Pernikahan memang idealnya lahir dari persiapan, cinta, dan harapan yang matang. Tapi hidup kadang berjalan di luar rencana bahkan lewat jalan yang tak pernah kita bayangkan sama sekali.
Ketika pernikahan terjadi secara mendadak karena sebuah insiden, rasa bahagia dan sakral itu bercampur dengan kaget, takut, bahkan kebingungan.
Apakah pernikahan dadakan bisa membawa kebahagiaan??
Apakah pernikahan tanpa cinta dan saling mengenal lakan berjalan mudah?
yuk ikuti ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AA 16
Semenjak obrolan singkat itu, Alya merasakan hal aneh di dada nya.Ada rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.Desiran kecil yang membuatnya begitu bahagia.
"Aku kenapa ya, ko dada aku berdebar gini." gumamnya.
Ingatannya kembali berputar pada obrolan yang singkat bersama sang suami.Telinganya masih bisa mendengar suara Arka,bayangan wajah Arka pun terus melintas di kepalanya.
"Astagfirullah,Ya Allah kenapa kebayang terus wajah Ka Arka ya.Ini juga telinga kenapa suara Ka Arka terus sih yang kedengaran."
Alyana mengusap kasar wajahnya.Ia menarik selimut hingga menutup wajahnya.
Tidur Alyana, besok ujian! jangan mikirin terus suami kamu.
Alyana memejamkan matanya,namun tak lama badannya beguling ke kiri dan ke kanan mencari kenyamanan.Hingga butuh beberapa jam ia baru bisa tidur.
Begitu juga Arka yang sejak tadi terus tersenyum mengingat obrolan singkatnya dengan sang istri.Suara Alyana yang lembut terus terngiang di telinganya.
"Suaranya lembut banget, jadi kebayang gimana muka istri gue pas lagi ngomong.Lucu..gemes..." Ucap Arka di iringi tawa kecil.
"Anj* gue kenapa sih,p padahal telponan cuma tiga menit tapi udah kaya tiga jam.Berasa banget tuh suara di kuping gue.Mana ini jantung deg-degan lagi pas inget itu." Keluh Arka.
Di tempat lain justru berbeda.Suasana tegang menyelimuti sebuah ruangan yang di dalamnya hanya ada Altheza seorang.
Ia sedang memperhatikan sebuah vidio singkat yang di kirim anak buahnya.
"Arka." Bisiknya. "Kenapa kamu bod*h sekali, kenapa percaya gitu aja sama perempuan ini."
Altheza begitu marah saat mendapat laporan jika sang anak bertemu dengan wanita yang katanya pacar sang anak.
"Feeling ku memang tidak pernah salah, wanita ini memang ular.Berani sekali bermain-main dengan keturunanku." Ucap Altheza saat kembali melihat beberapa foto yang menampilkan Ervina dan seorang laki-laki.
"Akan ku buat kau menyesal karena sudah berani memanfaatkan anak ku."
Altheza menyimpan kembali macbook nya. Ia kemudian keluar dari ruang kerjanya untuk kembali ke dalam kamar.
Begitu pintu terbuka, ia melihat sang istri yang masih terjaga.Altheza buru-buru menghampiri sang istri.Mengecup keningnya singkat.
"Kenapa belum tidur hmm? "
"Aku masih kepikiran Arka, mas."
"Tidak usah di pikirkan, itu biar jadi urusan mas."
"Fara takut mas,kalau sampai Alya tau pasti dia akan kecewa dan marah."
"InsyaAllah Allah masalah ini tidak akan sampai ke telinga mantu kita." Ucap Altheza namun setelah itu ia menghela nafas berat. "Tapi kalau besan kita,mas yakin pasti Al sudah tau."
"Terus gimana mas,Fara gak mau kalau sampai terjadi sesuatu sama rumah tangga anak kita."
"Fara sudah terlanjur sayang sama Alya.Gadis yang sudah jelas bibit, bebet, bobotnya.Fara gak mau kehilangan Alya." Lanjutnya.
"InsyaAllah semua akan baik-baik saja.Besok mas akan suruh Arka pulang."
"Besok coba kamu hubungi mantu kita dan tanyakan apa Arka sudah memberinya kabar."
"Iya mas. Fara tau manusia tidak ada yang sempurna namun bagi Fara, Alya nyaris mendekati sempurna.Akhlaknya InsyaAllah sangat baik,apalagi Alya terlahir dari keluarga kita sendiri tau bagaimana mereka." Ucap Fara.
"Fara malah bersyukur sekali ada kejadian itu dan membuat Arka menikahi Alya.Fara merasa beruntung bisa besan an sama mereka.Tapi sekarang Fara malah jadi takut."
