Entah bagaimana caranya Seorang pujangga mampu mendeskripsikan cinta seketika menjadi indah hanya dengan pembendaharaan diksi yang mereka punya. Padahal cinta tidak semudah mengubah suku kata menjadi barisan rima.
Begitu juga cinta yang dirasakan seorang Adha Abhimana, pelatih renang yang lisensinya tidak bisa digunakan ketika menyelami dalamnya tatapan mata seorang Aruna Nureda. Sales promotion girl yang tak sengaja ditemuinya di kota Batam. Abhi memanggilnya Red, tak hanya bibirnya, nama itu juga semerah lukanya yang basah.
Semacam karma yang dibayar tunai, Abhi jatuh hati kepada Red yang statusnya bukan gadis biasa.Cinta,harapan dan impian Runa masih untuk Rangga yang hampir tak mungkin dimilikinya.Berhasilkah perjuanan Abhi? atau harus rela Runa kembali dengan mimpinya?
Ini kisah tentang pengkhianatan sekaligus kesetiaan, luka sekaligus antiseptiknya.
WARNING : SIAPKAN ASPIRIN KARENA MUNGKIN MENGIKUTI KISAH INI AKAN MENIMBULKAN EFEK PUSING.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nela Kurniaty Idris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
YANG SEBELUMNYA TERJADI
Saat itu Runa baru lulus SMA dan Ibunya meninggal dunia karena penyakit magh kronis yang dideritanya. Abah, Runa dan tentunya Reza yang saat itu masih duduk di bangku SMP mengalami duka dan luka sangat mendalam.
Ibu Suri yang merupakan teman satu alumni fakultas sastra, sejak hari itu kerap mengunjungi kediaman mereka dengan dalih menghibur Reza dan Runa, tak lupa membawa serta Rangga yang usianya terpaut sepuluh tahun di atas Runa. Hampir setiap hari Rangga diminta untuk mengantarkan Ibunya berkunjung ke rumah Abah Anwar.
Abah menghargai kebaikan Ibu Suri hanya sebatas teman. Memang semasa kuliah dulu diantara Abah Anwar dengan Ibu Suri pernah terjalin sebuah hubungan istimewa. Tapi hubungan mereka harus berakhir karena Ibu Suri memilih menikah dengan pengusaha berlian, ayahnya Rangga. Kini Beliau juga sudah mendahului mereka berdua sejak Rangga kecil.
Si penyair patah hati cukup lama hingga akhirnya bertemu dengan Ibu Rima, sajak dan syair Abah hanya tertuang untuk wanita itu saja.
"Sudah waktunya kamu mencari pengganti untuk Runa juga Reza, Mas. Mereka butuh Ibu sambung yang akan menyayangi dan mengasihi mereka."
"Setelah kepergian Rima, aku tidak merasa kehilangan dia. Tanpa Rima, sajakku tidak akan pernah ada, karna Rima adalah rima yang menjadi kerlip sajak penyair tua."
Ibu Suri selalu iri dan sakit hati setiap kali mendengar kebucinan Abah Anwar, tapi tak ada yang bisa dia perbuat selain berusaha lebih keras lagi.
Frekuensi kedatangan yang kian sering, membuat Reza, Rangga dan Runa jadi kian akrab. Runa yang waktu itu baru lulus sekolah sangat termotivasi dengan kehidupan Rangga sebagai seorang dosen muda. Begitupun sebaliknya, Rangga diam-diam menaruh hati melihat semangat dan keinginan Runa yang kuat.
Runa bukan orang yang mudah terbuka, dia tak punya banyak teman. Dekat dengan Rangga membuat Runa merasa memilik teman dan cara Rangga memperlakukannya secara tak sadar membuatnya merasa berharga.
Rangga tidak hanya datang untuk mengantar Ibunya saja, tapi dia juga diam-diam datang sendiri menemui Runa hingga menghabiskan waktu bersama.
Ketika mereka sudah saling mengenal dan merasa nyaman satu sama lain, Rangga berpikir Mamanya akan senang karena Rangga berniat menikahi Runa, anak dari sahabat mama, Sehingga Rangga begitu tak sabar ingin meminta Mama Suri melamar Runa untuknya.
"Siapa perempuan yang beruntung itu?" tanya Mama Suri saat Rangga menghadap.
"Aruna, Ma. Anaknya Abah Anwar," ungkap Rangga dengan penuh kebanggaan.
