berangkat dan pulang sama Aldi terus.” Kata Linda.

Serasa sudah tidak ada celah buat Linda untuk mendekati Aldi lagi. Aldi yang memang sudah tidak mengizinkan hatinya dimasuki Linda, kini semakin tidak mungkin untuk diraih apalagi membukanya kembali. Sungguh sulit.

“Karena gadis itu, kini aku semakin tidak ada lagi harapan untuk bersama Aldi.” Kata Linda kembali.

***

“Sayang… besok undang Aldi, Deni, Lana sama pacar kamu ya buat makan malam.” Pinta Mamah pada Faiz yang baru pulang dari seklahnya.

“Tumben mamah undang mereka.” Jawab Faiz sambil mencium pipi mamahnya yang asyik menonton sinetron di Tv.

“Wah, anak mamah udah lupa besok hari apa ya?” Mamahnya merajuk.

Faiz pura – pura tak mengingatnya dan mencium pipi mamahnya kembali sambil tertawa menuju ke kamarnya. “Oh iya ga usah undang Adel ya mah.”

“Kenapa memangnya Iz?” teriak mamahnya.

Faiz meneruskan langkahnya, tak menjawab pertanyaan mamahnya.

“Gue mau ngasih mamah apa ya. Ngga paham lagi gue yang dimauin cewek. Kan dulu Adel yang nemenin beli dan milihin kado buat mamah.” Gumam Faiz sambil merebahkan tubuhnya yang capek dari aktivitas sekolahnya tadi.

Seketika yang terlintas dalam pikirannya adalah Nisa. Tak ada salahnya dia untuk meminta tolong ke Nisa. Toh dia juga temennya Lana, biar sekalian dia undang juga untuk menggantikan Adel.

Faiz mengeluarkan ponsel dari saku celana sekolahnya dan mengirim pesan kepada Nisa.

Faiz :

Hayy Niss….

Gimana kabarmu…

Gue boleh minta tolong ngga?.....

Itu adalah typing yang entah keberapa. Dia ketik lalu hapus, ketik lagi hapus lagi, bingung mau mengatakannya seperti apa. Alih - alih takut Nisa menolak permintaan tolongnya. Dia gengsi saja untuk meminta tolong. Namun kalau tidak Nisa, harus siapa lagi? Semenjak pacaran dengan Adel, tak pernah sekalipun dia berteman dengan perempuan lain.

Demi mamahnya, Faiz akhirnya menghubungi Nisa. Hp nya diletakkan mendekat sejajar dengan telinganya, menunggu seseorang di seberang telepon mengangkatnya. Namun panggilan pertama tak diangkat oleh Nisa.

Di tempat lain, Nisa yang mendapat panggilan dari Faiz merasa terkejut. Jantungnya rasanya mau copot hanya karena melihat nama Faiz di layar gawainya. Bimbang, apakah dia harus mengangkatnya atau tidak. Dia mungkin Faiz hanya salah memencet dan tak sengaja menghubunginya karena panggilan itu hanya sebentar dan belum sempat ia menekan tombol untuk menjawabnya.

Bukan… Itu bukanlah panggilan yang tidak disengaja. Faiz melakukan panggilan lagi atas nama Nisa, berharap panggilan kali ini akan diterima oleh Nisa.

Tutt… tuttt.. Nisa akhirnya mengangkatnya. Meletakkan Hpnya mendekat dengan telinganya juga.

“Hallo Kak Faiz.” Nisa memulai percakapan telepon itu karena Faiz tdak mengatakan apapun selama beberapa detik.

“Nisa.. emmm, gu-e bo-leh minta tolong ngga?” Pinta Faiz dengan terbata bata tanpa basa - basi.

“Iya. Minta tolong apa kak?” tanya Nisa balik.

“emm gini Nis, mamah gue besok ulang tahun. Lo mau bantu gue buat nyari kado buat mamah gue ngga?”

“Iya kak boleh.” Nisa langsung menyetujuinya.

“Nanti jam tiga gue jemput ya.”

Kruk.. kruk.. kruk..

Setelah mengganti seragam sekolahnya dengan kaos polos berwarna hitam, Faiz pergi ke dapur mencari makanan ringan dan minuman dingin untuk mengganjal perutnya dan dari tadi sudah demo meminta haknya.

