Gara-gara wine tumpah Aruna Wijaya harus menikah kontrak dengan seorang iblis berwajah tampan Devara Mahesa.
Tanda tangan kontrak diatas materai menjadi penanda Aruna resmi terjerat dalam pelukan hangat Devara yang mematikan dan penuh dendam rahasia.
Hingga Bayu datang, seorang dokter keluarga Wijaya yang menyimpan kenangan masa lalu kelam Aruna menawarkan kebebasan.
Apakah Aruna akan menerima tawaran Bayu lepas dari iblis?, ataukah akui dendam diatas materai itu sudah menjadi candu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DDM|15|Iblis Dingin
Pukul 02.30, maybach arah jalan pulang menuju penthouse. Devara duduk disamping Aruna yang sudah memejamkan matanya sambil memeluk jas Devara erat, wajah pucat dan bibir membiru, sedikit gemetar.
Devara melirik Aruna sekilas, lalu fokus kembali ke iPad yang ada ditangannya. Namun, pria itu kembali melihat Aruna, seperti ada hal yang mengganggu pikiran pria dingin itu. Perlahan Ia menaikkan jas-nya yang hanya dipeluk Aruna untuk menutupi sebagian tubuh gadis itu, punggung tangannya tak sengaja menyentuh dagu Aruna, terasa panas, Aruna demam.
Devara menghembuskan nafas kasar, lalu membuang pandang keluar kaca, gelap tak ada yang mampu dilihat, jalanan nampak sunyi, sebagian jalan belum terpasang lampu. Rintik hujan semakin terdengar jelas, hujan mulai lebat, didalam maybach mulai terasa seperti didalam kulkas.
Beberapa menit berlalu, mereka sampai di penthouse, Aruna belum bangun. Matanya masih terpejam, gadis itu terlihat menggigil. Devara mengusap kasar wajahnya. "Gendong dia menuju kamar" Titah Devara sambil berjalan menuju lift terlebih dahulu.
Diruang kerja, Devara menghamburkan semua benda yang ada diatas meja-nya. Emosinya terluapkan. Ia duduk di sisi meja sambil menutup wajah merah padamnya dengan kedua tangan. "Sialan.. Kenapa gadis itu menghantui pikiranku" Gumam Devara, tangan kanannya mengepal kuat dan menghantamkannya ke meja kayu itu, darah mengucur dari kepalan tangannya yang masih terkepal erat. Nafas-nya naik turun menahan emosi yang memuncak.
Baru kali ini dia menahan emosinya, Devara selalu meluapkan emosinya kepada orang yang berani membuatnya marah, pistol, pisau selalu Ia bawa dan tak segan untuk mengeluarkannya jika merasa terusik. Namun, kali ini berbeda perasaan terusik dalam dirinya tak mampu diluapkan dalam bentuk siksaan.
Tok..tok.. Andre mengetuk ruangan Devara pelan. Devara mengusap kasar wajahnya sekali lagi, "Masuk" Ucap Devara.
Andre masuk dengan menundukan kepala, seperti ingin melaporkan sesuatu kepada pria itu. Andre tau kalau Devara sedang mengamuk didalam, namun ada satu nyawa yang bahkan Devara sendiri tak mau jika nyawa itu melayang bukan dari tangannya sendiri.
"Ibu Aruna, demam tinggi dan menggigil Pak, apa perlu panggil dokter Bayu?" Suara Andre lirih, takut, cemas namun Ia harus melapor kalau tidak Ia akan menyesal karena telah membuat satu orang sekarat.
Devara membuang muka, kedua tangannya menepuk meja yang Ia hantam tadi. Tatapannya menuju jam dinding yang berada tepat di angka 03.00. "Panggil dokter lain" Kata Devara pelan, matanya masih melihat jarum jam yang berputar.
Andre langsung mengangguk dan segera keluar ruangan dengan cepat. Hampir saja Ia mengompol karena saking takutnya kepada Devara yang sedang emosi, bahkan darah di tangan Devara masih menetes, namun pria itu tak merasakan sakit sedikitpun, wajah datarnya yang membuat Andre takut, manusia setengah iblis, tanpa pernah tersenyum sedikitpun.
Jam 03.30 Devara keluar dari ruangannya. punggung tangannya sudah terbalut perban asal. pakaiannya sudah diganti dengan kaos polos hitam dan celana kain panjang, Ia berjalan santai kearah kamar Aruna. Pria itu berdiri disamping pintu tanpa masuk kedalam, dilihatnya dokter senior itu sedang memeriksa Aruna.
