"masukkan kartu penyegelnya sekarang, atau kita akan mati di tempat ini!,
saat satu persatu siswa lenyap misterius dan hanya memisahkan debu hitam, itsuki ikawasi dan teman temannya terjebak oleh siluman pemangsa manusia, situasi menjadi gila ketika sahabat mereka berbalik menyerang di bawah sihir hitam!
dipojokkan oleh amukan api dari raja siluman pemangsa manusia dan penyanderaan di atas kawah lava gunung valerius, itsuki terpaksa meledakkan rahasia terbesarnya: kebangkitan murni kekuatan 7 elemen.
berhasilkah mereka menyegel monster legendaris tersebut, ataukah ini awal dari perang dimensi yang jauh lebih besar? .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NABILA_08.p, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 Kebangkitan Energi Murni dan Runtuhnya Sang Kegelapan
Udara di lembah mati itu terasa semangkin berat, dan sangat pekat oleh aroma belerang dan amis darah. Makhluk itu, sebuah manifestasi kegelapan berwujud raksasa dengan belasan tentakel berduri melayang akuh di udara.
Di bawahnya, dua tubuh manusia yang tak berdaya tergeletak di bawahnya. Hinata berlutut dengan napas memburu, mendekap tubuh Itsuki yang masih tidak sadarkan diri. Seluruh energi spiritual Hinata telah terkuras habis demi menahan gempuran monster tersebut, luka-luka sayatan di sekujur tubuhnya terus meneteskan darah. Namun, ia menolak untuk menjauh dari itsuki.
Makhluk itu mendesis, suara tawa parau yang bergetar di udara seolah mengejek keputusan Hinata. Di atas mereka belasan tentakel beracun yang hitam legam dan berlendir mulai mengencang. Bersiap untuk menghabisi sisa hidup Hinata dan Itsuki dalam sekali hentakan di udara.
Hinata hanya bisa pasrah, ia memejamkan mata, bersiap menerima akhir dari takdir mereka.
Namun, takdir memiliki jalannya sendiri.
Tepat di saat tentakel itu mulai meluncur turun dengan kecepatan kilat untuk menghancurkan mereka, sesuatu terjadi di dalam aliran darah itsuki. Jauh di dalam pusat energinya, sebuah reaksi kimia sedang berlangsung hebat.
Epek dari pil racikan Roy bekerja dengan kecepatan yang luar biasa,pil herbal yang sebelumnya di paksa masuk ke tenggorokan Itsuki oleh Hinata, dan sebelum Roy terhempas pingsan, kini pecah dan menyebarkan hawa hangat yang murni.
Cairan pil itu yang menyerang langsung racun hitam yang menyumbat dan membelenggu aliran energi itsuki. Seperti air suci yang menyiram jelaga, racun itu terkikis, mencair, dan menetralisir dalam hitungan detik. Bersamaan dengan hilangnya sumbatan tersebut , kelopat mata Itsuki yang semula terpejam rapat tiba-tiba mulai terbuka perlahan. Manik matanya menyala, memancarkan kilatan emas yang murni.
Begitu kesadaran Itsuki pulih sepenuhnya, energi murni yang selama ini terkunci di dalam tubuhnya mendadak bergejolak hebat, meledak seperti gunung berapi yang sudah lama mati.
Dan kemudian... BOOOMMM!
Sebuah ledakan yang sangat dahsyat dan tidak terbayangkan keluar dari tubuh Itsuki, tekanan energi spiritual yang di keluarkan begitu masif hingga menciptakan gelombang kejut yang luar biasa. tanah di bawah mereka bergetar hebat, retak dan runtuh memicu gempa tektonik Dahyat yang mengguncang daratan hingga radius ratusan meter.
Hentakan energi ini seketika meng menguncalkan belasan tentakel yang beracun yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari kepala Hinata, kekuatan ledakan itu tidak hanya menghancurkan tanah, tetapi memicu juga lahirnya gelombang cahaya putih keemasan yang luar biasa terang. Cahaya itu memancar ke segala arah, menembus Kegelapan malam yang pekat, dan seketika membutakan mata siapapun yang melihatnya.
Hinata terperangah, terpaksa melindungi matanya dengan lengan, sedangkan tubuhnya di selimuti oleh kehangatan energi itsuki yang melindunginya seperti perisai tak kasat mata.
Monster yang berada paling dekat dengan energi ledakan itu melolong histeris, lolongan itu terdengar begitu memilukan dan penuh penderitaan saat gelombang cahaya murni tersebut mulai membakar kulitnya yang hitam legam. Asap hitam mengepul dari tubuh raksasa itu, menandai babak baru dari pertempuran takdir baru saja di mulai .
Itsuki berdiri perlahan, tubuhnya kini melayang beberapa senti di atas tanah yang hancur, aura emas membumbung tinggi dari tubuhnya. Membentuk sayap-sayap cahaya yang bergetar penuh kekuatan. Kehadirannya tidak lagi seperti manusia biasa, melainkan bagai dewa perang yang turun dari langit.
"Hinata, mundur lah, jaga roy," bisik Itsuki. suaranya terdengar menggema, berlapis energi spiritual yang membuat udara di sekitarnya berdesis.
Hinata mengangguk cepat. Dengan sisa tenaganya, ia merangkak mundur menuju tempat Roy terbaring pingsan di balik reruntuhan batu, mengawasi Itsuki dengan secercah harapan yang kembali membumbung di dadanya.
