NovelToon NovelToon
Legenda Mas Pisang

Legenda Mas Pisang

Status: tamat
Genre:Komedi / Action / Fantasi / Fantasi Timur / Tamat
Popularitas:88.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: chonurv

"Om Kera, bolehkah aku menukar diriku sendiri dengan sebuah pisang?"

Sebuah tawaran yang membuat kera siluman setara dengan dewa tertawa terbahak-bahak.

"Aku tidak ingin pisang lain selain dirimu. Kaulah pisang termanis di dunia ini."

Penolakan itu pastinya tidak membuat si Bocah menyerah begitu saja.

"Semua orang tahu pisang itu manis. Sementara aku? Aku ini manusia. Rasaku tidak semanis pisang. Nah ambillah pisang ini!"

Senyuman polosnya saat menyodorkan sebuah pisang bahkan memberikan aura yang lebih manis dari pisang itu sendiri.

"Kau pikir sebuah pisang cukup untuk menggantikanmu?"

"Beri aku kesempatan untuk berkeliling dunia. Akan kupilihkan dan kumpulkan pisang terlezat diseluruh dunia. Lalu akan kuberikan padamu."

Bocah laki-laki ini masih sangat kecil tapi begitu pandai menawar. Memberikan hiburan tersendiri bagi sang Raja Kera.

"Kau tidak akan bisa menemukannya."

"Pasti bisa! Bagaimana kalau kita bertaruh? Bila aku bisa menemukannya, maka kau harus mengabdikan dirimu sebagai keluargaku. Kalau aku tidak bisa menemukannya maka kau boleh menyuruhku menanamkan pohon pisang untukmu. Bagaimana?"

Lagi-lagi si Bocah memberikan penawaran yang menguntungkan dirinya sendiri.

Apakah yang akan dilakukan si Raja Kera?

Membuat penawaran baru?

Ataukah memberikannya waktu untuk menjelajah dunia?

Atau malah membuat si Bocah Pisang menjadi pisang goreng?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chonurv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akhirnya Tiba Juga

Bulan purnama menjadi saksi bisu kehadiran sesosok kebahagiaan yang didambakan sejak bersatunya dua insan lawan jenis dalam ikatan suci. Senyuman menjadi penyambut pasti yang tidak pernah absen dari setiap momentum turunnya anugerah.

Setiap pasang mata tertuju pada sesosok mungil nan rapuh yang terbungkus jarit berwarna biru tinta, bermotifkan Mega mendung putih. Kepalanya yang hanya sebesar kepalan dua tangan manusia dewasa menggeliat-geliat, mencari posisi nyaman. Bunyi kecapan pun acap kali terdengar dari bibir mungil yang sibuk menyedot susu dari botol dot bayi.

"Ototototo. Kuat juga ternyata kalau nyedot," si Nenek menggendong seorang bayi sambil memegangi botol susu yang diminum si bayi.

"Iya dong, Ni ! Namanya juga laki. Ya harus ruso, ruso !" ucap si Kakek penuh penekanan seraya mengangkat kedua tangannya membentuk sudut tiga puluh derajat dengan telapak tangan mengepal, menunjukkan otot-otot bisep yang masih kekar meski usia sudah tua.

Sayangnya, tidak ada yang memperdulikan aksi si Kakek yang sok gagah itu. Si Nenek dan Gege lebih tertarik melihat si Mungil yang belum memiliki daya yang berada di gendongan si Nenek.

"Pipinya mulus ya, Nek ?" Gege tersenyum mengelus pipi si Bayi dengan punggung jari telunjuk dan tengahnya.

"Jangan terlalu sering dicolek pipinya, pamali !" tegur si Nenek.

"Heeeeh, kenapa ? Itu pasti cuma mitos. Pegangnya kan pelan-pelan. Jadi, nggak ngaruh apa-apa kan ke dedek bayinya ?" Gege mendengus kesal karena larangan sang Nenek.

"Bayi itu masih sangat sensitif. Jadi, jangan sembarangan menyentuhnya. Nanti bisa sakit bayinya," jelas si Nenek.

"Bagaimana kalau kita beri nama bayinya ? Dari tadi cuma disebut boya-bayi saja," sela si Kakek.

Namun, tidak satu pun dari kedua orang yang diajak bicara menanggapi usulan sang Kakek. Gege malah mengangkat kedua tangannya untuk menanggapi pernyataan sang Nenek.

"Jangan khawatir ! Tanganku bersih kok, lihat nih !" ucap Gege menunjukkan kedua telapak tangannya yang terangkat.

"Anu...."