Devara masuk setelah Ia melihat Aruna yang masih terpejam. "Apa dia pingsan dok?" Tanya Devara, pertama kalinya Ia terlihat penasaran dengan keadaan Aruna.
Dokter itu tersenyum simpul. "Dia sedang tidur, kelelahan dan dehidrasi, demamnya cukup tinggi , saran saya biarkan dia istirahat lebih lama" Ucap dokter itu kepada Devara.
Selesai memasang infus paracetamol dokter itu merapikan alat medisnya dan menaruh obat Aruna dinakas.
Devara diam beberapa saat hingga dokter senior itu berpamitan kepadanya. "Dok, dia gak akan mati kan?" Pertanyaan Devara membuat dokter itu membulatkan matanya, terkejut namun juga terkesan aneh.
"Tidak pak, dia hanya demam dan kele.."
Devara langsung memotong ucapan dokter tersebut. "Kalau sampai dia mati, anda yang akan saya berhentikan.." Ucapan Devara lirih, berjalan mendekati dokter senior itu.
"Tidak Pak, dia tidak akan kehilangan nyawa, itu hanya kelelahan saja" Dokter gemetar, menunduk takut.
"Dia masih punya hutang banyak dengan saya, belum saatnya untuk mati" Jelas Devara. Dokter itu hanya mengangguk dan berjalan menjauh.
"Pak, Ibu mengigau.." Seru Andre yang berada didalam kamar Aruna.
Devara langsung mendekat, memandang wajah Aruna sekilas. "Apa katanya?"
"Iblis...dingin... Devara" Bisik Andre, Jelas Ia takut bos nya akan merasa tersinggung.
Devara menghembuskan nafas kasar, Ia beralih memandang jendela kaca yang belum tertutup. "Keluar, saya akan disini sebentar" titah Devara, matanya masih menatap keluar jendela.
Andre langsung keluar dan menutup pintu kamar kembali, didalam ruangan itu menyisakan Devara yang masih diam mematung, pikiran apa yang merasuki dirinya hingga berbuat seperti ini, Pantulan gemerlap cahaya kota skyline mampu Ia lihat dengan sedikit rasa kagum, setelah beberapa waktu yang lalu merasakan kebencian yang teramat dalam hingga membuat matanya buta.
Devara berdiri dengan versi yang lain, tangannya masih mengepal dengan keras, mencoba melawan ego-nya yang tinggi hingga warna perban yang putih polos itu berubah menjadi kemerahan, merah dari darahnya sendiri.
Lelaki itu mendekat ke ranjang Aruna, duduk disisi ranjang itu, pertama kalinya bagi Devara. air mata lolos di wajah aruna yang sedang dipandang oleh Devara, pria itu langsung mencari tisu, membuka laci yang ada di sebelah ranjang Aruna, yang Devara temukan bukan tisu, tapi sapu tangan mahal berwarna putih polos yang Ia gunakan untuk menutupi luka ditangan Aruna sewaktu pertama kali bertemu.
Sapu tangan yang sudah bersih dari noda darah, dilipat rapi dengan wangi parfum jasmine. Devara kembali memasukan sapu tangan itu kedalam laci. Ia beralih dari duduknya, berdiri memandang Aruna. Tangannya mendekat hendak mengecek suhu tubuh gadis itu, namun belum sampai Devara sudah mengepalkan dan menarik tangannya kembali menaruh tangannya disaku celana. Diam seperti patung kembali.
"Run, jangan mati dulu, saya bakalan rugi banyak" Suara Devara memecah keheningan di kamar itu.
Jam berlalu begitu cepat, pria itu duduk dibawah ranjang Aruna tak tidur sama sekali. Jam 06.57 ponselnya bergetar, alarm berbunyi dari ponsel Devara. Jadwal yang sudah Ia siapkan pagi itu untuk Aruna Ia batalkan, Devara beralih dari duduknya dan mengusap kasar wajahnya, melihat Aruna yang masih terlelap.
Setelah mencuci wajahnya didalam kamar mandi Aruna, Devara berjalan kearah pintu keluar dan menutup kembali pintu itu sampai berbunyi klik dua kali, pria itu kembali mengurung Aruna.
Aruna bangun karena suara pintunya yang ditutup oleh seseorang. Kepalanya terasa berat dan tangan yang pegal, gadis itu melirik kearah tangannya dan terkejut dengan infus yang terpasang, bau obat yang cukup membuat dirinya sadar kalau Ia melupakan hari kemarin.
Aruna melihat disamping ranjang masih ada jas Devara masih tergantung di kursi, dan laci meja di pinggir ranjangnya setengah terbuka. Serta obat yang tergeletak di nakas.
"Siapa yang membuka laci itu..?" Gumam Aruna.