Untuk membalaskan dendamnya pada Alena, Satria menikahi Elena adik kembar mantan kekasihnya.
Dan Elena yang tidak tahu dendam Satria menganggap pria itu mencintainya.
Namun semua berubah begitu saja setelah pesta pernikahan berakhir.
"Aku tak menyangka kamu tega menghianatiku." Elena.
"Penghianatan di balas penghianatan." Satria.
Akan kah Elena mampu menghadapi rumah tangga yang terasa seperti neraka baginya?
Atau kah Elena menyerah pada cintanya karena lelah dengan sikap Satria?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 17 Pergi Ke Surabaya
Taksi yang dinaiki Elena berhenti disebuah terminal Bus.
Elena bergegas keluar dari taksi tersebut kemudian masuk kedalam terminal mengurus sedikit administrasi kemudian menaiki salah satu Bus yang berbaris disana.
Wanita itu menaiki Bus jurusan Surabaya. Tidak perduli berapa lama ia diperjalanan akan tetap ia lalui.
Kurang lebih menunggu setengah jam, Bus yang dinaiki Elena akhirnya berangkat menuju kota tujuan dimana kota itu akan ia gunakan untuk tempat memulai hidup baru, jauh dari bayang-bayang penghianatan suaminya.
Elena menyandarkan tubuhnya disandaran kursi tempat duduknya. Disebelahnya ada seorang wanita yang berusia kurang lebih dengannya.
Namun Elena tidak mengherani keberadaan wanita disebelahnya itu.
Ia memilih memejamkan matanya untuk mengistirahatkan tubuh lelahnya, tapi sudah dua jam ia memejamkan mata, ia tak kunjung terlelap juga.
Elena kemudian membuka lagi matanya, lalu menyingkap gorden jendela disebelahnya.
Terlihatlah pemandangan jalanan malam hari.
Lampu kendaraan saling lalu lalang kesana kemari, belum lagi lampu jalan yang membuat jalanan semakin ramai.
Saat ini waktu menunjukan pukul 8 malam.
Perjalanan dari jakarta menuju surabaya membutuhkan waktu lebih dari 17 jam, berarti bus yang dinaiki Elena akan tiba dikota itu sekitar pukul 2 siang esok hari.
"Mbak mau ke Surabaya juga?" tanya wanita yang berada disebelah Elena.
Mendapati dirinya diajak bicara oleh seseorang, Elena segera menoleh pada orang tersebut. Dilihatnya ternyata wanita yang berada disebelahnya yang bertanya.
"Iya mau ke Surabaya," jawab Elena seraya tersenyum pada wanita itu.
"Sama berarti Mbak, saya juga mau ke Surabaya." ucap Wanita itu yang diangguki Elena.
"Oiya, kenalin nama saya Nia," ucap Nia sembari mengulurkan tangannya pada Elena.
Elena menyalami balik Nia yang sudah mengulurkan tangan dihadapannya.
"Elena," ucap Elena seraya tersenyum.
Mereka hanya sekedar berkenalan dan saling menyapa tidak ada pembahasan lain lagi karena keduanya sama-sama tidak tahu apa yang akan mereka bahas.
Elena kembali mengalihkan pandangannya untuk menatap jalanan yang sedang ia lalui.
Bayangan dirinya yang dihianati suaminya terus saja muncul, belum lagi dirinya yang dinodai suaminya membuat dadanya semakin sesak.
Ia memang istrinya Satria, tapi bukan seperti itu seharusnya pria itu memperlakukannya.
Elena berharap suaminya bisa bahagia dengan dendam pria itu. Jangan sampai, pria itu sudah menanamkan luka pada hati orang lain, mamun pria itu tidak bahagia.
Sungguh sangat merugikan. Tapi percayalah tidak ada dendam yang bisa membuat seseorang bahagia, meski dendam itu sudah terbalaskan.
Ditempat berbeda tepatnya diapartement Satria.
Setelah kepergian Elena, Cecil segera mempersilahkan kurier yang membawa barang-barangnya untuk masuk kedalam aprtement itu.
Barang-barang Cecil sudah diangkut semuanya kedalam apartement itu. Kini didalam apartement tersebut tidak ada barang milik Elena satupun, yang ada hanya barang milik wanita itu.
Elena sengaja membawa semua barangnya, ia tidak mau ada barangnya yang tertinggal yang membuat dirinya harus kembali keapartement ini.
Cecil tentunya sangat senang dengan kepergian Elena. Dengan kepergian Elena, maka Cecil bisa menguasai Satria. Menguasai pria itu juga harta pria itu.