Diambilnya biskuit buatan mamahnya di toples kecil dan air soda dingin dari kulkasnya.

“Gimana nak biskuitnya?” tanya mamah Faiz yang melihat anaknya berjalan ke arahnya sambil memakan biskuit dan membopong minuman serta setoples biskuit di lengannya.

“Hhemm, kayaknya ada yang kurang deh mah.” Jawab Faiz yang kini duduk di sebelah mamahnya.

“Masa sih Iz, perasaan mamah nyoba enak – enak aja deh.” Sambil mengambil satu buah biskuit dari toples yang dibawa Faiz.

“Kurang ah. Kurang banyak buatnya maksud Faiz, Mah. Hihihi.” Canda Faiz pada mamahnya.

Mama Faiz mencubit pinggangnya “Hmhm kamu ya. Bisa aja kalo goda mamah.”

“Aduh sakit mah. Faiz udah gede jangan dicubit terus.” Berpura – pura kesakitan sambil memegang pinggang yang tadi dicubit mamahnya.

“Eh Iz, kamu kenapa nggamau ngundang Adel. Biasanya juga kamu sering bawa Adel main ke rumah.” Tanya mamahnya penasaran.

“Ini masih bahas yang tadi?” Faiz mendengus.

“Kamu udah ngga sama Adel lagi?” tanya mamahnya yang semakin penasaran “Ayo cepat cerita sama mamah.” Paksa mamahnya.

Faiz beralih menatap mata mamanya “Faiz udah putus beberapa hari yang lalu sama Adel mah. Dia udah ada pengganti yang lebih baik daripada anak mamah ini.”

“Siapa yang bilang kamu ngga baik. Anak mamah ganteng gini kok, udah seperti artis korea. Pasti nyesel deh Adel udah putusin kamu.” Seru mamahnya.

“Mah.. ini bukan salah Adel. Lagi pula Faiz kok yang mutusin hubungan itu, bukan Adel. Adel layak untuk bersama orang yang tepat mah. Dan itu bukan Faiz.” Jawab Faiz serius.

“Cup cup cup. Kasihannya anak mamah ini. Pasti Tuhan akan mempertemukan lagi kamu dengan orang yang tepat suatu saat nanti nak. Gausah dipikirin lagi.”

Mamah Faiz menepuk bahu Faiz untuk menenangkannya. “Nikmati aja kejombloan kamu saat ini. Apa mau mamah cariin wanita yang cantik dan baik buat kamu. Hehehe” canda mamahnya agar Faiz tidak sedih.

“mamahhhh…” Ucap Faiz sebel pada mamahnya yang main mau menjodohkannya.

Jam menunjukkan pukul dua lebih empat puluh lima menit. Faiz bergegas untuk mengambil jaket dan menyemprotkan minyak wangi secukupnya serta mengambil kunci motor dari nakas di kamarnya. Meninggalkan toples biskuit, botol minuman serta mamahnya yang mengomel karena kelakuannya itu.

“Ehh Faiz.. Ini taro dulu ke belakang.” Teriak mamahnya melihat Faiz yang berlari ke kamarnya.

“Mamah aja ya. Faiz buru – buru mah. Ada janji!.” Alasan Faiz.

Sekarang, dia siap untuk menjemput Nisa.

“Kita mau beli kado buat mamahnya Kak Faiz dimana kak?” Tanya Nisa sebelum Faiz melajukan motornya.

“Gak tahu nih Nis. Biasanya Adel kalo nyaranin sih beli di mall. Tapi mamah kayaknya udah pada punya. Enaknya kasih apa ya?” Tanya Faiz balik sambil memikirkan apa yang akan dia beli.

“Biasanya dulu papah Nisa kalo ngasih kado ke mamah beli di toko perhiasan custom yang ada di deket danau kak. Kalau kakak mau kita ke sana aja.” Jawab Nisa menyarankan.

“Bisa langsung jadi kan?”

“Bisa kak. Biasanya satu sampai dua jam udah jadi. Tergantung jumlah pemesan.”

“Yaudah ke sana aja yuk!” Ajak Faiz.

