Cerita ini hanya fiksi semata, hanya halu author.
Cerita ini, terispirasi dari curhatan-curhatan seorang ibu yang merasa lukanya terabaikan, lelahnya tak terlihat, dan sakitnya yang dianggap sepele, diselingkuhin pula.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Illana Clr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayah Sambung
Dua minggu berlalu sejak Rafa menyatakan perasaan kepada Alana.
Rafa nggak bisa fokus kerja. Di kantor dia cuma melamun.
Mikirin satu hal: "Jawaban apa yang akan Alana kasih?"
Alana juga gelisah, setiap malam tidurnya tak pernah tenang. Dia memikirkan apa ini saatnya membuka hati? Atau hanya gangguan kecil yang harusnya ia abaikan? Namun, beberapa kenangan bersama Rafa sejak ditaman saat Cia kecil, hingga Rafa menggendong Cia diatas panggung kemaren rasanya Rafa memang orangnya.
Dia capek nahan semuanya sendirian, takut masa lalu keulang lagi.
Tapi di sisi lain... dia liat Cia. Yang tiap malem masih nanya
"papa Cia ada kabar gak mah?" atau "Cia mau papa Mah".
Hingga akhirnya, hari Sabtu sore. Alana ngundang Rafa makan malam.
Rafa datang. Bawa dua buket bunga.
"Ini buat kamu, satunya untuk Princes.
Princesnya mana?”
“Wah, makasih Rafa, Cia ada di kamar,” jawab Alana pelan.
“Aku nggak kasih tau Cia kalau aku ngundang kamu ke sini.”
Rafa senyum tipis. “Oh... biar surprise?”
“Hmm... ya bisa dibilang gitu.”
Hening. Cuma ada suara jam dinding.
Alana duduk. Napasnya berat.
“Aku mau bahas soal yang 2 minggu lalu.”
Rafa langsung menatap Alana. Matanya penuh harap.
“Apa... jawaban kamu?”
Alana nggak langsung jawab. Dia ngeluarin map dari laci. Di dalamnya ada surat perjanjian.
“Aku bisa terima kamu,” kata Alana. Suaranya gemetar tapi tegas.
“Kalau kamu sanggup sama perjanjian yang aku tulis di sini.
Kamu juga boleh ngajuin perjanjian ke aku kalau mau.”
Rafa membuka map itu. Tangannya sedikit gemetar.
Isinya:
*SURAT PERJANJIAN*
*1. Tidak selingkuh*
*2. Tidak bertindak semena-mena jika sudah menikah*
*3. Bekerja sama membangun hubungan agar selalu harmonis*
*4. Jika ada masalah selesaikan dengan kepala dingin, terbuka dengan pasangan tidak ada yang menjadi rahasia yang bisa memicu pertengkaran*
*5. Tidak membedakan anak tiri dan anak kandung*
*6. Jika salah satu melanggar poin di atas, maka wajib keluar dari rumah tanpa membawa sepeserpun harta setelah menikah*
Rafa mendongak. Menatap Alana lama.
“Nomer 6 ini...”
Alana mengangguk. Matanya nggak berkedip.
“Itu buat menjaga hubungan kita Rafa.
Aku udah pernah ditinggal sekali. Aku nggak mau Cia ngerasain lagi.
Kalau kamu niat main-main, mending dari sekarang kita stop.”
Hening.
Rafa menarik napas. Lalu tersenyum. Senyum lega.
Dia nggak marah. Dia nggak tersinggung.
Justru dia hormat.
“Berarti kamu serius mau jaga keluarga kita ya?”
Alana mengangguk pelan.
Rafa mengambil pulpen dari meja.
Ia menandatangani surat perjanjian yang di buat Alana.
Selesai tanda tangan, Alana menghela napas. Lega... tapi belum sepenuhnya.
Ada satu pintu lagi yang harus dilewatin: Cia.
Rafa melipat surat perjanjian itu rapi.
“Alana... boleh aku ketemu Cia?”
Alana mengangguk. “Boleh. Bentar aku panggil dulu ya.”
Rafa duduk di sofa. Jantungnya deg-degan. Senyumnya nggak lepas dari bibir.
Nervous tapi bahagia.
Alana masuk ke kamar, Cia tengah sibuk dengan PR Matematika.
“Cia, udah selesai PR-nya?”
