"Assalamualaikum, boleh nggak Alice masuk ke hati Om dokter?" Alice Rain menyengir.
Penari ice skating menyukai dokter yang juga dipanggil dengan sebutan Ustadz. Fakhri Ramadhan harus selalu menghela napas saat berdiri bersisian dengan gadis tengil itu.
Rupanya, menikahi seorang ustadz, dosen, sekaligus dokter yang sangat tampan tidak sama gambarannya dengan apa yang Alice bayangkan sebelumnya.
Happy reading 💋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasha Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Oh, begitu?
Meninju dinding kamar mandi, entahlah darah rasanya mendidih. Ingin berteriak, tapi Fachry bukan anak kecil lagi.
Alice mengaku telah membidik cintanya selama tiga tahun. Mana? Bahkan Alice juga memiliki mantan pacar!
Sialan, sebagai seorang ustadz mana bisa mengumpat. Ingin beristighfar, tapi kesal sudah di pucuk ubun- ubun rasanya.
Gadis kecil yang sudah dia berikan kasih sayang, fasilitas, perhatian, panggilan cinta, kata mesra, kesabaran, dan dalam tidurnya masih menyebut nama seorang mantan.
Rivald, ah, kenapa terdengar cocok sekali namanya. Sayangnya Alice sudah Fachry nikahi dan ini lah garis kehidupannya, dia bahkan sudah mulai menerima jika Allah menjodohkan dirinya dengan gadis manja.
Fachry meraih handuk dari besinya, melilitkan kain putih itu di pinggangnya sembari berjalan keluar dari kamar mandinya.
Mata yang tajam sedari tadi, menuju pada selimut yang menutupi seluruh tubuh hingga wajah seorang Alice. Lelah bekerja, itu juga untuk pengeluaran Alice yang mungkin tidak bisa dikatakan biasa.
Harusnya disambut dengan mesra, bukan sebutan nama mantan. "Lice!"
"Hmm?" Alice menggeliat ketika Fachry menyingkap selimutnya. Bukan, lebih tepatnya lagi membuka seluruhnya untuk diganti dengan kungkungan tubuhnya.
Fachry menatap nyalang, tapi lebih terasa sensual, ada dua gelora, antara murka dan keinginan lelakinya. Dia jatuhkan gigitan di leher, tidak sakit melainkan merinding.
"Ahh!"
Alice bahkan mendesah, sebelum akhirnya gadis itu terbangun. Membuka mata dan merasai cecapan di leher yang turun dan semakin turun.
"Dokter ngapain?!"
"Nggak usah tidur!" larang Fachry.
"Kenapa nggak boleh tidur?!" Alice mendorong kepala basah Fachry. Sedikit demi sedikit, Alice mulai terjaga, mulai hilang linglung, dan sudah tidak semengantuk sebelumnya.
"Buat apa tidur? Lagi pula, di mimpi kamu nggak ada aku kan?" tukas Fachry.
Alice berpikir sejenak. "Lupa, tapi Alice pikir ada Om Dokus deh di mimpi Alice."
"Oya?" cibir Fachry.
"Iya..." Alice manggut cepat. "Om Dokus lagi jualan obat di mimpi Alice."
"Rivald ngapain?" Kalau dia hanya jualan obat, lalu apakah Rivald pangerannya?
"Rivald?" Alice mengernyit. Keduanya saling menatap dengan berbeda ekspresi, yang satu bingung, yang satu menuntut.
Fachry tahu Alice tak paham, kenapa tiba tiba dia menyebutkan nama Rivald. Sebelumnya, Alice masih tidak sadar.
"Kamu sebut nama dia barusan!" tuntun Fachry secara serius. "Dia ngapain di mimpi kamu? Sampai kamu bilang nggak mau?"
"Ya biasa__! Rivald mau kiss Alice, mungkin!"
Kesal Fachry semakin membara, pria itu mengeksekusi piyama Alice hingga terlepas sepenuhnya. "Rivald sering kiss kamu?"
Alice mengangguk dengan wajah yang kian memerah, bersemu, seksi. "Sering banget, setiap hari malah!"
Sontak, Fachry mencium istrinya. Alice suka, tapi belum paham apa yang sedang terjadi.
Sebab selama beberapa hari menjadi istri dokter itu, Fachry tak pernah terlihat bergairah bahkan saat tidur bersama sekalipun, Fachry masih datar saja.
Hanya sesekali menawarkan malam pertama tapi Alice menolaknya. Alice belum yakin Fachry jatuh cinta makanya masih sering ragu dibuatnya.
"Pernah ngapain sama Rivald?"
"Apa sih?" tukas Alice. Fachry mengintrogasi seperti dia ini maling saja.
"Jawab dulu!" Sungguh, Fachry penasaran, Alice pernah disentuh sejauh mana, Fachry ingin sekali tahu. "Dia apain kamu, sampai dia masih bisa hadir di mimpi kamu?"
"Kiss bibir, kiss pipi, kiss bulunya..."
Alice salah jawab sepertinya karena semakin dia menjawab jujur, semakin Fachry menggila.
"Dia pernah jilat kamu?" cecar Fachry. Dan bodohnya saja Alice mengangguk jujur.
"Biar kamu tahu, aku orang yang terakhir yang bisa melakukan itu!"
Di luar ekspektasi sekali, pria yang pendiam, tampak alim, kelakuan devil. Suka, tapi disaat yang sama dia mulai ketakutan.
Kata Dewi, kakak perempuannya pernah bercerita jika; merasakan pecah gadis itu cukup menyakitkan.
"Dokter, aku belum siap!"
Fachry tak menggubris, ke mana gadis nakal yang terus menggodanya? Kenapa sekarang bilang belum siap? Dasar anak manja!
"Jangan pernah coba- coba mengingat lagi jilatan Rivald!!"
"Dokter kenapa sih?"
"Kasih kamu paham, kamu sudah menikah dengan ku, makanya mau nggak mau kamu lakukan kewajiban seorang istri!"
"Ustadz kok maksa?" tukas Alice.
"Aku tidak pernah menyangka, kamu sudah pernah tidur dengan Rivald! ... Seseorang yang bukan mahram kamu!"
Alice mengernyit kembali. "Rivald tergolong bukan mahram ya?!" tanyanya bingung, lalu Fachry bergumam mengiyakan meski kesal.
"Terus gimana dong?" Alice berdecak. "Kan Alice punya banyak pets lucu, salah satunya yang paling Alice sayang, ya cuma Rivald!"
"Haah?" Fachry sontak mematung, ia menelaah, apakah dirinya sedang salah mendengar, atau bagaimana? "Siapa?"
"Dia pets lucu Alice," kata Alice sepertinya anak ini terlalu polos untuk sekedar paham jika Fachry cemburu pada Rivald.
Jadi, ini salah duga begitu? Fachry sudah kadung on, lalu apakah penyiksaan ini harus dihentikan?
"Kamu mau kita lanjut kan?" Fachry tak ingin memaksa jika Alice tak mau. Tapi, dia cukup menyesal juga setelah Alice mengangguk.
"Alice kebelet pipis dulu! Udah di pucuk!"
aku bersyukur bisa lihat dan baca karya nya...
congratulation ya thor , salut for you pokona mah...
i wish all the best for you...
🙏🙏🙏🙏🥰🥰🥰
cerita anak2nya beda judul y?