“Pegangan Nis.” Pinta Faiz kepada Nisa sambil memegang tangan Nisa dan menempelkan ke pinggangnya. Sedangkan Nisa yang masih kaku dan canggung hanya berpegangan pada jaket Faiz.

Setelah sampai, Faiz melihat – lihat model perhiasan yang ada di toko tersebut dan memutuskan untuk memesan gelang dengan pola rantai simple berukuran kecil ditambah dua buah permata imitasi berwarna ungu yang merupakan warna kesukaan mamahnya. Juga memesan satu lagi dengan permata berwarna hitam putih untuk menghiasinya.

Karena dirasa terlalu lama menunggu, faiz mengajak Nisa untuk membeli telur gulung dan es teh manis di dekat toko tersebut kemudian memakannya di danau.

Rasa canggung antara keduanya kini semakin berkurang. Baik Faiz maupun Nisa bisa bersikap layaknya teman.

“Maaf ya Nis, gue jadi ngerepotin lo.” Kata faiz pada nisa.

“Nggapapa kok kak, Nisa malah seneng bisa bantuin kakak buat nyari kado untuk mamah kakak.” Jawab Nisa dengan senyumnya yang manis.

“Oh iya besok malam lo datang ya ke rumah gue.” Undang Faiz.

“Aku kak?” sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Iya. Tenang aja. Nanti juga ada Aldi, Deni sama Lana. Mamah emang biasa ngundang mereka untuk perayaan ulang tahunnya.” Jawab faiz sambil memakan telur gulung yang tadi dibelinya.

“Nisa usahain kak.” Jawab Nisa yang juga memakan telur gulung.

“Lo harus datang pokoknya. Kalo ngga gue minta Aldi buat samperin lo.” Paksa Faiz.

Nisa hanya mengangguk sebagai repon dari perkataan faiz. Entah mengapa setiap kali Faiz meminta, dia hanya bisa mengangguk, membuatnya selalu setuju. Walaupun otaknya menolak namun mulutnya selalu bungkam dan hatinya memilih menerima.

Keduanya sama – sama diam menikmati pemandangan danau. Sampai akhirnya Faiz memulai percakapan kembali.

“Gue boleh nanya sesuatu ngga ke lo. Kalo lo nggamau jawab nggapapa sih. Gue gak maksa.”

“Tanya aja kak. Sebisa mungkin Nisa jawab.”

“Waktu hujan deres itu gue lihat lo nangis di tengah jalan. Yang waktu ada kecelakaan di dekat toko buku. Gue nggatau sebenernya yang lo rasain waktu itu gimana, sampai buat lo pingsan. Sama terakhir kali, waktu lo di parkiran sama Aldi. Gue lihat tangan lo gemeteran kayak orang ketakutan. Lo takut ya sama hujan?” Tanya Faiz lembut karena tak ingin membuat Nisa tersinggung dengan ucapannya.

Nisa diam, buliran air hangat keluar begitu saja dari matanya. Kata kata Faiz mengingatkan kembali kejadian kelam itu.

Faiz yang melihat Nisa, merasa bersalah dan menyesali pertanyaannya. Dia memeluk Nisa agar merasa lebih baik. Tapi Nisa malah semakin menangis.

“Maafin gue Nis. Udah ya, anggap aja gue ngga pernah ngomong soal tadi.” Faiz mengelus punggung Nisa untuk menenangkannya.

Nisa melepaskan pelukan Faiz. “Waktu itu kami pulang dari acara wisuda, dalam kondisi hujan deras. Tapi kami mengalami kecelakaan. Kecelakaan itu merenggut kedua orang tua Nisa. Cuma Nisa yang selamat.” Ceritanya dengan sesenggukan.

“Tuhan kasih cobaan itu karena Tuhan tahu lo kuat Nis, lo bisa lalui itu semua. Tuhan mengambil orang - orang yang lo sayang bukan karena ingin menjauhkan, tapi karena Tuhan ingin menjaga orang – orang yang lo sayang secara langsung, yaitu dengan berada di sisinya.” Faiz menggenggam erat kedua tangan Nisa.

