Zuri Keilana Wesley adalah putri sulung dari keluarga Wesley.
Gadis naif yang selalu berharap ada yang mencintainya dan menerimanya.
Tepat beberapa hari setelah kekasihnya yang telah ia taksir selama 20 tahun melamarnya, pria itu justru melakukan perbuatan tercela yang tak bisa Zuri maafkan meski ia berlutut memohon ampun.
Ethan Aviel Leon, tunangan Zuri kedapatan telah berselingkuh dengan adik kandung Zuri yaitu Leona Agatha Wesley.
Marah dan sakit hati membawa Zuri pada situasi yang pelik serta rumit.
Dan disaat itulah ia memikirkan balas dendam pada kedua pengkhianat itu dengan membuat perjanjian nikah bersama pria yang paling ia benci yaitu Davian Maverick Junior yang juga sedang diincar oleh Leona adiknya.
Davian dan Zuri sama-sama memiliki kepentingan dalam pernikahan ini.
Akankah pernikahan kontrak itu berubah jadi pernikahan manis atau sebaliknya?
yuk simak...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sengaja cari ribut
Hari-hari tenang Zuri sudah berakhir dikarenakan sesosok makhluk yang datang tiba-tiba dan kini sedang duduk manis di meja mini bar menghadap kearah kitchen set.
Pria itu telah siap dengan sendok dan garpunya sambil menunggu Zuri menghidangkan sepiring spaghetti buatannya.
"Lama sekali kau memasaknya... Aku makan punya mu saja bagaimana?" ucap Davian yang garpunya hampir saja menyendok spaghetti dari piring Zuri.
"Tidak boleh...!! jangan pernah menyentuh spaghetti ku... lagipula kau ini kan bisa pesan kenapa harus tunggu aku yang membuatnya sih... benar-benar menyebalkan...!" kesal Zuri.
"Karena kau sedang memasaknya ketika aku pulang, makanya sekalian aku minta saja. Lagipula kau kan istriku, jadi apa salahnya kau melayani suamimu ini..."
Zuri hanya melirik sinis Davian tanpa menyahuti lagi ucapan pria itu.
Tak lama, sepiring spaghetti telah selesai di buat oleh Zuri.
"Nih... habiskan...!" Zuri meletakkan sepiring spaghetti yang baru saja dibuatnya kehadapan Davian.
"Aromanya wangi sih... tapi nggak percaya rasanya..."
Lagi kalimat yang terlontar dari bibir Davian sungguh membuat Zuri ingin sekali melempar piring itu tepat ke wajah pria angkuh ini.
Satu suapan masuk kedalam mulut Davian.
Lalu dua suapan... tiga suapan dan seterusnya.
Wajah Davian mengisyaratkan betapa ia menyukai masakan Zuri tapi yang dilontarkan oleh bibir penuhnya justru kebalikannya.
Ting...
Davian meletakan garpu dan sendoknya ke piring kosong yang isinya ludes tak bersisa lalu meneguk air putihnya hingga tandas.
"Masakan mu biasa saja... Tapi karena aku lapar makanya habis...." Davian mendorong kursi yang ia tempati, lalu kembali mengenakan jas kerjanya "Ya sudah, aku kembali kekantor saja... sekalian cuci piringku dan jangan buat kacau didapurku... ingat itu!" sambungnya yang lantas melangkah pergi setelah membuat wajah Zuri merah padam karena menyimpan seribu kalimat makian yang siap kapan saja di ledakkan.
Dengan nafas tertahan, Zuri menggenggam erat garpu yang ada ditangannya dan berusaha mengendalikan diri agar garpu itu tidak menancap ke salah satu bagian tubuh Davian.
"Oh ya satu lagi... Kau jangan mengikat rambutmu karena itu sangat jelek!" ujar Davian sebelum dia benar-benar menghilang dari balik pintu.
"Davian Maverick Junior....!!!! Kau pria menyebalkan yang pernah ada dimuka bumi.......!!!!" teriak Zuri yang akhirnya tak bisa menahan emosinya lagi.
Sedangkan si pembuat onar justru tertawa senang karena berhasil menjahili Zuri.
Huft....
"Awas kau Davian... tunggu pembalasan ku!" Zuri mendengus kesal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Davian memasuki lobi perusahaan setelah menyerahkan kunci kepada petugas untuk parkir di basement.
Wajahnya terus saja bersinar seolah baru saja mendapat durian runtuh. Dan jangan lupakan senyum tipis menghias bibirnya sejak dari penthouses menemui Zuri atau lebih tepatnya mengganggu ketenangan sang istri.
Para karyawan perempuan yang biasanya melihat wajah dingin Davian kini dibuat takjub.
Berbanding terbalik dengan sang bos, di ujung lorong menuju ruangan Davian, terlihat Gama terus mondar-mandir gelisah di depan lift.
Sesekali kepalanya mendongak untuk melihat tanda panah pergerakkan dari lift.
Ting...
Pintu lift terbuka dan memunculkan Davian yang berjalan penuh percaya diri.
Kening Davian mengernyit saat melihat asistennya.
"Pak bos... untung anda sampai..." ujar Gama dengan wajah panik.
"Kau kenapa? apa kau baru saja melihat monster?" tanya Davian asal.
"Lebih dari monster pak bos... kayaknya siluman... Pak bos sebaiknya menghindar saja daripada dihisap oleh siluman rubah..."
"Kau ini kenapa sih Gama? Apa kau belum makan siang makanya bicara ngelantur..."
Gama menggeleng dan menunjuk arah pintu ruang kerja Davian.
Davian yang tak mengerti maksud Gama lalu membuka pintu dan pria itu terpaku di tempat saat melihat siapa siluman rubah yang dimaksud oleh asistennya tadi.