Makhluk kegelapan itu, meski terluka parah dan kulitnya melepuh akibat cahaya murni,menolak untuk menyerah, rasa sakit justru semangkin memicu amarahnya yang paling primitif. Dari pusat tubuhnya yang berongga, keluar jeritan yang melengking yang mampu memecahkan gendang telinga .
Makhluk itu mengumpulkan seluruh sisa energi terkutuknya, belasan tentakel yang awalnya melepuh terbakar kini beregenerasi, tumbuh menjadi lebih besar, lebih tajam yang di lapisi oleh api hitam yang pekat.
Dengan satu hentakan besar, monster itu melesat maju, mengayunkan seluruh tentakelnya secara bersamaan dari berbagai arah, berniat mengoyak Itsuki menjadi berkeping-keping. Udara di sekitar kepalan tentakel itu mendistorsi, menciptakan bilang angin-angin hitam yang mematikan.
Itsuki tidak bergeming, wajahnya tenang, mencerminkan kontrol mutlak atas energi seperi tual milik nya. Ia merentangkan tangan kanannya ke samping, dari telapak tangannya, cahaya keemasan memadat membentuk pedang besar yang terbuat dari lava yang sangat mematikan dengan ukiran kuno yang memancarkan aura suci.
"Kau telah mengotori tanah ini terlalu lama".
Ucap Itsuki dengan nada yang dingin.
Saat tentakel-tentakel itu nyaris menyentuh tubuhnya, Itsuki bergerak, gerakannya begitu cepat hingga hanya menyisakan bayangan emas di udara. Sret! Sret! Sret!.
Pedang Itsuki menebas dengan presisi yang mengerikan, setiap ayunan pedangnya memotong tentakel raksasa itu seperti memotong ranting yang rapuh. Darah hitam berbau busuk pun menyembur. Namun, langsung lenyap menguap begitu menyentuh aura magma milik itsuki, makhluk itu kembali menjerit kesakitan, dalam sekejap mata makhluk itu telah kehilangan separuh dari organ penyerangnya.
Tidak memberikan waktu bagi lawannya untuk memulihkan diri , Itsuki melesat keatas, menembus langit malam. Ia membalikkan tubuhnya,mengarahkan ujung pedangnya tepat ke arah jantung sang monster, seluruh energi spiritual yang tersisa di dalam tubuhnya di alirkan ke bilah pedang tersebut, membuat nya membesar hingga belasan meter, berkilau layaknya meteor yang siap menghujam bumi.
"Hancurlah kau, kembali ketiadaan!" teriak Itsuki.
Ia meluncur turun dengan kecepatan supranatural, makhluk kegelapan itu mendongak, mencoba membangun perisai hitam dari sisa-sisa energinya. Namun, semua itu sia-sia, pedang meteor magma itsuki menghantam perisai tersebut hingga hancur berkeping-keping, lalu menembus tepat di tengah dada sang Monster.
BOOOOOOOMMMMMMMMM!!!......
Ledakan kedua terjadi, jauh lebih masif dari yang pertama. Cahaya emas meledak menelan seluruh tubuh monster itu tanpa sisa. Energi tersebut membakar setiap sel kegelapan hingga menjadi abu yang terbang di udara. Lolongan terakhir dari makhluk itu perlahan memudar, di ganti kan dengan kesunyian yang mencekam saat tubuh raksasa tersebut benar- benar lenyap dari muka bumi.
Itsuki mendarat di tanah dengan lutut, pedang magma milik nya perlahan memudar dan menghilang menjadi bintik-bintik energi. Napasnya terengah-engah, dan aura magma yang menyelimutinya berangsur-angsur padam.
Tubuhnya luar biasa lelah, namun matanya memancarkan kepuasan.
Hinata berlari mendekatinya, memapah tubuh Itsuki agar tidak jatuh tersungkur. Di belakangnya, tampak Roy mulai sadar, memegangi kepalanya yang pening tetapi tersenyum lebar melihat kemenangan mereka, tim itsuki telah berhasil. Makhluk purba yang mengancam keselamatan dunia itu akhirnya berhasil di kalahkan.
"Kita.... Kita menang, itsuki," bisik Hinata dengan air mata haru yang mengalir di pipinya.
Itsuki tersenyum tipis, "Ya, berkat pil dari Roy..... Dan ketahanan kalian semua, Hinata, Roy dan Kaguya."
Namun, kebahagiaan dan kelegaan mereka tidak berlangsung lama.
Tepat di saat sisa kepulan asap pertempuran mereda, sebuah keheningan yang tidak wajar menyelimuti area tersebut. Angin berhenti berembus, burung-burung malam yang tersisa tidak lagi bersuara, atmosfer di sekitar mereka berubah menjadi sangat pekat, jauh lebih menekan dari pada saat monster tadi masih hidup.
Rummmbeeelll....
Tiba-tiba, sebuah dengungan bernada rendah terdengar dari dalam tanah, bunyi itu bukan sisa dari ledakan energi itsuki, melainkan sesuatu yang jauh lebih besar dan berada jauh di dalam kerak bumi.
Sebelum mereka sempat menyadari apa yang terjadi, seluruh permukaan bumi berguncang dengan sangat dahsyat, guncangan kali ini berbeda; retakannya bergerak secara vertikal , seolah-olah ada sesuatu yang berukuran luar biasa raksasa yang sedang mendobrak dan bangkit dari bawah tanah.
(Bersambung).