Bagaimana jadinya jika kamu harus menikah dengan musuh kamu, itu yang di rasakan Haziqa Elvarreta Shanum atau kerap di sapa Hazi.
Seorang Dokter umum di salah satu rumah sakit di Jakarta ,anak kedua dari pasangan Kiyia Luqman dan Nyai Khodija.
Hazi harus menikah menggantikan sang kakak, apakah Kehidupan Hazi, akan baik- baik saja setelah menikah, tunggu updatenya hanya di novel ini yaa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Kusumaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Istri Pengganti 18
Arras menunggu sang istri bangun, di depan ugd bersama dengan Xylan, untung saja hari ini dia janjian dengan pasien hanya dua orang dan meeting tadi pagi saja.
" istri loe, enggak loe kasih makan ya.?" tanya Xylan karena ia merasa seperti menggendong anak kecil tadi, di saat Xylan menggendong Hazi.
" Maksud loe?" tanya Arras.
" Gila istri loe ente...." belom selesai menjawab posel Arras berbunyi.
" diem" pinta Arras pada sahabatnya.
" Halo Assalamualaikum dek" sapa Arras.
" Waalaikumsalam, mas gimana keadaan mbak Hazi, ini juga umi gimana mas? " Tanya Hanzzah dari sebrang.
" Dek, Mas udah kirim orang buat bantu kamu, kini mbak mu pingsan dan belom bangun , nanti kalau mbak Mu udah bangun mas langsung ke sana, tadi mas juga udah hubungin mas anang untuk masalah di rumah sakitnya, kamu yang sabar ya.... habis ini mas pulang " jawab Arras yang sudah dengar soal ibu mertuanya.
" Maaf ya... mas ,jadi ngerepotin mas sama keluarga mas " sahut Hanzzah.
" Jangan ngomong gitu lagi dek..., dek, nanti umi di langsungkan saja, kasian umi kalau harus nunggu mas sama mbak Hazi, nanti biar mas yang bilang ke mbak Hazi " .
" Iya mas, Han titip Mbak Hazi ya... mas" .
" Iyaa dek, apa keluarga sudah ada yang datang?" tanya Arras.
" Kami cuma punya adik umi yang juga ngajar di pesantren, beliau sedang ada di malang dan otw ke Magelang mas " jawab Hanzzah.
" Okey gapapa, kamu jangan lupa makan ,tadi Kang Anang udah beliin makan?" sahut Arras yang merasa kasian juga dengan adik iparnya.
" Iya mas, Han baru saja selesai makan kok " Jawab Hanzzah.
" okey mas tutup dulu ya... mau lihat keadaan Mbak Hazi dulu" ujar Arras kemudian mematikan panggilan saat melihat sang istri yang berjalan gontai ke arah pintu keluar.
" Ras" ucap Xylan sambil menepuk dada Arras.
Arras segera mengerja sang istri yang sedang berlari tergopoh- gopoh, " biar aku aja ra" ujar Arras ketika berpapasan dengan Lyora.
Arras mengerjarnya hingga parkiran, karena ia tidak ingin membuat mereka menjadi pusat perhatian, karena rumah sakit juga cukup ramai.
" Heii.. heiiii tunggu" Arras mencoba lari lebih kencang saat mereka tiba di parkiran.
" lepasin, aku mau pulang sekarang " Hazi menepis tangan suaminya dengan kasar.
" Iyaa... mas antar, kamu tunggu sini dulu, mas ambil mobil dulu, okey..." sahut Arras.
Hazi mengangukan kepalanya, walau ia sering mendengar kematian di rumah sakit, namun saat orang terdekat yang meninggalkan dirinya, ia juga begitu rapuh apalagi ia baru saja kehilangan abinya.
Tidak membutuhkan waktu lama, Arrras kembali dengan mobilnya, Hazi langsung naik di dalam mobil tangisnya pecah.
Hazi baru merasakan perhatian uminya yang amat lebih ke dirinya setelah dirinya menikah dengan Arrass.
Sebelumnya uminya akan selalu mendahulukan Mila di banding dirinya, apalagi setelah merantau Hazi , merasa cukup jauh, Dulu Hazi selalu mengalah dengan Mila.