Bagai dialiri seribu kecemasan, keringat seketika mengucur dari pelipisnya yang masih kencang. Ibu Suri, patah hati sebelum sempat mengungkapkan.
"Kenapa harus Runa?"
Gadis itu memang perempuan yang baik, walau dia tidak cerdas tapi sangat sabar dan penurut. Saat ini bukan itu masalahnya. Runa tidak pernah masuk dalam jajaran daftar calon menantu melainkan ... calon anak tirinya.
"Kenapa memangnya dengan Runa, ma? Mama sudah kenal dia dan keluarganya. Rangga sayang sama dia, Ma. Rangga pengen nikahin Runa."
"Maafin mama Rangga, tapi kmu harus cari gadis lain."
Ibu Suri patah hati, haruskah dia mengorbankan perasaanya demi anak semata wayangnya? dengan mengizinkan Runa menikah dengan Rangga sama artinya hubungannya dengan Abah Anwar hanya sebatas besan saja, sedangkan dia masih menaruh hati pada si penyair tua.
Ditengah kehampaan, Ibu Suri menghubungi Abah Anwar untuk membicarakan masalah ini, berharap Abah Anwar dapat memberi pengertian pada Rangga secara baik-baik, juga berharap Abah Anwar cepat melamarnya.
Kenyataan tak selalu sesuai keinginan, di dunia ini akan selalu ada cinta yang bertepuk sebelah tangan. Abah justru senang mendengar kabar itu dan mendukung Rangga untuk segera melamar puterinya.
Ibu Suri pulang dengan hati yang remuk redam, dia tak ingin bicara pada siapapun termasuk Rangga. Sikap mamanya membuat Rangga bingung, dia butuh jawaban untuk kepastian lamarannya kelak.
"Mama harus bilang apa alasan mama gak setuju Rangga menikahi Runa? Satu aja alasan biar Rangga bisa mengurungkan niat Rangga, Rangga bakalan patuh sama Mama kalau alasan itu masuk akal."
Rangga serius dengan kalimatnya, jika menurut Mama ada yang tidak baik dalam diri Runa dia benar-benar akan mempertimbangkan lagi keputusan melamar gadis itu. Tapi nyatanya Ibu Suri tidak bisa menjawabnya.
Karena memang sejujurnya dia juga menyukai semua yang melekat pada gadis itu. Tidak mungkin dia harus mengatakan alasan yang sebenarnya.
"Baiklah, diamnya mama adalah jawaban untuk Rangga. Mama sendiri gak bisa menyebutkan alasan yang tepat kenapa Rangga gak boleh nikah sama Runa. Maka dari itu Rangga akan tetap menikahi Runa."
Pernikahan terjadi tanpa kehadiran Ibu Suri. Menurut Rangga, hati Ibunya akan bisa dimenangkan dengan sikap dan perilaku Runa yang tulus, ikhlas dan sabar.
Namun tak seindah yang mereka bayangkan, walau mereka pindah ke Batam, intimidasi dari Ibu Suri nyatanya tidak mengenal tempat. Selalu ada saja cara untuk mencampuri urusan rumah tangga Reza dan Runa.
Semua berangsur membaik saat kehadiran Razqa, setidaknya di depan Razqa, wanita hampir paruh baya itu tampak sangat hangat dan manis. Dia sangat menyayangi Razqa.
Disaat usia Razqa satu tahun, Rangga menyarankan Runa untuk memulai kuliahnya karena Razqa sudah bisa ditinggal. Dengan senang hati Runa menyambut niat baik itu.
Kesibukan Runa sebagai mahasiswa baru menjadi celah masalah untuk Ibu mertuanya. Ibu Suri beberapa kali bicara kepada Rangga ingin memiliki seorang cucu lagi karena Razqa sudah mulai besar dan lebih sering tinggal dengan kakeknya sehingga dia kesepian.
Tentu saja itu hanya masalah yang dicari-cari. Rangga memberi pengertian pada Ibunya bahwa dia ingin memberikan kesempatan kepada Runa untuk menyelesaikan pendidikannya. Hal itu membuat Ibu Suri semakin menjadi-jadi.
Dimulai sejak tahun ketiga pernikahan mereka. drama demi drama mulai disisipkan. Karena merasa Rangga selalu berada disisi dan membelanya, Runa tidak pernah menanggapi apalagi membalas perbuatan Ibu mertuanya.
“Selama kamu ada di pihak aku, gak akan ada yang terlalu menyedihkan.”