Si Kakek mencoba menyela lagi. Namun, tetap saja ia belum berhasil mencuri perhatian keduanya.

"Tetap saja, Ge !" jawab si Nenek menanggapi Gege.

Tiba-tiba si bayi membuka matanya yang sedari tadi terpejam. Si Mungil itu mengerjap-kerjapkan mata beloknya. Mungkin karena cahaya temaram ruang makan di rumah kakek dan nenek yang bagi si bayi masih sedikit menyilaukan.

"Ooow. Ge, ini buah pisang apa bayi sih ?" tanya si Nenek saat melihat iris mata menyegarkan si Bayi.

"Ya bayilah !" jawab serempak si Kakek dan Gege.

"Mana ada buah pisang yang punya mata, hidung, mulut, minum susu lagi !" lanjut Gege menjelaskan.

"Ya kali aja, Ge. Kan rambutnya kuning kayak kulit pisang, kulitnya putih bersih, terus matanya ijo seperti daun pisang. Mana lahirnya dari rahim yang disebut ontong hasil fotosintesis pohon pisang pula. Apa coba kalau bukan disebut buah pisang ?" balas si Nenek memperkuat argumennya.

"Dilihat darimana pun ini tetap terlihat seperti bayi. Ya pasti bayi lah !" Gege memperhatikan si Bayi dengan seksama.

"Aha !" sentak Gege saat sebuah ide terlintas di kepalanya.

"Bagaimana kalau kita beri nama bayi ini Pisang Susu ?" sambungnya mengutarakan nama yang terinspirasi dari kata-kata sang Nenek.

"Hish. Kamu ini lapar ya ? Masak iya bayinya dikasih nama pisang ? Yang bener dong ngasih namanya !" tolak si Nenek.

"Tadi saja pas aku yang ngajak ngasih nama nggak ada yang nyahut," batin si Kakek yang merasa dicuekin.

"Hm...kalau begitu Pisang Kepok ?" usul Gege.

"Kurang bagus ah. Nini nggak mau besarnya nanti dia jadi anak kepok," tolak si Nenek lagi.

"Pisang Batu bagaimana ?" usul Gege lagi.

"Dia kan bukan pisang yang lahir dari batu," lagi dan lagi si Nenek memiliki alasan untuk menolak.

Namun, penolakan demi penolakan itu tidak menyurutkan semangat Gege. Ia tetap menyampaikan semua nama yang melayang-layang di otak santuinya.

"Kalau begitu Pisang Emas ! Dia kan lahirnya dari jantung pisang emas," ucap Gege.

"Hm...," Si Nenek mencoba menimbang-nimbang nama itu.

Gege yang tidak sabar menunggu jawaban dari si Nenek pun langsung menyebutkan rentetan nama.

"Pisang Kitir, Pisang Ambon, Pisang Belintong, Pisang Byar, Pisang Brentel...," ucapnya.

"Cukup !" Tidak kah kau bisa memberi usulan nama selain nama pisang ?" gertak si Nenek menghentikan Gege yang mengucapkan deretan nama pisang seperti kereta yang terus melaju tanpa pemberhentian.

Si Kakek hanya memperhatikan percakapan dua arah itu. Sampai akhirnya ia tidak tahan lagi hanya berdiam diri. Si Kakek pun menggebrak meja seraya berdiri.

"Bayi kita akan kita beri nama Mas Pisang Raja titik. Nggak bisa diganggu gugat !" teriak lantang si Kakek seraya berkacak pinggang agar tidak diabaikan. Lalu, ia menghentakkan kaki kanannya tiga kali di penghujung kalimat sebagai penanda sidang nama telah ditutup.

Teriakan tersebut berhasil membuat Gege dan si Nenek menoleh kepadanya. Keduanya mendongak, memperhatikan si Kakek.

"Ide bagus, Ki !" sahut si Nenek menyetujui.

"Itu kan juga nama pisang...hahaha," batin Gege tersenyum tidak mengerti setelah semua penolakan yang diterimanya.

"Dia akan menjadi raja satu-satunya di hati kita," imbuh si Nenek tersenyum memandang si Bayi kembali.

"Terus aku bukan raja di hati kalian ?" tunjuk Gege pada dirinya sendiri dengan nada lesu.

Si Nenek dan si Kakek saling bertukar pandang. Kemudian keduanya tersenyum kepada Gege.

"Tentu saja kau juga raja kami. Bila Mas Pisang adalah raja kecil, maka kau adalah maha raja kami," si Kakek mengacak-acak rambut Gege gemas.