"Sayang...Aku datang... kau kemana saja? Kenapa tidak pernah menghubungi ku lagi... Kau jahat..." jerit manja dari seorang perempuan yang berpakaian seksi serta dandanan menor yang berdiri di depan meja kerja Davian.
Davian menoleh kearah Gama yang sedang meringis.
"Eva... sedang apa kau disini hah? Bukankah kau sedang berada si Eropa untuk urusan modeling mu... Kenapa sekarang ada disini?" sapa Davian dengan mata tetap melirik sadis kearah Gama.
Perempuan bernama Eva itu langsung memeluk dan semakin menempel pada Davian hingga semut pun tak bisa menyelinap diantara mereka berdua. Jangan lupakan kecupan di kedua pipi Davian yang membuat pria itu cepat-cepat menghapusnya.
"Suprise sayang... aku mau kasih kejutan untukmu... kangen tahu..." ujar Eva mengalungkan kedua lengannya ke leher Davian.
"Ha..ha... begitu ya...?" tawa kaku Davian sungguh tidak enak didengar ditelinga.
Eva terus berusaha merangkul leher Davian meski pria itu terus saja melepaskannya.
"Eva... kita sedang di kantor dan disana masih banyak karyawan ku... kau pulang dulu, nanti malam aku akan menemuimu. Bagaimana?" ucap Davian melepas paksa rangkulan Eva di lehernya.
Eva menghentakkan kakinya dan mengerucutkan bibirnya berlagak manja hingga membuat Gama memutar bola matanya.
"Kau selalu begitu tapi tidak pernah menempati janji... Apa karena kau sekarang sudah nikah makanya kau tidak mau bertemu denganku?" ujar Eva dengan tatapan menyelidik.
"Kau benar! Aku sedang menjaga kepercayaan istriku..." ujar Davian menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya.
Cincin yang tak pernah sekalipun ia lepaskan sejak mengucapkan janji pernikahan bersama perempuan pilihan kakeknya, Zuri Kailani Wesley.
Eva tertawa mengejek.
"Alah... kau pasti sedang butuh uang makanya kau mau menikahi perempuan itu. Iya kan?"
Davian mengedikkan kedua bahunya, acuh tak acuh.
"Itu urusanku... urusan kita juga hanya sebatas kesenangan semata... Kau sebagai partner kerja sekaligus teman kencan dikala aku butuh. Hubungan kita juga berdasarkan sebuah keuntungan semata, jadi jangan berharap lebih karena kau tahu, aku bukan pria seperti itu..."
Davian berlalu dari hadapan Eva dan menuju kursi kebesarannya.
Apa Eva akan menyerah?
Jawabnya tidak!
Karena perempuan itu masih tetap berada disana dan sekarang semakin berani dari sebelumnya.
Eva menangkup kedua pipi Davian dan berusaha untuk mencium pria itu tapi berhasil dielakkan oleh Davian.
"Apa-apaan kau Eva!" bentak Davian berang dan menepis kasar lengan Eva hingga perempuan itu tersentak kaget.
Kali ini tidak ada lagi kelembutan dimata Davian.
"Aku hanya merindukan mu Davian? Dimana salahnya?"
"Jangan pernah melewati batasanmu hanya karena kau pernah berkencan denganku sekali... Kau bukan perempuan yang aku inginkan! Kau paham! Sekarang pergilah dan jangan pernah datang lagi!" usir Davian murka.
Kedua mata Eva berkaca-kaca.
"Davian... tapi aku mencintaimu. Kenapa kau tidak pernah bisa membuka hatimu untukku?" isaknya.
"Cinta? Seorang Eva bicara cinta?"
Tawa Davian meledak seketika hingga membuat Eva merinding.
Davian menepis jarak diantara mereka hingga Eva bisa merasakan hangat nafas pria itu dari jarak dekat.
"Perempuan sepertimu jangan pernah bicara cinta padaku... Karena bagimu, laki-laki kaya hanyalah mesin ATM berjalan bagimu. Jadi jangan sok bicara cinta kepadaku! Pergilah sebelum aku benar-benar murka dan karir mu yang kau bangun bertahun-tahun dengan branding perempuan baik-baik akan sirna sekejap mata" bisik Davian tepat disisi telinga Eva.
Bulu kuduk Eva merinding seketika. Bukan karena rayuan maut melainkan kalimat terakhir yang Davian ucapkan. Kakinya yang semula tegak berdiri seketika lemas tak berdaya.
Tak banyak bicara lagi, Eva berjalan tergesa meninggalkan ruangan Davian tanpa menoleh sedikitpun.
"Ooo.. Pak bos memang the best..." puji Gama mengacungkan jempol kearah Davian.
Mood pria itu kembali buruk seketika.
Tak ingin juga kena omel, Gama cepat-cepat menutup pintu ruangan Davian dan kembali ke ruangannya sendiri.
Inilah yang jadi masalah Davian selanjutnya. Dia harus membereskan semuanya sebelum Eva yang lain muncul.
Davian memiliki pesona yang sulit untuk ditolak sebenarnya.
Terlahir tampan dan kaya, bukan berarti dia bisa memilih perempuan semaunya dan berkencan dari hotel satu ke hotel lainnya.
Tidak...!
Davian bukan pria yang gampang tidur dengan sembarang perempuan. Dia hanya akan mengajak si perempuan makan dan pergi ke club untuk bersenang-senang tapi hanya sebatas ciuman atau pelukan semata dan tidak lebih dari itu. Baginya, benih berharganya hanya akan diberikan kepada perempuan berharga juga.
bersambung....