“Gue juga pernah rasain yang lo rasain sekarang Nis, papah gue meninggal kecelakaan waktu datang ke sekolah. Waktu itu gue masih sekolah dasar. Setelah itu gue hancur. Gue ngerasa kalo semua salah gue. Misal waktu itu gue ngga bikin masalah dan menyebabkan kepala sekolah manggil orang tua. Pasti papah sekarang masih hidup.

Tapi mamah selalu kasih dukungan dan bilang kalo itu sudah takdir dari Tuhan. Ditambah Deni dan Aldi yang hadir ketika gue merasa buruk, mereka selalu menjadi penenang buat gue. Ternyata benar, saat Tuhan mengambil satu dari kita, Tuhan juga akan berikan lebih buat kita kalo ikhlas. Tuhan ambil papah, tapi tuhan juga pertemukan mereka yang udah gue anggap saudara sendiri.” Cerita Faiz.

Nisa tidak menyangka, Faiz juga mengalami hal yang membuatnya terpuruk dengan kehilangan orang yang dia sayang seperti dirinya.

Keduanya memutuskan untuk mengakhiri mengingat kejadian yang membuat masing – masing pernah terluka dan kembali ke toko mengambil apa yang sudah dipesan.

“Silahkan Kak, boleh dilihat dahulu hasilnya. Apakah ada yang perlu ditambahkan?” kata pegawai toko tersebut.

“Gimana menurutmu Nis?” Tanya Faiz dengan menyodorkan gelangnya kepada Nisa.

“Bagus kak, simple.” Jawabnya jujur.

“Sini tangan kamu.” Faiz memakaikan salah satu gelang yang dipesannya di tangan Nisa.

“Kok…”

“Ini hadiah buat kamu yang udah mau nemenin gue. Aku nggatau sama warna kesukaan kamu, jadi kupilih deh hitam sama putih. Semoga kamu suka ya.” Senyum Faiz sambil mengelus – elus gelang yang sudah terpasang di pergelangan tangan kecil Nisa dengan jemarinya.

“Ehem.. Maaf kak totalnya jadi sekian.” Potong pegawai toko kembali.

Setelah selesai melakukan pembayaran, Faiz langsung mengantar Nisa pulang karena langit sudah mulai gelap.

Ting… Terdengar suara dering ponsel Nisa yang menandakan bahwa ada pesan masuk. Nisa membuka hp nya setelah mengeringkan rambutnya yang basah.

Terima kasih untuk bantuan kamu hari ini. Maaf membuat kamu terluka dengan mengingat masa - masa yang membuatmu trauma. Terkadang hidup memang terasa ngga adil buat kita. Tapi percayalah, jika ada hal yang buruk menimpa kita, maka akan ada pula kebaikan setelahnya. Sama seperti warna. Jika

ada hitam maka ada pula putih.

Selamat malam. Jangan lupa bahagia.

Apa Nisa ngga salah baca? Pesan itu dari Faiz.

Nisa memikirkan pesan yang dikirimkan Faiz padanya, sama seperti warna yang ada di gelangnya, hitam dan putih.

1
mama yogi
Nisa nya terlalu di buat lembek
ANAA K
Boomlike mendarat mulus ka😉👍🏾
ANAA K
Keren
ANAA K
The best👍🏾
ANAA K
Wah keren👍🏾
ANAA K
Semangat selalu👍🏾
ANAA K
Aku mendukungmu kak👍🏾
ANAA K
Semangat yah kak
ANAA K
Boomlike hadir thor👋🏾 jangan lupa mampir yah😉🙏🏿 mari kita saling mendukung👍🏾😉
ANAA K
Semangat yah🙏🏿
ANAA K
Lanjut thor👍🏾 ceritanya keren😉👍🏾
ANAA K
Semangat yah thor😉👍🏾
ANAA K
Semangat thor. Aku mendukungmu thor😉👍🏾
Fania kurnia Dewi
mampir thor
Santai Dyah
lnjut thor salam kenal dari Kabut cinta
Rini Haryati
teimakasih
Rini Haryati
bagus
Ummi Islah
sad bangettt thor😢😢😢😢
TickleStar
Ceritanya menarik, nih! Boleh kali thor dilanjut?
Daisy Louise
Ceritanya bagus, kok, thor. Jangan lupa perhatiin tanda baca ya, hehe.. Fighting fighting kakak author‾
Pyrus: Terima kasih 😉
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!