“Belum Mah... susah,” rengek Cia.
“Yaudah tinggal dulu. Nanti Mamah bantu. Tapi Cia keluar dulu ya, ada yang nyariin mau ketemu.”
“Siapa Mah?”
“Ayo, liat dulu.”
Cia ngikut Alana keluar. Langkahnya pelan.
Dan begitu liat Rafa di sofa... wajahnya langsung murung. Nggak seceria waktu di aula sekolah dulu.
Rafa berdiri. Suaranya lirih.
“Cia...”
Cia mendekat. “Pa... Om?”
Refleks, Rafa langsung memeluk Cia erat.
Seperti takut kehilangan lagi.
“Papa kangen sama Cia. Cia kangen papa nggak?”
Cia diem. Nggak jawab.
Rafa melepas pelukannya pelan. Lalu dia mengeluarkan kotak kecil warna pink dari saku jasnya dibuka di depan Cia, dikotak terpampang kalung Hello Kitty.
oʻRafa jongkok, sejajar sama Cia. Matanya serius tapi lembut.
“Pricilla Sandrina Johan...”
“Apa Cia mengizinkan... kalau Om Rafa menjadi papa sambung untuk Cia?”
Alana terkejut. Napasnya tertahan.
Cia menatap Rafa bingung. “Papa sambung?”
Rafa mengusap pipi Cia.
“Iya sayang, Cia bisa ketemu dan main sama Papa Rafa setiap hari kalo Cia mau.
Boleh nggak, Cia kasih Om Rafa kesempatan jadi papa baru Cia?”
Cia mikir sebentar. Matanya berkaca-kaca.
Lalu dia mengangguk pelan sambil nyodorin tangannya.
“Boleh... Cia izinin. Cia mau Papa Rafa jadi papa baru Cia.”
Detik itu juga Rafa memasangkan kalung Hello Kitty itu ke leher Cia.
Tangannya gemetar.
“Terima kasih ya Nak... Sudah memberi izin Papa.”
Alana di belakang mereka langsung nutup mulut. Nangis.
Akhirnya... rumah itu punya suara "papa" lagi.
Rafa menuntun Cia pelan ke arah Alana.
Dari saku dalam jasnya, dia mengeluarkan satu kotak lagi. Kotak beludru warna abu-abu.
Jantung Alana langsung copot.
Rafa berlutut dengan satu lutut.
“Alana,” suaranya tenang tapi tegas.
“Aku sudah dapat izin dari Cia untuk menjadi ayah sambungnya.”
Alana menutup mulutnya. Kaget.
Rafa membuka kotaknya. Di dalamnya cincin berlian dengan design sederhana namun cantik.
“Boleh aku meresmikan hubungan kita... dengan menyematkan cincin ini di jari manis kamu?”
Alana menggeleng pelan. Matanya berkaca-kaca.
“Ini... ini nggak terlalu cepat, Rafa?”
Rafa menggeleng. Dia menggenggam tangan Alana.
“Nggak. Aku nggak mau nunggu lama-lama.
Aku mau kita segera menikah. Biar aku bisa leluasa jaga kamu. Jaga Cia.
Biar kita sah... secara hukum, secara agama, secara hati.”
Alana menatap Rafa. Lalu menatap Cia yang nungguin dengan mata berbinar.
Akhirnya dia mengangguk. Pelan.
“Iya...”
Rafa memasangkan cincin itu di jari manis Alana. Hati-hati. Penuh cinta.
Pas.
Cia langsung bersorak dan tepuk tangan.
“Berarti kalau Papa sama Mama nikah... Cia punya papa beneran?!”
Alana jongkok, mengusap kepala anaknya. Senyumnya nahan nangis.
“Iya sayang.”
Cia manyun. “Nikahnya sekarang aja Mah. Jangan lama-lama.”
Rafa dan Alana langsung ketawa.
Tawa yang lega. Tawa yang udah nunggu 2 minggu.
Malam itu, mereka bertiga makan malam bersama di meja makan.
Dengan masakan sederhana namun mulai malam itu makanan sederhana itu menjadi favorit Rafa dan Cia.
Meja yang biasanya sepi... malam ini terasa hidup. Hangat. Berisik karena Cia cerita.
Akhirnya, rumah ini punya suara "papa" dan "mama" dalam satu meja.