"Takut kenapa? "
"Takut mengecewakan mereka mas" Lirihnya
"Mas yakin Al memang akan tau tentang ini, tapi mas yakin Al pasti akan mengerti.InsyaAllah besok mas akan menemui Al untuk membahas masalah ini."
Fara mengangguk,akhirnya hatinya sedikit tenang.Keduanya langsung merebahkan badannya dan tak lama dengkuran halus terdengar dari keduanya.
Dan benar saja dugaan Altheza,Al sudah mengetahui semuanya.Ia sudah mendapatkan laporan dari anak buahnya.
Tangannya mengepal kuat melihat laporan dari anak buahnya."Apa Arka masih bersama dengan wanita itu?"
"Tidak tuan, tuan Arka di dalam hotel itu sendiri.Sedangkan wanita itu langsung pergi."
Al mengangguk,apa sebelumnya Arka bertemu dengan wanita lain lagi."
"Tidak tuan,selama dua minggu Tuan Arka sibuk bekerja dan sesekali pergi ke kampus.Baru tadi sore saja Tuan Arka bertemu wanita."
Al mengangguk,emosinya yang tadi meluap kembali mereda.
"Tapi Tuan, saya punya laporan lain." Ucap anak buah Al. kemudian menyerahnya satu amplop coklat lainnya.
Al membukanya, keningnya berkerut melihat tiga buah foto wanita yang sama saat bersama Al namun kali ini bersama laki-laki lain.
Al langsung berdecak mengerti."Ternyata menantu saya memilih wanita yang salah." Ucap Al.
"Arka.. Arka.. di beri bidadari malah milih maleficent." Decak Al. "Dia juga kenapa bisa percaya gitu aja sama perempuan ini."
"Terus awasi Arka, tapi ingat jangan sampai ada yang tau.Saya yakin Altheza juga mengawasi anaknya." Perintah Al. "Laporkan terus pada saya." Ucapnya kembali.
°°°
Ujian hari pertama, Alyana begitu semangat.Rasanya seperti mendapat asupan vitamin, membuat mood nya benar-benar baik.
Ujian kali ini berjalan sangat lancar, ia bisa menyelesaikan soal ujian dengan cepat.Bagi teman-temannya sendiri terlihat seperti biasa saja karena memang Alya terkenal anak cerdas namun bagi Alya, ia merasa ada yang aneh dengan dirinya. Ia merasa sangat bahagia dan semangat tapi ia sendiri tak tau karena hal apa.
Alya tiba di dalam rumah kemudia buru-buru masuk kamar.Ia mengganti pakaiannya kemudian duduk di sofa.
Ia langsung menghidupkan hpnya,begitu HP nya menyala beberapa pesan langsung masuk.Ada pesan dari teman-teman dan juga para sepupu nya, namun justru perhatiannya tertuju pada satu pesan singkat yang masuk dari sang suami.
Satu salam singkat namun mampu membuat jantungnya kembali berdebar cepat.Ia membukanya dan bersiap membalasnya, namun belum pesan terkirim tiba-tiba sebuah panggilan masuk.
"Assalamu'alaikum.."
"Waalaikumsalam, sudah pulang? " Tanya Arka.
"Iya, baru sampai."
"Oh.gimana ujiannya?"
"Alhamdulillah lancar."
"Alhamdulillah,Mudah-mudahan besok dan seterusnya lancar terus." Ucap Arka membuat Alya tanpa sadar mengangguk padahal Arka sama sekali tidak melihatnya.
"Lagi apa?"
"Lagi duduk aja,mm..kaka lagi apa? Apa tidak sedang bekerja?" Tanya nya ragu.
"Lagi istirahat dulu, tadi gue kirim pesan tapi centang satu pas barusan gue liat lagi ternanya lo lagi online makanya gue nelpon lo."
"Oh iya, lo udah makan?"
"Belum,apa kaka juga sudah makan?"
"Ini baru aja selesai, ya udah mending lo makan dulu gih.Gue juga mau kerja lagi."
"Iya, ka."
"Gue tutup ya, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Lirih Alya.
Belum sempat Alya menjawab salam, telpon sudah di tutup Arka. Namun siapa sangka dadanya kembali berdebar.Pipinya terasa panas, rasanya begitu bahagia.Alya tersenyum cerah rasanya seperti mimpi.
"Kenapa aku senang banget ya." Bisiknya bingung."Ya Allah berdosa kah aku jika seperti ini."
Namun tak lama senyumnya luntur saat dirinya kembali membuka pesan yang baru saja masuk.
Dadanya berubah nyeri melihat pesan tersebut.bibirnya bergetar,tangannya gemetar seakan tak bertulang.Rasanya seperti di tarik paksa saat terbang ke atas langit.
"Astaghfirullah..Ya Allah."
...🌻🌻🌻...