"Lihatlah, Mas Pi ! Ommu yang sudah dewasa ternyata masih seperti bocah," timpal si Nenek seraya tertawa kecil.

"Dasar cemburuan ! Masak iya, nanti kalau sudah menikah kamu juga akan cemburu sama anak sendiri ? Hahaha," ejek si Kakek.

Begitulah keseharian keluarga kecil yang dipenuhi oleh orang-orang santai itu. Mereka tidak akan segan untuk saling mengungkapkan perasaan saat sedang berkumpul bersama. Karena itulah ketiga manusia dewasa itu bisa terlihat sangat akrab. Meskipun Gege terpisah cukup lama dari si Kakek dan Nenek.

Gege senang bisa kembali ke rumah kayu sederhana itu. Rumah itu tidak pernah dingin, karena sang Kakek dan sang Nenek selalu melimpahkan kehangatan kasih sayang di sana.

"Ngomong-ngomong, Kek ! Kok bayinya masih diberi nama Pisang ? Bukannya tadi maunya selain pisang ya ?" tanya Gege.

"Dia kan lahirnya dari pohon pisang. Ya cuma itu nama yang cocok sesuai dengan identitasnya," kekeh si Kakek.

"Nek Nini kok setuju begitu saja ? Bukannya tadi Nek Nini yang meminta nama selain pisang ?" tanya Gege meminta persetujuan sambil memandang si Nenek.

"Yang ini beda. Tadi kan kamu cuma ngusulin nama pisang. Tapi kalau ini kan ada 'Mas'-nya. Hihihi," jelas si Nenek.

"Apa bedanya coba ? Ujung-ujungnya tetap saja buah pisang !" seru Gege.

Yah. Bila diteruskan, malam ini akan terus berlanjut dengan perdebatan tentang buah pisang yang tiada akhir. Lebih tepatnya mengenai nama pisang untuk si Bayi.

Entah apa yang dipikirkan oleh ketiga homo aestetikes dewasa itu. Bisa-bisanya mereka menyematkan kata 'pisang' pada nama si Bayi.

Mungkin ketiganya sedang dilanda kelaparan level dewa. Sehingga tidak ada hal lain selain makanan yang terlintas di pikiran mereka.

Mungkin juga karena pisang memiliki nilai jual sekaligus nilai kesehatan yang lumayan tinggi. Sehingga mereka menyisipkan kata 'pisang' pada nama si Bayi. dengan harapan si Bayi akan tumbuh menjadi anak yang sehat tanpa kekurangan nutrisi sedikit pun.

Hanya Tuhan dan ddiri mereka masing-masing yang tahu pasti alasannya. Dan 'Mas Pisang Raja' yang belum terlalu bisa mengenali bahasa yang saling sahut menyahut di sekitarnya pun hanya bisa tertidur. Suara-suara yang terdengar seperti racauan itu bak lagu pengantar tidur bagi sang Bayi.

1
Andini
OK banget 👍 aku suka banget 👍❤️
Bambang Dwi Margono
bagus..
chonurv: Terima kasih.
total 1 replies
ciru
kacian kacian kacian si nenek & si aki
chonurv: iya, sungguh malang nasib mereka.
total 1 replies
Rusliadi Rusli
wkwkwkw
Rusliadi Rusli
waw...
Sodini
lucu , cuma nama pemeran kok gak ada
chonurv: Ada, disebut di episode mendatang. Terima kasih.
total 1 replies
Dhina ♑
Thor...Mas Pisang heyyy
Santai Dyah
lnjjut thor
🍵tara👀
bisa nih Audra dan Aidan
Paradista
semangat kak 💚
Sis Fauzi
kamu begitu banget sama kuda 🐎 ge
Sis Fauzi
Jona (jomblo merana dan putus asa) lalu bunuh diri😁 Gege
Sis Fauzi
mantap 👍
Phoenix
Gue dah mampir Thoor...
chonurv: terimakasih
total 1 replies
Darah Biru (Bangsawan)
👍🏻👍🏻👍🏻
Darah Biru (Bangsawan)
👍🏻
Darah Biru (Bangsawan)
👍🏻👍🏻👍🏻
Yenny_Rha
Full dukungan like.
Mari saling mendukung
BlueMoon🔵
Sudah aku baca dan like semua bab nya. Aku tunggu keseruan cerita LMP season 2 kak cho...❣️👍
chonurv: Terimakasih. Tunggu tanggal rilisnya, ya! Ini kecepatan ngetik penulisnya masih kecepatan keong.
total 1 replies
Dhina ♑
Oh ya, sekarang pun punya gc sendiri, wah pokoknya hebat deh 👏👏👏👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!