"'Astagfirullah " gumam Hazi yang merasakan dadanya begitu sesak.
"' Teriak ajaa" pinta Arras pada sang istri untuk meluapkan semua emosinya.
Hazi menoleh ke arah Suaminya,lalu menghapus air matanya dengan kasar, Arras melihat itu, ia meraih tangan sang istri dan ia genggam kuat, lalu Arras teriak sekencang- kencangnya .
" Aaaaaaaaa" teriak Arras sambil memukul setir.
" Ayo... biar lebih lega.... cuma ada mas di sini, enggak akan ada yang denger " ujar Arras.
Hazi berteriak begitu kencang, ia ingin marah kenapa dunia ini enggak adil baginya, dulu dia selalu di minta untuk mengalah pada sang kakak, ia dengan gigih untuk bisa masuk kedokteran untuk membanggakan kedua orang tuanya, namun kedua orang tuanya tetap memberikan perhatian lebih pada Kakaknya.
Waktu kakaknya menikah dan kabur, ia harus menggantikan kakaknya untuk menikah dengan laki- laki yang sama sekali tidak ia cintai, setelah itu ia harus kehilangan sosok abinya dan sekarang ia harus kehilangan uminya di saat ia baru mendapatkan perhatian lebih dari sang umi akhir - akhir ini.
" Aaaaaaaaaa..... Kenapa semuanya enggak adil buat akuuuu" teriak Hazi begitu kencang.
Arras masih menggegam erat tangan istrinya, Saat berteriak Hazi mengeratkan tangannya, entah berapa lama ia memendam masalah - masalahnya semua sendiri.
Hazi kembali berteriak, melihat mini market ia berhenti, Hazi masih menangis dan terus berteriak, Yang Arras yakini, Hazi telah memendam rasa sakitnya ini sendiri cukup lama.
Arras tidak berbuat apapun, ia hanya melihat sambil mengengam erat tangan sang istri, ia ingin memberikan ruang pada sang istri untuk meluapkan emosinya yang mungkin sudah lama di pendamnya.
Setelah melihat sang istri mulai lelah dan kehabisan tenang, Arras melepas perlahan gengaman tangan tersebut, " Mas belikan minum dulu ya.... kamu tunggu sini enggak akan lama" ujar Arras .
Hazi hanya mengangukan kepalanya di tengah keadaanya yang masih sesegukan, Saat Arras turun Hazi kembali menangis, namun tidak sekencang tadi.
Tidak lama Arras kembali dengan beberapa kantong kresek yang berisikan minuman, roti dan beberapa snack untuk di jalan.
Hazi kembali terdiam walau masih menyisakan sesegukannyan dan mata sembabnya, Arras membuka minum untuk sang istri dan memberikannya pada sang istri, " minum dulu, pasti haus kan " ujar Arras.
Hazi menerimanya, " te- ri ma ka- sih " ucap Hazi yang masih sesegukan .
Arras membenarkan jilbab sang istri yang berantakan, ia memasukkan anak rambut yang beberapa yang keluar.
" Hazi, lihat mas ...." pinta Arras pada Hazi.
Hazi yang masih memegang botol minum tersebut masih menatap ke depan dengan tatapan yang kosong.
" Hazi lihat mas " pinta Arras sekali lagi.
Hazi kemudian menoleh, matanya berkaca- kaca kembali, Arras memegang pundak Hazi untuk memberinya kekuatan .
" Sebelum lanjut, mas cuma mau bilang kalau kamu enggak sendirian, ada mas yang akan selalu di samping kamu, ada hal yang perlu kamu tau, kalau kita akan sampai sana malam dan umi akan di kebumikan nanti jam empat sore, mas minta kamu untuk ikhlas" .
" Mas enggak akan tau rasa sakitnya, tapi mas akan selalu di samping kamu, mas akan selalu siap untuk menjadi sandaran buat kamu, ini semua sudah takdir, kamu sedih boleh, tapi ingat ini semua takdir yang Allah tetapkan" ujar Arras.
Hazi tampak terdiam, lalu mengangukan kepalanya samar, hatinya sedih , kecewa dan merasa kehilangan menjadi satu.