NovelToon NovelToon
Aku Tak Sempurna

Aku Tak Sempurna

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Meitania

Kesempurnaan seorang wanita adalah ketika bisa hamil dan melahirkan. Tapi, bagaimana jika bagian terpentingnya harus di relakan karena sebuah takdir. Apa yang harus kita lakukan? Sementara hidup terus berjalan.

Berdamai dengan sebuah takdir dan menjalani kehidupan seperti biasa adalah hal yang harus di lakukan. Itulah yang di lakukan seorang gadis belia yang harus menyerah pada takdir yang di miliknya.

"Kenapa Tuhan takdirkan aku seperti ini? Apa salah aku?".....

......

Cerita ini hanya hayalan penulis ya... Jadi, maaf jika ada kesamaan karakter atau apapun...

Semoga suka dengan cerita baru nya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dokter Senior

Selepas dari butik Dokter Wijaya mengajak istrinya dan juga Dita untuk makan malam di luar. Mereka memilih salah satu restoran terdekat saja. Dita tak memilih makanan apa saja dia makan. Di restoran mereka bertemu dengan dokter yang kebetulan menjadi dosen Dita di kampus. Dokter Fadil menyapa Dokter Wijaya.

"Apa kabar Dok?" Dokter Fadil.

"Eh, Dil. Kabar baik. Apa kabar Dil?" Dokter Wijaya.

"Kabar baik Dok. Halo Bu apa kabar?" Sapa dokter Fadil pada Ibu Rani.

"Baik Dokter. Sendiri dokter?" Tanya Ibu Rani.

"Sama anak istri Bu di sana." Dokter Fadil.

"Oh,, iya. Silahkan di lanjut Dok." Ibu Rani.

"Iya Bu. Silahkan di lanjut pacarannya." Dokter Fadil.

"Kami ngga berdua Dil." Dokter Wijaya.

"Wah,,,"

"Itu putri kami Dil." Dokter Wijaya menunjuk Dita yang berjalan menghampiri mereka selepas dari toilet.

"Loh, Dita."

"Dokter Fadil."

"Kamu putrinya dokter Wijaya?" Tanya Dokter Fadil terkejut.

"Iya Dok hehe.." Jawab Dita menunjukan deretan giginya.

"Bukannya anaknya dokter itu Dania ya namanya?" Dokter Fadil.

"Ganti nama Dil setelah sakit itu." Elak Dokter Wijaya.

"Wah,, pantes saja kamu wawasan kedokteran nya oke ya Dit." Dokter Fadil.

"Kebetulan Dok." Dita.

"Dita mahasiswi paling pintar di kelas saya Dok." Dokter Fadil.

"Alhamdulillah.. Saya titip ya Dil. Kalo nakal jewer aja." Dokter Wijaya.

"Hahaha... Dokter bisa saja. Kalo begitu saya pamit Dok Bu." Dokter Fadil.

"Iya iya silahkan."

Sepeninggalnya Dokter Fadil Dita dan keluarga menyantap makan malam mereka dengan khidmat. Dokter Wijaya pun menanyakan perihal perkuliahan Dita yang di ampu dokter Fadil dan Dita mengatakan apa yang sejujurnya perihal dokter Fadil yang disiplin dan tegas.

"Mami, Dita besok pergantian state. Dita pagi ya Mi." Dita.

"Iya sayang." Ibu Rani.

Dokter Wijaya benar-benar bersyukur Dita ada bersama mereka. Istri tercintanya kembali berbahagia dan bersemangat kembali setelah kehadiran Dita. Setiap hari istrinya selalu menyiapkan makan siang untuk Dita dan dirinya. Dita pun tak pernah menolak apapun yang di berikan sang istri.

"Papi Mami Dita pergi dulu.. Bye... Bye..." Ucap Dita sambil menyambar sarapan dan makan siangnya yang sudah Ibu Rani siapkan dalam tas bekal. Dita tak pernah malu membawa bekal ke rumah sakit.

Angel dan Laela kadang meledeknya pelit karena selalu membawa bekal yang di siapkan Mami nya.

"Lu mah udah kaya makin kaya aja Dit." Laela.

"Gw kan ngga minta. Mami gw yang bikin ya udah gw makan." Dita.

"Siapa yang nolak ya Dit." Angel.

"Betul.."

Di rumah sakit Dita bertemu kembali dengan Dokter Fadil yang kebetulan memang praktik di rumah sakit tersebut. Dengan bangga dokter Fadil pun menyapa Dita dan mengatakan jika Dita adalah putri dokter Wijaya pada rekan dokter yang berada di situ dengannya.

"Loh, bener dokter Dita?" Tanya Dokter senior di sana.

"Kebetulan benar dokter." Dita.

"Ish.. Kamu ini. Kenapa ngga bilang?" Dokter senior.

"Ah, kenapa memang Dok?" Dita.

"Kamu itu anak dokter senior Dita. Siapa yang ngga kenal beliau coba." Dokter Fadil.

"Itu kan Papi saya Dok bukan saya." Dita.

"Bagus kamu Dok. Tidak mendompleng nama besar Papi kamu." Dokter senior.

"Kalo saya lebih baik dari Papi sih ngga jadi masalah Dok. Lah kalo ternyata saya jauh dari standar Papi kan malu terus malah mencoreng nama baik Papi saya." Dita.

"Hebat kamu Dit. Pantas saya setiap kali perkuliahan muka kamu kaya familiar ternyata kamu anak dari senior saya." Dokter Fadil.

"Terjebak ya Dok." Dita.

"Saya bener-bener terkejut pas kemarin ketemu kamu." Dokter Fadil.

Setelah percakapan bersama para dokter senior Dita kembali beraktifitas. Di jam pulang pak Bagio supir pribadinya sudah menunggu di perkiraan. Dita langsung masuk dan meminta pak Bagio jalan. Hari ini Dita merasa dirinya kurang sehat membuat dirinya tertidur sepanjang perjalanan pulang.

Pak Bagio membiarkan Dita tertidur walau tidak seperti biasanya. Dita pun terlihat pucat membuat Pak Bagio sedikit khawatir. Karena semenjak dirinya menjadi supir pribadi Dita baru kali ini Pak Bagio melihat Dita seperti ini. Sampai rumah Pak Bagio tidak membangunkan Dita melainkan masuk dan memberi tahu Ibu Rani tentang keadaan Dita.

"Loh, Dita mana Pak?" Tanya Bu Rani yang melihat Pak Bagio masuk sendiri.

"Anu Bu tidur di mobil." Pak Bagio.

"Loh. Kok ngga di bangunin Pak?" Ibu Rani.

"Maaf Bu, saya ngga enak jadi saya mau minta Bibi bangunin. Mba Dita juga keliatan pucat Bu mukanya." Lapor Pak Bagio.

"Hah! Ayo biar saya yang bangunin. Coba panggil bapak di kamar Pak." Pinta Ibu Rani.

"Baik Bu."

Ibu Dita menghampiri Dita di mobilnya dan ternyata benar putrinya tertidur dengan wajah yang memucat. Begitu memegang dahi Dita Ibu Rani pun terkejut ternyata badan Dita panas.

"Ada apa Mi?" Tanya Dokter Wijaya.

"Papi, Dita sakit Pi." Jawab Ibu Rani panik.

1
farah
baru awal cerita sdh bikin penasaran, ada apa dgn dhita?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!