"Kenapa kamu sejak tadi diam aja?" tanya Cecil pada Satria yang diam saja duduk disofa ruang tamu.
Wanita itu kemudian duduk disebelah Satria, meraih wajah pria itu lalu ia arahkan untuk menghadapnya.
"Kenapa?" tanya Cecil.
"Tidak apa-apa," jawab Satria.
"Bohong! Kamu pasti lagi mikirin Elena kan?!" tanya Cecil dengan nada sinis.
"Iya, aku sedang memikirkannya." jawab Satria.
"Bukannya balas dendammu itu sudah terbalaskan, lalu untuk apa kamu masih mikirin istri balas dendammu Satri?!" tanya Cecil marah.
Satria tidak menjawab pertanyaan dari Cecil, karena dirinya juga tidak tahu kenapa ia memikirkan Elena.
Pria itu kemudian bangkit dari duduknya, lalu kembali menuju kamarnya.
Pria itu mendudukan bokongnya ditepi ranjang, rasanya hatinya gundah. Entah karena ia kehilangan Elena atau karena sudah tidak ada orang yang ia gunakan untuk balas dendam.
Dengan masih mengenakan stelan kantornya, Satria merebahkan tubuhnya diranjang kamarnya.
Ia pejamkan matanya rapat-rapat, tapi justru bayangannya Elena yang sedang menangis muncul tiba-tiba.
Bukan hanya itu, bayangan dirinya menyakiti Elena juga muncul begitu saja dikepalanya.
Ia yang menyakiti istrinya sejak awal pernikahan hingga wanita itu pergi karena lelah disakiti.
Pria itu kemudian bangkit dari berbaringnya, lalu masuk kedalam kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya dibawah shower berharap bisa menghilangkan bayang-bayang Elena yang tengah menangis.
Ia juga mengepalkan kuat kedua tangannya untuk meredakan rasa gundah dihatinya.
Bugh!
Kepalan tangan itu ia pukulkan pada dinding kamar mandi, sehingga membuat tangannya terluka.
Ia atur nafasnya yang tersengal karena dadanya yang sesak, mengatur hatinya, hatinya yang tak tentu rasanya. Rasa sesak didadanya entah kenapa, ia juga tidak mengerti.
Cukup lama Satria mengguyur tubuhnya dibawah air shower. Setelahnya ia segera keluar dari kamar mandi bertepatan dengan Cecil yang masuk kedalam kamar itu.
"Kamu sudah mandi honey?" tanya Cecil.
"Hem," jawab Satria hanya berdehem.
"Kamu kenapa sih Sat, sejak tadi bersikap dingin padaku?!" tanya Cecil marah.
Ia marah pada Satria yang bersikap dingin padanya, tidak seperti biasanya pria itu bersikap demikian padanya.
Sedangkan Satria yang mendapat pertanyaan itu segera pergi dari hadapan Cecil. Ia beralih membuka pintu lemari, mengeluarkan salah satu baju dari lemari itu lalu ia kenakan.
"Aku mau mencari Elena," ucap Satria pada Cecil setelah ia selesai berpakaian.
Mata Cecil terbelalak lebar mengetahui Satria akan mencari Elena.
"Mau apa kamu cari Elena?!" tanya Cecil.
"Untuk membawa dia kembali," jawab Satria yang membuat Cecil semakin terperangah.
"Kamu pikir Elena mau kembali lagi padamu Satria. Jangan mimpi! aku yakin dia tidak akan kembali padamu setelah kamu sakiti," ucap Cecil.
Satria terdiam, memang benar apa yang dikatakan oleh istri keduanya itu. Elena tak mungkin mau kembali padanya.
Luka yang sudah ia torehkan pada wanita itu pasti sangat berbekas dihatinya.
Tapi Satria tidak mendengarkan ucapan Cecil. Ia tetap melangkahkan kakinya untuk mencari Elena meski Cecil mengejar untuk mencegah dirinya.
Pria itu benar-benar mencari Elena, meski ia tidak tahu kemana harus mencarinya.
Ia mulai mencari Elena dengan menyusuri jalanan menuju kantor wanita itu. Sepanjang perjalanan menuju kantor, Satria sama sekali tidak melihat sosok istrinya dipinggir jalan.
Jelas saja ia tidak melihat, pasalnya Elena sekarang tengah berada didalam bus menuju Surabaya.
Pria itu terus melajukan mobilnya hingga akhirnya ia tiba dikantor Darwin Properties.
Satria melihat mobil Alena masih berada diparkiran kantor membuatnya merasa lega.
"Ternyata kamu pergi kekantor," gumam Satria kemudian.
Pria itu bergegas keluar dari mobilnya untuk masuk kedalam kantor.