Itu selalu Runa ucapkan dan dia tidak pernah menangis di hadapan Rangga. Runa khawatir itu hanya akan membuat suaminya bimbang menentukan sikap.
Nyatanya, kehidupan rumah tangga mereka cukup bahagia. Saling mendukung dan menasehati. Saling menjadi air jika yang satu menjadi api. Potret rumah tangga bahagia selalu mereka perlihatkan, tanpa ada yang tau sekuat apa tekanan yang Runa rasakan dari dalam.
Sampai fitnah keji yang entah dari mana dihembuskan, Runa dituduh berbuat affair dengan salah satu oknum dosen di fakultas, bukti-bukti palsu pun bermunculan.
Rangga adalah laki-laki yang tidak bisa menahan cemburu. Melihat bukti yang begitu nyata, hatinya mendadak panas. Pertengkaran hebat terjadi dan dia tidak sengaja mengucap kalimat talak yang dia sesali sampai hari ini.
Rangga berusaha menjemputnya dan mengajak Runa kembali, Abah juga berulang kali menasehati agar Runa pulang bersama Rangga. Tapi tuduhan itu masih terasa sangat menyakitkan.
“Aku udah sering bilang, Mas. Aku hanya akan kuat kalau kamu di sisiku dan belain aku. Tapi kali ini kamu percaya sama bukti-bukti palsu itu. Aku bisa apa?"
Rangga kini terdiam bagai Limbad.
Runa sebenarnya hanya perlu waktu untuk menangkan diri, namun Rangga menganggap itu sebuah penolakan dan hatinya begitu hancur saat tak berhasil membawa Runa pulang.
Pada titik terendah itulah Rangga berhasil diperdaya, hatinya yang mudah dikelabui semakin terhanyut. Rangga frustasi dan melarikan diri ke club beberapa malam hingga tidak sadarkan diri.
Ditengah kehancurannya, Achy hadir atas perintah Ibu Suri. Dengan niat yang memang sudah jelas ingin semakin menjauhkan Rangga dengan Runa, Achy yang memang sejak dulu sudah menaruh hati pada Rangga bersedia pasang badan untuk menemani Rangga di masa terpuruknya.
Namun Achy juga tidak pernah menyangka, dalam ketidaksadarannya Rangga menginstruksikan naluri kelaki-lakiannya hingga merenggut kesucian Achy.
“Kenapa kamu lakukan itu, Achy? Mama tidak pernah meminta kamu melakukan sampai sejauh itu.”
Ibu Suri juga terkejut saat Achy memberi tau kenyataan yang sebenarnya.
“Aku juga gak tau, Ma. Tapi aku ikhlas memberikan semua ini buat Mas Rangga.”
Walau dia mendengar sendiri, Rangga jelas mengerang, merintih dan meneriakkan nama Runa diatas ranjang dingin malam itu.
“Rangga harus bertanggungjawab, dia harus menikahi kamu.”
***
Mereka sudah berbaikan beberapa pekan kemudian, sampai Achy datang bersama Mama Suri ke kota Batam dan menceritakan semuanya. Mama meminta izin secara langsung kepada Runa untuk mengizinkan Rangga menikahi Achy tanpa harus berpisah dengannya.
Runa tidak ingin menjadi yang pertama, yang kedua atau yang ke berapapun dalam hidup Rangga. Dia hanya ingin menjadi satu-satunya. Dunianya terasa runtuh tapi herannya kepercayaannya kepada Rangga tidak pernah luruh. Hingga akhirnya dia membuat keputusan itu. Sekali lagi, air matanya benar-benar tak bisa keluar sama sekali.
“Tolong buktikan pada aku dan Razqa bahwa anak itu bukan anak Mas Rangga!”
Begitu permintaan Runa sesaat sebelum hari sidang putusan mereka.
“Aku akan selesaikan semuanya, dan kita akan kembali sama-sama,” ucap Rangga dalam sesalnya.
***
Malam saat acara resepsi itu berlangsung, Ibu Suri sengaja mengundang Abah Anwar untuk menyaksikan segala kebetulan yang dia rasa kini tengah berpihak padanya.
"Aku tidak merencanakan sejauh ini," ucapnya.
"Suri, dengan ini aku sampaikan padamu. Walau anakku tidak lagi menjadi menantu di rumah kalian, kamu juga tidak akan pernah jadi suri dalam rumah kami."
Abah Anwar berlalu tak lupa mengambil jatah cendera mata centong nasi yang terbuat dari kayu jati.